
Pikiran Tania mendadak kacau. Daren mengantarnya pulang. Mereka tidak banyak berbicara seperti biasa.
Ada kecanggungan meliputi keduanya. Semacam kabut dalam hubungan pertemanan mereka.
Sepanjang malam, Tania kehilangan konsentrasinya dalam bekerja. Pikirannya kerap melayang pada hal yang tidak sengaja ditemukannya.
Shock tepatnya. Tidak menyangka sama sekali kalau Daren memiliki penyimpangan seksual. Teman serumahnya adalah pasangan seksualnya.
Mungkin sudah banyak yang mengetahui. Selandia Baru adalah negara yang sangat terbuka dengan hal ini. Tidak mungkin Daren menyembunyikan orientasi seksualnya. Tetapi mungkin Tania tidak memperhatikannya.
Walaupun mereka sudah sering bertemu dan mengobrol tetapi mereka tidak mengetahui sama sekali mengenai kehidupan pribadi mereka masing-masing.
Di Selandia Baru memang memiliki kebiasaan tidak tertulis untuk tidak membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi. Obrolan bisa mengalir dengan nyaman jika hal itu tidak menyangkut hal-hal yang bersifat pribadi.
Tania sangat lega saat jam kerjanya berakhir. Dia bisa memikirkan hal yang menganggu pikirannya dengan lebih intens.
Dia bukan tipe orang yang bisa melupakan hal yang mengganggu pikirannya dengan mengalihkan pikirannya ke aktifitas lain. Justru hal itu akan membuatnya semakin terganggu karena dia belum memahami atau menemukan jalan keluar dari masalahnya.
Sesampainya di kamarnya. Saat bersiap untuk tidur. Setelah membersihkan tubuhnya. Teleponnya berdering. Pras.
“Ada apa?” Jawabnya enggan. Pras seperti menambahi masalahnya. Membuatnya merasa semakin sengsara. Memikirkan mengapa dia dikelilingi dengan orang-orang yang tidak memiliki kebijaksanaan dalam membuat pilihan dalam hidupnya. Tentu ini menurut perspektivenya.
Darren memiliki penyimpangan seksual sedangkan Pras seorang playboy. Apa yang salah dengan dirinya? Seperti tidak selektif dalam memilih dengan siapa berteman atau bergaul dengan dekat.
“Mengapa suaramu seperti tidak bersemangat?” Tanya Pras di seberang sana.
“Tidak apa-apa. Mood serta perasaanku sedang tidak nyaman.”
“Mungkin jika kau mau membagi pikiranmu. Akan terasa lebih baik walaupun mungkin aku belum tentu bisa membantumu.”
Pikiran Tania gamang. Dia merasa bahwa perkataan Pras benar. Dia membutuhkan tempat untuk membagi pikirannya.
“Bagaimana menurutmu jika kau menemukan bahwa orang yang dekat denganmu memiliki penyimpangan seksual.” Ujar Tania.
“Apa maksudmu?”
“Setiap orang apalagi jika mereka sudah dewasa. Mereka memiliki pilihan mereka sendiri. Aku tidak bermaksud tidak menghargai atau menghormati pilihan pribadi setiap orang. Tetapi bagaimana jika orang itu adalah temen dekatmu sendiri?”
“Dia menyembunyikan orientasi seksualnya darimu?”
“Mungkin aku yang tidak memperhatikan atau tidak mengetahui bedanya?”
“Kau menyukainya?”
“Entahlah. Mungkin. Menyukai karakter serta kepribadiannya.”
“Yeah. Aku paham maksudmu. Kupikir kau sedang tumbuh dewasa.”
“Yeah. Grow up is a pain.”
“Yeah. But you can go through it and be a better person. Mostly, in understanding people and circumtances.”
“Yeah. You right. We can not avoid things that can make us grow .”
“Aku senang kau merasakan jatuh cinta walaupun bukan denganku.” Ujar Pras membuka suaranya.
“Apa maksudmu?”
“Setidaknya, kau tahu apa yang kurasakan.”
Tania termangu mendengar perkataan Pras. Sejujurnya, dia tidak mempercayai bahwa playboy seperti Pras bisa benar-benar jatuh cinta.
__ADS_1
Hubungan Tania dengan Darren merenggang. Mereka saling menjauhi satu sama lain.
Tania sendiri berusaha melupakan Darren serta menghormati privasinya. Tidak ingin mencampuri kehidupan pribadinya.
Tania sedang mencari buku di perpustakaan saat menabrak seseorang yang juga sedang mencari buku.
Wajah keduanya terkejut.
“You?” Ujar Tania.
“Maybe its time for us to meet each other.”
“Yeah.”
“Would you like some coffee?” Tawar Darren pada Tania. Disertai anggukan kepala Tania.
Mereka berjalan keluar perpustakaan. Mencari tempat yang menjual kopi dan snack.
Darren memesen dua vanilla latte dan dua buah croissant. Sosis dan smoked beef.
Keduanya duduk saling berhadapan.
“How is your doing?” Sahut Darren sambil mengangsurkan kopi dan croissant yang dibelinya pada Tania.
“Fine, thank you. How about yourself?”
“Not good. I missed our conversation.”
“Yeah, me too...”
“I am afraid you can not except me.”
“Why is that?”
“Its your personal choice. You are adult. As long as you also respect mine and not force your choice to me. Respect the bondaries. There should not be any matters.”
“Can we still be friend?”
“I don’t know. I still shock.”
“Yeah, I know. But, you are one of my bestie. I just want you to know.”
“Yeah, so do you Darren. You are like a brother to me. I really adore you.”
“Yeah, maybe we attrack to each other personality and character. I don’t know how to discuss about it. I don’t want you to have a wrong message.”
“Darren, like I said. I don’t want to interfere your personal matters. It is your affair as an adult not mine. Your choice not mine. I should not trespassing in your house. Its not your fault but mine. I am reckless.”
“Maybe we can talk later. After both of us ready to talk about it.”
“Maybe we should not. I don’t want you feel that I have something to do with your life and choice.”
“I want to talk about this to you. I want we talk about it openly.”
“But what for?”
“I don’t know. I just want to share my life story to you.”
“Ok, we will see later. Okay?”
“Okay. I just want everything come back like used to be. That’s all.”
__ADS_1
“But you don’t have to share your personal life to me.”
“You are my best friend. I just want you know about me more. That’s all.”
“Ok. But give me time.”
“Yeah, ofcourse.”
Mereka kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing saling menjauhi satu sama lain. Memberikan ruang dan waktu bagi masing-masing untuk mencerna.
Sebuah kado manis diterima Tania. Hari ini ulang tahunnya. Darren mengirimnya sebuah kado. Sebuah kartu ulang tahun.
Tania membuka lipatan sweater dan mencobanya pada tubuhnya. Sangat pas. Warna cream. Dengan tulisan Sexy Brain. Yang membuat Tania seketika tertawa.
Serta merta meraih gadgetnya dan menelpon Darren.
“Hello, Sweety...” