
"Tuhan tidak pernah keliru memberikan anugerah cinta kepada hambanya,karena sebuah cinta yang datang itu pasti ada makna dan alasannya"
🍁🍁🍁
Setelah di tempat pemberhentian,mereka melanjutkan perjalanannya. Beberapa jam kemudian ....
"Wah ... inikah puncak?" ucap Aqila kagum.
"Anak-anak kita udah sampai, bawa semua barang-barang kalian jangan sampai ada yang ketinggalan," pesan Bu Indi.
Mereka pun turun dan berbaris.
"Bapak akan membagi kelompok, 1 kelompok terdiri dari 10. Kelompok 1 (Anton, Adhim, Fatih, Aqila, Siska dan Cika), kelompok 2 (Annisa, Andri, Hendrik, Hans, Dini dan Vita). (Dan kelompok seterusnya)," jelas pak Heri.
"Adhim kita sekelompok," ucap Aqila senang.
"Baris sesuai kelompok dan diskusikan siapa yang akan menjadi ketua kelompok kalian setelah selesai berdiskusi, kita langsung ke perkemahan."
"Iya, Pak," jawab semuanya dengan kompak.
Kelompok Aqila berbaris dan membuat lingkaran kecil, begitu pun kelompok lain mereka sama sama membuat lingkaran kecil.
"Adhim aja yang jadi ketua kelompok," usul Fatih.
"Gue? Lo aja sana!" balas Adhim sinis.
"Kalau gue yang jadi ketuanya nanti bisa bisa kacau, lo lebih hebat dari semua yang ada di kelompok ini, Bro," bisik Fatih.
"Gue gak setuju!" bantah Siska.
"Alasan lo gak setuju apa?" tanya Anton bingung.
"Gue gak setuju aja," balas Siska seadanya.
"Siska yang cantik dan imut sejagat raya, mau ya Adhim jadi ketua kelompok, plisss ..." bujuk Fatih.
"Cantik imut apanya," sindir Anton.
"Apa lo bilang?! Jadi selama ini gue gak cantik gitu? Gue ganteng gitu?!" bentak Siska.
"Santai kali, gue cuman bercanda." Wajah Anton tampak ketakutan.
"Berisik! Biar gue yang jadi ketuanya," kata Adhim terpaksa, karena tidak mau memperpanjang permasalahan ini.
____________________
"Siapa yang jadi ketuanya?" tanya Andri sambil melihat anggota kelompoknya satu per satu.
"Lo aja, Drik. kan lo OSIS, OSIS kan pernah camping tuh, jadi tau apa yang harus kita lakuin," jelas Dini.
"Kalau gue sih gak masalah kalau gue jadi ketua, tapi gak tau yang lain," kata Hendrik percaya diri.
"Kalau gue gak setuju?" tanya Hans memastikan.
"Terpaksa harus mau!" jawab Vita memaksa.
"Kita setuju kalau lo yang jadi ketua," ucap mereka kompak kecuali Hans.
"Gue juga setuju," ucap Hans terpaksa.
"Apakah semua sudah memilih ketua kelompok nya?" tanya Bu Indi.
__ADS_1
"Sudah, Bu," jawab semua kelompok bersamaan.
"Kalau gitu kita langsung ke perkemahan dan ini tenda kalian. Masing masing kelompok 2 tenda, 1 untuk tenda perempuan dan 1 untuk tenda laki laki," jelas pak Alim.
Merekapun berbondong-bondong pergi ke tempat perkemahan dengan membawa peralatan yang dibawa masing masing.
Kelompok Hendrik sudah selesai mendirikan tenda tapi kelompok Adhim belum. Hendrik yang melihat itu langsung menghampiri Aqila.
"Gue bantu lo ya," tawar Hendrik. Aqila menganggukkan kepalanya.
Adhim yang melihat itu merasa kesal dan menghampiri mereka, "Gak usah!" kata Adhim kesal. Menatap Aqila tajam.
"I— ya gak usah, Qila takut ngerepotin," ucap Aqila mengiyakan ucapan Adhim, kalau Aqila tidak mengiyakan ucapan Adhim dia akan marah besar.
"Gue gak repot kok, gue mau bantu lo aja. Boleh ya?" Hendrik sedikit memaksa.
"Gue bilang gak usah!" bentak Adhim. Sontak membuat semuanya menatap mereka yang sedang bertengkar.
"Lo nanti malam mau tidur di mana? Bawah tanah? Tenda lo aja belum selesai," sindir Hendrik.
"Jangan lo pikir nanti lolos dari gue!" ancam Adhim, salah satu tangannya menarik kerah baju Hendrik.
"Udah!" Aqila mencoba memisahkan mereka. "Hendrik kamu kembali ke tenda kamu aja ya, Qila bisa kok. Dan Adhim ... kamu selesaikan dulu tendanya," kata Aqila nadanya naik dari sebelumnya.
Hendrik dan Adhim pun kembali ke kegiatannya masing masing.
"Akhirnya beres juga," ucap Aqila. Aqila, Siska dan Cika membawa barang bawaan mereka masing masing ke dalam tenda.
Begitupun Adhim, Fatih dan Anton mereka berhasil mendirikan tenda tersebut.
Setelah mereka selesai membereskan bawaannya, mereka pun berkumpul di lapangan. Lapangan itu tidak terlalu besar tapi cukup untuk manampung siswa/i SMA Nusantara yang mengikuti camping.
