Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Darren


__ADS_3

Darren adalah teman pertama Tania di Selandia Baru. Mengundangnya ke social meeting di rumahnya. Dengan cepat mereka menjadi akrab satu sama lain.


Walaupun fakultas mereka berbeda. Tetapi hal itu tidak menghalangi keakraban pertemanan di antara mereka.


Mengobrol dengan Darren sangatlah menyenangkan. Jurusan sejarah yang sedang dipelajarinya. Memberikan banyak wawasan dan informasi yang menarik.


Darren mengundangnya ke rumahnya. Mereka bermaksud ingin menonton film Marie Antoinette.


Tania menyanggupinya setelah pulang kuliah dan sebelum berangkat bekerja.


Darren baru saja tiba dari kampusnya. Saat Tania sampai di rumahnya.


“Come in....”


“Ok! Thank you.”


Darren membuka pintu rumahnya dan mereka memasuki rumah Darren yang cukup luas.


Darren tinggal bersama temannya yang sudah bekerja. Suasana rumah tampak sepi dan lengang.


Tania duduk di sofa ruang tengah dimana televisi dan cd player berada.


Darren menuju dapur. Mengeluarkan cake coklat dari kulkas. Menuang orang juice ke dalam gelas. Mengambil sekaleng soft drink untuk dirinya sendiri.


“Kau sangat menyukai sejarah Perancis. Aku menemukan film fenomenal ini di tempat penyewaan.” Ujar Darren meletakkan berturut-turut coklat cake beserta pisau pemotongnya dari plastik, dua buah piring kue beserta garpu kecilnya. Segelas orange jus dan sekaleng soft drink less sugar.


“Sejarah Perancis sangat menarik.”


“Semua sejarah menarik.”


“Itu karena kau sangat maniak sejarah.”


Darren tertawa menyetujui.


“Yeah, aku sudah terobsesi sejarah sejak kecil. Sejarah merupakan magnet dalam hidupku.”


“Yeah.”


“Mengapa kau sangat menyukai sejarah Perancis?”


“Revolusi Perancis terinspirasi dari revolusi Amerika. Sejarah tercetusnya Revolusi Perancis sangat menarik. Revolusi Perancis koreksi dari absolutisme kekuasaan raja. Yang paling menarik, Napoleon mengkoreksi kekuasaan absolut raja XVI dan mengeksekusi mati Maria Antoinette dengan guillotine. Tetapi dia sendiri terjebak dalam absolutisme yang sama dan berakhir di pengasingan pulau Elba.”


“Fasisme memang seringkali satu paket dengan kekuasaan. Berbagi kekuasaan tidak mudah. Romawi mengalami kehancurannya justru karena sistem pembagian kekuasaannya. Karena dilakukan oleh sekelompok orang yang melakukan abuse of power. Oligarki yang mengkristal menjadi absolutisme kekuasaan.


“Kontrol kekuasaan memang seharusnya jadi satu dengan pembagian kekuasaan.”


“Secara teori tapi kenyataannya. Kontrol kekuasaan sangat erat kaitannya dengan integritas pemegang kontrol kekuasaan itu sendiri.”


“Maria Antoinette memperburuk keadaan ekonomi masyarakat Perancis.”


“Yeah, kemarahan rakyat Perancis  mengantarkan kepalanya ke alat pemenggal kepala, guillotine.”


Darren menyetel film Maria Anntoinette. Mereka pun larut menonton film tersebut.


Handphone Tania berbunyi. Tania tetap fokus menonton film di hadapannya.


“Kau tidak mengangkatnya?”


Tania menggelengkan kepalanya.


“Mengapa?”


“Tidak penting.”


“Apakah orang yang sama ketika menelpon mu saat social meeting di rumahku weekend lalu?”

__ADS_1


“Bagaimana kau tahu?”


“Hanya menebak.”


“Yeah. It’s him.”


“But why? You don’t have to answer my question.”


“I don’t want to mess my life. That’s all.”


“Maybe you should tell more clearly.”


“He was my best friend fiancee.”


“I see. But was?”


“Their relationship didn’t work.”


“So?”


“I don’t know.”


“What’s that got to do with you?”


“Maybe I caused their relationship to end.”


“Are you stole your best friend fiancee?”


“I didn’t mean it.”


“First of all. No one can steal love, darling.”


Tania memandang ke arah Darren.


“Second, you can not force love. The last, love has their time period.”


“You never know how long you will feel it. Temporary or forever.”


“I don’t get it.”


“You are afraid things won’t work.”


“Yeah.”


“But you have to find out. That’s the only way to know.”


“I disagree.”


“How come?”


“If something feels not right. Just hold on. Wait for it to pass.”


