Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
The Day Off


__ADS_3

Kreshna menghabiskan makanannya dengan lahap dan tandas.


“Kau doyan atau lapar sih?” Tanya Ratih tertawa geli.


“Dua-duanya.” Ujarnya sambil mengisi piringnya kembali dengan steak ayam yang tersisa, “kuhabiskan tidak apa-apa?” Tanya Kreshna.


“Tidak apa-apa. Aku membuatnya untukmu. Habiskan saja.”


Mereka menghabiskan waktu bersama di kontrakan Ratih. Bermain otello.


Ratih tampak berpikir keras. Mereka berebutan untuk bisa mendapatkan tempat di pojok serta ujung sehingga bisa merubah warna biji bulatan tersebut seperti milik mereka.


Atau memboikot separuh papan menjadi warna mereka sehingga tidak bisa mengubah warnanya karena dari ujung sampai (hampir) separuh papan sudah diisi oleh warna mereka.


“Aku cuma bisa merubah tiga biji bulatan semua sudah kau kuasai.” Keluh Kreshna membuat Ratih tertawa.


“Kau cengeng sekali dalam setiap permainan.” Ejek Ratih.


“Mungkin karena isi otakku sembilan puluh sembilan persen untuk bekerja. Sehingga gaptek kalau bermain.”


Ratih kembali tergelak,”alasan paling basi. Buktinya hari ini kita tidak bekerja ide siapa? Sembilan puluh sembilan persen buat kerja?” Ujar Ratih sambil tertawa.


“Ada saatnya burnt out.” Ujar Kreshna singkat sambil berpikir keras.


“Sudahlah, ini cuma permainan. Rileks. Kalau benar kau burnt out. Kau butuh refreshing.”


“Kau juga. Kita berdua. Itu sebabnya, aku berinisiatif mengambil cuti buat kita berdua. Cuti dadakan dan paksaan.”


Kontan Ratih kembali tertawa.


“Aku akan mengupas mangga sambil menunggu kau melanjutkan permainanmu bagaimana?”


“Ide yang bagus.” Kali ini Kreshna mengerutkan keningnya tanda berpikir keras.


“Awas jangan curang!” Ujar Ratih.


“Awas jangan asam!” Timpal Kreshna membuat Ratih kembali tergelak.


Ratih mengupas mangga harum manis yang dibelinya. Mangga tersebut berwarna kuning kehijauan dengan lelehan getah di luarnya. Terlihat sangat ranum serta menggugah selera.


Meletakkan irisan mangga ke dalam piring serta membuang bijinya. Mengupas tiga buah mangga diletakkan di sebuah piring yang cukup besar.


“Mau gak?” Tawarnya menyodorkan piring mangga dengan dua buah garpu di atasnya.


Kreshna melirik ke piring mangga. Terbit seleranya melihat mangga yang begitu ranum.


Mengambil garpu serta menusuknya. Mengunyahnya dengan perlahan.


“Manis sekali.”


“Lezat kan?”


Kreshna menganggukkan kepalanya, “manis seperti yang mengupas.”


“Astaga! Gombal sekali!” Ratih kembali tergelak diikuti gelak tawa Kreshna.


“Memangnya salah?” Ujar Kreshna tersenyum lebar.


“Ini bukan masalah benar atau salah tapi sikap gombalmu itu. Apa yang kau inginkan?”


“Menodaimu!”


Ratih menjewer telinga Kreshna diiringi suara erangan dari Kreshna.


“Aduh sakit! Aku kan cuma bercanda!”


“Becanda apa? Gimana kalau diaminin malaikat?”


“Pucuk dicinta ulam tiba kan?”


“Sembarangan!” Ratih menuang saos tomat ke tangannya.


“Kau mau apa?” Tanya Kreshna.


Ratih mencelupkan jari telunjuknya ke tumpahan saos yang ada di tangannya. Menggaris dahi serta pipi Kreshna dengan telunjuknya.


“Red flags!” Teriaknya kencang.


“Aku tidak tuli!” Sahut Kreshna tidak kalah kencangnya. Mengambil saos di tangan Ratih dengan telunjuknya serta membalas menggaris kedua pipi Ratih dengan telunjuknya.


Mereka perang menggaris saos tomat dengan telunjuk mereka masing-masing.


Menggaris dahi, pipi, dagu, bibir dan hidung.


“Kita seperti Indian.” Ujar Kreshna dengan sisa tawanya.


“Lukisan abstrak?” Sahut Ratih di sela tawanya.


“Pizza?”


“Saos tomat?”

__ADS_1


“Memang saos tomat. Masak saos sambal.”


“Gimana kalau pakai saos sambal?”


“Ogah ah! Ntar aku jadi bakso atau mie ayam.”


“Kan enak mie ayam atau bakso?”


“Iya tapi bikin gendut...”


“Apa sih? Becandaan gak jelas...”


Keduanya kembali tertawa.


“Ngomongin bakso. Mendingan kita cari bakso yuk?”Ajak Ratih.


“Tapi permainannya belum selesai.”


“Kita sudahi saja. Sekalian menyelamatkan muka serta nama baikmu.” Ujar Ratih.


“Asem!”


Ratih kembali tergelak.


“Mau gak cari bakso? Atau kau disini saja merenungi papan otello sekalian kesalahanmu.”


“Kesalahan apa?”