"Sekarang kalian boleh melakukan apa saja yang kalian mau, setelah 1 jam semua berkumpul kembali di sini. Oke," pesan Bu Kinar.
Siska dan Cika di dalam tenda, tapi Aqila sedang mencari cari seseorang. Dia sedang mencari Adhim, ternyata Adhim sedang duduk bersama Fatih di sebuah pohon yang sudah tumbang. Aqila pun menghampirinya.
"Adhim ... Qila boleh duduk di sini?" tanya Aqila yang melihat Adhim sedang duduk bersama Fatih di batang pohon dekat tenda nya.
"Gak!" jawabnya ketus.
"Boleh ya, plisss ...." kata Aqila memaksa.
"La, Dhim. Gue ke tenda dulu ya," ucap Fatih yang tidak enak atas keberadaannya.
"Iya."
Aqila langsung duduk di sisi Adhim. Tetapi Adhim malah menjauh.
"Adhim marah ya sama Qila, Qila ngerti kok," ucapnya merasa bersalah.
"Udah lah jangan di bahas," kata Adhim dengan muka datar.
"Tapi, kan ...."
"Jangan di bahas, Lo ngerti gak?!" kata Adhim menatap Aqila dengan mata tajamnya. Sontak membuat Fatih, Andri, Siska dan Cika menoleh kepada mereka.
____________________
"Gak ada sinyal?!" gumam Siska dengan nada kesal.
Saat Siska sedang mencari sinyal tiba tiba .... Bruukk .... Siska bertabrakan dengan Fatih.
__ADS_1
"Aauuww ... ...." Siska meringis kesakitan.
"Lo kalau jalan tu—" Siska tidak melanjutkan perkataannya setelah melihat siapa yang menabraknya.
"Lo?! Kalau jalan tuh pake kaki, liat pake mata bukan malah sebaliknya!" bentak Siska kepada Fatih.
"Lo yang jalannya liat-liat! Jelas lo yang tadi nabrak gue bukan gue nabrak Lo. Kaki gue juga sakit tau!" ucap Fatih membentak balik Siska, kaki Fatih berdarah.
"Gue gak mau berurusan sama lo lagi." Siska berdiri dan meninggalkan Fatih
"Woy ... batuin gue dulu," teriak Fatih kepada Siska.
"Lo punya kaki bisa berdiri sendiri kali," ucap Siska ketus
"Gue beneran gak bohong, kaki gue sakit," kata Fatih tiba-tiba lembut.
Siska kasihan melihat Fatih dan langsung menghampirinya.
"Kaki lo berdarah, Tih!" Siska kaget melihat kaki Fatih yang berdarah.
Akhirnya Siska membantu Fatih berdiri untuk di bawa ke tenda.
"Lo tungguin di sini, gue mau bawa kotak P3K," kata Siska, berlari menuju tendanya. Siska membawa sendiri kotak tersebut untuk jaga jaga.
Cika yang masih di dalam tenda bingung, melihat Siska yang sedang mencari cari dengan terburu buru.
"Lo cari apa?" tanya Cika bingung.
"Kotak obat. Tadi gue simpen di sini tapi gak ada,di mana ya?" ucap Siska yang mengobrak-abrik barang barangnya.
"Gue bawa, bentar."Cika memberikan kotak obat kepada Siska.
"Gue pinjam bentar. Oh ya, makasih." Siska langsung berlari menuju Fatih.
"Lo lama banget sih!" keluh Fatih yang melihat Siska baru datang.
"Udah gue tolongin juga!" matanya sinis.
"Lo bawa air mineral gak?" tanya Siska.
"Bawa, tuh di dalem." Fatih menunjuk ke dalam tenda dan Siska langsung membawa air tersebut.
Kaki Fatih di bersihkan terlebih dahulu agar darahnya tidak terlalu banyak. Siska mengobati Fatih dengan hati hati.
Wajah Fatih dan Siska dekat, sampai-sampai Fatih berkata dalam hatinya, 'Siska dari Deket cantik juga ya.' Salah satu bibirnya naik.
'Eh gue ngomong apa sih? Gue gak mungkin suka sama cewe rese kayak dia.' Fatih menarik kata-katanya yang tadi.
"Woy! Lo kenapa ngeliatin gue gitu?" ucap Siska yang mencoba mengagetkan Fatih.
"Hah?! Engga kok siapa juga yang liatin Lo," ucapnya bohong.
"Hhmmm ... emang lo gak liat apa? Apa jangan-jangan lo terpesona sama kecantikan gue ya?" ucap Siska dengan percaya dirinya.
"Ih ... g'r banget lo. Tikus aja ngeliat muka lo takut," ejek Fatih, agar tidak ketauan kalau tadi Fatih sedang memikirkannya.
"Lo tuh ya! Udah di tolongin juga, masih aja ngejek orang." Siska mulai kesal.
"Aauuww ... pelan-pelan sakit tau!" kata Fatih, memegang kakinya yang sakit itu.
"Rasain, itu pembalasan dari gue!" Siska membereskan kotak obatnya dan langsung pergi dari sana.
Fatih tersenyum nakal setelah melihat Siska yang berjalan ke arah tendanya.
__ADS_1
"Tuh cewe kalau lagi marah lebih cantik," bisik Fatih. Mungkin dalam lubuk hati Fatih yang paling dalam dia menyukai Siska.