
"Ma– maaf. Gue tadi refleks," jawab Adhim ketus.
"Tanpa sadar gue narik tangan Kiren? Apa yang sebenarnya gue pikirin sih?" batin Adhim. Tiba-tiba tawa Hans dan Fatih membuyarkan lamunan Adhim.
"Buhahaaa ...."
"Berisik!" bentak Adhim.
"Ups!" gumam Hans dan Fatih serempak sambil memegang mulutnya dan membelakangi Adhim dan Aqila.
"Lo bareng sama Kiren aja. Sekalian beli bahan-bahan untuk nanti sore, Aqila biar sama kita aja. Iya gak?" jelas Siska sambil memegang pundak Kiren.
"Iya tuh bener, Aqila biar sama kita aja. Lo gak udah khawatir oke," balas Fatih cepat, keduanya saling mengerti kalau ini kesempatan Aqila dan Adhim bisa berdua.
"I– iya, Adhim pergi sama Kiren aja, aku sama mereka nanti langsung ke rumah Fatih aja," jawab Kiren sedikit gugup. Padahal di hati kecilnya, ia ingin sekali pergi berdua bersama Adhim.
"Ta– tapi, Sis?" ucap Aqila yang ingin menolaknya.
"Kalau lo nolak, kali ini gue gak mau ngomong sama lo lagi!" ancam Siska sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Terserah kalian deh!" sahut Adhim ketus dan menaiki motornya sambil memakai helmnya.
"Kita pergi duluan, bye," pamit Siska dan mereka pergi menggunakan mobil yang di bawa Fatih.
"Kalian naik mobil Fatih aja, gue mau naik motor gue. Sekalian nanti gue mau ngajak ayang bebep Cika," jelas Hans nyengir.
"Ya udah sana. Tapi gue denger-denger nih dari siswa lain, nyokap nya Cika itu galak banget tau. Lebih galak dari pak Wendi lagi, lo hati-hati aja nanti," tutur Fatih sambil cekikikan dan masuk ke mobilnya.
"Lebih galak dari pak Wendi?" Hans membayangkan bagaimana jika ia ke rumah Cika dan bertemu ayahnya itu.
"Jangan sampai deh!" gumam Hans sambil bergidig takut.
"Ya udah," ucap Adhim ketus.
"Ya udah apa?" tanya Aqila yang asalnya memandang Siska dan lainnya, kini menoleh kepada Adhim.
"Ya udah ayo naik. Kita harus belanja buat nanti sore, belum nanti ke rumah lo sama rumah gue!" jelas Adhim yang memandangkan ke depan.
Adhim bisa naik motor karena ia di beri tahu oleh Tiara kalau Adhim suka sekali naik motor besarnya itu. Saat mendengar itu, Adhim tampak ragu untuk mengendarainya. Tapi, ia terus mencobanya dan akhirnya bisa.
Aqila naik dan berpegangan ke belakang motor tersebut. Seketika Aqila hampir terjungkal karena Adhim melajukan motornya dengan sangat kencang, ia pun berpegangan erat pada perut Adhim.
Deg!
__ADS_1
Keduanya merasakan hal yang sama, Aqila yang sudah lama tidak berdekatan bersama Adhim, kini merasakan kembali rasa tersebut. Sedangkan Adhim ia merasakan seperti ia ingat sesuatu akan hal tersebut.
"Perasaan apa ini? Kenapa tiba-tiba rasa ini keluar dengan tiba-tiba?" batin Adhim yang seketika memberhentikan motornya di tepi.
"Ma– maaf. Kenapa berhenti?" tanya Aqila yang langsung melepaskan kedua tangannya.
"N– nggak. Tapi lo mendingan pegangan di tas gue aja," jawab Adhim, Aqila hanya menuruti perkataannya dan Adhim pun melanjutkan perjalanannya.
"Rumah lo di mana?" tanya Adhim sedikit berteriak.
"Kita ke rumah lo dulu aja," jawab Aqila yang sedikit berteriak juga.
"Gue mau langsung ke rumah Fatih aja, takut telat."
"Ya udah gue juga. Kita mending langsung ke supermarket aja, terus ke rumah Fatih," jelas Aqila dan Adhim pun melajukan motornya lebih kencang menuju supermarket.
Setibanya di supermarket keduanya langsung masuk dan mengambil troli.
"Lo tau bahan-bahan gak?" tanya Adhim yang mendorong trolinya di depan Aqila.
