
Ratih dan Dio sibuk mempersiapkan pacar halu Ratih.
"Kalau kau tidak terburu-buru. Aku mau cari yang lebih meyakinkan lagi. Kau sangat terburu-buru."
"Kreshna tidak memberikanku waktu yang banyak. Sabtu ini, dia ingin menemui pacar haluku. Kupikir sudah lumayan calon yang kau ajukan."
"Dia belum pernah pacaran."
"So?"
"Takutnya kurang menyakinkan."
"Kurang menyakinkan gimana?"
"Kalau pacaran kan bisa menunjukkan sikap romantis dan mesra."
"Tidak perlu bersikap romantis. Ini cuma pura-pura."
"Bagaimana kalau si bos curiga?"
"Apa sih maksudmu?"
"Kan keliatan bedanya orang itu memiliki hubungan atau tidak."
Ratih mendelik dengan mata melotot,"Kalau temanmu berani macam-macam, akan kuhajar!"
Kontan Dio tergelak.
Ratih mencubit lengan Dio.
"Aww!!!" Dio berteriak kesakitan, "Sakit. Tau!"
"Awas kalau berani kurang ajar! Aku akan menendang tulang kering temanmu."
"Maksudmu, pacaran tapi biasa aja? Kayak gak pacaran?"
"Ya gak juga! Tapi juga jangan kurang ajar!"
"Maksudmu bagaimana sih?"
"Kan bisa waktu makan. Saling mengambilkan makanan. Memanggil pake sayang. Bukannya kesempatan dalam kesempitan! Ngegrepe-***** orang seenaknya."
Dia kembali tergelak.
"Sambil menyelam minum air. Gak apa-apa, dong!"
Ratih kembali mencubit lengan Dio sekuat tenaga.
"Biru, Rat! Sumpah lenganku jadi memar dan biru."
"Biar saja! Siapa suruh kurang ajar!"
"Aku kan cuma becanda. Iseng-iseng berhadiah."
Ratih kembali mencubit Dio sekeras yang dia bisa.
"Kalau sampai dagingku copot. Kau harus ganti rugi!"
"Gigi kali copot?" Giliran Ratih menertawainya.
"Baiklah. Jadi nanti kalian akan saling memanggil sayang."
"Yeah!"
"Kalian juga akan saling memperhatikan ketika makan, berjalan dan lain-lain."
"No physical touch kalau temanmu mau selamat sejahtera sampai tujuan!"
"Menggandeng?"
"Nope." Ratih menggelengkan kepalanya.
"Memeluk."
"Apalagi! Temenmu belum bosan hidup kan?"
"Mencium?"
"Kau jangan macam-macam! Kau bilang temanmu belum pernah pacaran. Harusnya tidak biasa dong dengan hal-hal seperti itu."
"Memang kau dan Kreshna pacaran seperti apa?"
Wajah Ratih memerah seperti kepiting rebus, "Kenapa kau mau tahu?"
"Disamain aja."
"Apa? Kau jangan keterlaluan. Ini cuma sandiwara. Aku dan Kreshna sendiri juga menjaga batas pergaulan. Dan tidak mungkin bisa disamakan. Kau jangan gila bisa gak?"
Dio kembali tergelak.
__ADS_1
"Tidak usah sampai merah begitu dong, wajahmu." Dio menunjuk wajah Ratih.
"Kau membuatku jengah!"
"Ok. Apa rencananya?"
"Kami akan menemui temanmu. Pura-puranya ada perjalanan bisnis. Waktunya sempit. Temanmu harus mendatangi aku dan si bos. Dikenalkan saat itu. Sudah begitu saja. Selesai bertemu dan berkenalan langsung balik lagi."
"Ok! Gampang kalau begitu."
"Memang gampang! Makanya kau jangan macam-macam."
"Kenapa gak sama aku aja sih? Kita kan bisa pacaran beneran."
