
Lima Pebruari adalah ulang tahun Kreshna. Ratih menyiapkan surprise dari beberapa waktu lalu beserta kartu ucapan permintaan maafnya karena mereka kerap bertengkar.
Dia membeli sebuah black forest yang dibelinya di harvest. Membeli lilinnya dan semuanya sudah dia siapkan dalam satu kotak kue. Tidak lupa bunga yang dia rangkai sendiri.
Rumah Kreshna tampak sepi. Sepertinya belum pulang bekerja. Dia membuka pintu rumah dengan kunci cadangan miliknya.
Menaruh cake ke dalam kulkas dan mulai memasak untuk makan malam mereka.
Mengingat pertengkaran-pertengkaran mereka setelah mereka jadian kerap membuatnya merasa bersalah.
Dia berusaha membuat surprise ulang tahun terbaik yang dia bisa.
Ratih bermaksud membuat spageti carbonara dan jus durian.
Pintu terbuka begitu dia selesai menaruh makanan di meja setelah selesai menatanya.
"Kau sudah pulang?"
Kreshna mengangguk dan terlihat raut wajahnya lelah.
"Apa ini?"
"Kau lupa hari ini, hari apa?"
"Rabu!"
"Astaga! Hari ulang tahunmu sendiri lupa?"
"Ah ya! Terima kasih ya, sayang...." mata Kreshna berbinar.
"Aku minta maaf kalau sering membuatmu marah!"
"Aku juga salah!"
"Kita makan bareng yuk, merayakan ulang tahunmu."
"Aku mandi dulu ya, sebentar."
Ratih menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Hari yang indah buat mereka berdua karena menikmati makan malam sambil mengobrol santai.
"Kau buat sendiri?" Kreshna menggulung spagetinya dan mengunyahnya perlahan.
"Iya tapi cakenya aku beli."
"Harvest?"
Ratih menganggukkan kepalanya.
"Kau suka kan?"
"Tentu!"
" Maafkan aku sering mencemburuimu dengan Alicia dan sering seperti petugas sensus."
"Tidak apa-apa. Selama kau menyadari hal itu sangat menggangguku. Kuharap kau tidak melakukannya lagi. Aku juga minta maaf karena sering memintamu melakukan hal yang sedang tidak kau inginkan hanya karena aku ingin bersamamu. Aku tidak akan bersama Alicia seandainya kau mau menemaniku."
"Kau kan tahu, aku tidak terlalu suka keluar rumah atau bertemu orang kalau sedang tidak mood atau ingin."
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Tapi kau juga jangan selalu cemburu pada Alicia."
"Terserah! Aku tidak mau merusak suasana indah ini dengan pertengkaran."
Mereka mengobrol sambil menonton film komedi romantis yang sangat menghibur.
"Aku pulang dulu, ya?" Ratih berpamitan melihat jam sudah menunjukkan jam sembilan malam.
"Aku antar."
"Gak usah! Kau kan besok kerja. Aku pake grab car aja ya?"
"Ok, aku akan ke rumahmu ya, Sabtu besok."
"Kau tidak pergi bersama teman-temanmu?"
"Mungkin hari minggunya."
"Baiklah, terserahmu."
__ADS_1
Takdir seperti sebuah kutukan. Seperti halnya sleeping beauty yang jari tangannya terantuk alat pemintal karena ada nenek sihir yang sakit hati kepada ayahnya dan mengutuk sang putri tertidur selamanya sampai kutukan tersebut bisa berakhir.
Takdir tidak bermaksud mencemburui dan mengutuk siapapun tetapi mungkin sebagaimana ketetapan malam dan siang mereka hampir tidak mungkin bersatu.
Bulan dan matahari tak mungkin bersinar dalam waktu bersamaan atau mereka akan mengalami gerhana matahari atau bulan.
Menyadari hal itu. Air mata Ratih kerap meleleh. Hati Kreshna pun sering gundah memikirkannya. Menyadari mereka seperti dua fenomena alam yang tidak bisa muncul bersamaan.
Alicia adalah awan bagi Kreshna sedangkan Bima adalah bintang bagi Ratih.
Malam minggu itu keduanya bertekad untuk tidak membuat ketegangan dan berusaha menjalin komunikasi mereka dengan sebaik mungkin.
"Aku merasa aku sedang menghadiri pemakaman." Kreshna berusaha melucu. Ratih tertawa.
"Kau tertawa? Tidak marah?"
"Aku berusaha berbaik hati padamu." Giliran mereka berdua tertawa.
"Lelucon garing!" ceplos Kreshna yang diikuti anggukan kepala Ratih.
"Mungkin kita harus menonton film komedi?"
Ratih mengangguk setuju. Dia melihat koleksi filmnya dan memilih salah satu film yang sangat ringan dan lucu.
" Sebenarnya aku ingin menonton salah satu film klasik denganmu." Ratih berterus terang.
"Kau tau aku akan tertidur dengan sukses." Ratih tertawa.
"Ya, aku 'kan hanya mengatakan ingin bukan berarti aku akan melakukannya. Terakhir aku menonton dengan Bima membuatku merasa bersalah seandainya aku bisa membagi kesenangan dalam menikmati film yang bagus tersebut bersamamu."
"Kenapa kau tidak menonton sendiri?" nada Kreshna mulai menaik.
"Mengapa kau tidak bercanda sendiri dan hampir selalu mencari Alicia?" Ratih menatap Kreshna tajam.
"Aku bercanda sendiri seperti orang tidak waras."
"Aku mengomentari film itu sendiri seperti orang gila."
"Okay, aku mengerti maksudmu. Tapi kuharap kau menjaga kepercayaanku."
__ADS_1
"Kuharap kau juga demikian."