
Ada satu keanehan yang terjadi ketika mereka menghabiskan waktu bersama. Waktu terasa sangat cepat berlalu. Setiap menit seperti mendekatkan tetapi sekaligus menakutkan. How if in the end everything doesn’t work out?
Ratih memutuskan kembali menggunakan pesawat subuh. Tidak ingin semua menjadi lebih sulit dari yang sebelumnya. Mereka kembali bertemu. Artinya dia juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi kembali.
Memutuskan meninggalkan surat di lobi. Jika Kreshna datang mencarinya.
Dear Kreshna,
Sorry aku gak sempat memberitahukan kepulanganku yang mendadak. Ada pemberitahuan mendadak tentang seat kosong subuh. Aku tidak ingin melewatkannya dan membebanimu mengantarku ke bandara. Walaupun aku tahu kau tidak akan keberatan. But, please understand, kadang terlalu merepotkan orang lain bagi sebagian orang sangatlah tidak mengenakkan.
Terima kasih, atas semua kepercayaanmu membagi hal yang membuat aku bisa lebih mengertimu. Tetapi aku berpikir pada akhirnya semua bukanlah mengenai apa yang kita pikir atau inginkan atau usahakan. Pada akhirnya apakah kita menjalani takdir yang memang sudah digariskan untuk kita atau tidak.
Terima kasih juga, kau mau lebih pengertian dan terbuka dalam menerima perspektive yang berbeda. Tidak mempertanyakannya lagi.
Pada akhirnya, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa tetapi tak memiliki daya untuk menentukan apa pun. Selain menjalani apa yang memang sudah menjadi ketentuanNya bagi kita semua.
Tidak semua harus kita pahami apalagi kritisi tapi semua yang harus kita jalani memang harus diterima dengan sepenuh hati.
Segala sesuatu akan menjadi berat. Saat kita merasa keinginan kita adalah raja. Tapi semua menjadi ringan saat kita sadar bahwa keinginan kita hanyalah hamba dari apa yang sudah ditentukan Yang Maha Kuasa.
See you when I see you....
Ratih membubuhkan tanda tangannya di dalam surat tersebut. Bergegas mendorong kopernya menuju pangkalan taksi di depan hotel. Mengantarnya ke bandara di pagi yang sangat dingin. Saat semua mata masih mengantuk dan terlelap tidur. Dia memilih kepulangannya di saat hari akan dimulai.
Ingin menikmati waktu seharian bersantai di kontrakannya. Sampai besok saatnya dia mulai kembali bekerja.
Semalaman Tania sudah tidak sabar menunggu kedatangannya. Membuatnya tergelak. Nyaris tidak bisa menghentikan tawanya. Mendengar cerita seminggu saat Tania bekerja bersama Pras.
“Dia mempelesetkan kata wifi. Sangat menyebalkan!”
“Tidak usah diambil hati kan bisa?”
“Bisa kalau cuma sekali dua kali. Tapi kalau udah kayak mesin fotokopi yang mengcopy seribu halaman?”
Pecah tawa Ratih.
“Hmm, kau tidak berempati! Kau menikmati penyiksaan yang dia lakukan padaku!”
“Jangan berlebihan! Ceritamu lucu. Aku bukan bermaksud tidak berempati. Just relax, ok! Balas saja si Pras. Biar makin seru atau mungkin jadi KO?”
“Big No! Seru apanya? Yang ada dia akan semakin menjadikanku sebagai bulan-bulanannya.”
“Ok! Tutup kuping! Tutup mata!”
__ADS_1
“Nabrak dong tutup mata! Kalau ntar malah dilaba gimana?”
Kontan Ratih kembali tergelak, “Tinggal itungkan untung ruginya! Surplus apa defisit. Ibarat gigi balas gigi. Kalian kan tinggal saling balas!” Ratih tertawa lepas.
“OMG! Gak lucu! Kapan kau kembali? Kau enak-enakan di sana. Di sini aku disiksa setiap hari!”
“Disiksa dengan cinta!” Ratih kembali menggoda Tania.
“Aku mulai merasa kalian berdua berkonspirasi!”
“Buat apa aku berkonspirasi dengan Pras? Kurang kerjaan!”
“Kau seperti sangat menikmati apa yang kualami?”
“Ceritamu lucu!”
“Aku kesal! Bukan melawak!”