Ratih kembali mencubit lengan Dio, "Jangan gila, bisa gak sih?"
Dio kembali tertawa sembari berteriak,"Aww!!!"
***
Ratih sedang menyusun dokumen yang akan dibaca dan ditandatangani Kreshna ketika Kreshna berjalan mendatanginya.
"Kau sudah pesan tiket untuk Sabtu?"
"Sudah."
"Akomodasi?"
"Sudah."
"Sudah atur pertemuan dengan pacarmu?"
"Sudah."
"Semuanya sudah beres kan?"
"Iya, sudah. Kalau kau mau berubah pikiran. Aku senang sekali."
"Berubah pikiran buat apa?"
"Aku merasa sangat konyol. Ide bertemu dengan pacarku. Kita sudah tidak ada hubungan apa pun. Buat apa saling kepo?"
"Mungkin pemaknaan hubungan selesai antara kita berdua berbeda. Kau memaknainya, tidak mau tahu lagi apa yang aku jalani. Kalau aku sebaliknya. Kepo bukan berarti mau balikan lagi. Aku hanya ingin tahu tipemu. Itu saja."
"Hubungan yang tidak berjalan bukan karena masalah tipe. Tapi memang tidak berjalan aja."
"Bisa tidak kau menghormati perbedaan dan tidak usah mempertanyakan apalagi meneliti segala sesuatunya dari perspektivemu sendiri. Membuatku sangat tidak nyaman. Aku merasa kau tidak menghormatiku."
***
Jantung Ratih berdetak cepat. Hari yang mereka nantikan tiba. Terselip perasaan was-was, sandiwaranya terbongkar. Tetapi dengan bantuan Dio dan Dani yang juga sepertinya mudah diajak bekerja sama. Sepertinya semua akan baik-baik saja.
Sesampainya mereka di bandara. Mereka beristirahat di coffee shop yang mereka pilih sambil menunggu jam pertemuan dengan Dani.
Suasana bandara dipenuhi orang yang berlalu lalang.
Cuaca hari itu sangatlah cerah. Matahari bersinar terang. Awan juga terlihat putih bersih. Benar-benar hari yang sangat baik untuk berpergian.
Memasuki coffee shop. Mereka memesan dua vanilla latte dan croissant sandwich.
Memilih tempat duduk yang agak ke pojok untuk menghindari lalu lalang.
Kreshna menghempaskan dirinya ke kursi yang disediakan. Menaruh tasnya di sebelahnya. Ratih yang diduduk di hadapannya melakukan hal yang sama.
"Kau jangan salah paham." Kreshna membuka pembicaaan sambil menunggu pelayan mengantarkan pesanan mereka berdua.
Ratih tidak menanggapi. Memilih tidak membuka suaranya. Ingin semuanya segera berakhir. Dia tidak ingin banyak bicara. Tanpa sengaja membocorkan atau menimbulkan kecurigaan.
"Aku ingin berdamai dengan masa lalu." Sahut Kreshna.
Ratih hanya mendengarkan. Tidak memberikan tanggapan apa pun.
"Kau mengembalikan cincin. Tidak memberikan penjelasan. Membuatku penasaran."Lanjut Kreshna.
"Kau mau aku bagaimana?" Ratih akhirnya membuka suaranya.
"Apa maksudmu?"
"Kau ingin aku menerima semua perlakuanmu padaku?"
"Apa maksudmu?"
"Kau menghilang setelah memberikan cincin itu. Apa maksudmu?"
Kreshna memandang Ratih dengan resah.
"Kau mengembalikan cincin tanpa penjelasan."
"Ada yang aneh. Sepertinya mungkin masing-masing kita belum siap. Atau ragu apa semua bisa berjalan dengan baik. Setelah lamaran itu, masing-masing justru saling menjauh dan dekat dengan orang yang lebih memahami diri kita masing-masing."
__ADS_1
"Maksudmu Bima dan Alicia?"
Ratih tidak menjawab.
