Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Triangle


__ADS_3

Tania memandang dengan resah. Dirinya sangat gelisah menunggu kedatangan Daren yang berjanji akan menemuinya setelah menyelesaikan kuliahnya. Sebelum tiba waktunya untuk bekerja.


Beberapa waktu terakhir. Daren tidak seperti biasanya. Telat atau kadang tidak memenuhi janjinya. Ada apa dengan Daren?


Bahkan beberapa waktu terakhir tidak mengijinkan mengunjunginya atau mengundangnya seperti biasa ke rumahnya.


Teleponnya berdering ternyata Pras menelponnya.


“Ada apa?”


“Jangan galak-galak dong!”


“Aku sedang menunggu temanku.”


“Suaramu ketus.”


“Masak sih? Mungkin karena berbicara denganmu seperti itu. Antisipasi.”


Pras tergelak.


“Antipasi apa sih? Memangnya aku sesuatu yang berbahaya?”


“Itu kau tahu.”


“Aku tahu. Aku kerap mempermainkan wanita. Tapi itu sebelum bertemu denganmu dan Marsha.”


“Kau sudah ditinggal menikah oleh Marsha.”


“Karena aku jatuh cinta lagi padamu.”


“Kau benar-benar tidak tahu malu!” Ujar Tania kesal.


“Mengapa kau marah-marah selalu?”


“Aku juga bisa meninggalkanmu menikah seperti Marsha.”


“Kau jangan bercanda seperti itu. Tidak lucu sama sekali.”


“Siapa yang mau melucu?”


“Kau benar-benar sudah memiliki calon?”


“Begitu lah.” Ujar Tania.


“Mengapa kau tidak menceritakan apa pun padaku?”


“Memang kau siapaku?”


“Tapi kan tetap saja kau belum menikah. Anything could happen!”


“Dasar bebal!”


Pras tertawa keras.


“Aku bukan bermaksud mempermainkan wanita. Tapi belum ketemu yang cocok.”


“Sekalinya ketemu. Kau mendua. Ditinggal kawin deh!” Sahut Tania tanpa tedeng aling-aling.


Pras kembali tergelak.


“Bukan seperti itu. Aku bukan bermaksud mendua. Tapi aku sulit menepis pesonamu.”


“Kau bisa berhenti menggombal gak?” Ujar Tania galak dan sebal.


“Aku mengatakan apa adanya.”


“Simpan saja. Gombalanmu buat dirimu sendiri. Gak usah flexing!”


Pras kembali tergelak.


Tania melirik jam tangannya. Dia harus segera bergegas pulang ke rumah. Membersihkan dirinya. Makan sore dan berangkat bekerja.

__ADS_1


Kemana dia? Kenapa dia berubah akhir-akhir ini? Ada apa?


“Flexing itu buat harta.”


“Wanita itu kan buatmu harta juga.”


Pras kembali tertawa.


“Aku sudah berubah. Terima kasih padamu juga Marsha.”


“Aku tidak peduli!” Ujar Tania ketus.


“Kau kenapa sih? Seperti habis sarapan angin badai.”


“Aku sedang menunggu temanku. Dia berubah akhir-akhir ini.”


“Apakah dia orang yang kau maksud?”


“Apa urusanmu?”


“Sepertinya tebakanku benar. Siapa dia?”


“Aku tidak harus menceritakan apa pun padamu.”


“Sepertinya cintamu bertepuk sebelah tangan.”


“Tidak usah sok tau!”


“Bukan pria yang pernah menjawab teleponku saat aku menelponmu kan?”


“Aku tidak bisa meneruskan pembicaraan ini.”


“Tebakanku benar lagi? Ada apa denganku? Nasibku sangat beruntung hari bisa menebak dengan benar berkali-kali.”


“Aku harus bersiap pulang. Tidak sampai dua jam lagi aku harus bekerja.”


“Baiklah. Jika misi cintamu gagal. Ada aku disini.”


“Akan kupertimbangkan jika dunia hancur dan kau pria satu-satunya yang tersisa di bumi.” Sahut Tania asal.


Pras kembali tergelak.


Tania menutup telepon dari Pras. Dia bermaksud untuk mampir sebentar ke rumah Daren. Melihat keadaannya serta menanyakan perubahan sikapnya yang sangat mendadak.


Sesampainya di rumah Daren. Halamannya tampak sepi. Sebuah mobil terparkir di dalam carportnya.


Tania memutuskan untuk menyapanya sebelum masuk ke dalam rumah tetap tidak ada suara apa pun.


Tania berinisiatif memasuki rumah. Ruang tamu tampak kosong. Begitu juga dengan ruang keluarga juga dapur serta peninsula. Tidak ada siapa pun.


