
Marsha tampak sumringah dan bahagia menemukan pengganti Pras. Raka adalah merupakan utopia baginya.
Di tengah patah hati dan kecewa dengan sikap Pras yang mendua dan pandai berpura-pura. Luka hatinya terobati begitu saja saat bertemu Raka.
Marsha nyaris membatalkan kehadirannya pada acara kegiatan sosial tersebut. Keputusannya memutuskan pertunangannya dengan Pras membuatnya sangat sedih. Harapannya pupus menikahi Pras. Apalagi tunangannya jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri.
Hal itu membuatnya menjadi patah arang. Mengurung diri di kamar. Kehilangan semangat untuk menjalani rutinitasnya.
Teman-teman dan keluarganya bersedih melihat keadaannya. Tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Marsha sudah akan membatalkan kehadirannya dalam acara kegiatan sosial tersebut. Tetapi keluarganya meminta dengan sangat agar dia mau menghadiri acara tersebut.
“Kau jangan seperti ini. Kau kan ketua Yayasan. Jangan tidak bersemangat seperti ini.”
“Aku sedang tidak semangat, bu.”
“Justru itu harus semangat. Kau tidak pernah mau menurut pada orang tua. Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku tidak menyukai Pras. Tapi kau terus saja berhubungan dengannya. Sekarang lihatlah dirimu.” Omel ibunya.
Marsha hanya menundukkan kepalanya. Penyesalan tidak ada gunanya. Saat itu dirinya sangat jatuh cinta dengan Pras. Matanya menjadi buta. Telinganya menjadi tuli. Dia tidak mampu berpikir. Walaupun sudah banyak yang memperingatkan sifat Pras yang suka bergonta ganti pasangan dan pembosan.
Dirinya jatuh dalam rayuan Pras. Terbang ke angkasa. Hubungan mereka berjalan mulus sampai saat Pras menyukai sahabatnya sendiri.
“Ibu tidak mau tahu. Kau harus menghadiri acara tersebut.”
“Bu, aku benar-benar tidak bisa.”
“Kau boleh berhenti sementara waktu setelah kau menghadiri acara hari ini. Bagaimana?”
Marsha menganggukkan kepalanya dengan lemah. Hatinya begitu nestapa. Betapa nekatnya dia memutuskan pertunangan mereka. Padahal dia masih sangat mencintai Pras. Seperti tendangan bunuh diri.
Dengan tidak bersemangat. Marsha datang ke acara hari itu. Setelah hari ini aku bebas. Bisiknya dalam hati.
Dengan wajah gugup. Dia berjalan ke podium untuk memberikan pidatonya. Pidatonya kali ini membuatnya sangat mengharu biru.
“Kepedulian sosial sangatlah diperlukan. Apalagi jika memang kita mampu menunaikan tugas tersebut.”Ujarnya dengan suara terbata-bata.
“Mereka yang berkelimpahan mengemban tugas untuk mengurusi sesama. Karena sejatinya, apa yang sudah dianugerahkan kepada mereka bukan untuk mereka sendiri. Tuhan mempercayakan lewat mereka. Untuk mengurus mereka yang papa dan tidak berdaya. Melalui Yayasan Bahtera Insani, kami membantu niat baik para dermawan untuk menyalurkan donasi dari para dermawan dan yayasan-yayasan yang bekerja sama dengan kami. Serta pihak-pihak yang berwenang dan terkait.” Butiran bening menetes di kedua pipinya yang putih dan mulus, “Semoga Yayasan Bahtera Insani bisa terus melayani sesama. Mempersembahkan dan berdedikasi sebaik mungkin melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan dari Yayasan Bahtera Insani. Bekerja dari, dengan dan sepenuh hati.”
Marsha mengakhiri pidatonya dengan suara isak tangis yang menyayat hati. Para hadirin terkesima mendengar pidatonya yang menyerupai jeritan hati.
Begitu menuruni podium. Para hadirin berebutan ingin menyalaminya. Mereka sangat terkesan dengan pidato yang dibawakan Marsha.
“Sangat menyentuh hati, bu Marsha.” Marsha hanya menganggukkan kepalanya. Menyalami satu per satu mereka yang ingin bersalaman dengannya. Sambil terus menghapus air matanya yang berjatuhan.
__ADS_1
“Pidatomu bagus sekali.” Suara lembut seorang pria menyapanya. Marsha menundukkan wajahnya. Sibuk menghapus air mata yang terus berjatuhan.
“Seperti suara jeritan hati. Orang yang sedang patah hati.”
