
"Cinta itu seperti nyala api unggun yang harus selalu di jaga,sehingga bisa menghangatkan hati kita."
🍁🍁🍁
Setelah 1 jam istirahat semua siswa berkumpul kembali di lapangan. Di lapangan Pak Alim menjelaskan agenda yang harus di lakukan semua kelompok. Isi agendanya adalah ....
Kertas tersebut dibagikan kepada masing masing ketua kelompok.
"Untuk permainan nanti diberi peraturan mainnya," ucap Pak Alim yang tengah berdiri di tengah lapangan.
Permainan kali ini adalah tebak gaya setiap kelompok harus menebak kata-kata yang ada di dalam sebuah kertas yang di pilihnya.
Kali ini kelompok yang main pertama adalah kelompok Hendrik, kedua kelompok Adhim, ketiga kelompok Dani, keempat kelompok Pandu dan kelima kelompok Jawara.
Hendrik adalah orang pertama dan harus memilih kertas yang isinya kata kata yang harus di tebak. Isinya adalah ....
Semuanya yang ada di sana tertawa tawa melihat mereka karena dari gerakan Hendrik sampai gerakan Annisa sangat berbeda.
"Annisa jawaban kamu apa?" tanya Bu Indi yang menahan tawanya.
"Berenang gaya bebas?" ucapnya tidak percaya diri.
Hendrik menggeleng gelengkan kepalanya saat melihat Annisa mempraktikkan kembali apa yang di lihatnya tadi.
"Jawabannya apa Hendrik?" tanya Bu Indi kembali setelah mendengar jawaban Annisa.
"Berenang di pantai, Bu," katanya bersuara keras.
Kelompok Hendrik duduk kembali dan giliran kelompok Adhim yang ke depan. Adhim menjadi orang pertama dan memilih kertas yang sudah tersedia dan isinya adalah ....
Setelah sampai di orang terakhir yaitu Aqila. Dia mempraktikkan kembali dan menjawabnya
"Rumah ... rumah tanpa jendela," jawabnya gugup.
"Apa itu benar Adhim?" tanya ibu Indi.
"Benar Bu. Jawabannya rumah tanpa jendela," jawabnya senang.
Sontak mereka senang termasuk Aqila dia berhasil menjawab dengan benar.
Kelompok Dani, Pandu dan kelompok Jawara tidak bisa menjawab soal tebak gaya tersebut. Jadi dalam permainan ini yang menang adalah kelompok Adhim.
"Karena kelompok Hendrik, Dani dan Jawara tidak bisa menjawab maka permainan ini di menangkan oleh kelompok Adhim ...." ucap Pak Alim semuanya bertepuk tangan.
Setelah selesai permainan tebak gaya mereka bersiap siap untuk sholat ashar berjamaah di lapangan.
__ADS_1
Selesai sholat, ketua kelompok dan semua anggotanya berkumpul di lapangan. setiap ketua kelompok dan 1 anggota mencari kayu bakar yang sebanyak banyaknya. Anggota lainnya bertugas mencari bahan makanan yang ada di hutan ini dan ada yang berjaga di tenda.
Adhim dan Andri mencari kayu bakar, Aqila dan Cika mencari bahan masakan sedangkan Fatih dan Siska menjaga tenda.
Dari kelompok Hendrik. Hendrik dan Hans yang mencari kayu bakar, Vita dan Annisa mencari bahan masakan sedangkan Anton dan Dini berjaga di tenda.
Mereka yang mencari bahan masakan akan mencari di permukiman, dengan membantu kegiatan para petani di sana mereka akan di beri upah berupa bahan masakan beserta beras.
🍁🍁🍁
Fatih yang sedang melamun, tiba-tiba melihat Siska di depan tendanya dan langsung menghampirinya.
"Gue boleh duduk di sini?" tanya Fatih yang melihat Siska memainkan tanah.
"Hmmm ...."
"Sis, gue minta maaf," ucap Fatih sambil mendongakkan kepalanya dan menatap ke langit.
"Minta maaf soal apa?" tanya Siska bingung dan melirik Fatih.
"Soal tadi siang. Gue kira lo gak bakal nolongin gue ternyata gue salah nilai lo, Sis," ucap Fatih merasa bersalah dan menatap ke arah Siska.
Mendengar perkataan Fatih, Siska tersenyum.
Tiba tiba datang Adhim dan Andri di susul oleh Aqila dan Cika mereka Mambawa kayu bakar banyak sekali serta bahan masakan yang lumayan banyak.
"Berdua mulu nih," sindir Andri.
Mereka pun menyalakan api dan mulai memasak. Kali ini yang memasak adalah Aqila, Siska dan Cika sedangkan yang lainnya hanya membantu memotong-motong saja.
