Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Galau


__ADS_3

Pras mengetuk-ngetukkan jarinya  dengan tidak sabar. Ratih merasa risih dengan segala tindak tanduknya.


“Kau kenapa sih seperti cacing kepanasan?” Ujarnya merasa terganggu dengan polah Pras.


“Kapan Tania mengajakmu berlibur?”


“Sekarang ini dia sedang sibuk kerja dan kuliah. Tidak mungkin mengajakku berlibur. Sebaiknya kau konsentrasi dengan pekerjaanmu. Kreshna menegurku karena aku belum memberikan laporan padanya. Kau belum menandatanganinya. Apa saja sih yang kau lakukan?”


Pras menarik nafas panjang, “Aku merindukannya. Seandainya, kau bisa menanyakan alamat Tania dimana  aku akan mendatanginya  weekend ini. Mungkin konsentrasiku akan lebih baik sesudahnya. Dia tidak membalas whatsappku. Apakah dia sudah memiliki pacar di sana?”


“Astaga! Kau mencari penyakit! Kau itu playboy. Bisa mengencani siapa pun yang kau suka. Berhentilah memikirkan Tania. Kembalilah seperti dulu. Sehingga enthuathismmu  bekerja kembali.”


“Aku selalu membandingkan gadis yang kutemui dengan Tania. Bahkan Marsha juga kerap kubandingkan dengannya.”


“Masak aku harus memalsukan tanda tanganmu?”


“Tidak perlu. Kau cari tahu alamatnya. Aku ingin ke Selandia Baru menemuinya. Aku tidak bisa tahan menunggunya mengajakmu berlibur. Aku bisa mati tidak kuat menahan rindu.”


Kontan Ratih tertawa mendengar jawaban Pras.


“Kau itu playboy. Pasti seperti orang mau mati kalau sedang jatuh cinta. Biasakan dirimu. Sementara menunggu saat bertemu dengan Tania tentu tanpa sepengetahuannya. Kalau kau tidak ingin Tania berhenti mengundangku berlibur bersamanya. Kau bisa mengejar gadis-gadis sebagai selingan. Mengisi waktumu. Membunuh rasa sepimu?”


“Terus terang, aku kehilangan minat mengejar gadis-gadis. Aku merasa mereka tidak bisa dibandingkan dengan Tania.”


“Semua orang yang jatuh cinta selalu terbawa perasaan. Gunakan logikamu. Semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan mereka masing-masing. Ayolah! Kembali seperti dulu! Kalau jodoh tidak akan kemana.”


“Kau sendiri. Mengapa tidak memiliki kekasih?”


“Belum nemu yang cocok!”


“Aku juga sama. Seandainya, Tania mau jadi pacarku. Tentu aku tidak akan seperti ini.”


“Tapi kau kan tidak bisa memaksanya menjadi pacarmu.”


“Aku tidak bermaksud memaksanya.”


“Sudahlah! Jangan terlalu banyak berpikir. Kau tidak usah berubah. Jadi lebay dan aneh.”


“Aku punya ide.”


“Apa itu?”


“Coba kau Whatsapp dia sekarang.”


“Kalau dia kuliah atau bekerja tidak bisa.”


“Kau pasti tahu jadwalnya.”


Ratih menatap jam. Memang saat seperti ini. Tania memang memiliki waktu yang bebas. Selesai kuliah dan sebelum bekerja.


“Tapi kau harus janji.”


“Apa itu?”


“Setelah itu konsentrasi dengan pekerjaanmu.”


“Baiklah. Aku ingin  kau menelponnya gunakan speaker sehingga aku bisa mendengar suaranya.”


“Baiklah!”


Ratih menelpon Tania menggunakan speaker.

__ADS_1


Suara Tania mengangkat teleponnya.


“Ratih? Ada apa?”


“Gak, iseng aja nelpon. Gak boleh?”


“Boleh dong!”


“Lagi dimana?”


“Kampus baru selesai kuliah. Aku sedang mengobrol dengan temanku.”


“Siapa?”


“Darren.”


“Darren?”


“Teman pertamaku di sini. Anaknya sangat baik, sopan dan menyenangkan.”


“Kau satu kelas dengannya?”


“Beda fakultas. Dia kuliah di fakultas Humaniora mengambil jurusan Sejarah.”


“Teman apa pacar?”


Tania tergelak.


“Agama Darren seperti kebanyakan masyarakat Selandia Baru. Kami hanya berteman dan bersahabat. Sepertinya Darren sama denganku belum memikirkan pasangan hidup. Masih sangat fokus dengan kuliahnya.”


“Temanmu tidak memiliki pacar?”


“Sepertinya tidak.”


“Yeah, mengingat pergaulan di sini sangat bebas. Memang sangat jarang orang seperti Darren. Mungkin karena hal tersebut aku sangat suka berteman dengannya.”


Ratih tertawa, “Hati-hati jatuh cinta “


Tania ikut tertawa.


