
Aqila hanya tersenyum simpul melihat suasana seperti ini, ia pun mengusap kepala Adhim dengan lembut dan bergumam, "Untuk ke dua kalinya, aku terbaring di ranjang ini. Tapi, untuk ke sekian kalinya, aku melihat kamu mencemaskan keadaanku sampai tertidur pulas seperti ini."
Adhim yang merasa ada yang memegang ujung kepalanya membuka matanya perlahan dan mendongakkan kepalanya. Melihat Aqila yang sedang tersenyum manis, membuatnya semakin tenang dan tidak perlu khawatir lagi.
"Lo udah sadar?" tanya Adhim tiba-tiba membuat Aqila tersentak kaget dan menjauhkan tangannya dari kepala Adhim.
"Gak papa kali, santai aja!" Adhim mencegah tangan Aqila yang ingin menjauh dan menyimpannya kembali di kepalanya.
"Kenapa lo jadi akrab sama gue? Denger ya. Kita gak seakrab itu!" sahut Aqila ketus dan melepaskan tangan yang di pegang Adhim dari semalam.
"Tapi gue ngerasa kita deket banget!" kata Adhim membuat Aqila langsung tertegun.
Deg!!
"Aqila ... kamu nggak mungkin suka Adhim! Inget, kamu sebentar lagi mau tunangan sama Jio! Kamu harus tenang Aqila ... kamu harus tenang ...." Aqila yang mencoba tetap tenang dan bersikap tidak terjadi apa-apa di depan Adhim.
"Kenapa malah bengong?" tanya Adhim menatap Aqila curiga. "Apa jangan-jangan lo baper ya sama gue? Lo pasti baper kan sama gue? Ya, kan? Ya, kan?" sambung Adhim dengan PD nya.
"Lo gak lagi sakit, kan? Sejak kapan lo jadi se-PD ini di depan gue? Hah?" tanya Aqila tidak mau kalah.
"Sejak gue selalu deket sama lo! Kenapa emangnya?" tanya Adhim balik, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Aqila. Semakin membuat denyut jantung Aqila berdetak dengan kencangnya.
"Kalau lo coba deket lagi, gue gak akan segan-segan untukโ" Belum sempat Aqila menyelesaikan ucapannya. Dari arah pintu terdengar suara, keduanya pun menoleh.
"Kalian udah bangun?" ucap Asti yang membawa dua kantong plastik yang berisi makanan.
"Mamah!" gumam Aqila kaget, karena Ibu nya datang saat di waktu yang tidak tepat. Yang di mana posisi Adhim yang masih dekat dengan wajah Aqila, membuat Aqila berpikir Ibu nya itu akan berpikiran macam-macam.
"Baru di tinggal sebentar ... inget, kalian masih sekolah loh," sindir Asti dan meletakkan kedua plastik tersebut di atas meja.
"Singkirkan muka lo yang kaya patung pancoran itu!" Aqila langsung mendorong wajah Adhim menjauh darinya.
"Iโ ini bukan yang Mamah pikirin, kita gak ngelakuin apa-apa kok, Mah!" jelas Aqila yang sedikit gugup.
"Iya, Mamah percaya kok. Lagi pula, gak mungkin Adhim akan ngelakuin hal yang nggak-nggak ke kamu."
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu, mending sekarang kita sarapan dulu, kebetulan Mamah tadi beli banyak nih!" ajak Asti dan mengeluarkan satu per satu makanan yang di bawanya.
"Kamu nggak sekolah?" tanya Asti kepada Adhim.
"Nggak Tante, saya udah bilang sama Ibu saya kalau sekarang saya nggak sekolah," jawab Adhim santai dan melanjutkan sarapannya.
๐๐๐
"Hans lo liat Adhim gak?" tanya Kiren, kebetulan pagi ini kelas belum di mulai. Jadi, Kiren masih sempat mencari Adhim ke sekitar sekolah ini.
"Dia nggak masuk hari ini," jawab Hans seadanya.
"Kenapa gak masuk? Apa dia sakit? Atau izin? Atau memang Adhim hari ini bolos sekolah?" pertanyaan beruntun terus di berikan kepada Hans.
"Gue akan jawab semuanya dengan dua kata. Nggak tau!" jawab Hans penuh penekanan pada kalimat terakhirnya.
"Ah lo mah! Gue tanya Fatih aja deh!" ucap Kiren dan pergi dari kelas untuk menemui Fatih.
