Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Drama


__ADS_3

Ratih menarik nafas panjang. Kepalanya mulai merasa pening. Hubungan mereka sebagai teman sudah mulai beracun.


Mereka mulai gak konsisten dan melanggar privasi masing-masing.


Mereka sudah tidak memiliki hubungan sebagai kekasih. Seharusnya mereka tidak saling mencampuri urusan masing-masing. 


"Aku ingin segera pindah kerja dan tempat tinggal. I can't breath."


Dia juga tidak bisa berbicara dengan teman-teman kerjanya karena tidak ingin jadi gosip dan bulan-bulanan di kantor.


Dia meraih gadgetnya dan menelpon Tintan.


"Halo!"


"Tintan?"


"Iya, ini siapa?"


"Kak Ratih."


"Kenapa kak?"


"Bantuin aku mau gak?"


"Apa tuh kak?"


"Pura-pura jadi pacarku ya?"


"Apa? Gak ah kak! Nanti gebetanku kabur kalau ngira aku udah punya pacar. Aku suka banget kak sama dia."


"Nanti aku bantu gimana? Aku bakal bantuin kamu sama gebetan kamu. Tapi bantu aku dulu. Gimana?"


"Emang kakak mau bantu gimana?"


"Kendala kamu apa?"


"Dia cuek banget kak. Bikin penasaran."


"Cetek itu mah! Bantu aku ya?"


"Tapi kalau dia ngira aku punya pacar beneran gimana? Gak bakal mau dia sama aku."


"Kamu gak punya pacar juga kan dia belum tentu mau sama kamu!" Ratih ngakak.


"Ih! Kakak gituh! Aku takut nembak dia. Takut ditolak."


"Yah itu kan ada unsur psikologis dari kamu juga. Kalau kamu gak nembak. Tahu darimana  dia suka juga sama kamu apa gak?"


"Aku mau mastiin dulu,  kak. Kalau gak pasti buat apaan kan?"


"Pasti apa nih? Pasti nolak?" Ratih kembali tertawa.


"Ih kakak mah gituh!"


"Gitu aja marah. Kita gak koar-koar. Jadi gak ada yang tahu kecuali kamu, aku sama Kreshna."


"Maksudnya?"


"Bantuin aku dong! Kamu kan pengen aku sama kak Kreshna happily ever after."


"Iyalah! Males banget liat kakak berdua kayak Tom and Jerry."


"Makanya bantuin aku. Nanti aku juga bantu kamu. Aku comblang terpercaya. Percaya deh sama aku!"


"Gak usah dibantu deh kak. Ntar malah kacau balau."


"Trus kamu mau bantu aku gak?"


"Bantu gimana?"


"Ya itu pura-pura aja jadi pacarku."


"Supaya apa kak?"


"Supaya Kreshna gak seenaknya sama aku."


"Tapi kan kak Kreshna kalau sama aku superior. Kalau dia nyuruh aku mutusin kakak gimana?"

__ADS_1


Ratih menepok jidatnya, "Hmm, kurang power ya kalau kamu yang jadi pacarku. Siapa ya?"


"Kakak cari-cari dulu aja. Sosok yang disegani kak Kreshna."


"Hmm, bener juga. Tapi siapa ya, Tan?"


"Aku juga gak ada ide kak."


"Ya udah nanti aku pikirin lagi deh!"


"Ok kak, good luck ya?"


"Ok, Tan, kamu juga ya? Kalau gebetan kamu belagu bawa aja ke dukun apa vodoo, tusuk-tusuk aja pantatnya." Ratih kembali tergelak.


"Jadi gak bisa duduk kayak orang ambein ya kak?"


"Bener!  Kamu bener gak mau dibantuin?"


"Bener kak, gak usah. Takut tambah runyam ntar."


"Ya udah, good luck kalau gitu ya?"


"Okeh wokeh, kak!"


Ratih memilih untuk tidak memikirkan masalah komunikasinya dengan Kreshna yang memang sangat menyebalkan.


Kemungkinan dia hanya harus bersabar sampai dengan Kreshna menyelesaikan tugasnya dan kembali ke pusat.


Mengganti rugi kontrak senilai lima ratus juta tidak mungkin bisa dia lakukan.


Rencana pertama yang terlintas dalam pikirannya adalah mengurangi intensitas pertemuannya dengan Kreshna.


Dia memutuskan untuk membawa pekerjaan ke rumah. Lembur di rumah. Menolak ajakan makan siang terutama liburan dari Kreshna.


Daripada ribet pura-pura punya pacar. Lebih baik dia menjaga jarak dengan Kreshna. Yeah! Sepertinya itu yang paling baik.


Jam menunjukkan pukul jam dua belas siang ketika Kreshna mengajaknya makan siang.


"Maaf, aku puasa."


"Ok."


Keesokan harinya, saat jam makan siang, Ratih kembali menolak.


"Aku mau makan siang sama temen-temenku."


Keesokan harinya, " Aku bawa bekel sendiri."


