Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Bima


__ADS_3

Antara Ratih dan Bima sebenarnya hanya jalinan pertemanan biasa. Mirip dengan Kreshna dan Alicia hanya saja keduanya sudah bersahabat sangat lama.


Ratih dan Bima satu hobi. Mereka bertemu tidak sengaja dalam sebuah book fair. Memperebutkan buku yang hanya tinggal satu.


"Maaf, saya sudah mengincar buku itu duluan. Saya tadi nitip ke mbaknya supaya jangan diberikan ke siapapun sementara ambil uang ke atm karena disini tidak menerima pembayaran debit card atau credit card. Kebetulan cash saya lagi habis."


Ratih menahan tangannya ketika hendak menyodorkan buku tersebut ke kasir untuk membayarnya.


"Maaf, tapi mbak tadi gak bilang apa-apa ke saya. Menurut saya, anda belum membayar buku ini, artinya buku ini bisa jadi milik siapa saja, tentu mereka yang membelinya." Ratih melanjutkan kegiatannya yang terhenti dan membuka dompetnya mengambil dua lembar uang seratus ribuan.


Harganya 113 ribu rupiah dan dia hanya memiliki uang dengan lembaran seratus ribuan sebanyak lima lembar di dalam dompetnya.


"Maaf, sepertinya anda belum mengerti!" lelaki itu menahan tangannya


"Apa yang anda lakukan? Singkirkan tangan anda! Anda sangat tidak sopan! Apakah anda modus terhadap saya?" wajah Ratih berubah merah padam sangat marah.


"Maaf, saya tidak bermaksud demikian hanya saja anda tidak mengerti perkataan saya. Mengapa anda tetap bersikeras membayar buku ini?"


"Karena buku ini masih ada di zona bebas. Belum ada yang membayar atau membelinya. Apakah hal itu tidak cukup jelas bagi anda?"


"Baiklah! Saya akan beli buku ini 200 ribu rupiah. Bagaimana? Saya pikir cukup adil."


"Tidak!"


"300 ribu!"


"Tidak!"


"500 ribu!"


"Tidak!"


"Satu juta sudah penawaran tertinggi lebih dari itu anda harus mempertanyakan hati nurani anda terbuat dari apa."


"Tidak! Saya tidak akan menjual kembali buku ini. Saya berniat mengkoleksinya."


"Apa yang harus saya lakukan agar saya bisa membaca buku tersebut?"

__ADS_1


"Anda bisa meminjamnya setelah saya selesai membacanya. Bagaimana?"


"Benarkah? Baiklah! Sepertinya ide itu sangat bagus."


"Berapa nomor wa anda. Saya akan menghubungi anda begitu saya selesai membacanya."


Mereka saling bertukar nomor whatsapp.


Mereka bertemu kembali di tempat makan di book fair.


Perut Ratih yang keroncongan memaksanya mendatangi food court di book fair tersebut yang dinaungi tenda.


Dia memilih duduk di tempat paling pojok dekat dengan pohon yang sangat rindang dan teduh.


Agak ke dalam tetapi sangat teduh di bawah pohon rindang tersebut.


Dia memesan nasi bebek goreng dengan sambal korek dengan segelas es jeruk.


Sebuah suara menyapanya, "kita bertemu lagi disini."


Ratih mendongakkan kepalanya, "Oh, anda? Tidak dapat tempat duduk? Silahkan duduk bersama saya."


Mereka mengobrol sambil menunggu makanan datang.


"Apa yang anda pesan?" Ratih bertanya.


"Nasi rames dengan empal daging dan es teh manis."


"Anda sendiri?"


"Bebek goreng kremesnya sungguh menggugah selera ditambah sambal korek dan es jeruk sepertinya cocok."


"Mengap anda menyukai buku tersebut?"


"Aku tertarik melihat blurbnya."


"Anda hanya sekedar tertarik blurbnya sedangkan aku, buku itu sangat berharga karena ditulis oleh penulis kesayanganku dan tidak tahu apakah akan dirilis lagi."

__ADS_1


"Apa kau ingin membuat aku merasa bersalah membeli buku itu hanya karena buku itu ditulis oleh penulis kesayanganmu mungkin merupakan karya terakhirnya?"


"Bukan seperti itu. Aku mengoleksi buku-bukunya dan hanya buku itu yang belum kumiliki dan sangat sulit mendapatkannya. Di book fair ada tetapi ternyata sudah direbut olehmu."


"Aku membeli buku yang belum ada pemiliknya bukan merebut."


"Tapi aku sudah berpesan pada mbak penjaga bukunya."


"Apakah itu artinya kau pemilik bukunya?"


"Bukan begitu tapi aku sudah berpesan kepadanya."


"Mengapa kau menyukai karya-karyanya?"


"Entahlah! Aku suka tulisan dan idenya. Karyanya membuatku bersemangat membacanya. Menyukai sesuatu apa selalu harus ada alasannya. Apa warna kesukaanmu?"


"Merah. Mengapa merah bukan biru?"


"Karena aku suka merah bukan biru."


"Alasannya?"


"Menurutku merah lebih bagus dari biru."


"Salahkah orang yang lebih suka biru daripada merah?"


"Tentu tidak!"


"Apakah mereka harus bisa menjelaskan kenapa mereka suka biru dan bukan merah?"


"Kupikir tidak."


"Kau menangkap maksudku tidak?"


"Yeah...."


Mereka berbicara sambil mengobrol sampai book fair nyaris tutup.

__ADS_1


Banyak kesamaan diantara mereka. Membuat mereka berbicara banyak hal. Hobi mereka yang sama membuat mereka memiliki bahan obrolan yang nyaris tidak ada habisnya apalagi kering.


__ADS_2