Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
Curiga


__ADS_3

"Lo apa-apaan sih!" bentak Aqila kepada laki-laki itu. Aqila langsung menjemput Rendi dan membantunya berdiri.


"Lo yang apa-apaan! Pacar lo udah nyariin sampai satu sekoalh, eh ... lo malah enak-enakkan duduk berdua sama ni cowo di sini," jelas Jio, laki-laki yang memukul Rendi sekaligus pacar baru Aqila.


"Pacar? Aqila udah punya pacar! Tapi ... siapa?" batin Rendi, dia terus menatap kedua pasangan itu dengan tatapan heran.


"Lo gak papa?" tanya Aqila yang tampak khawatir dengan keadaan Rendi.


"Nggak, gue gak kenapa-napa kok," balas Rendi, pukulan yang di berikan Jio membuat sisi mata kanan Rendi lembam.


"Lo cemburu?" tanya Aqila dengan dinginnya.


"Jelas lah!" jawabnya seadanya.


"Bentar-bentar, kalian berdua pacaran?" tanya Rendi memastikan, dia harap Aqila tidak berpacaran dengannya. Tapi, itu hanya harapannya saja, faktanya Aqila berpacaran dengan Jio.


"Nggak!"


"Iya!" jawab keduanya serempak.


"Kok nggak sih?! Jadi lo gak mau putus sama gue gitu? Cuman gara-gara cowok ingusan ini?!" tanya Jio berkali-kali nadanya naik beberapa oktaf.


"Dia bukan cowok ingusan ya! Lagian lo cemburuan gue gak suka cowok yang kek gitu," jawab Aqila sambil mendelik.


"Padahal, cuma masalah gini doang, mereka bertengkar. Huuhh ... kapan gue bisa ngomongnya," batin Rendi, dia hanya pasrah dan menyimak saja.


"Kenapa lo malah belain dia sih! Gue kan cowok lo!" ucap Jio yang semakin geram dengan pacarnya itu.


"Tuh kan, bener. Udah gue duga kalau dia cowok baru Aqila," gumam Rendi menatapnya dari atas sampai bawah.


"Di lihat dari penampilannya, kayaknya dia cowok baik-baik. Tapi, gue tetap harus waspada sama dia," gumam Rendi kembali, setelah sudah melihatnya teliti.


"Kenapa lo liat gue kaya gitu? Terpesona sama penampilan gue ya?" tanya Jio sok tau.


"Dih! Gantungan juga gue," gumam Rendi melihat ke arah Jio jijik. Belum juga Jio membentak Rendi, Aqila menyergahnya.

__ADS_1


"Karena dia sahabat gue," balas Aqila yang mencoba tetap tenang.


"Sahabat, maksudnya? Jadi ... dia bukan selingkuhan lo?" tanya Jio memastikan.


"Gue mending pergi aja dari sini, oke." Rendi memilih untuk meninggalkan tempat itu, dari pada mendengar pertengkaran mereka yang tidak kunjung habis.


"Diem!" bentak keduanya serempak. "Lo Siem aja di sini," sambung Aqila yang masih marah.


"Bukan lah! Jadi cowok tu jangan goblo* amat, akibatnya jadi gini, kan?" Aqila mengingatkan kepada pacarnya itu untuk tidak ceroboh.


"Kok lo ngatain gue goblo* sih! Gue tu pinter, buktinya gue jadi kapten basket di sekolah," ucap Jio dengan percaya dirinya.


"Pinter dari mana? Penampilan Lo aja kayak berandalan," ejek Aqila kembali. Jio semakin di buat geram dengannya.


"Inget ya, gue lahir dari keluarga yang serba berkecukupan, jadi jangan samain gue sama anak berandalan," gerutu Jio yang tidak terima dengan ucapan pacarnya itu.


"Ya udah! Kalau gak mau samain sama berandalan, minta maaf sana," suruh Aqila dengan nada ketus, dia sudah tidak mood lagi menatap mata Jio.


"Ya udah ... gue minta maaf, oke." Jio mengulurkan tangannya ke depan Rendi. Kerena Rendi tidak membalasnya, Jio menarik tangan Rendi dan menjabat tangannya.


