
Pagi ini Aqila tidak sekolah karena tidak di izinkan mamahnya pergi ke sekolah. Aqila yang dari tadi berdiam di kamarnya akhirnya turun ke bawah untuk sarapan.
"Mah kenapa Qila gak boleh sekolah?" Mulai bertanya.
"Tadi malam badan kamu panas banget, jadi mamah khawatir nanti di sekolah kamu pingsan lagi. Semalam kenapa kamu basah kuyup? Mamah tanya ke Adhim dia gak ngejawab," kata Asti bertanya, menyiapkan sarapan pagi.
"Tapi Qila sekarang baik-baik aja kok, Qila udah sehat. Adhim nganterin Qila mah?" tanyanya tak percaya.
"Iya sama Hendrik dan Siska juga."
Aqila senyum-senyum sendiri.
"Kamu kenapa senyum-senyum?" tanya Asti kepada Aqila yang dari tadi senyum-senyum sendiri.
"Gak kok."
"Kenapa kamu basah kuyup kemarin?" tanya Asti kepo.
"Soal semalam .... Qila ... Qila ..., hmmm ...."
"Qila apa? Hmmm apa? Cerita sama mamah, Sayang," katanya memaksa.
"Qila ... semalam pergi ke rumah kak Nadya yang ulang tahun itu, Mah," jelasnya singkat.
"Iya, mamah tau terus kenapa kamu basah kuyup?" tanyanya kembali.
"Di belakang rumah kak Nadya kan ada kolam renang tuh, nah disitu Qila gak sengaja terpeleset, akhirnya jatuh deh ke kolam renang. Qila hampir tenggelam karena gak bisa berenang, akhirnya Adhim nolongin, Qila," jelasnya berbohong.
"Syukurlah. Kata dokter kamu gak boleh sampai kedinginan, kalau sampai ya ... akibatnya sakit." Aqila mengangguk tanda mengerti.
🍁🍁🍁
Sementara di sekolah....
Suasana pagi ini kantin cukup ramai oleh para siswa SMA Nusantara. Hendrik melihat Siska yang duduk sendirian dan menghampirinya.
"Sis, lo liat Aqila gak?" tanya Hendrik.
"Aqila gak masuk," balasnya dingin.
"Gak masuk? Kenapa?" tanyanya kembali.
"Katanya sih dia sakit."
"Oh ya? Gue boleh duduk di sini gak?" Hendrik langsung duduk di hadapan Siska.
"Gue pergi dulu ya," pamit Siska.
"Eh, lo mau ke mana gue baru aja duduk," cegah Hendrik.
"Bentar lagi bel," jawabnya ketus.
"Masih 5 menit lagi santai aja."
"Terserah." Siska pergi meninggalkan Hendrik di kantin.
'Dia aneh banget hari ini,' bingung Hendrik.
"Sis!" teriak Hans.
"Apa?" Matanya tajam melihat Hans.
"Santai aja kali. Serem banget matanya," ucap Hans.
"Lo gak sama Aqila, Sis?" tanya Fatih.
"Keliatannya?" tanyanya dingin.
"Gak."
__ADS_1
"Itu tau." Siska mulai berjalan.
"Kemana Aqila?" kata Adhim nadanya naik beberapa oktaf. Siska menghentikan jalannya.
"Kenapa lo tanya gitu? Bukannya Lo gak peduli sama dia? Apa jangan-jangan sekarang Lo udah berubah jadi perhatian? Seorang Adhim Jihan perhatian? Hahahaha," ejek Siska sambil berteriak.
Adhim melihatnya tajam dan langsung pergi ke kelasnya.
"Dhim lo mau ke mana?" tanya Hans.
"Kelas," balasnya singkat.
"Bukannya mau ke kantin?" tanya Fatih.
"Kalian aja," katanya mulai berjalan ke kelas.
"Tapi Dhim ...," cegah Hans.
"Gue bilang kalian aja!" bentak Adhim. Adhim berjalan cepat Hans dan Fatih menyusulnya dari belakang.
"Dhim tungguin kita," teriak Hans. Adhim pura-pura tidak mendengarnya.
Sesampainya di kelas dia mengambil tas nya.
"Dhim lo mau ke mana?" tanya Fatih bingung.
"Pulang," jawabnya.
"Dhim, lo tadi baik-baik aja kenapa pas lo denger Aqila lo bersikap kayak gini sih? Ini bukan Adhim yang gue kenal," tangan Hans memegang pundak Adhim. Adhim diam tidak membalas perkataan Hans, dia kembali duduk di bangkunya.
"Lo gak boleh bersikap egois Dhim, kita selalu ada. Iya gak Hans?" kata Fatih, Hans mengangguk.
