
"Kamu siapa?" tanya Adhim datar, sikap dinginnya mulai muncul kembali.
Aqila langsung melepaskan pelukannya setelah mendengar kata itu keluar dari mulut Adhim.
"Maksudnya?" tanya Aqila sambil menghapus sisa air matanya yang membekas di kedua pipinya.
"Ikut Tante sebentar," ucap Tiara yang menarik tangan Aqila ke luar kelas.
"Sebenarnya Adhim mengalami amnesia," jelas Tiara singkat. Sontak membuat Aqila kembali menangis.
"Yang dia tau, Aqila bukan kamu. Tapi Kiren, karena dia waktu itu ada di sana. Jadi Adhim mengira Kiren adalah Aqila. Tante mohon sama kamu, jangan sampai tau kalau kamu adalah Aqila yang asli. Kalau sampai dia tau, dia akan depresi dan akibatnya akan semakin buruk. Tante mohon sama kamu Aqila," sambung Tiara panjang lebar sambil memegang kedua tangan Aqila memohon.
"Demi kebaikan Adhim, aku akan ngelakuin itu, Tante," batin Aqila, dan kemudi ia mengangguk menyetujui perkataan Tiara.
"Kamu jangan sampai ke ceplosan di depan Adhim. Nanti Kiren akan pindah sekolah ke sekolah ini dan menjadi Aqila." Tiara akhirnya meninggalkan Aqila sendirian di sana, sedangkan ia berjalan menuju parkiran.
"Dengan begini, Adhim akan jauh dari Aqila!" pikir Tiara.
Aqila kemudian masuk kembali ke dalam kelas Adhim dan menemuinya.
"Gue ke kelas dulu, bye," pamit Aqila yang menarik tangan Siska menuju keluar.
"Kenapa Aqila jadi berubah gitu?" gumam Hans menatap Aqila heran.
"Kenapa lo malah pergi sih? Bukannya lo udah lama mau ketemu sama Adhim?" tanya Siska yang menghentikan langkahnya tiba-tiba.
"Aqila nggak bisa jelasin semuanya. Intinya, Aqila udah gak ada lagi di hati Adhim," jawab Aqila yang terus berjalan.
Siska kemudian berjalan lari mensejajarkan langkahnya dengan Aqila sambil berkata, "Gue bukan orang asing, La. Gue ini sahabat lo! Lo gak sendiri sekarang. Jadi cerita sama gue, oke!"
"Siska.."
"Sebenarnya tante Tiara udah jelasin semua ke Aqila. Bahwa Adhim mengalami amnesia dan yang Adhim tau, Kiren adalah Aqila. Dan aku sendiri akan menyamar jadi Kiren," jelas Aqila.
"Apa lo bilang? Kiren?! Kenapa harus dia?" tanya Siska dengan nada tinggi.
"Iya Kiren, Siska kenal sama dua?" tanya Aqila penasaran.
__ADS_1
"Bukan kenal lagi. Kenal banget malah!" jawab Siska ketus. Ia pun duduk di salah satu bangku yang berada di koridor kelas.
"Kiren dulunya wakil ketua geng SiRen," jelas Siska singkat.
"Aqila pernah denger nama itu waktu SMP. Jadi selama ini Siska anak geng motor yang waktu itu di takuti semua orang?" tanya Aqila tidak percaya.
"Iya, gue dulunya geng SiRen. Tapi, semenjak kejadian itu gue gak pernah ngumpul bahkan naek motor lagi," jawab Siska yang tampak dari raut wajahnya yang sedih.
"Dan karena Kiren. Gue sekarang jadi punya masalah sama hubungan gue sama Fatih!" ucap Siska kesal.
"Siska punya masalah apa sama Fatih?" tanya Aqila tiba-tiba.
"Kok kita jadi ngomongin tentang gue sih? Masalah itu gak usah di pikirin. Sekarang yang lebih penting adalah masalah lo!" kilah Siska yang mengubah topik pembicaraan.