"Setiap kali kita berselisih. Rasanya tidak nyaman kan? Mungkin itu yang kita hindari. Bagaimana menurutmu?"
"Siapa orang suka bertengkar? Tidak ada! Tapi kupikir, ada benarnya. Kita saling menjauh karena menghindari hal-hal yang mungkin bisa terjadi kalau kita terlalu dekat."
"Terima kasih. Sudah membantuku menyimpulkan semuanya."
Ratih kembali diam. Tidak lama pelayan membawakan pesanan mereka berdua.
Mereka memutuskan untuk menikmati hidangan yang sudah disajikan. Sesekali menyesap minuman yang mereka pesan.
"Aku cuma ingin tahu. Orang yang kau pilih menjadi kekasihmu. Seperti apa." Kreshna membuka suaranya,"Menghilangkan penasaranku. Aku bisa melanjutkan hidupku dengan damai."
"Terserah kau saja. Tapi kalau aku tidak ingin tahu apa pun. Karena hal itu yang membuatku lebih damai. Kau harus menghormatinya."
"Yeah! Masing-masing dari kita memiliki cara sendiri untuk berdamai dengan masa lalu."
"Yeah!"
Masih ada dua jam lagi sebelum bertemu pacarmu.
"Kita ke toko souvenir. Aku belum beli oleh-oleh buat pacarku."
"Perhatian sekali!"Ujar Kreshna gagal menutupi rasa cemburunya.
"Namanya juga orang pacaran."
"Kau dulu memperhatikan kesukaan Bima."Protes Kreshna.
"Itu karena dia suka ke rumahku. Aku hanya menyediakan apa yang dia sukai."
"Tidak bisa jadi alasan."
"Kau sangat tidak masuk akal. Memperhatikan kesukaan tamu itu bukan suatu kejahatan dan bukan sesuatu yang berlebihan kalau kau memaknainya dengan benar."
Amarah Kreshna muncul,"Kau mencari-cari alasan dan mengada-ngada!"
"Kenapa kau jadi emosi?" Wajah Ratih menjadi bete.
"Gimana aku gak emosi. Dulu kau memperhatikan Bima dan sekarang pacarmu."
"Apa sih maksudmu?" Ratih ngeloyor pergi meninggalkan Kreshna. Memasuki sebuah toko sovenir.
Aku akan memberikan hadiah pada Dani sebagai rasa terima kasihku. Supaya dia tidak kapok menolongku.
Ratih memilih sepasang sepatu. Dio memberikan keterangan rinci tentang Dani.
Memilih kaos ukuran XL. Dan sebuah celana panjang.
"Lengkap sekali!" Dengus Kreshna sebal.
"Kau kenapa sih?"
"Jangan berlebihan!"
"Jangan ikut campur urusanku bisa gak?"
Kartu debitnya tertolak ketika ingin membayar. Dananya tidak cukup.
Ratih mengembangkan senyumnya yang paling manis.
"Kenapa kau tiba-tiba menebar pesona?" Hati Kreshna mulai tidak enak.
"Boleh pinjam uang gak?"
"Gak enak buntutnya! Beli aja semampumu kan bisa? Gak usah bela-belain begitu. Cinta sih cinta tapi gak usah sampe abis-abisan juga keleus."
"Uang tabunganku dideposito. Nanti aku bayar. Tapi kalau kau sabar. Tunggu aku gajian gimana?"
Kreshna mengeluarkan kartunya dengan wajah sebal.
"Terima kasih ya…."
Kreshna manyun.
"Pinnya masih sama ya?" Sahut Ratih takjub, "Kau tidak takut kartumu aku bobol?"
"Memang kau mau kuapa-apain?" Sahut Kreshna tertawa jahil.
Wajah Ratih seperti kepiting rebus, "Jangan kurang ajar!"
Kontan Kreshna tergelak.
"Gak lucu!"
"Lucu dong!"
__ADS_1