"Gak minta maaf salah, minta maaf salah. Sumpah ya! Cowok di mata cewe selalu salah," balas Jio yang semakin kesal dan ingin mencubit pipi Aqila dengan sekencang-kencangnya.


"Ya udah, ulang lagi. Cepet!" suruh Aqila kembali dengan penuh penekanan.


"Rendi, maafin gue ya. Gue tadi gak sengaja," ucap Jio terpaksa, nadanya tiba-tiba lebih lembut dari sebelumnya.


"It's okay," jawab Rendi sambil tersenyum manis.


"Ya udah sana, aku mau ngobrol sama Rendi. Kamu latihan aja," ucap Aqila, mungkin dia berniat mengusirnya.


"Jadi, kamu ngusir aku?" tanya Jio cemberut.


"Udah cepet sana. Aku akan semangatin kamu terus," teriak Aqila sambil mengacungkan kedua jempol nya.


"Oke, makasih sayang. Makin sayang deh," teriak Jio dari ambang pintu. Aqila bergidik setelah melihat itu. Untung di sini sepi, itu pikirnya.

__ADS_1


"Lo beneran pacaran sama dia?" tanya Rendi tidak menduga kalau Aqila akan melupakan cinta pertamanya.


"Iya," jawab Aqila seadanya sambil menyeruput minuman yang berada di depannya.


"Gue yakin, Aqila pasti ada alasannya," pikir Rendi menatap Aqila kecewa.


"Kenapa lo mau pacaran sama dia?" tanya Rendi menyelidik, tatapannya semakin tajam.


"Ma— maksud lo a— apa?" tanya Aqila gugup, dia ketakutan melihat Rendi menatapnya seperti akan menerkamnya.


"Lo pasti punya alasannya, kan? Jadi, jawab sejujur-jujurnya, kenapa lo bisa pacaran sama Jio?" tanya Rendi kembali, dia tau kalau Aqila tidak mungkin berbuat seperti itu kalau tidak ada alasan yang menyertainya.


"Gue gak mungkin cerita semua ke Rendi, gue gak mau ngelibatin dia terus ke masalah gue," batin Aqila. Dia ragu untuk menceritakan semuanya.


"Karena ... karena ... gue cinta lah sama Jio, lagi pula Jio juga cinta sama gue. Jadi, gue gak mungkin nyianyiin kesempatan ini dong," jelas Aqila berbohong, agar rasa gugupnya tidak lagi kambuh, Aqila memilih untuk pergi ke toilet.


"Gue ke toilet bentar ya. Kebelet nih." Aqila berdiri dan berjalan ke arah toilet yang berada di cafe tersebut.


"Ada yang gak beres nih, gue harus selidiki. Bagaimanapun caranya," ucap Rendi yang masih terus melihat Aqila yang beberapa saat kemudian hilang dari pandangannya.


____________________


"Gimana ni! Rendi kayaknya curiga sama gue, apa gue jujur aja ya sama dia?" kata Aqila yang berdiri di depan kaca sambil menatap dirinya sendiri.


"Nggak, nggak. Gue nggak boleh libatin Rendi lagi dalam masalah gue, gue harus kuat. La, lo harus inget, jangan sampai keceplosan di depan Rendi. Oke," sambung Aqila meyakinkan dirinya. Dia mencuci tangannya dan mukanya agar Rendi tidak curiga lagi kalau dia pergi ke kamar mandi hanya ingin memenangkan dirinya bukan yang lain.


"Ren, apa lo mau di sini dulu? Gue mau ke sekolah nih, soalnya Jio dari tadi nanyain mulu," tanya Aqila yang masih berdiri di depan Rendi.


"Lo duluan aja, gue masih mau di sini," jawab Rendi sambil tersenyum semanis mungkin.


"Ya udah, nanti kita ke temu lagi besok. Bye," pamit Aqila dan berjalan keluar cafe tersebut.


"Hallo? Dia udah keluar, kerjakan tugas kalian sekarang juga!


ucap Rendi kepada seseorang di telepon, entah apa yang di rencanakan Rendi selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2