"Fatih!" seru Kiren yang kebetulan melihat Fatih sedang di kantin bersama Siska.
"Emang bener Adhim gak sekolah hari ini? Tapi kenapa? Apa dia sakit? Atau emang dia bolos hari ini?" Kiren kembali memberikan pertanyaan beruntun, tapi ini kepada Fatih.
"Izin kemana?" tanya Kiren kembali.
"Rumah sakit!"
"Rumah sakit? Kenapa ada di rumah sakit?" tanya Kiran kembali, kali ini Fatih di buat geram dengannya. Hingga Fatih menjawab, "Telpon aja kenapa sih? Susah banget!"
"Gue nanya baik-baik juga!" gumam Kiren dan kembali ke kelasnya untuk mengambil ponselnya dan menelepon Adhim.
"Adhim, kamu lagi di mana?
tanya Kiren penasaran.
"....."
__ADS_1
"Oh gitu ya, ya udah deh. Maaf kalau ganggu, bye!
Kiren menutup telponnya dengan perasaan sedikit kesal.
"Kenapa selalu sama Aqila sih? Seharusnya yang berada di sisi Adhim kan gue, kenapa harus Aqila sih?" gerutu Kiren tidak terima.
"Eh tunggu! Lo temen Aqila sama Siska, kan?" tanya Kiren kepala Cika yang kebetulan sedang berjalan melewati Kiren.
"Ada apa?" tanya Cika dan menghampiri Kiren.
"Sebenarnya apa sih yang membuat Adhim suka sama Aqila?" tanya Kiren penasaran. Menurutnya, tidak ada yang istimewa pada diri Aqila.
"Kenapa nanya sama gue? Kenapa nggak tanya Adhim langsung biar lebih jelas?" tanya Cika balik. Tapi, ia memang tidak terlalu tau tentang hubungan Adhim dan Aqila.
"Ya ... gue ... mau denger pendapat dari orang lain sebelum gue nanya langsung sama Adhim," sahut Kiren beralasan.
"Sorry ya, gue gak tau hubungan Aqila dan Adhim itu kaya gimana, jadi lo nanya ke orang yang salah deh," ucap Cika dan tanpa basa basi, ia berjalan meninggalkan Cika begitu saja.
"Gimana caranya gue tau apa sebenarnya alasan Adhim suka sama Aqila, kalau gue tanya temannya aja gak tau? Gak mungkin kan gue nanya sama Siska atau Fatih, apalagi Hans!" batin Kiren yang masih bingung.
Sepulang sekolah, Kiren mengunjungi salah satu cafe yang ada di daerah tersebut. Cafe itu cukup ramai oleh pengunjung yang ingin sekedar nongkrong dan mencicipi makanan di sana.
"Bukannya itu Siska ya?" gumam Kiren yang menyipitkan matanya memastikan apakah bener yang dilihatnya itu Siska atau bukan. Ternyata itu memang benar Siska.
"Kenapa dia gak sama Fatih?" pikir Kiren penasaran. Akhirnya ia mengikuti langkah Siska masuk ke cafe tersebut.
Setelah di lihatnya baik-baik, Siska ternyata sedang duduk sendirian di cafe tersebut sambil memainkan handphone nya.
"Kayaknya dia lagi nunggu seseorang deh!" desus Kiren dan duduk tak jauh dari tempat Siska duduk.
Tak perlu menunggu lama, datang seorang laki-laki menghampiri Siska dan berbincang hangat di sana. Kiren terus memperhatikan gerak-gerik keduanya, dan di saat itu pula, laki-laki tersebut memegang kedua tangan Siska.
"Ternyata Siska selingkuh di belakang Fatih?! Ini bisa jadi bahan untuk gue tau alasan kenapa Adhim suka sama Aqila!" Kiren mengambil ponselnya dan memotret momen langka tersebut.
Siapa sebenarnya laki-laki yang sedang bersama Siska ya? Mungkin, beberapa dari kalian tau ya .... Kalau nanti Fatih tau akan hal ini, apa ekspresi Fatih sama dengan yang di harapkan Kiren? Atau sebaliknya? Kalau penasaran dengan kisahnya ....
__ADS_1
Jangan lupa klik fav yang ada di bawah ini, tinggalkan like, rate 5, dan juga vote dari kalian semua. Kalau ada kata yang typo mohon di maafkan ๐๐ .
Sampai ketemu di episode selanjutnya ๐ค.