Mereka kembali menyimak film Maria Anntoinette. Usia empat belas tahun sudah menikah dengan Raja. Usianya masih sangat belia ketika menjadi Ratu. Dan belum genap dua puluh tahun sudah menjadi legenda. Dipancung di guillotine.


“Bagaimana sebenarnya secara literatur sejarah kisah tentang revolusi Perancis?” Tanya Tania menselonjorkan kakinya di karpet setelah mereka selesai menonton film.


“Pemerintahan feodal Perancis membagi masyarakat menjadi tiga. Golongan pertama adalah Raja dan Bangsawan. Golongan kedua adalah tuan tanah dan pemuka agama. Sedangkan golongan ketiga adalah rakyat biasa. Golongan pertama dan kedua tidak membayar pajak sedangkan golongan ketiga dibebani pajak. Mereka meminta Raja agar membebankan pajak pada golongan pertama dan kedua tetapi keinginan ini ditolak mentah-mentah oleh Raja. Mereka tidak dapat mengkoreksi apalagi membantah Raja karena hukum adalah Raja. Absolutisme kekuasaan. Fasisme.” Jawab Darren.


“Maksudmu rakyat Perancis saat itu dalam tekanan hebat?”


“Yeah, hutang sangat besar. Pajak yang dinaikkan. Hasil panen buruk. Bekerja tanpa diupah. Kelaparan dan kemiskinan dimana-mana. Belum ditambah krisis moral pemuka gereja.”


“Yeah, tekanan terhadap rakyat Perancis terlalu besar. Mereka tidak hanya sebagai sapi perah membayar pajak tanpa memperoleh hak yang seimbang. Diskriminasi. Kelaparan dan kemiskinan.”Sahut Tania.


Tekanan kemiskinan dan kelaparan yang mendera rakyat Perancis memicu kemarahan mereka. Ditambah buruknya hasil panen membuat mereka melampiaskannya pada gaya hidup Maria Anntoinette yang memang boros, penjudi, sosialita, suka mengoleksi barang mewah.

__ADS_1


“Perancis saat itu seperti dalam dilema besar.” Ujar Darren.


“Yeah, belum lagi krisis moral gereja.”


“Maria Anntoinette dituduh melakukan incest dengan anaknya?” Tanya Tania.


“Itu hasutan dari seorang jurnalis yang sangat membenci Maria Anntoinette dan gemar mengkritiknya. Hal itu tidak benar.” Jawab Darren.


“Yang jelas saat itu rakyat Perancis sangat marah dan tidak dapat dikendalikan.”


“Walaupun sebelum revolusi, Louis XVI sempat menyetujui tetap menjadi raja walaupun hanya simbol. Tetapi akhirnya monarki ditumbangkan dan berdirilah Republik Perancis. Mereka sempat dalam keadaan kacau selama setahun.” Sambung Darren.


“Yeah. Sampai dengan mereka membuang Napoleon ke pulau Elba.”


“Tetapi memang revolusi Perancis, renaissance and aufklarung merupakan cikal bakal munculnya demokrasi.”


“Aku masih ingin mengobrol denganmu tetapi aku harus bersiap-siap bekerja.”


“Yeah, senang mengobrol dan menghabiskan waktu bersamamu.”


“Yeah, aku juga. Sampai bertemu lagi.”


“Sampai bertemu lagi.”


Darren mengantarkan Tania sampai garasi rumahnya. Tania mengambil sepedanya. Mengeluarkannya dari garasi dan mengayuhnya sambil melambaikan tangannya pada Darren.


Tania mengayuh sepedanya menuju rumahnya. Sesampai di rumah, membersihkan dirinya. Sholat dan bersiap untuk bekerja menggunakan mobil kecilnya.


Maryam keluar rumah berjalan menuju mobilnya.


“Kau melupakan bekalmu.”


“Terima kasih. Kamila ada di rumah gak?”


“Ada sedang tidur di kamarnya. Kenapa?”


“Kemarin ada seorang pria menanyakannya. Menitipkan sesuatu untuknya. Ada di kamarku. Aku lupa memberikannya padanya?”


“Baiklah. Seperti apa titipannya?”


“Kotak dengan bungkus kado berwarna pink dengan pita. Ku letakkan di bawah tempat tidurku.”


“Baiklah. Nanti ku sampaikan kalau dia sudah bangun.”


“Ok, terima kasih.”


Mereka saling melambaikan tangan. Semenjak dia berbagi rumah dengan Kamila dan Maryam. Rumah terasa lebih nyaman dan bersih.


Selain mereka bergantian membersihkan rumah. Mereka juga bergantian memasak. Rumah juga tidak terasa sepi seperti sebelumnya.


 Tania sangat beruntung menemukan teman-teman serumah yang bisa saling mengisi dan menghibur satu sama lain. Layaknya sahabat dan saudara.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2