Marsha mendongakkan wajahnya.
Suara pria yang sangat halus dan lembut tersebut tertawa renyah, “Aku hanya bercanda!”
Marsha menghapus sisa air matanya dengan punggung tangannya.
“Sepertinya kau membutuhkan ini.” Pria tersebut menyodorkan sapu tangannya yang berbau sangat wangi.
“Kau, Marsha kan?” Marsha menganggukkan kepalanya. Sebagai ketua Yayasan memang banyak yang mengenali namanya.
“Aku, Raka.”
Mereka saling bersalaman. Senyum Raka mengembang dan terlihat sangat meneduhkan.
Beberapa yayasan Raka bekerja sama dengan yayasan miliknya. Mereka saling berbincang. Melanjutkan percakapan mereka saat mereka duduk di meja-meja bundar yang mengitari acara kegiatan sosial tersebut.
Acara dilanjutkan dengan hiburan. Sebelum acara puncak pelelangan dan pengumpulan donasi.
Mereka duduk berdampingan sambil membicarakan urusan seputar yayasan. Marsha sangat terkesima dengan cara berbicara Raka mengenai yayasan dan beragam kegiatan sosial.
“Aku sangat tertarik dengan proposal kerja samamu pada yayasan kami.” Ujarnya.
“Benarkah?”
“Terutama mereka yang membutuhkan.”
“Yeah, terutama mereka yang membutuhkan.”
“Apalagi kalau tujuan yayasan kita sama kan?”
“Yeah. Betul.”
“Semua itu hanya untuk tujuan efisiensi dan memaksimalkan pelayanan. Tidak ada tujuan lain selain hal tersebut.”
“Melayani yayasan harus dengan hati dan jiwa. Aku setuju akan hal tersebut.”
“Yeah, tentu.” Marsha merasa lebih bersemangat membicarakan masalah yayasan dengan Raka. Berbeda dengan Pras yang kurang tertarik dengan hal semacam ini.
“Apakah kau mau datang ke acara peresmian yayasan ku yang baru?” Tanya Raka.
__ADS_1
“Kapan?”
“Nanti ku kirim undangannya ke sekretaris mu.”
Marsha menganggukkan kepalanya. Mereka kembali melanjutkan perbincangan mereka.
“Kau mendirikan yayasan di bidang apa?”
“Panti Jompo. Untuk melengkapi yayasan-yayasan yang sudah ada. Bergerak di bidang kesehatan, keagamaan, pendidikan, yatim piatu, pengentasan kemiskinan, modal kerja dan usaha, penyaluran tenaga kerja.”
“Lengkap sekali.”
“Supaya lebih terkonsentrasi saja.”
“Tapi kupikir memang panti jompo itu perlu perhatian.”
“Yeah, aku suka tidak tega melihat orang tua yang harus bekerja. Sebatang kara. Tidak memiliki keluarga. Tidak ada yang mengurus. Apalagi kalau kondisi mereka sudah sangat tidak memungkinkan untuk bekerja. Sudah sangat lemah.”
Marsha memandang Raka dengan tatapan kagum.
“Apakah kau tertarik untuk bergabung?”
“Mungkin tidak saat ini. Kami sedang berusaha untuk membuat yayasan baru yang bergerak di bidang pengasuhan anak.”
“Oh ya? Sangat menarik.”
“Benarkah?”
“Yeah, tentu.”
“Terinspirasi dengan apa yang dilakukan Pemerintah Finlandia menyediakan fasilitas pengasuhan anak bagi orang tua yang tidak mampu mengasuh anak-anak mereka. Tentu yang kami lakukan masih sangat jauh dari yang ada di negara tersebut. Tetapi kami memiliki sukarelawan dan dana yang cukup untuk mendirikan yayasan baru tersebut dan menjamin kelangsungan pelayanannya.”
“Kupikir anak-anak sama pentingnya dengan orang tua.”
“Ya kan?” Marsha tertawa lebar, “Aku senang kau berpikiran sama. Terinspirasi juga melihat para orang tua yang harus bekerja atau tidak memiliki kemampuan pengasuhan anak.”
“Yayasan tersebut hanya untuk yang tidak mampu kan?”
“Tentu. Kalau yang mampu tentu mereka bisa menggunakan jasa pengasuhan anak sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.”
“Yeah, memang sudah banyak layanan pengasuhan anak saat ini. Dengan jenis layanan yang bisa disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.”
Banyaknya kesamaan di antara mereka. Membuat mereka sangat mudah menjalin komunikasi dan pengertian.
__ADS_1