“Yeah! Aku tahu tapi ceritamu membuatku tak bisa menahan tawaku.”
“Syukur, aku sudah mengenalmu dengan baik. Aku bisa sangat tersinggung dengan reaksimu. Seperti tidak memiliki empati sama sekali!”
“Sudahlah! Tidak usah membesar-besarkan sesuatu! Aku akan pulang besok subuh tapi baru masuk kerja lusa. Karena aku perlu istirahat sebelum memulai bekerja kembali.”
“Yeah! Ok! Lusa aku sudah bisa work from home ya?”
“Ok, thanks!”
“Your welcome.”
Sesampainya di Bandara. Ratih memutuskan sarapan pagi sebelum kembali ke kontrakannya.
Memilih sarapan pagi di coffee shop. Makanan yang tidak terlalu berat untuk pagi hari. Memesan secangkir vanilla latte dan sepotong chicken pie. Terlihat menggugah selera. Sebotol air mineral. Memesan risoles smoked beef keju telur mayonaise, lemper ayam dan kue **** masing-masing dua buah. Untuk dibawa pulang.
Menikmati sarapan paginya. Lamat-lamat. Menyesap vanilla lattenya. Mengunyah chicken painya dengan perlahan.
Besok rutinitas akan dimulai seperti biasa. Liburannya berakhir. Pikirannya benar-benar fresh dengan cuti yang diambilnya.
Hamdphonenya berbunyi. Tania.
“Liburanku baru berakhir besok.” Ujar Ratih.
“Yeah! Aku tahu. Aku hanya memastikan kau sudah sampai. Aku tidak ingin disini sehari lebih lama.”
__ADS_1
Ratih tergelak, “Jangan seperti itu. Hati-hati nanti semua berbalik padamu!”
“No way! He is not my type!”
“It’s not a reason. Unless both of you didn’t mean each other.”
“We are human. We can choose anything and everything.”
“Yeah, as long as The God didn’t govern the faith differently.”
“I don’t want to talk rubbish. I just want to make sure that you are here. And everything will be fine.”
“Ok!”
“Ok!”
Ratih menutup handphonenya. Tertawa geli melihat polah Tania. Tetapi dia juga tidak bisa menyalahkan Tania sepenuhnya. Pras memang seringkali keterlaluan. Sudah memiliki kekasih. Masih saja mengincar gadis lain. Mengapa harus memilih Tania yang seperti hidup di dunianya sendiri?
Mungkin polah Tania membuat Pras menjadi penasaran? Atau karena berbeda dengan gadis-gadis yang pernah dikenalnya? Entahlah?
Setelah selesai menghabiskan sarapan paginya. Membayar sarapan dan pesanan kue basah untuk dibawa pulang. Ratih bergegas pulang menuju kontrakannya menggunakan taksi.
Sesampai di kontrakannya. Menurunkan barang bawaannya. Beristirahat sejenak sebelum membersihkan rumah yang sudah ditinggalkannya selama seminggu.
Home sweet home. Kemana pun pergi tetap rumah adalah tempat terbaik.
Ratih mengganti sprei kamarnya. Kemudian menidurinya. Menyalakan air conditioner dan televisi di dalam kamarnya. Matanya mengayun dan tertidur lelap.
Dirinya terbangun ketika jam menunjukkan jam sepuluh pagi. Bersiap mandi dan membersihkan rumahnya.
Menyapu kamar dan seluruh bagian rumah. Mengepelnya. Memutuskan makan siang di luar dan berbelanja karena kulkasnya kosong melompong. Sengaja dikosongkan sebelum mengambil cuti.
Selesai sholat zuhur. Keluar rumah. Mengunci pintu rumah dan pagar. Berjalan kaki menuju tempat makan langganannya. Memesan nasi rames dengan segelas es teh manis.
Selesai makan siang. Berjalan menuju supermarket terdekat. Berbelanja bahan makanan. Sayur mayur dan keperluan lainnya.
Supermarket dan rumah kontrakannya tidak terlalu jauh. Tetapi dia kerepotan jika harus membawa barang belanjaan ke kontrakan. Memutuskan memesan gocar.
Sesampai di kontrakan. Menyusun semua barang belanjaannya di kulkas dan tempat penyimpanan. Untuk makan sore. Memutuskan memasak nasi dan mendadar telur. Lebih baik waktunya digunakan untuk beristirahat daripada keluar mencari makan.
__ADS_1
... ...