"Tau beberapa," jawab Aqila singkat.
Adhim dan Aqila sudah membeli semua bahan untuk membuat KOREAN-BBQ dan hanya satu yang tertinggal, yaitu daging sapi.
"Yang ini!"
"Menurut gue yang ini!"
Keduanya seketika saling adu pandang saat sadar kalau keduanya kompak dan keduanya menunjuk daging yang sama.
Adhim langsung menjauh dari Aqila dan melihat daging lainnya. Aqila langsung mengambil daging tersebut dan memasukkannya ke dalam troli yang sudah hampir penuh dengan bahan-bahan untuk nanti.
Setelah semua bahan sudah lengkap Adhim mendorong troli tersebut menuju kasir untuk di hitung jumlahnya.
"Semuanya RP. 500.000."
"Biar gue yang bayar," ucap Adhim yang langsung memberikan sebuah kartu kepada sang kasir.
🍁🍁🍁
Sementara itu di depan rumah Cika, hans tampak masih ragu untuk masuk karena teringat apa yang di katakan Fatih sebelumnya.
"Huuufftt. Tenang Hans, lo bukan cowok penakut, lo bukan cowok penakut!" gumam Hans yang menenangkan dirinya.
__ADS_1
Hans pun memberanikan diri menyentuh bel rumah yang cukup besar itu, tapi tidak ada seorangpun yang keluar. Hans pun menyentuhnya kembali sebanyak dua kali, akhirnya seorang wanita paruh bawa datang.
"Mau cari siapa ya?" tanya wanita tersebut, sepertinya dia pembantu di rumah ini.
"Cika nya ada?" tanya Hans yang masih gemetaran.
Belum sempat wanita tersebut menjawabnya, seorang laki-laki yang Hans kenal jelas wajahnya yang tak lain adalah ayah dari Siska dan kepala sekolah di sekolahnya.
"Aduh! Mati gue!" gumam Hans DNA mencoba kabur dari rumah tersebut. Tapi, baru saja Hans ingin kabur, Fahrul berkata, "Kamu siapa?"
Hans pun membalikkan badannya sambil memperlihatkan gigi putihnya dan berkata, "Saya temannya Cika, Om. Apa saya boleh ketemu sama Cika?" tanya Hans yang masih ragu.
"Oh Cika, bentar Ok panggilin dulu. Kamu silahkan masuk," sahut Fahrul yang mempersiapkan Hans masuk ke dalam rumahnya.
Begitu masuk, semua tampak sederhana tapi elegan dengan arsitektur yang sempurna yang siapapun melihatnya pasti terkagum dan ingin terus di sana.
"Galak dari mananya. Nyokap nya Cika, malah baik banget sama gue! Dasar cucurut lo, Tih!" gumam Hans yang sedikit kesal. Fahrul yang sedang berjalan di depan Hans langsung menoleh ke arahnya.
"Apa kamu bicara sesuatu?" tanya Fahrul yang mendengar Hans mengatakan sesuatu, tapi entah apa.
"Nggak, Om. Saya nggak ngomong apa-apa kok," jawab Hans yang lalu duduk di sofa.
"Kamu tunggu di sini, Om akan panggilkan Cika." Fahrul kemudian menaiki tangga dan menuju kamar Cika.
"Rumah nya bagus banget! Gak nyangka gue, Cika punya rumah semewah ini," gumam Hans yang terus memutar bola matanya menatap sekeliling rumah tersebut.
Tak lama kemudian, Cika turun dari tangga dengan wajah datar.
"Ngapain lo di sini?" tanya Cika ketus.
"Gue mau ngajak lo ke rumah Fatih, kita mau ngadain acara Korean-BBQ-an. Lo pasti mau ikut, kan?" ucap Hans dengan PD nya.
"Mending lo pergi aja dari sini! Gue gak akan ikut meski lo bertekuk lutut!" jawab Cika yang kemudian berjalan menuju kamarnya kembali.
"Sebaiknya kamu ikut aja sama dia, Papah percaya kok dia pasti bisa jagain kamu," kata Fahrul tiba-tiba.
"Tapi, Pah."
"Nyokap lo aja udah restuin kita, massa lo nya gak mau sih?" bisik Hans sambil tersenyum simpul.
"Ya udah deh. Lo tunggu di sini, gue mau siap-siap dulu!" jawab Cika terpaksa.
MAAF KALAH BANYAK KATA-KATA YANG TYPO 😅🙏.
__ADS_1