
"Kamu pulang kapan?"
tanya Jio di dalam telpon.
"Maaf, Kak. Malam ini aku juga gak bisa pulang. Soalnya acarnya bum selesai, dan paling kalau pulang dua hari lagi kayanya,"
jelas Adik Jio.
"Jangan lama-lama, kasian Sifa. Dia terus nanyain kamu ke mana dari kemarin,"
sahut Jio yang khawatir dengan keadaan Adik nya itu.
"Aku janji deh. Dua hari dari sekarang, aku akan pulang kok. Bilang juga sama Sifa, kalau nanti aku pulang, aku bakal bawa hadiah,"
ucap Adik Jio dan menutup telponnya.
"Kamu nanti jemput Kiren ditempat camping nya, oke," suruh Jio kepada anak buahnya.
"Baik, Tuan!"
Jio kemudian berjalan menuju kamarnya dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan semua badannya dengan air hangat.
"Adhim! Gue gak akan pernah biarin lo muncul di kehidupan Aqila maupun gue!" batin Jio, sambil memukul dinding yang berada di depannya.
"Gue gak akan biarin!" teriak Jio dengan kesalnya.
🍁🍁🍁
"Nanti pulang aku jemput kamu di sini, oke," ucap Lion kepada Siska.
"Nggak usah! Gue mau pulang sama Fatih!" jawab Siska ketus.
"Jangan sekali-kali sebutin nama cowok itu di depan muka gue!" kata Lion sambil menatap Siska tajam dan memegang tangannya keras.
"Lo jangan kasar sama cewe! Apalagi ini cewe gue!" Fatih langsung mendaratkan pukulannya di sudut bibir Lion.
"Ada pahlawan ternyata!" gumam Lion sambil mengusap cairan merah yang keluar dari sudut bibirnya.
__ADS_1
"Terserah gue mau lakuin apa aja sama Siska!" Lion membalas Fatih dengan memukulnya.
"Udah! Kenapa sih kalian! Ini di sekolah!" Siska memisahkan keduanya.
"Emang lo siapanya Siska! Bukan siapa-siapa, kan?" tanya Fatih dengan sombongnya.
"Lo nggak tau siapa gue? Gue sebenarnya–" Lion tidak melanjutkan perkataannya.
"Apa?" tanya Fatih kembali.
"Siska ternyata belum cerita kalau gue adalah pacarnya? Hmmm ... ini bisa jadi kesempatan gue nih," batin Lion menatap satu-satu.
"Siska belum cerita sama lo tentang hubungan gue sama Siska ya? Kalau mau tau semuanya, lo tanya aja sama pacar lo itu. Gue duluan, bye." Lion kemudian melajukan motornya ke sekolahnya.
"Siska!" seru Fatih, Siska tidak menjawabnya, ia malah pergi menjauh dari Fatih.
"Siska!" Fatih mengejarnya dan memegang tangan Siska.
"Apa maksudnya kata Lion tadi?" tanya Fatih menatap Siska lekat.
"Siska! Jawab aku! Kita udah janji buat gak rahasiain apa-apa lagi! Kamu cerita sama aku, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Fatih dan membantu Siska duduk di salah satu kursi panjang yang berada di pinggir parkiran.
"Kamu ada hubungan apa sama Lion?" tanya Fatih kembali.
"Maafin aku! Ini semua salah aku!" Siska langsung memeluk Fatih.
"Ta– tapi kenapa?" tanya Fatih yang semakin bingung.
"Kalau aku cerita, kamu pasti jauhin aku," jelas Siska basa-basi.
"Emang kenapa aku harus jauhin kamu?" tanya Fatih yang semakin bingung dengan sikap Siska.
"Sebenarnya ... aku sama Lion ...." Belum sempat Siska menjelaskan, tiba-tiba Hans datang mengganggu keduanya.
"Serius amat!" kata Hans keduanya kaget dan langsung menatap Hans kesal.
"Yaelah! Lo kenapa terus gangguin kita sih? Gangguin Cika aja sana, kan lo suka sama dia tuh," bentak Fatih sambil menunjuk ke arah Cika yang sedang berjalan melewati ketiganya.
__ADS_1
"Saatnya Hans beraksi!" Hans merapihkan kerah seragamnya dan menghampiri Cika yang sedang berjalan sendirian.
"Sendirian aja, Neng," ucap Hans mensejajarkan langkahnya dengan Cika.
"Apaan sih lo! Baru pagi udah ngajak ribut aja!" kata Cika menatap Hans tajam.
"Jangan galak terus napa. Nanti cantik nya hilang loh," ejek Hans dan tangannya merangkul pundak Cika.
"Gue bilangin om gue ya!" ancam Cika dan menepis tangan Hans kasar.
"Jangan gitu dong, ampun deh!" Hans mengangkat kedua tangannya dan menjauh dari Cika.
"Coba lagi Hans!" teriak Fatih sambil menahan tawa.
"Siap bos, Qu!" teriak Hans kembali dan menghampiri Cika kembali.
"Mending kita ke kelas aja yuk," ajak Siska memindahkan topik.
"Bentar! Sebenarnya kamu ada apa sama Lion?" cegah Fatih memegang tangan Siska.
Tiba-tiba suara bel berbunyi dengan nyaringnya.
"Mending kita masuk kelas sekarang, kalau nggak Pak Wendi akan ngehukum kita." Siska kemudian meninggalkan Fatih sendirian di sana menuju kelasnya.
Fatih masih tetap berdiam diri di kursi tersebut memikirkan tentang hubungan Siska dan Lion.
"Fatih!" teriak seseorang dari belakang.
"Apa sih! Nganggu aja!" bentak Fatih yang masih menatap parkiran yang sepi.
"Kamu masih mau di sini atau saya hukum kamu!" ancam Pak Wendi sambil menjewer telinganya.
"****** gue!"
"Maaf, Pak! Saya gak sengaja, saya akan pergi ke kelas," ucap Fatih sambil memegang teringanya yang kesakitan.
"Kamu kali ini saya maafkan, tapi kalau kamu ke pergok lagi, saya suruh kamu berdiri di depan tiang bendera sampai pulang!" Karena Fatih takut dengan ancaman Pak Wendi akhirnya ia berlari menuju kelasnya.
__ADS_1