“Kesalahan menempatkan biji bulat otellomu.”


“Bukan salah jalan tapi tidak ada jalan lain. Kau membuatku tidak memiliki pilihan.”


“Kau yang kurang latihan.”


“Kurang kerjaan kali aku. Latian main otello.” Sahut Kreshna sambil tergelak. Diikuti Ratih.


“Jadi gak berburu bakso?” Ujar Ratih.


“Ayo, siapa takut?”


“Level 30.”


“Maksudnya?”


“Pedesnya tingkat dewa...”


“Oh no! Ini baru aku takut.”


“Tadi katanya gak takut? Takut apa?”


Kontan keduanya tergelak.


“Takut dehidrasi!” Sahut Ratih.


“Takut dokter!”


“Apa hubungannya? Gak nyambung deh...”


“Kalau dehidrasi kan bisa aja ke rumah sakit. Di rumah sakit ada dokter.”


“Kalau gitu bisa juga dong takut hantu?”


“Kok hantu?” Tanya Kreshna.


“Di rumah sakit kan ada hantu juga?”


“Iya juga ya...Tapi kalau hantu mah dimana-mana keleus.”


“Iya juga ya? Tapi kenapa gak takut suster sih?”


“Ngapain takut suster? Cantik-cantik dan seksi-seksi begitu?”


“Ih genit!” Teriak Ratih sambil mencubit pinggang Kreshna.


“Adawww!”


“Makanya jangan genit!”


“Dimana salahnya sih?”


“Coba buka kamus atau ensiklopedi?”


“Kok kamus atau ensiklopedi?”


“Biar tahu salahnya dong...”


“Trus kalau udah tau salahnya. Jadi bener. Gimana kalau tetep salah?”


“OMG! Headache!” Seru Ratih diiringi gelak tawa Kreshna.


“Ayo dong cari bakso!”

__ADS_1


“Ok! Bukannya kita baru aja makan. Belum ada tiga jam?”


“Itu kan makan besar. Snacking time.”


“What? Snack itu makan kripik. Chips. Cookies. Cake.”


“Bakso itu termasuk cemilan. Mood booster.”


“Msgnya bikin fly...”


“Nah iya kan. Endorphine...”


“Duh makin ngaco deh kalau diteruskan pembicaraan ini...”


Keduanya kembali tertawa.


Ratih mengunci pintu rumah kontrakannya. Menutup pagar kontrakannya tetapi tidak menggemboknya.


Mereka berjalan sambil mencari bakso di sekitar kontrakannya Ratih.


“Aku punya tiga bakso mangkal langganan.”


“Pilih satu yang paling enak.”


“Tapi pengen coba tempat baru. Yang belum pernah dicoba.”


“Kalau gak cocok?”


“Baru kita pilih salah satu dari tempat yang biasa aku makan.”


“Kenapa gak langsung pilih aja sih ke tempat yang memang kau sudah tau rasanya?”


“Buat variasilah!”


“Tapi kalau gak cocok kita kan jadi wira wiri.”


“Itung-itung olah raga.”


“Maksa banget.”


Mereka mencari bakso yang belum pernah Ratih cicipi sebelumnya. Mereka kembali berjalan.


Memilih salah satu tempat bakso yang menjual bakso urat, halus juga jumbo.


Tempat tersebut hampir tidak berbeda dengan lapak bakso lainnya. Menjual aneka minuman. Es jeruk, campur, jus, air mineral, teh juga kopi.


Mereka mencari tempat yang agak ke pojok serta dekat jendela. Yang membuat lapak bakso ini semakin menarik. Lesehan.


Keduanya memesan dua mangkok bakso. Bakso super special. Mie ayam dengan bakso jumbo, bakso urat juga halus lengkap dengan pangsit ayam basah. Es teh manis.


“Tehnya dari Solo. Bisa dicoba rasanya.”


Ratih menganggukkan kepalanya menyetujui memesan dua buah gelas es teh manis dari Solo.


Tehnya ternyata memang sangat harum. Rasanya juga segar dan nikmat. Ditambah batu es yang membuat rasa teh tersebut terasa semakin lezat.


Bakso disajikan setelah beberapa saat pelayan menaruh es teh manis di meja lesehan mereka.


“Gimana baksonya?” Tanya Kreshna.


“Aku belum cicipi. Baru aja diantar.”


“Oh iya.”


Ratih menyendok kuahnya dan menyesapnya.


“Kuahnya enak. Gurih.”


“Mungkin karena gajih dan kaldunya.”


“Plus mecinnya.”


“Yeah, menambah nikmat.”


“Awas ntar tulalit.”


“Emangnya aku telpon? Tulalit? Asal jangan sembelit aja berabe.”


“Tulalit itu juga sembelit tapi di otak. Kebayang kan?”


“Udah ah! Jangan bawel. Bon apetite.”


Kreshna memotong baksonya. Mengunyahnya serta menghirup kuahnya.


“Gimana rasanya?” Tanya Ratih.


“Enak.”


“Tapi masih lebih enak di tempat langganan ku.”


“Lebih baik ke tempat langganan mu.”

__ADS_1


“Gak apa-apa pengen ganti suasana aja. Bosen juga makan disitu-situ aja. Ini juga enak.”


Mereka menikmati makanan mereka sambil ngobrol ngalor ngidul.


__ADS_2