Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
Kembalinya Aqila Ke SMA Nusantara (Part 2)


__ADS_3

"Kenapa lo diem aja. Apa lo udah tau dari dulu soal ini?" tanya Siska sekali lagi. Adhim tetap tidak berbicara satu patah katapun.


Belum sempat Adhim ingin menjawabnya, Siska berkata kembali.


"Kalau lo diem aja, berarti bener ... lo tau semuanya? Lo temen gue bukan sih, Dhim?" Siska akhirnya pergi dan meninggalkan Adhim yang masih terpaku dan tidak berbicara apapun.


"Sis ... denger penjelasan gue! Sebenarnya–" Adhim ingin mencoba menjelaskan, tapi Siska telah hilang dari pandangannya.


"Gue harus cepet-cepet nyusul Adhea di ruang kepala sekolah. Kalau nggak .... Ah! Udah lah gue pokonya harus ke sana," gumam Adhim dan langsung berlari ke depan ruang kepala sekolah.


Baru saja ingin membuka pintu ruangan tersebut, Adhea (Aqila) bersama Tiara keluar bersama dengan kepala sekolah.


"Terima kasih, Pak. Kalau gitu saya pamit dulu. Soalnya masih ada banyak yang harus saya kerjakan," pamit Tiara dan berjalan meninggalkan Adhim, Adhea (Aqila) di sana.


"Oh iya, Adhim ... bawa Aqila. Maaf, maksudnya Adhea ke kelas kamu ya," suruh Fahri dan tanpa berkata lagi, dia berjalan masuk ke ruang guru yang berada tepat di sebelah ruang kepala sekolah.


"Eh mau kemana?" tanya Adhim yang melihat Adhea (Aqila) pergi begitu saja meninggalkannya sendirian di sana.


"Ya ke kelas lah, cepet anter gue!" jawab Aqila ketus.


"Sabar Aqila ... ini ujian ... ini ujian." Adhea (Aqila) malah bernyanyi di dalam hati, dengan lirik dan nada yang dibuatnya sendiri.


"Aqila?!" gumam Hendrik, dengan refleks ia memeluk Adhea (Aqila) erat.


Adhea (Aqila) mendorong tubuh Hendrik sambil berkata, "Gue gak kenal ya sama lo! Jadi jangan pegang gue lagi!"


"Aqila? Kenapa lo jadi berubah kaya gini?" tanya Hendrik yang masih terpaku kebingungan.


"Drik, sebenarnya ...." Adhim menjelaskan dengan rincinya.


"Jadi ... dia bukan Aqila?" gumam Hendrik tidak percaya. "Maaf, gue udah sembarangan meluk lo. Lo mirip benget sama Aqila temen gue, jadi gue kira lo Aqila," sambung Hendrik memberi penjelasan agar Adhea (Aqila) tidak salah paham menilainya laki-laki yang tidak tau tatakrama.


"Bukan mirip, tapi emang ini gue Aqila, Drik. Kalau aja lo tau ..." batin Adhea (Aqila) dan dengan sombongnya pergi dari sana.

__ADS_1


"Ni anak bener-bener ya!" gumam Adhim kesal melihat tingkah laku Adhea (Aqila) yang mungkin kalau kita punya temen kaya gitu, bisa darah tinggi. Hheeehhee ....


"Aqila ... Aqila .... Gue sebenarnya udah tau, kalau sebenarnya lo adalah Aqila yang sebenarnya. Ini lagi Adhim, dia bisa-bisanya di bohongin kaya gini, hadeehh," kata Hendrik sambil menggeleng kepalanya melihat tingkah laku keduanya.


"Eh!" cegah Adhim kepada Adhea (Aqila).


"Apa?" tanyanya ketus.


"Kok lo bisa tau kalau kelas gue ada di sini? Sedangkan gue dari tadi diem aja," ucap Adhim menatap Adhea (Aqila) menyelidik.


"Aduh, ****** gue! Gue lupa kalau lagi nyamar." Adhea (Aqila) langsung berhenti dan memukul pelan jidatnya.


"Hmmm ... menurut insting gue ya ini kelasnya. Bener, kan?" ujat Adhea (Aqila) sambil tersenyum paksa.


"Ya udah, ayo masuk." Adhim mendahului langkah Adhea (Aqila).


Adhea (Aqila) mendengus kasar dan mengikuti langkah Adhim.