"Nggak! Pasti Siska gini supaya Aqila gak tau kan masalah Siska apa? Sekarang aku bukan Aqila yang dulu," komentar Aqila dan kali ini ia tidak mau tertipu lagi.
"Siska tadi bicara, kalau lo nggak sendiri di sini."
Akhirnya Siska pun tidak ada pilihan lain selain menceritakan semua masalahnya.
"Yang gue tau, yang kalah harus bubarin gengnya dan wilayah geng SiRen jadi milik geng Lion. Tapi nyatanya, yang kalah harus jadi pacar Lion!"
"Apa?! Jadi Siska sama Lion–" Karena Aqila berbicara dengan nada tinggi, Siska langsung membekap mulut Aqila dengan tangannya.
"Jangan kenceng-kenceng, nanti semua orang tau. Cuma lo yang tau soal ini, Fatih sama sekali gak tau soal ini," jelas Siska yang meneteskan air matanya.
"Siska jangan khawatir! Aqila pasti bantuin Siska buat masalah ini. Kalau masalah Aqila sih nanti belakangan, kalau masalah Siska harus di selesaikan dengan secepat mungkin!" tutur Aqila dengan antusiasnya.
"Lo emang sahabat gue yang paling baik, La. Gue bersyukur lo ada di sini, bahkan setelah lo denger masalah gue, lo lupain gitu aja masalah lo. Dan lebih memilih nyelesaiin masalah gue." batin Siska.
Tiba-tiba, Fatih datang menemui keduanya yang asik berbincang.
"Fatih!" gumam keduanya kaget.
"Ka– kamu udah da–" Belum sempat Siska bertanya, Fatih memotongnya sambil berkata, "Udah!"
Fatih tiba-tiba menarik tangan Siska dan meninggalkan Aqila sendirian di sana.
__ADS_1
"Jangan-jangan!" gumam Aqila yang langsung mengikuti keduanya di belakang tanpa sepengetahuan keduanya.
"Fatih! Dengerin penjelasan aku dulu! Ini gak seperti yang kamu denger, aku bisa jelasin semuanya!" ucap Siska yang tengah di tarik oleh Fatih entah ke mana.
Fatih tidak mencampakkan Siska dan tetap menarik tangannya.
"Kamu–"
"Aku mohon, dengerin dulu penjelasan aku! Ini semua gak seperti yang kamu denger tadi!" ucap Siska cepat.
"Maksud kamu apa? Dengerin apa?" tanya Fatih menatap kekasihnya itu heran.
"Perbicaraan aku sama Aqila. Kamu denger semua, kan?" tanya Siska memastikan. Fatih hanya menggeleng kepalanya.
"Kirain Aqila Fatih tau semuanya. Kalau gak tau, Aqila mau masuk ke kelas aja deh," ucap Aqila yang berjalan menuju kelasnya.
Saat di tengah perjalanan Tidka sengaja ada yang menabrak Aqila sampai Aqila terjatuh.
"Maaf! Gue gak sengaja! Lo gak papa, kan?" tanya orang yang menabrak Aqila tadi.
"Aqila gak papa kok," jawab Aqila yang kemudian berdiri di bantu orang tersebut.
"Lo?!"
"Kamu?!" gumam keduanya serempak.
"Jadi kamu nggak tau apa yang di bicarakan aku sama Aqila?"
"Nggak! Emangnya apa?" tanya Fatih yang masih menatap Siska bingung.
"Ng– nggak penting. Yang penting sekarang adalah, kenapa kamu ngajak aku ke sini?" tanya Siska mengubah topik pembicaraan.
Masih penasaran dengan kelanjutannya?
Jangan lupa klik dulu fav yang ada di bawah ini, tinggalkan like, rate 5, dan juga vote dari kalian semua. Karena itu membuat author semakin semangat dalam membuat ceritanya.
Sampai ketemu di episode selanjutnya 🤗.
__ADS_1