Tania berinisiatif ke atas menuju kamar Daren. Mungkin Daren sedang tertidur. Terdengar sebuah suara dari kamar Daren.


Daren sedang bersama siapa? Jantungnya berdegup dengan sangat kencang.


Suara tersebut semakin jelas. Semakin dia mendekati kamar Daren. Dia tahu bahwa dia telah berbuat lancang. Masuk ke dalam rumah Daren begitu saja. Saat ini sedang menuju kamar Daren.


Tania semakin penasaran. Tidak dapat menahan rasa ingin tahunya. Dadanya terbakar cemburu. Daren sedang bersama siapa?


Dengan perlahan Tania membuka kenop pintu kamar Daren. Melihat pakaian berserakan. Di sepanjang karpet sampai ke tempat tidur.


Mata Tania menghangat juga memanas. Butiran bening tidak mampu ditahannya. Dia sudah memahami perubahan sikap Daren.


Menutup matanya. Merasa apa yang dilihatnya terlalu menyakitkannya. Sampai dia menyadari bahwa tidak ada pakaian wanita yang berserakan di karpet.


Semakin terkejut melihat bahwa yang bergumul dengan Daren adalah seorang pria. Mereka bertelanjang bulat serta saling bergumul satu sama lain.


Tania menutup mulutnya. Menyadari kekagetannya tetapi terlambat. Sebuah suara berteriak.


“Siapa?”


Tania berusaha menutup pintu secepat mungkin. Berusaha lari dari kamar Daren.

__ADS_1


Suara langkah kaki mengejar serta membuka pintu dan berteriak, “Tunggu!”


Refleks Tania menghentikan langkahnya.


“I am sorry! I enter the wrong house!” serunya panik.


Lelaki yang mengejarnya menutupi tubuhnya dengan selimut. Tidak lama terdengar sebuah langkah kaki menyusul.


“Tania?” Daren sudah mengenakan pakaiannya. Sepertinya dia melakukannya secepat kilat.


“Hey Daren...” Ujarnya lirih.


“What are you doing here?” Tanya Daren.


“I was waiting for you and passing by your house to see how is your doing. Sorry." Ujar Tania dengan wajah merah padam menahan malu.


“I am trying to tell you but I forgot. And I thought you will understand.”


“This is her?” Tanya lelaki yang sedang bersama Daren.


“Please, Thomas!”


“I always know something was wrong with you lately.” Ujar pria tersebut dengan nada marah.


“I will take her home.” Ujar Daren dengan tegas.


“No! You won’t dare!”


“Don’t you see that she is shock?”


“I don’t care. Its her fault. Why she just enter somebody house just like that.”


“Nobody answer.” Ujar Tania berusaha membela dirinya. Dipenuhi rasa malu akan kelancangannya. Menyesali kebodohannya.


“You should leave the house not countrary!” Ujar lelaki tersebut marah.


“Please, Thomas! Control yourself. I will take her home.”


Daren mengambil kunci mobil.


“Don’t use my car!” Teriak Thomas.


“Don’t acting like a child! Do you see there is another car beside yours? Good damn it!”


Daren mengabaikan perkataan Thomas. Menarik tangan Tania mengajaknya turun tangga menuju carport.


“Just ignored him.”


Daren membukakan pintu mobil untuk Tania. Menyetir mobil. Keheningan membelah.


“Aku minta maaf tidak bisa datang dan tidak memberitahu.” Daren memecah keheningan.


“Tidak seharusnya aku menerobos masuk ke rumahmu. Maafkan aku.”


“Thomas adalah teman serumahku.”


“Oh, dia teman serumahmu yang sehari-harinya bekerja?”


“Yeah. Kami juga memiliki hubungan khusus.”


“Kau tidak harus menceritakannya padaku. Aku yang salah menerobos masuk.”


“Tidak apa-apa. Seharusnya, aku mengatakannya padamu. Tapi aku merasa belum siap. Mungkin ini saatnya.”


Tania hanya diam. Pikirannya berkecamuk.


“Aku berhutang budi pada Thomas. Dia yang membayar kuliahku. Melakukan banyak hal untukku.”


“Aku tidak mengerti maksudmu.”


“Hubunganku dengan Thomas tidak sesederhana itu.”

__ADS_1


“Kau tidak seharusnya mengatakan padaku apa pun. Aku belum tentu memahami ceritamu. Bisa saja aku salah mengerti.”


“Thomas merasa cemburu akhir-akhir ini. Melihat perubahan sikapku. Dia berusaha membatalkan setiap janji yang kubuat denganmu. Hari ini aku sudah akan menemuimu tapi Thomas pulang cepat dan semua seperti yang kau lihat.”


__ADS_2