Setelah dua jam pelajaran yang melelahkan, akhirnya suara bel terdengar di seluruh telinga siswa sekolah itu. Jam pelajaran pun sudah berakhir, waktunya para siswa mengistirahatkan otak-otak mereka sejenak.


"Gue gak nyangka, semua berubah dengan begitu cepat," gumam Adhea (Aqila) sambil tersenyum sendiri menatap ke sembarang arah.


Saat berjalan menelusuri koridor kelas, terdengar jelas bisikan-bisikan yang terdengar di telinga Adhea (Aqila), sehingga membuatnya kesal dan menghampiri asal suara itu.


"Kalau mau ngomongin orang, langsung aja ke orangnya. Bukan bisik-bisik," sindir Adhea (Aqila) sambil menatap tajam siswa tersebut.


"Ma– maaf, gue gak bermaksud nyinggung perasaan lo." Kedua siswa tersebut berlari terbirit-birit ketakutan.


"Padahal gue gak ngapa-ngapain, kenapa harus takut?" kata Adhea (Aqila) menatap kedua siswa tersebut dengan tatapan heran.


"Hai, Aqila," sapa Nency dan Sarah sambil tersenyum ramah.


"Tumben mereka baik sama gue. Pasti ada maunya nih," batin Aqila menatap keduanya curiga.

__ADS_1


"Nama gue Adhea, bukan Aqila!" sahut Adhea (Aqila) dengan nada angkuh.


"Kita gak bermaksud gitu. Oh iya, kita ada tawaran buat lo. Tapi lo harus ikut sama kita, mau gak?" tawar Sarah, dari nadanya sepertinya mereka ingin mengatakan hal serius.


"Oke, kita ke mana?" tanya Adhea (Aqila) yang sok tidak peduli akan kehadiran Sarah dan Nency.


"Kita ke cafe aja gimana?" ajak Nency, Sarah dan Adhea (Aqila) hanya mengangguk.


Ketiganya berjalan menuju parkiran. Akan tetapi, saat dalam perjalanan, Hans, Fatih dan Hendrik menghalangi ketiganya.


"Apaan sih kalian? Minggir gak!" bentak Nency kesal, tapi percuma mereka tidak memberi celah untuk Nency, Sarah dan Adhea (Aqila) berjalan.


Selama Nency dan Sarah dengan fokus pada Hans dan Fatih, Hendrik langsung menarik tangan Adhea (Aqila) pergi dari sana.


"Lepasin tangan gue!" teriak Adhea (Aqila) sambil mencoba melepaskan genggaman Hendrik yang begitu kuat. Hendrik membawanya ke suatu lorong yang sepi dan hanya keduanya di sana.


Hendrik perlahan maju mendekat ke arah Adhea (Aqila), Adhea (Aqila) yang merasa tidak nyaman mundur beberapa langkah sampai akhirnya bersandar pada tembok. Hendrik semakin mendekat ke wajah Adhea (Aqila), membuat jantung Adhea (Aqila) berdetak kencang.


"Kenapa Hendrik malah makin Deket sih!" batin Adhea (Aqila), tubuhnya gemetar sangat hebat.


Tangan Hendrik memukul tembok di belakang Adhea (Aqila), membuatnya terkejut dan semakin ketakutan.


"Lo ... lo mau ngapain?" tanya Adhea (Aqila) ketakutan. Hendrik tidak langsung menjawab, ia memegang bibir Aqila supaya ia berhenti berbicara.


"Lo jujur sama gue. Lo Aqila, Kan?" tanya Hendrik menatap Adhea (Aqila) lekat-lekat.


Karena napasnya tidak beraturan, Adhea (Aqila) mendorong tubuh Hendrik dan menjawab pertanyaannya.


"Gu– gue bukan–" Belum selesai Adhea (Aqila) menjelaskan, Hendrik menyergahnya.


"Gue udah tau semuanya. Jadi lo gak bisa ngelak lagi ... Aqila," sahut Hendrik dengan muka datar.


"Maksud lo?" tanya Adhea (Aqila) menatap Hendrik terheran-heran.

__ADS_1


"Jangan pura-pura gak tau," jawab Hendrik yang kembali mendekat ke arah Adhea (Aqila).


"Woi!" suara yang familiar di telinga keduanya. Membuat Hendrik dan Adhea (Aqila) langsung melihat ke arah suara itu.


__ADS_2