Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Invitation


__ADS_3

Kepindahannya ke Selandia Baru ada turut rembuk keluarganya. Yang menilai bahwa Tania di Indonesia kurang bisa berkembang secara sosial.


“Lebih baik kau merantau ke luar negeri.” Sahut ayahnya yang diamini ibunya.


“Bagaimana aku bisa mewarisi perusahaanku kalau kemampuan interpersonal mu payah sekali. Kau kurang sosialisasi. Pintar saja tidak cukup. Kau harus bisa bergaul. Membangun jaringan.”


Tania memakan sarapan paginya dengan malas.


“Baiklah aku akan ke Amerika.”


“Disana individualis. Aku juga tidak yakin kau bisa bergaul dan membaur di sana. Nanti sama saja dengan disini.”


“Inggris.”


“Nope.” Sahut ayahnya.


“Perancis.”


Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya.


Hampir semua ditolak ayahnya.


“Well, Singaparna.”


Kontan kedua orang tuanya tergelak.


“Selandia Baru.” Ujar ayahnya.


“Selandia Baru?”


“Disana kemampuanmu bersosialisasi akan berkembang pesat.”


“Tapi aku tidak akan kembali ke sini.”


“Tidak usah kembali. Disini ada abangmu yang akan mengurus semua perusahaanku. Kau nanti yang akan mengembangkan  sesudah menyelesaikan kuliahmu. Kau yang akan memegang perusahaanku di Selandia Baru. Bagaimana?”


“Tapi aku ingin bekerja penuh.”


“Baiklah lima tahun setelah kau bekerja secara penuh. Bagaimana? Kemungkinan kau akan membutuhkan pengalaman.”


“Baiklah.”


“Good girl!”


Disinilah dia terdampar. Ayahnya tidak mengetahui alasan sebenarnya dia ingin menetap di luar negeri. Tapi semua tidak penting lagi.


Menurut informasi ayahnya. Di Selandia Baru setiap akhir pekan mereka akan berkumpul makan bersama.


Sikap mereka yang sangat hangat dan ramah pada orang asing. Dan sangat toleran kepada minoritas. Akan membuatnya nyaman.


Darren, pria Selandia Baru yang tidak sengaja ditabraknya. Menghubunginya lewat what sap. Mengundangnya akhir pekan  ke rumahnya yang tidak jauh dari kampus. Dia memutuskan untuk naik sepeda.


Dia juga sudah membeli Ford Focus keluaran terbaru. Berwarna Silky Biege Metalik. Yang akan digunakannya untuk bekerja dan berbelanja. Untuk menghemat waktunya.


[Hi..., I am sorry, I forgot to ask your name]


[Yeah, we were in hurry]


[Let me introduce myself. My name is Darren.]


[I am Tania]


Mereka saling memperkenalkan diri. Darren mengundangnya akhir pekan ini dan memberikan alamatnya padanya.


[Tania, nice to know you. I hope you will come to the social meeting at my house.”


[Nice to know you too, Darren. Yeah, I will come and thank you for the invitation]


[Its my pleasure. You seem confused in the other day.]


[Yeah. I am new here. No friends and relatives.]


[I see. I hope you will enjoy here. And find friends and relatives soon.]

__ADS_1


[Yeah, the social meeting will help me a lot to make connection here.]


[Are you study in Auckland University?]


[Yes, I am]


[Me too. What major do you take?]


[Master of Bussines of Administration. I will take the pra MBA first. What major do you take?]


[History.]


[Interesting Major]


[Yeah, I am so interested with History since I was young]


[Its cool]


[I’ve got to go. I want to return some books to library. I am expecting your coming in my house this weekend]


[Yeah, ofcourse. Thanks]


[See you later]


[See you]


Kelas memasaknya baru dimulai minggu depan. Sehingga dia belum bisa memasak apa pun. Harus membeli semua yang akan dimakannya. NZIDT adalah sertifikasi yang paling diandalkannya ketika akan mengkonsumsi makanan.


Memutuskan membawa pizza margarita dengan label halal NZIDT. Bisa jadi makanan yang dia bawa adalah satu-satunya makanan yang dia bawa. Mengingat penduduk Selandia Baru mayoritas non muslim.


