Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT

Kisah Cinta ADALA (Adhim Dan Aqila) TAMAT
Kehadiran Lion Di Kehidupan Siska


__ADS_3

Setelah Fatih mencetak angka, sekarang bola basket tersebut berada di tangan Kiren.


"Gue gak punya cara lain, selain nunjukin kemampuan gue ke mereka," batin Kiren, ia mulai serius dan lebih berhati-hati terhadap Fatih.


Kiren melakukan teknik andalannya untuk mengejar ketertinggalannya. Dengan cara melemparkan bola basket tersebut langsung ke arah ring yang jaraknya lumayan jauh dari tempat Kiren berdiri.


Saat Kiren melemparkan bola tersebut ke arah ring itu, semuanya termasuk Fatih di buat melongo sekaligus kagum. Karena ini kesempatannya untuk lepas dari Fatih, dia berlari menuju depan ring basket.


Fatih di buat bingung sekaligus heran, ternyata lemparan tadi tidak masuk dan malah jatuh tepat di tangan Kiren. Setelah mendapatkan bole tersebut, ia dengan cepat lompat dan memasukkan bole basket tersebut, sehingga Kiren bisa mengejar ketertinggalannya.


"Coba balas yang tadi," ucap Kiren yang sok keren di depan Fatih.


"Baru juga satu angka, udah so menang. Inget, kita sama-sama mencetak satu angka dan artinya ... gue gak perlu jelasin lagi juga, lo pasti tau," sahut Fatih sambil merebut bola basket tersebut dari tangan Kiren.


"Lo bisa aja so tegar sekarang, nanti setelah gue menang dari lo. Lo akan nangis dan tunduk sama gue! Gue jamin itu," batin Kiren sambil menatap Fatih tajam.


Pertandingan sudah memasuki waktu tiga puluh menit, keduanya sama-sama mendapat 3 point tinggal sepuluh menit tersisa, dan ini menentukan siapa yang akan menang di pertandingan ini.


Dan akhirnya waktu habis, senyum kemenangan terukir di wajah Kiren.


"Sekarang, lo tepatin janji lo." kata Kiren menghampiri Fatih.


"Maaf, aku–" belum sempat Fatih berbicara, Siska menyergahnya.


"Oke, sesuai janji tadi, gue akan gabung lagi sama kalian sebagai ketua dan nanti malam ikutan balapan," jelas Siska dan langsung pergi dari tempat itu.


"Gue tunggu di tempat yang biasa!" teriak Kiren yang bersemangat.


___________________


Sementara itu dengan Adhea (Aqila), ia masih berdiri menunggu kendaraan yang lewat, tetapi sudah setengah jam ia berdiri di sana, tetapi tidak ada kendaraan pun yang lewat ataupun memberinya tumpangan untuk pulang.


Tiba-tiba ada mobil berhenti tepat di depan Adhea (Aqila) keluarlah seorang laki-laki tampan dengan mata yang berwarna biru mendekati Adhea (Aqila).


"Rendi?" gumam Adhea (Aqila) menatap Rendi bingung.


"Biar gue anter lo." Tanpa di minta pun, Rendi membukakan pintu mobilnya agar Adhea (Aqila) masuk. Tapi bukan malah masuk, Adhea (Aqila) masih terpaku di tempat.

__ADS_1


"Mau ikut atau gue tinggal nih?" tawar Rendi yang menutup perlahan pintu mobilnya.


"Eh jangan ... iya gue ikut." Adhea (Aqila) masuk ke dalam mobil Rendi dan di ikuti Rendi.


🍁🍁🍁


Waktu pun berjalan, hingga siang berganti menjadi malam. Sebelum Kiren sampai di tempat itu, Siska sudah duduk manis sambil meminum kopi hangat yang ia pesan sebelumnya.


"Nunggu lama ya?" tanya Kiren sambil duduk di depan Siska.


"Nggak juga," sahut Siska ketus dan tidak melihat ke arah Kiren sedikitpun.


"Karena gue, mokap gue meninggal. Kalau aja gue waktu itu gak nerima tantangan dari geng Lion ... kejadian itu gak akan terjadi," keluh Siska sambil mengingat kembali kejadian yang membuatnya mengalami fobia Dystychiphobia (Rasa takut mengalami kecelakaan yang di sebabkan karena trauma mengalami kecelakaan atau menjadi saksi atas kecelakaan tertentu).