"La, kamu punya gula pasir gak?" tanya Hendrik yang tiba tiba muncul.
"Punya. Hendrik mau minta ya? Bentar Qila ambil dulu," ucap Aqila mencari gulanya, dan memberikan kepada Hendrik.
"Makasih ya untuk gulanya dan semangat masaknya." Hendrik menyemangati Aqila.
"Iya makasih Hendrik," Aqila tersenyum manis.
Setelah Hendrik pergi Adhim yang melihat itu langsung berbicara.
"Lebay!" ucapnya kesal.
"Lebay apanya?" tanya Aqila bingung.
"Gak. Kenapa Lo ngasih gula pasir ke dia?" tanya Adhim ketus.
"Kan sesama manusia harus saling tolong menolong, lagi pula gula pasir nya masih banyak jadi cukup untuk 3 hari ke depan," jelas Aqila yang sedang mengaduk ngaduk masakannya.
"Dia aja yang caper. Tugas gue udah selesai, kan? Kalau udah selesai, panggil gue." Adhim langsung berjalan ke dalam tenda di susul Fatih.
"Men, lo cemburu ya ... liat Aqila deket sama Hendrik?" goda Fatih.
"Cemburu? Suka juga ngga. Ngapain gue harus cemburu sama tu cewe," Adhim membela diri.
"Udahlah Dhim ... kita tuh udah dari lama temenan, gue tau sikap lo gimana," kata Fatih menepuk bahu Adhim, dan meninggalkan Adhim sendirian di tenda.
__ADS_1
Setelah beberapa menit Adhim terlelap di tenda. Sedangkan Aqila, Siska dan Cika sudah selesai memasak.
"Adhim ke mana ya?" tanya Aqila bingung.
"Tadi sih ada di dalam tenda," balas Fatih.
"Lo aja yang ke sana kita tunggu di sini," saran Andri.
"Kok Aqila sih?!" Aqila kaget.
"Kan Lo suka sama Adhim, Lo harus berjuang dong," bisik Andri. Aqila tersenyum dan berjalan ke tenda Adhim.
"Dhim bangun ... itu udah selesai." Aqila mencoba membangunkan Adhim. Adhim membuka matanya.
"Aqila? Lo ngapain di sini?!" tanya Adhim kaget, dengan mata yang masih sayu.
"Bangunin Adhim. Itu masaknya udah selesai tinggal kita makan. Ayo"jelas Aqila agar Adhim tidak salah faham. Aqila pun berjalan ke luar tenda
Adhim mengambil air mineral dan membasuh mukanya agar tidak tampak bangun tidur.
Mereka makan dengan lahapnya. Setelah selesai makan mereka beristirahat selama setangah jam setelah itu persiapan sholat Maghrib.
Air yang mereka gunakan untuk wudhu adalah asli air gunung. Tidak jauh dari perkemahan ada pancuran air jadi harus pergi terlebih dahulu ke sana baru bisa melaksanakan sholat.
Setelah selesai melaksanakan sholat Maghrib diadakan tausiah sampai isya. Waktu isya mereka kembali melaksanakan sholat berjamaah.
Semua kembali ke tendanya masing masing. Berbagai kegiatan mereka lakukan seperti ngemil, ngegosip, cerita dan hanya diam.
Masing masing ketua kelompok di panggil untuk mengajak para anggotanya ke lapangan.
Setelah sudah kumpul semua di lapangan acara api unggun di mulai.
"Wah ... Qila baru pertama liat api unggun," ucapnya kagum.
"Gue juga baru pertama," kata Siska membenarkan perkataan Aqila.
"Gitu aja lebay," sindir Adhim yang mendengar perkataan Aqila.
"Qila gak lebay kok Qila cuman kagum liat api unggun itu," jelasnya singkat.
Setelah acara api unggun selesai semua kembali ke tendanya masing masing.
Adhim melihat Aqila sedang duduk di depan tenda sendirian.
"Lo kenapa gak tidur?" tanya Adhim yang duduk di samping Aqila.
"Aqila gak bisa tidur, terus Adhim kenapa masih di dini juga?" Aqila balik nanya.
"Sama gue juga gak bisa tidur," ucap Adhim membenarkan perkataan Aqila.
"Adhim ... liat itu ada bintang jatuh. Kalau kita minta saat ada bintang jatuh pasti terkabul, mau coba?" tunjuk Aqila ke atas langit
"Iya."
Keduanya pun memejamkan mata dan meminta.
"Lo tidur sana ini udah malem," kata Adhim lembut.
"iya Adhim juga tidur."
__ADS_1
"Hhmmm ...."