Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
Kenapa!


__ADS_3

Pulang sekolah ....


"Pulang bareng yu," ajak Jio sambil memegang tangan Aqila.


"Dari pada gue pulang jalan kaki, mending gue ikut Jio aja. Lagi pula, Rendi katanya lagi sibuk," batin Aqila. Tanpa ada bantahan dari Aqila, ia menyetujui ajakan Jio.


"Lo tunggu di sini, gue ada urusan bentar," ucap Jio dan turun dari mobilnya.


"Bentar-bentar, kayaknya gue kenal tempat ini," ucap Aqila dan melihat ke arah jendela kaca mobil Jio.


"Kenapa dia ke sini sih?! Bikin gue B'T aja," gumamnya kesal, dia langsung keluar untuk memanggil Jio agar pergi dari sini.


____________________


"Dhim ... maafin gue, gue bener-bener nyesel, gue mohon maafin gue," jelas Nadya dengan penuh penyesalan.


"Denger, sampai kapanpun lo minta maaf sama gue. Gue gak akan maafin lo! Dan satu lagi, hubungan kita cukup sampai sini, oke." Adhim langsung menaiki motor besarnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.


Tiiitt ... tiiitt ....


"Woy! Lo mau cari mati apa?" teriak Adhim kepada seorang laki-laki yang berdiri di tengah jalan.


Tanpa ada jawaban, laki-laki itu membalikkan badannya sambil membuka kaca mata hitamnya.


"Minggir lo! Gue mau jalan," bentak Adhim yang masih duduk di motornya.


"Adhim ... Adhim ...." laki-laki itu hanya menatap Adhim sinis sambil menggeleng pelan.


"Kenapa dia tau nama gue?" batin Adhim terheran-heran, ia turun dari motornya dan membuka helmnya, kemudian berjalan menghampiri laki-laki seumurannya itu.


"Siapa lo? Apa kita pernah saling kenal?" tanya Adhim ketus sambil menatapnya menyelidik.


"Lo emang nggak tau gue, tapi gue kenal banget lo gimana," sahut laki-laki itu sambil menekan dada Adhim dengan telunjuknya.


"Adhim lagi sama siapa tu?" tanya Hans yang melihat Adhim sedang bersama orang lain.


"Gue juga gak tau, kayaknya bukan anak sekolah sini deh," balas Fatih sambil menatapnya penuh penasaran.

__ADS_1


"Kita samperin yu." Baru saja Fatih dan Hans melangkah, Siska tiba-tiba datang dan menghentikan langkah mereka.


"Kalian mau kemana?"


"Mau ke sana, lo mau ikut?" tanya Hans sambil menunjuk ke arah Adhim yang sedang berbincang dengan seorang laki-laki.


"Kayanya gue pernah liat tu orang. Tapi di mana ya?" batin Siska, ia menerka-nerka pertanyaannya.


"Gue inget! Dia orang yang waktu itu pernah ke sini," ucap Siska dengan lantangnya, sampai Adhim dan laki-laki itu mendengarnya dan melirik ke arah sumber suara.


"Cewe itu lagi?" gumam Jio. Ya, Jio adalah laki-laki yang sedang berbincang dengan Adhim.


"Yang mana?" tanya Fatih menatap Siska bingung.


"Cowok itu pokonya, gue pernah nabrak dia di cafe yang sama dengan yang Rendi pergi waktu itu," jelas Siska menatap Jio tajam.


"Duh, ada mereka lagi. Gue harus cepet-cepet masuk ke dalam mobil nih," gumam Aqila setelah melihat teman-temannya berada di tempat parkiran.


"Aaawww!" lirih Aqila, ia tidak sengaja menabrak seseorang dari belakang.


Orang itu mengulurkan tangannya untuk membantu Aqila berdiri.


"Sakit tau! Apa lo ...." bentak Aqila, ia langsung menghentikan perkataannya setelah melihat siapa yang di tabrak nya.


"Suara itu?" gumam Adhim dan langsung menghampiri asal suara yang tadi ia dengar.