Tiba-tiba bel masuk berbunyi semua murid masuk ke kelasnya masing-masing.
"Kalau lo suka sama Aqila perjuangin bukan di sakitin," saran Hans.
"Gue gak suka sama dia!" katanya kesal, Hans tau kalau sahabatnya itu gak suka kalau dia membicarakan tentang perasaannya.
🍁🍁🍁
"Gue kenapa mikirin Aqila? Apa gue mulai suka sama dia? Apa gue merasa bersalah ke dia?" Semua pertanyaan itu membingungkan Adhim, dia mengacak-ngacak rambutnya.
"Bro, Lo mikirin apa? Aqila ya?" tebak Hans yang tiba tiba datang.
"Gak," jawabnya bohong.
"Kita bukan anak kecil, Dhim yang di bohongin percaya aja," jelas Fatih.
"Terus kalian maunya apa?" tanya Adhim.
"Gue sih maunya gak jomblo terus," kata Hans membuat Fatih tertawa.
"Siapa yang mau sama lo? Dia?" ejek Fatih sambil menunjuk ke arah Tia kelas X IPS 3.
"Ih ... mendingan dia." Hans senyum-senyum sendiri. Adhim tidak menghiraukan keduanya. Ddrrrtttttt ... suara handphone Fatih berbunyi.
"Siapa?" tanya Hans kepo.
"Hendrik," katanya.
"Angkat aja," suruh Hans.
"oke."
"Hallo?" memulai pembicaraan.
"Ada apa, Drik?" tanya Fatih.
"Sekarang temuin gue di halaman belakang sekolah. Ajak juga Hans sama Adhim," kata Hendrik.
"Gue udah di sini. Lo di mana?" Fatih melihat sekeliling dan akhirnya menemukan Hendrik "Gue ke sana." Fatih menutup telepon dan menghampiri Hendrik di susul kedua temannya.
"Eh ada Siska juga," kata Hans.
__ADS_1
"Ada apa lo manggil kita?" tanya Fatih.
"Gue mau ngajakin kalian jenguk Aqila, gue khawatir dia kenapa-napa," ajak Hendrik.
"Gue sih ayo-ayo aja," kata Siska.
"Kalau kalian gimana?" tanya Hendrik kepada Hans, Adhim dan Fatih.
"Kita bisa kok, iya kan, Dhim, Tih?" tanya Hans memastikan.
"Gue gak bisa," kata Adhim.
"Kok gak bisa?" tanya Hans dan Fatih kompak
"Ada acara. Gue balik ke kelas," kata Adhim berjalan ke kelasnya di susul Hans dan Fatih.
"Gue tunggu kalian di parkiran nanti," teriak Hendrik.
🍁🍁🍁
Semua siswa pulang termasuk Adhim dia pulang duluan. Di parkiran Hendrik sama Siska sudah menunggu Hans dan Fatih.
"Adhim, serius gak ikut?" tanya Hendrik.
"Gak," balas Fatih singkat.
"Ya udah kita langsung pergi aja," saran Hendrik.
"Oke," jawabnya serempak.
"Siska, sama gue aja," kata Hendrik.
Mereka pergi ke rumah aqila.
Sesampainya di rumah Aqila .... Toktoktok.
"Assalamu'alaikum," salam Hendrik.
"Wa'alaikumussalam," jawab Saddam, membuka pintu depan rumahnya.
"Kalian ... mau ketemu Aqila ya?"
"Iya, Om."
"Aqila ini ada temen kamu datang," teriak Saddam.
"Iya pah." Aqila turun dan menemui mereka.
"Ayo masuk."
"Terima kasih, Om," kata Siska.
Mereka duduk di sofa di temani Aqila.
"Aqila lo gak papa, kan?" tanya Siska khawatir.
"Siska jangan khawatir Qila gak kenapa-napa kok. Qila sehat-sehat aja," jelasnya.
"Syukurlah. Kita khawatir lo kenapa-napa, jadi kita ke sini," jelas Siska.
"Adhim kok gak ke sini?" tanya Aqila yang dari tadi gak melihat Adhim.
"Katanya dia ada acara," jawab Hans.
Mereka mengobrol, Siska memberikan buku nya ke Aqila supaya dia menyalin pelajaran tadi.
"Kalau gitu kita pulang ya," pamit Hendrik.
"Kok pulang? Baru juga tadi," cegah Aqila.
"Ini udah jam 5 sore, Sayang ..." kata Siska memperlihatkan jam yang ada di rumah Aqila.
"Udah jam segini ya?" Aqila nyengir.
__ADS_1
"Bye, Aqila." Siska melambaikan tangannya.
"Bye," balas Aqila.