
Cerita berawal ketika akhirnya Kreshna berhasil mendapatkan hati Ratih.
Terinsipirasi dari cerita Dylan, Kreshna pun ingin menuangkan hari jadian mereka ke dalam kertas bermaterai yang ditolak mentah-mentah oleh Ratih.
"Aku gak mau!"
"Kenapa sih? Kamu gak serius ya?"
"Duh! Kamu itu kayak anak kecil? Ngapain sih niru-niru film Dylan?"
"Ya gak apa-apa kan kalau bagus dan bisa menginspirasi?"
"Gak bagus dan norak!"
"Ini hari pertama kita jadian kenapa malah jadi ribut?"
"Oh! Jadi kamu mau putus? Ya udah!"
"Duh! Kamu kok kayak anak kecil banget!"
"Kamu yang kayak anak kecil! Ngapain coba kayak gini?"wajah Ratih cemberut kesal.
"Aku kan cuma pengen kita serius aja!"
"Emang aku kurang serius apa?"
"Biar aku lebih yakin aja sama kamu?"
"Trus aku sendiri ke kamu gimana? Biar pake kertas materai tapi kalau waktu kamu banyak buat yang lain buat apa?"
"Aku gak ada perempuan lain? Kamu kenapa sih cemburu terus?"
"Kamu itu makin jarang luangin waktu sama aku."
"Kamu susah diajak kemana-mana!"
"Aku pengen kamu bantuin aku merangkai bunga. So, sweet kan kita berdua merangkai bunga?"
"Itu kan hobi kamu bukan hobiku. Gimana sih kamu?"
"Atau gak temenin aku jalan-jalan ke mall atau flea market?"
"Kamu gak bosen apa kegiatan monoton begitu terus?"
__ADS_1
Wajah Ratih ditekuk. Dia tidak mengatakan sepatah kata apapun.
"Aku pulang dulu!"
Ratih tidak menahan Kreshna. Hatinya dongkol.
Kreshna berlalu dan dia menangis.
Kreshna sendiri merasa marah dengan sikap kekanak-kanakkan Ratih. Dia menelpon Alicia.
"Lagi apa?"
"Lagi ngigo!" kontan Kreshna tertawa.
"Kenapa lo nelpon?" tanya Alicia.
"Emang kenapa? Lo udah ada yang ngapelin?"
"Belum sih. Lo sendiri bukannya ke Ratih ya?"
"Ngambek doi!"
"Buset...Bukannya hari ini lo jadian ya sama dia?"
"Trus lo ngapain nelpon gue?"
"Gabung yuk sama anak-anak...."
"Gue juga udah bete sih, cuma bingung mau kemana."
"Pucuk dicinta ulam tiba dong...."
"Gak enak buntutnya, naga-naganya...."
"Patungan bensin sama beli makanan ya?"
"Tuh kan!" Kresha tergelak.
Beban pikirannya menguap dan kekesalannya pada Ratih menghilang.
Dia menghabiskan malam minggunya bersama teman-temannya juga Alicia.
"Apa kan gue bilang juga? Lo sama Alicia serasi!"
__ADS_1
"Jangan ngaco lo!"
"Gue juga perlu masa depan lebih baik keleus! Masak sama ubur-ubur?"
"Asem lo, Sa...." Alicia tergelak.
"Udah gak usah gangguin dia terus. Kasian hari pertama jadian langsung marahan!"lapor Alicia.
Mereka tertawa.
"Bocah ngapa yak?"
"Kelilit tali puser kayaknya!"ceplos Alicia yang diikuti gelak tawa yang lain.
"Ngidam sendal kayaknya!" cetus Kreshna.
"Anak orang diapain sampe ngidam sendal begitu? Duh gak nyangka!"
"Dioles minyak jelanta!" kontan mereka semua ketawa.
"Lo udah dibilang gak bakal cocok sama Ratih.Keras kepala!"
"Baru juga sehari!"
"Sehari aja udah langsung marahan! Makin ke sini bakal makin dilematis. Makin ilfeel. Love is ain't enough!"
"Udah ah! Jangan bikin gue jadi bete. Cuma salah paham biasa dan semua bakal baik-baik aja!"
"Kepala batu!"
Kreshna mulai merasa menyesal apakah mereka seharusnya saling mengenal lebih lama atau berteman saja seperti sebelumnya?
Mengeratkan hubungan menimbulkan serangkaian hal yang justru kerap saling tegang.
Posesif, cemburu, saling mengendalikan dan mengatur.
"Kenapa semua jadi berubah?"
"Siapa yang berubah?"
"Kamu!"
"Kamu!"
__ADS_1
Tidak ada satupun ingin mengalah.