"Aqila ..." gumam Jio dan mengikuti Adhim dari belakang.


"Hendrik! Lo ngapain di sini?" tanya Aqila kaget, ia mundur beberapa langkah agar rasa takutnya sedikit menghilang.


"Seharusnya gue yang tanya sama lo. Ngapain li di sini?" tanya Hendrik dengan santainya.


"Bukan urusan lo!" Aqila mencoba melarikan diri dari Hendrik. Dengan cepat, Hendrik menarik tangan Aqila.


"Ini bukan Aqila yang gue kenal," ucap Hendrik menatap Aqila dari atas sampai bawah.


"Di sana ada apa tuh? Kita ke sana yu." Hans, Fatih dan Siska mengikuti Adhim ke arah Aqila dan Hendrik.

__ADS_1


"Aqila!" Dengan refleks, Adhim memeluk Aqila erat.


"Lepasin!" Aqila mendorong kasar tubuh Adhim.


"Jangan pegang-pegang gue lagi!" bentak Aqila sambil menatap Adhim penuh dendam.


"Lo kemana aja? Gue khawatir banget sama lo," jelas Adhim singkat.


"Adhim khawatir sama Aqila? Gue sih bodo amat," jawab Aqila mendelik kan mata.


"Kenapa penampilan lo berubah kaya gini?" tanya Adhim yang melihat Aqila menggunakan sepatu berwarna biru dengan seragam yang menurutnya ketat di tubuh Aqila. Dan rambutnya yang di beri warna biru.


"Terus urusan lo apa?" tanya Aqila dengan ketusnya.


"Gue sekarang ngerti. Gue sayang banget sama lo, La." dengan lantangnya Adhim mengatakan hal itu sambil memegang kedua tangan Aqila dan berlutut.


"Lo lantang banget jadi cowo! Aqila udah jadi pacar gue, jadi lo gak berhak bilang gitu sama dia." Karena Jio tidak terima dengan apa yang dilakukan Adhim, Jio mendorongnya sampai terjatuh ke tanah.


"Maafin gue, Dhim. Gue gak bermaksud begitu," batin Aqila. Rasanya ingin menangis dan teriak sepuas mungkin. Itulah yang ingin Aqila lakukan, tapi dalam kondisi seperti ini, ia memilih tetap pada pendiriannya dan tidak akan bersikap manis kepada Adhim ataupun kawan lainnya.


"Aqila ... kenapa lo kaya gini?" tanya Siska yang sudah menangis dari tadi.


"Bukan urusan lo juga. Kenapa kalian harus urusin hidup gue lagi? Gue seperti ini karna keinginan gue sendiri, jadi gak usah nanya-nanya kenapa, oke!" jelas Aqila dengan penuh penekanan.


"Yo, kita pergi dari sini." Aqila langsung menarik tangan Jio menuju mobilnya.


"Aqila, gue bener-bener sayang sama lo! Lo jangan pergi lagi, gue mohon, La! Aqila ...!" teriak Adhim yang sedang mengejar mobil Jio.


"Semua ini gak bener Aqila ... lo harus ikut gue bagaimanapun caranya," batin Hendrik menatap mobil Jio yang sudah keluar dari parkiran sekolah.


"Kenapa Aqila jadi bersikap gitu?" tanya Siska yang masih menangis dalam pelukan Fatih.


"Udah, kita akan omongin ini secara baik-baik sama Aqila. Bagaimanapun caranya," jelas Fatih yang meyakinkan Siska.


"Aqila berubah kaya gini, gara-gara gue. Gue juga yang harus mengubah Aqila menjadi kaya dulu lagi. Gue janji!" gumam Adhim sambil menghapus air matanya yang dari tadi membasahi pipinya.


"Dhim! Lo mau kemana?" tanya Hans yang melihat Adhim berlari menuju motornya.

__ADS_1


"Ikutin mobil itu, gue harus tau dimana Aqila sekarang tinggal," balas Adhim dan langsung melajukan motornya kencang.


"Kiat harus ikut Adhim." Hendrik dan lainnya mengikuti Adhim dari belakang.


__ADS_2