“Aku dan Darren sama-sama single. Aku pikir gak ada masalah kalau saling jatuh cinta.”


“Kau menyukainya?” Tanya Ratih.


“Aku tidak memikirkan hal itu. Aku hanya mengatakan bahwa kalau misal saling jatuh cinta pun tidak ada masalah kan kalau sama-sama single.”


“Yeah, tapi mungkin perbedaan agama, budaya dan seperti kau bilang. Konsentrasi dengan apa yang sedang dijalani saat ini mungkin ada pertimbangan lain yang lebih sesuai.”


“Yeah, aku suka berbicara denganmu karena kau begitu pengertian.”


“Aku hanya menyimpulkan yang kau katakan.”


“Yeah. Bagaimana keadaanmu sendiri?”


“Baik. Bolehkah aku berkunjung ke sana?”


“Saat ini aku sibuk kuliah dan bekerja. Aku khawatir tidak bisa memperhatikanmu.”


“Yeah, benar juga. Kau jadi mengundangku berlibur saat kau libur?”


“Tentu. Nanti kukabari ya?”

__ADS_1


“Ok!”


Ratih mengakhiri percakapan dengan Tania.


“Sebentar sekali!” Gerutu Pras.


“Kau tidak dengar dia sedang mengobrol dengan temannya.”


“Darren. Kupikir, pria yang sama dengan yang mengangkat telepon saat aku menelpon Tania. Aku tidak yakin mereka hanya berteman.”


“Buat apa Tania berbohong?”


“Entahlah! Mungkin dia malu?”


Ratih kembali tergelak.


“Kau sangat tidak masuk akal. Kau dengar sendiri. Dia tidak bisa menemaniku sebelum liburannya tiba. Kau harus bersabar.”


“Baiklah. Tapi kau kan bisa meluangkan waktu menelponnya? “


“Apa maksudmu?”


“Seperti tadi saja. Menelponnya menggunakan speaker sehingga aku bisa mendengar suaranya. Bagaimana?”


“Kupikir, untuk mengurangi kegilaanmu sebaiknya kau mencari pacar. Untuk mengalihkan perhatianmu darinya.”


“Percuma. Yang ada dalam pikiranku kan Tania bukan selainnya.”


“Kau terbiasa bergonta ganti pacar dan sepertinya jika kau mengubah kebiasaanmu. Membuatmu jadi sulit berkonsentrasi. Kau sudah berjanji akan memeriksa laporan yang aku buat. Aku akan memberikannya pada Kreshna. Aku membutuhkan tanda tanganmu.”


“Baiklah. Aku akan membaca laporanmu dan menandatanganinya kalau aku sudah menyetujuinya. Tetapi kalau ada yang harus kau revisi. Kau harus memperbaikinya terlebih dahulu.”


“Yeah.”


Pras membaca laporan yang dibuat Ratih. Mendengar suara Tania mengobati kerinduannya . Membuatnya berkonsentrasi lebih baik.


Pras tenggelam dalam pekerjaannya. Melarikan diri ke pekerjaan lebih sesuai dibandingkan mencari wanita untuk dipacari.


Saat ini, Pras kehilangan minat untuk memiliki pacar dan memilih menenggelamkan diri dalam pekerjaannya.


Membaca laporan Ratih. Memberikan catatan kecil dan koreksi yang harus dilakukan Ratih.


Melingkari angka yang berbeda dengan yang ada di dalam diagram. Menggaris kalimat yang sepertinya copy paste dari file lain.


Memberikan tambahan catatan untuk kesimpulannya.


“Aku ingin ada evaluasi untuk penempatan posisi staff. “ Ujar Pras, “Aku merasa ada yang harus dirolling. Supaya lebih sesuai dengan kebutuhan perusahaan.  Aku melihat ada kelebihan pegawai di hrd dan sebaiknya dialihkan ke bagian produksi yang membutuhkan lebih banyak orang dan tenaga keuangan.”


“Pak Kreshna meminta untuk melakukan rekrutment baru. Karena menurut beliau tenaga HRD ditempatkan lebih banyak agar bisa mengevaluasi karyawan lebih intens. Termasuk training dan kebutuhan lain untuk mendukung pengembangan karyawan dan perusahaan.”


“Aku akan memberikan analisaku. Kau olah lagi. Bagaimana? Menurutku sebaiknya beberapa orang saja dirolling ke bagian produksi atau tenaga keuangan baru kekurangan ya direkrut.”


“Baiklah. Aku tunggu revisi dari bapak untuk memperbaiki laporan yang akan aku berikan pada sekretaris direksi.”


“Baiklah.” Pras mulai mengerjakan pekerjaannya. Membaca, menganalisa serta memberikan analisanya.


Sejenak dia bisa melupakan Tania serta segala pernak perniknya. Pekerjaan merupakan cara yang efektif untuk mengalihkan pikirannya dari Tania.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2