Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
S-2. Rencana Pertunangan


__ADS_3

"Sebenarnya–" Kiren tidak melanjutkan perkataannya, tiba-tiba saja Ayah nya datang.


"Kasian Kiren, kamu terus menekannya. Ayah punya kabar bagus untukmu," jelas Bayu, yaitu ayah dari Kiren dan Jio.


"Apa itu, Pah?" tanya Jio menatap Ayah nya itu bingung.


"Ini kesempatan gue!" batin Kiren dan berjalan perhalan.


"Hei! Kakak belum selesai bicara sama kamu!" teriak Jio dan berdiri ingin mengejar adiknya itu.


"Kamu duduk dulu! Urusan Kiren belakangan, sekarang Ayah punya kabar tentang pertunangan kamu!" Bayu menarik tangan Jio, dan Jio kembali duduk.


"Apa?! Gue gak salah denger? Kak Jio mau tunangan?" gumam Kiren tak sengaja mendengar perkataan Ayah nya itu saat ingin masuk ke kamarnya.


"Sama Aqila, Pah?" tanya Jio antusias.


"Iya. Setelah nanti lulus SMA, kamu sama Aqila langsung tunangan. Kelulusan kamu tiga bulan lagi, kan?" tanya Bayu memastikan.


"Papah serius? Jadi aku bakal tunangan sama Aqila? Tiga bulan lagi? Aqila bakal jadi milik aku, Pah?" Jio terus memberikan Ayah nya itu pertanyaan yang Bayu sendiri mendengarnya.


"Iya! Udah, bulan ini kamu ikut Papah ke New York." Bayu menepuk pundak Jio sambil berdiri.


"New York? Tapi kan, pertunangan aku sama Aqila tiga bulan lagi. Massa aku harus tinggalin calon tunangan aku sendirian di sini, Pah! Ini nggak adil!" sangkal Jio tidak terima kalau ia harus di pisahkan dari Aqila.


"Kamu harus belajar bisnis di sana! Lagi pula masih lama, seminggu sebelum pertunangan kamu di laksanakan, kita pulang ke Indonesia. Kali ini gak boleh ngebantah!" Bayu meninggalkan Jio sendirian di sana.


"Gak papa deh, yang penting gue tunangan sama Aqila." gumam Jio senang.


Sementara itu, di rumah sakit .... Aqila terus menangis memohon kepada Ibu nya untuk melepaskan tangannya dan membiarkannya menemui Adhim.


"Mah! Lepasin Aqila, Aqila cuma mau ketemu Adhim aja! Mah, tolong lepasin Aqila!" Aqila berusaha melepaskan tangannya dari Asti, tapi tidak bisa.


"Aqila!" bentak Asti, sontak Aqila diam sambil menundukkan kepalanya.


"Sebentar lagi kamu akan tunangan! Ngapain kamu masih mikirin cowok itu?" hardik Asti menatap Anak nya itu kesal.


"Hiks ... hiks .... Aqila tau itu, Mah. Tapi Aqila mohon, Aqila mau ketemu Adhim sebentar," ucap Aqila lirih. Karena Asti tidak tega melihat Anak nya menangis, ia langsung memeluknya hangat.


"Mamah lakuin ini demi kebaikan kamu juga. Tolong kamu ngertiin posisi Mamah," tutur Asti sambil mengelus ujung kepala Aqila lembut.

__ADS_1


"Aqila akan tunangan?! Tapi sama siapa?" gumam seseorang dari kejauhan yang sudah mengamati Asti dan Aqila dari tadi.


Orang itu secepatnya pergi dari tempat itu ke ruangan Adhim di rawat.


🍁🍁🍁


"Aku pergi dulu ya. Jaga kesehatan di sini, jangan terlalu banyak makan nanti gemuk, hahahaha ...." ujar Jio sambil memegang kedua tangan Aqila dan tertawa.


"Nanti aku kabari kamu lagi kalau udah sampai di new York. Jangan terlalu rindu ya," sambung Jio memeluk Aqila.


"Iya, udah sana gih. Keburu ketinggalan pesawat lagi," sahut Aqila melepaskan pelukannya.


"Jadi, kamu nyusir aku nih," goda Jio sambil mencubit pipi Aqila.


