Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
The Moment


__ADS_3

Hati Ratih menjadi sangat kacau. Dia benar-benar tidak mengharapkan bertemu dengan Kreshna lagi.


Emosi dan perasaannya terganggu. Bahkan saat menghabiskan waktu bersama teman-temannya di kontrakannya. Terlihat jelas nuansa mendung bergelayut di wajahnya.


"Kamu kenapa sih? Lesu banget. Gak semangat dan bergairah."


"Gak apa-apa."


"Masak sih? Kamu beda banget loh…Gak seperti biasanya."


"Lagi banyak pekerjaan aja."


"Gosip di kantor kamu selalu berduaan dengan Presiden Direktur kita." Kontan teman-temannya cekikikan menertawainya.


"Gosip murahan. Aku kan bekerja. Sekretaris dan asistennya jauh. Aku yang ditunjuk buat menggantikan mereka untuk sementara waktu."


"Bener juga gak apa-apa. Kalau kau jadi nyonya Direktur pasti akan berimbas pada perbaikan hidup juga karir kita semua."


Suasana menjadi riuh.


"Tidak lucu! Perasaanku semakin tidak nyaman. Sebenarnya aku ingin mengundurkan diri dan berganti pekerjaan. Tetapi ganti rugi sebesar lima ratus juta rupiah. Darimana uang sebanyak itu?"


"Buat apa kau mengundurkan diri? Kau tidak suka kita berkumpul bersama? Merasa terganggu?"


"Bukan begitu. Aku juga tidak ingin kehilangan kalian semua. Aku hanya tidak tahan bekerja dengan Kreshna."


"Presiden direktur kita namanya Kreshna? Kenapa? Bossy? Demanding?"


"Aku gak suka aja."


"Tukar saja sama aku." Pinta Diah.


"Memangnya bisa?"


"Memang tidak bisa?"


"Aku sudah minta ganti dengan yang lain tapi pak Pras bilang tidak bisa."


"Si Pras itu memang sirik sama aku. Gak bisa lihat orang senang." Dengus Diah sebal.


"Kamu dan Pras seperti Tom and Jerry." Ceplos Amanda.


"Kalian kan tahu bagaimana terobsesinya dia ke aku. Kalau tidak memanfaatkan atau menindas. Tidak akan puas."


"Kalau kau belum bersuami. Kau cocok menjadi salah satu kekasihnya."


Semua temannya tergelak termasuk Ratih. Teman-temannya merupakan penghibur hatinya yang gundah. Apalagi semenjak bertemu dengan Kreshna kembali.


"Jadi bawahannya aku depresi dan sakit hati apalagi jadi kekasihnya. Dijamin jantungku bocor."


"Pompa dong, kalau bocor."


"Kalian kira ban, bocor."


Mereka kembali tergelak.


Hati Ratih sedikit terhibur mendengar banyolan teman-temannya. Pikirannya teralih dari Kreshna.


Mereka menghabiskan malam panjang mereka di kontrakan Ratih dengan bercerita, bercanda dan bermain kartu.


"Berita di kantor sudah sangat santer mengenai kau dengan pak Kreshna."


"Kalian jangan ikutan bergosip dong."


"Kami sudah mengatakan, kau dengan pak Kreshna tidak ada hubungan apa-apa."


"Mereka usil sekali!" Sungut Ratih sebal.


"Namanya juga orang. Apalagi kalian berdua kan sama-sama single."


"Kalian juga tampak serasi."


"Huk!" Ratih tersedak mendengar perkataan temannya.

__ADS_1


"Gak usah grogi gitu dong!"


"Kalian bukannya bantuin malah nambahin." Wajah Ratih bersungut kesal.


"Kenapa sih, kau tampak alergi dengan pak Kreshna?"


"Aku tidak ingin gosip tersebut berimbas ke pekerjaan atau karirku."


"Kalau kau berhenti kerja dan jadi nyonya Kreshna, tidak apa-apa kan?"


Kontan semua teman-temannya tertawa. Muka Ratih sangat masam.


"Aku tidak bermaksud mengolok-ngolokmu." Sahut Diah dengan susah payah menahan tawanya.


"Perlukah kita meminta maaf pada Ratih? Memang kita salah apa? Mengungkapkan fakta?"


Mereka kembali tertawa.


"Kalian benar-benar sangat menyebalkan!" Tertawa mereka kembali pecah.


"Baru diganggu begitu saja sudah marah!"


Bibir Ratih terasa kelu. Dia tidak ingin membagi kisahnya dengan Kreshna yang membuatnya gundah dan tidak tahu harus bagaimana.


Kehidupannya yang tenang terusik karena mereka bertemu kembali.


