
"Gue tadi denger suara ribut, ada apa?" tanya Hans yang baru sampai di tempat kejadian.
Hendrik tidak menjawabnya, ia terus menatap tajam ke arah ketua geng itu.
"Itu siapa, Drik?" tanya Fatih menatap mereka menyelidik.
"Rupanya lo cari masalah sama gue," kata ketua geng itu kesal dan berjalan ke arah Hendrik perlahan.
Hendrik masih tenang dan tidak bereaksi apapun.
"Buka helm lo!" ucap Hendrik menatap ketua geng itu lekat.
"Gue gak akan buka helm gue sampai lo nyerah dan berlutut di depan gue," jawab ketua geng itu dengan penuh penekanan.
"Jangan harap!" Hendrik meninggalkan tempat itu. Tapi, baru beberapa langkah berjalan, di belakang ada yang menyerangnya. Untunglah Hendrik masih bisa menghindar dan melawannya.
"Buka helm lo sekarang!" ucap paksa Hendrik, ketua geng tersebut tidak bisa menggerakkan badannya karena lengan dan kakinya di pegang erat oleh Hans dan Fatih. Sementara anak buahnya di pegang oleh siswa lainnya.
"Lepasin gue!" teriak ketua geng itu menatap Hendrik penuh dendam.
Hendrik mendekatkan wajahnya dengan ketua geng tersebut dan membuka perlahan helm yang di pakai oleh orang itu.
Setelah di buka helm tersebut, ternyata di balik helm tersebut adalah seorang cewe yang umurnya tidak jauh berbeda dengan Hendrik, mungkin lebih muda cewe tersebut darinya.
"Lepasin dia," suruh Hendrik kepada Hans dan Fatih.
"Tapi, drikβ" tolak Hans, tapi Hendrik masih tetap menyuruh keduanya untuk melepaskannya.
"Menurut lo setelah lo lepasin gue, gue bakal berterima kasih sama lo gitu? Jangan harap!" pekik cewe itu yang sedang memegang pergelangan tangannya yang sakit.
__ADS_1
"Jangan ke PD an, gue cuman gak mau berurusan sama cewe, apalagi cewe kaya lo!" sahut Hendrik, sudut bibirnya naik.
"Lo bener-bener ya!" Karena di buat kesal dengannya, cewe itu dengan cepat melayangkan tangannya. Tapi tangan Hendrik lebih cepat menggenggam tangan cewe tersebut.
"Lo ada urusan apa datang ke sini?" tanya Hendrik sambil melepaskan tangan cewe itu.
"Lo gak perlu tau!" jawabnya ketus.
"Kalau lo gak jawab pertanyaan dari gue, gue akan laporin lo ke pihak yang berwajib, karna telah menyiksa siswa tadi," ancam Hendrik, cewe itu langsung terdiam dan berpikir sejenak.
"Gue di sini ada urusan sama Siska. Udah puas?!" sahut cewe tersebut sambil menatap Hendrik penuh amarah.
"Siska?!" Fatih angkat bicara karena pacarnya di sebutkan oleh orang yang sama sekali tidak dua kenal.
"Ada urusan apa lo sama Siska?" tanya Hendrik yang masih dengan muka datar.
"Apa urusannya sama lo?" tanya cewe itu dengan sombongnya.
"Kenapa si Hendrik ngaku-ngaku jadi pacar gue? Wah ... gue harus kasih pelajaran nih orang!" batin Fatih kesal, untung ada Hans yang coba menenangkannya.
"Gue yakin, Hendrik pasti punya rencana. Lo tenang dulu."
Belum sempat cewe itu menjawabnya, Siska berteriak, "Gue di sini. Apa yang lo mau dari gue?"
"Akhirnya lo nongol juga, gue punya urusan sama lo, Sis," ucap cewe itu dan berjalan ke arah rooftop dan menyuruh Siska mengikutinya.
"Gue ikut," ujar Fatih, tapi Siska mencegahnya dan berkata, "Kamu di sini aja, ini urusan aku sama dia. Tolong, jangan ...."
πππ
__ADS_1
"Kenapa lo ngajak gue ke sini?" tanya Adhea (Aqila) bingung.
"Udah jangan banyak ngomong. Pokonya lo tinggal ikutin perkataan gue, oke," jawab Adhim dan berjalan cepat masuk ke sebuah mall yang besar.
Setelah berjalan-jalan cukup lama, Adhim masuk ke salah satu toko pakaian wanita dan menyuruh Adhea (Aqila) untuk memilih baju yang mana saja.
"Gue ada urusan dulu. Kalau lo udah selesai, tinggal ke kasir dan bayar pake ini." Adhim memberikan sebuah kartu kredit kepada Adhea (Aqila) entah berapa jumlahnya, tapi itu cukup untuk membeli semua yang Adhea (Aqila) butuhkan.
Tak lama menunggu, Adhim sudah kembali ke tempat Adhea (Aqila) berada dan langsung menghampirinya.
"Pilih baju aja lama banget," sindir Adhim melihat ke sembarang arah.
"Namanya juga cewe," jawab Adhea (Aqila) yang masih polis mencari baju yang cocok untuknya di pakai.
"Udah, biar gue yang milih. Lo tunggu di sana, dan bawa ini," suruh Adhim sambil menunjuk ke arah kursi panjang yang berada di tengah toko tersebut. Adhea (Aqila) hanya mengangguk dan duduk di kursi panjang itu.
"Berapa semuanya?" tanya Adhim kepada mba kasir. Adhea (Aqila) yang melihat itu langsung berlarian menghampiri Adhim.
"Semuanya RP. 20.50.000, Mas," jawab mba itu memperlihatkan harga yang tertera pada layar komputer.
"Sebanyak itu?" gumam Adhea (Aqila) kagum dan mulutnya menganga setelah mendengar angka rupiah yang menurutnya sangat besar.
"Ini." Adhim memberikan kartu yang di pegang Adhea (Aqila) tadi.
Setelah keluar dari toko tersebut, Adhea (Aqila) masih di buat terpana dengan jumlah yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
"Bahkan, gaji papah gak segitu besarnya," batin Aqila yang masih membayangkan, jika dia memiliki uang sebanyak itu.
"Kita pulang sekarang!" Tanpa basa basi, Adhim meninggalkan Adhea (Aqila) sendirian di dalam mall itu.
__ADS_1
"Malah di tinggalin, ini berat tau!" teriak Adhea (Aqila) kesal, karena teriakannya dia jadi sorotan di tempat itu.
"Lebay banget jadi cewe, udah bawa aja. Itu juga keperluan lo juga, kan?" sahut Adhim yang sudah keluar dari mall itu.