Dia juga membawa jus buah dengan label halal yang sama. Memilih jus jeruk segar.


Tidak terasa hampir seminggu berlalu. Hari Senin, dia akan memulai perkuliahannya. Besok dia akan menghadiri social meeting pertamanya.


Membatalkan niatnya datang dengan mengendarai sepeda melihat makanan dan minuman yang akan dibawanya.


Jarak rumah Darren memang tidak terlalu jauh hanya beberapa blok dari tempat tinggalnya. Tetapi barang bawaannya cukup banyak dan tidak muat di sepedanya.


Dia memutuskan naik taksi. Tidak ingin kesulitan mencari tempat parkir. Atau parkir sembarangan yang berakhir dengan penilangan.


Memesan lima kotak besar pizza Margarita dan sepuluh kotak jus jeruk. Sekotak pizza berisi delapan potong pizza.


Tania meletakkan makanan dan minuman yang dibelinya di meja ruang tamu rumahnya. Bermaksud menyiapkan dirinya.


Membersihkan tubuhnya. Mengenakan  kaos lengan panjang berwarna biege. Di luarnya mengenakan sweater tanpa lengan bermotif kotak-kotak navy dan merah ati dan celana panjang berwarna senada dengan kaos lengan panjangnya. Tania menguncir rambutnya. Terlihat beberapa helai rambut menghiasi leher putih jenjangnya.


Setelah beres semua persiapannya. Dia memanggil taksi. Tidak sampai sepuluh menit. Dia sudah sampai di rumah Darren.


Satu per satu tamu berdatangan. Tania memandang dengan wajah kikuk. Dirinya sangat gugup. Apa yang akan dilakukannya? Apa yang akan dikatakannya. Bagaimana jika....


“Hai Tan!” Suara Darren yang ramah menyapanya.


Tania tersenyum gugup.


“Come here! I will introduce you to Sally and Joe.”


Tania meletakkan makanan dan minuman yang dibawanya ke meja makan. Kemudian berjalan menghampiri mereka.


“Thank you for the food and drink. But you should bother.” Sahut Darren.


“Its nothing. I bring the food that have NZIDT.”


“Are you moslem?”


“Yeah. I am.”


“Do you see that corner? That the food with NZIDT label and also bring from our moslem’s friends. You can eat all of the food and drink at that corner.”


“Yeah. Thanks.” Tania membalikkan badannya.


“Where do you want to go? Meet Sally and Joe.”


“Just a minute. I move my food and drink to the halal corner table first. Ok?”

__ADS_1


“Ok, than.”


Tania meletakkan makanan dan minumannya di meja khusus makanan dan minuman halal. Kembali mendatangi Darren untuk berkenalan dengan kedua temannya.


“Hi! Sally and Joe.” Sahutnya gugup.


“Hi too. Nice to meet you, Tania. Don’t be nervous. Just relax.” Sahut Sally.


“Yeah, we don’t have any tiger or lion here.”


Tania serta merta tertawa.


“Yeah, your face look so pale. Looks like seeing a ghost or wild animal.” Timpal Darren.


Tania kembali tertawa,”Really?”


“Yeah. From the first time I saw you. You looks so nervous and confused.”


“Maybe because the place is still odd for me.”


“She from Indonesia.”Sahut Darren.


“Really? In thought you are Malaysian.” Ujar Sally.


“I thought she is Philipinos.” Sahut Joe.


“Yeah, there are almost the same.” Timpal Darren


Darren juga memperkenalkan dengan teman-temannya yang moslem. Berasal dari Pakistan, Malaysia dan Arab.


Selandia Baru adalah negara multikultural. Sehingga beragam aneka suku bangsa membaur di sana. Eropa, Amerika, Australia, Asia, Afrika dan Arab. Penduduk asli suku Maori dan warga Selandia Baru sendiri.


Hubungan sosial yang harmonis, hangat, ramah dan toleran. Sangat mendominasi. Mereka hidup damai di tengah beragam perbedaan yang meliputi mereka. Baik agama maupun suku bangsa, negara dan warna kulit.


Perlahan sikap gugup Tania menghilang. Teman-teman barunya sungguh menyenangkan dan hangat. I think, I will gonna like this place....


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2