Kreshna sendiri juga merasa terganggu dengan pertemuan mereka yang tidak sengaja. Apalagi mereka juga harus bekerja sama. Sesuatu yang sangat tidak diinginkan keduanya.


Hubungan keduanya menimbulkan drama dan kesalahpahaman bagi keduanya.


Semenjak mereka terpisah. Ratih tidak memiliki keingintahuan apa pun tentang Kreshna dan atau Alicia.


Hubungan mereka ibarat membangun istana pasir. Tidak membawa mereka kemana pun. Hanya memberikan harapan semu.


Ingatan Ratih melayang ketika mereka sedang beristirahat di tengah kesibukan mereka berdua bekerja.


"Kubelikan makan siang. Kau pasti lapar."


"Tidak usah. Aku akan keluar makan siang bersama teman-temanku."


"Ini namanya kerja rodi. Jam makan siang hak karyawan."


"Ini keadaan darurat, aku tidak bisa berlama-lama disini walaupun kau memohon dan memegangi kakiku."


Wajah Ratih memerah diiringi gelak tawa Kreshna.


"Tidak lucu!"


"Oh ya, sangat lucu! Apalagi melihat ekspresimu."


"Ekspresi apa? Aku tidak bereaksi apa pun."


"Kau tenang saja! Ini makan siang biasa. Tidak ada cincin apa pun. Kau kan alergi dilamar." Tawa Kreshna kembali meledak melihat wajah Ratih yang sudah seperti nano-nano.


"Kau seharusnya melamar Alicia! Bukan aku!"


"Oh ya? Mengapa begitu?"


"Karena kalian tampak serasi dan cocok."


"Kau masih saja cemburu dengan Alicia."


"Siapa yang cemburu?"


"Buat apa kau bahas dia? Kalau kau tidak cemburu?"


"Aku bukan bermaksud membahasnya. Aku hanya mengingatkan bahwa kau kerap merasa tergantung dengannya. Kau selalu mencarinya setiap kau membutuhkannya. Mengapa kau tidak menikahinya saja? Jangan salah paham! Tidak ada hubungannya dengan cemburu. Semua sudah berlalu mengapa harus cemburu?"


"Memang kau lihat saat ini, aku berlari ke arahnya?"


"Mungkin karena kalian sedang berjauhan."


"Yeah! Aku kan tidak bisa berenang bolak balik dari sini mencarinya. Kau benar!"

__ADS_1


"Kau tahu! Percakapan ini hanya memicu ketegangan dan tidak akan berujung kemana pun."


Suasana yang semakin riuh membuat Ratih tergagap karena terputus dari lamunannya.


"Bagaimana kalau kita bermain truth or dare?"


"Ide yang bagus."


"Kau setuju kan, Tih?"


Ratih menganggukkan kepalanya melihat antusiasme teman-temannya.


"Mie atau nasi?"


"Mie."


"Kenapa?"


"Menurutku mie rasanya lebih nagih dari pada nasi."


"Tapi kalau gak ada nasi kan gak nendang?"


"Itu namanya dilema. DL."


Kontan mereka tertawa riuh.


"Kalau milih dua-duanya boleh gak?"


"Boleh aja tapi gendut tanggung sendiri." Mereka kembali tergelak.


Jawaban tidak penting. Mereka hanya ingin membuat becandaan yang bisa menjadi hiburan dan bahan tertawaan.


"Sepatu atau sendal."


"Sendal, dong."


"Alasannya?"


"Lebih nyaman aja kan? Casual."


"Tapi kalau kesel buat ngegetok orang kurang nendang rasanya."


"Kalau mau nendang, gimana kalau pake sapi aja?"


Tawa mereka kembali meledak.


"Apaan sih nih? Gak jelas banget truth and darenya."


"Isteri tua atau isteri muda."


"Tua dong!"


"Alasannya?"


"Dapat pembelaan dan belas kasihan. Belum warisan. Kepercayaan. Kebebasan."


"Tapi kan kemungkinan yang muda yang dicinta dan jadi pelampiasan?"


"Ok. Isteri muda. Dihakimi massa. Gak dapat warisan. Dinikahin di bawah tangan. Dijadiin pelampiasan. Dicurigain. Sekali lagi, isteri tua atau muda?"


"Tuaaa…."


"Nah kan?"


Tawa mereka makin riuh.


"Apalagi perempuan ada expired datenya. Mendingan harta atau cinta kalau udah begitu?"


"Busetttt, matre amat!"


Mereka kembali tergelak.


"Tapi banyakan orang milih cerai dari pada isteri tua atau muda."

__ADS_1


"Namanya juga truth and dare!"


Kontan tawa mereka kembali meledak dan kali ini sambil memegangi perut masing-masing.


__ADS_2