"Makannya di luar kantor yuk!"


Ratih menggelengkan kepalanya sambil terus memakan bekalnya.


"Kau gak bosen di ruangan?"


Ratih kembali menggeleng.


"Ya udah, aku keluar dulu, ya mau maksi."


"Ok!"


Keesokan harinya Ratih kembali membawa bekal makan siangnya.


"Aku traktir ya?"


"Gak ah! Aku bawa bekel sendiri."


"Bekel kamu kasih aja siapa. Atau temenin aku dong makan di luar. Aku bosen di kantor."


"Sorry, gak bisa. Ajak yang lain aja ya?"


Keesokan harinya dia kembali beralasan puasa. Keesokan harinya maksi bersama teman-temannya.


Tidak terasa sudah sebulan lebih Ratih menghindari Kreshna. Malam minggu dia juga selalu ada acara. Bahkan dia sengaja mengambil kursus di hari Sabtu dan Minggu.


"Rumahmu sepi terus kalau weekend tapi gak ada orang."


"Aku ambil kursus."

__ADS_1


"Kursus weekend?"


"Hari biasa kan kerja. Mana ada waktu lagi buat kursus."


"Ngapain sih kamu kursus?"


"Mengembangkan diri aja. Emang kenapa?"


"Gak apa-apa tapi kamu kan juga perlu refreshing."


"Aku refreshing kok!"


"Minggu depan ada tanggal merah Kamis. Kita liburan bareng yuk, ajak Tintan?"


"Maaf, gak bisa. Aku mau mudik."


"Aku ikut ya mudik."


"Gak bisa! Aku harus ke saudaraku dulu. Janjian. Nebeng mobilnya. Gak mungkin ngajak kamu.Risih."


"Kamu naik kapal?"


"Sodaraku bawa mobil."


Ratih berbohong. Kenyataannya, dia menginap di salah satu penginapan dan menghabiskan waktu sendirian. Menggunakan waktunya untuk beristirahat. Dan berjalan-jalan sendiri. Semua teman-temannya memiliki acara. Mereka belum memiliki rencana untuk menghabiskan waktu bersama.


Menghabiskan waktu bersama Kreshna sangat tidak rekomended terutama semua tuduhan dan perkataan yang menyakiti hati juga perasaannya.


Ada kalimat bijak berkata. Jika kau merasa tersiksa dan lelah menjalani satu hubungan. Artinya hubungan itu tidak baik untukmu. 


Memang dia harus mengakui bahwa hubungannya dengan Kreshna memang beracun. Sebagai kekasih mereka saling mencemburui dan tidak mempercayai apalagi merasa nyaman satu sama lain.


Padahal salah satu tanda jodoh adalah merasa tentram tapi mereka justru merasa suram.


Sebagai teman mereka tidak bisa menghargai privasi masing-masing. Perbedaan hubungan mereka hanya di status. Kalau sekarang mereka berteman. Dulu sebagai kekasih


 Tapi interaksi mereka tetap. Beracun. Takdir juga tidak berpihak memisahkan memisahkan mereka. Mereka sudah berusaha untuk saling menghindar dan menjauh tapi sekarang justru bekerja dalam satu tim.


Tubuh Ratin sangat lelah sekaligus segar. Dia baru sampai di kontrakannya jam sembilan malam setelah puas berlibur sendiri.


Menaruh barang-barangnya begitu saja dan langsung naik ke tempat tidur.


Bel rumahnya berbunyi tepat pukul lima pagi. Kreshna.


Ratih bermaksud menutup pintu rumahnya kembali tetapi ditahan oleh Kreshna.


"Kau mau apa? Aku sedang tidur. Jangan ganggu orang tidur!"


"Kau kemana?"


"Apa maksudmu kemana?"


"Kau bilang kau mudik tapi aku ke rumahmu dan kau tidak ada."


"Ngapain kau ke rumahku?"


"Mau menyerahkan ini."


"Apa itu?"


"Ini buat hari Senin."


"Nanti? Kau kan bisa menyerahkannya di kantor."


"Maksudku supaya pagi ini sudah selesai begitu kau sampai di kantor."


"Kau memberiku pekerjaan di saat hari liburku? Kau benar-benar keterlaluan!" Dengus Ratih kesal.


"Kau jalan sama siapa?"


"Apa maksudmu dan mengapa kau ingin tahu?"


"Aku hanya ingin tahu kenapa kau berbohong? Pria macam apa yang kau jadikan kekasihmu merubahmu menjadi pembohong."


Kesabaran Ratih habis, "Kau tidak ada hak untuk ikut campur urusan pribadiku. Aku memiliki hubungan ldr dengan pacarku dan kau tahu itu. Bagaimana aku bisa berduaan dengan pacarku kalau kita selalu bersama?"


Ratih membanting pintu rumahnya tepat di depan hidung Kreshna. Meluapkan rasa kesal, amarah juga frustasinya.

__ADS_1


__ADS_2