"Gue seneng banget, lo bisa gabung lagi sama kita," ucap Kiren sambil memegang kedua tangan Siska, Siska langsung menepisnya dan beranjak dari kursi menuju motornya.


"Eh? Lo mau kemana?" tanya Kiren yang mengikuti Siska dari belakang.


"Maaf, gue gak bisa ikut balapan ini." Siska melajukan motornya dengan kecepatan tinggi untuk pulang.


"Tapi–" Sia-sia saja, Siska sudah menghilang dari pandangan Kiren.


"Jadi sia-sia gue tanding sama tu cowok," gumam Kiren yang semakin kesal.


Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB, dan artinya balapan antara geng Siren dan geng Lion di mulai, semua berkumpul di garis star kecuali Siska yang entah pergi ke mana.


"Mana ketua lo? Belum juga balapan udah takut aja, ternyata ketua lo itu cemen ya." Semua geng Lion menertawakan geng Siren.


"Tunggu lima menit lagi, gue jamin dua pasti dateng," sahut Kiren dengan raut wajah khawatir.


"Mereka kemana sih? Kok Siska belum juga ke sini?" gumam Kiren yang terus menggeser layar handphone nya.


"Kalian udah temuin Siska?


tanya Kiren kepada salah seorang anggotanya.


"Belum, kita udah cari ke rumahnya sama sekitarnya, tapi gak ada,

__ADS_1


jelasnya, Kiren langsung menutup telponnya.


"Gak berguna!" gumam Kiren kesal.


"Ini udah lima menit, tapi mana? Temen lo belum juga dateng tuh," kata lion, ketua geng tersebut yang tidak bisa menunggu lama lagi.


"Jadi, udah di pastiin bahwa ... geng kalian semua bubar dan semua wilayah kalian, kita yang kuasain semuanya," pekik Lion dengan sombongnya.


"Gue ada di sini!" teriak seseorang dari belakang.


"Siska!" gumam Kiren, akhirnya ia bisa bernapas lega sekarang.


"Akhirnya lo dateng juga, gue kira lo takut lawan gue," ucap Lion sombong.


"Gue gan akan kalah dari cowok kaya lo!" sahut Siska menatap lion bagaikan, singa ingin menerkam mangsanya.


"Ada satu syarat yang belum gue bilang sama lo, kalau lo kalah balapan ini, Lion akan jadi pacar lo," bisik Kiren. Siska langsung melongo dan langsung berkata, "Kenapa lo baru ngasih tau sekarang?" tanya Siska sedikit kesal.


"Tadi siang, gue mau ngasih tau. Tapi, karena pacar Fatih ngajak tanding basket, jadi gue lebih fokus sama pertandingannya, dan gak sempat ngasih tau lo," jawab Kiren yang merasa bersalah.


"Tenang aja, gue gak akan kalah dari Lion," ujar Siska dengan penuh percaya diri.


"Tapi kalau lo kalah gimana?" tanya Kiren memastikan.


"Itu gak mungkin, gue pasti menang!" jawab Siska cepat.


"Are you ready?" Seorang laki-laki berdiri di depan Siska dan Lion sambil memegang bendera. Dan setelah bendera di jatuhkan, Lion dan Siska melajukan motornya dengan secepat mungkin.


Tidak kurang dari lima menit, keduanya sudah hampir menuju garis finish. Dengan sengaja, Lion menendang motor Siska, sehingga Siska hilang keseimbangan dan terjatuh. Sontak semua di buat kaget, Kiren dan anggota Siren lainnya berlarian menghampiri Siska dan membantunya berdiri.


"Sial! Kenapa gue bisa kalah sama dia sih!" Siska memukul tanah dengan tanahnya dengan sekeras mungkin.


"Gue bantuin." Lion mengulurkan tangannya ke hadapan Siska. Siska menepisnya dan berdiri sendiri.


"Lo sekarang jadi pacar gue, jadi lo harus jaga sikap lo yang angkuh itu," kata Lion lembut sambil merangkul Siska.


"Jangan mimpi!" Siska pergi begitu saja dari sana.

__ADS_1


"Sekarang lo udah berurusan sama gue, lihat akibatnya!" gumam Lion menyeringai.


__ADS_2