"Ih! Jail banget sih! Udah sana!" ucap Aqila kesal sambil memanyunkan mulutnya.


"Jangan ngambek gitu dong, aku makin gemes tau liat kamu gini!" Jio kembali mencubit pipi Aqila sampai merah.


"Bye, Sayang!" Jio mendorong kopernya sambil melambaikan tangannya dan berjalan menuju pintu masuk pesawat.


"Bye!" Aqila membalasnya dan berjalan keluar bandara.


"Kamu kenapa bengong?" tanya Asti menatap Aqila terheran-heran.


"Nggak papa kok, Mah. Ya udah, kita harus cepet-cepet nih." Aqila mempercepat langkahnya.


"Emang kamu mau kemana?" tanya Asti kembali.


"Mau ke rumah ...." Aqila Tidka melanjutkan perkataannya, sontak saja ia keceplosan bilang ingin menjenguk Adhim hari ini. Asti semakin menatap anaknya itu bingung.


"Maksud Aqila, Aqila masih ada urusan lain. Jadi Mamah pulang duluan aja," dalih Aqila dan untungnya ia bisa menjelaskannya.


"Kalau gitu Mamah duluan ya, jangan malem-malem pulangnya. Awas loh!" sahut Asti dengan nada mengancam.


"Iya, Mah. Aqila cuma sebentar kok." Aqila berjalan berlawanan arah dengan Asti.


"Gimana pun caranya, aku harus tau kondisi Adhim sekarang!" gumam Aqila antusias, dan langsung naik taksi yang kebetulan sudah berada di luar bandara.


Di perjalanan menuju rumah sakit, Aqila mencoba menelepon teman-temannya, tapi tidak ada satupun yang mengangkatnya.

__ADS_1


"Nggak ada satupun angkat telepon dari aku! Bahan Siska pun nggak ngangkat telponnya!' ucap Aqila yang masih mencoba menelepon teman-temannya.


Setelah sampai di rumah sakit, Aqila langsung berjalan menuju ruangan UGD yang berada di lantai dua rumah sakit tersebut.


Tapi saat Aqila masuk ke dalam, Adhim tidak ada di sana. Akhirnya Aqila menanyakannya kepada petugas di sana.


"Pasien yang bernama Adhim, di sini. Apakah Bapak tau?"


"Maaf, Mbak ini siapa ya? Baru saja sudah di pindahkan ke ruang inap," jawabnya sambil menunjuk ke arah luar.


"Saya temannya, Pak. Kalau boleh tau, kamarnya nomor berapa ya, Pak?" tanya Aqila penasaran.


"Ada di kamar nomor 129. Mbak tinggal lurus aja dari sini, nanti belok kanan di sana ada kamar nomor itu," jelas petugas itu.


"Terima kasih." Aqila dengan cepat mencari kamar bernomor yang di maksud petugas itu.


Terlihat Hans, Fatih dan seorang gadis sedang berada di depan kamar Adhim. Aqila langsung lari menghampiri ketiganya.


"Aqila?!" gumam Hans terkejut dan langsung bangkit dari duduknya.


"Gimana keadaan Adhim sekarang?" tanya Aqila dengan napas ngos-ngosan.


"Dia baik-baik aja, lo jangan khawatir," jawab Fatih cepat.


"Syukurlah. Oh ya, kenapa kalian nggak ngangkat telpon gue?" tanya Aqila menatap Hans dan Fatih bergantian.


Bukannya menjawab, keduanya malah saling adu pandang.


"Handphone gue tadi lowbat, jadi nggak sempet ngangkat telpon dari lo," jelas Hans tersenyum paksa.


"Kalau gue ketinggalan di rumah," alasan Fatih. Keduanya berbohong.


"Ini siapa?" tanya Aqila menunjuk ke arah gadis tersebut.


"Oh ini, ini namanya Kiren. Dia yang udah nolongin Adhim," jawab Hans dan mempersilahkan Kiren berkenalan dengan Aqila.


"Salam kenal." Kiren mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah. Aqila membalas uluran tangan itu sambil menatap Kiren datar.


"Kenapa ni cewek liat gue kaya gitu?" pikir Kiren yang belum melepaskan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2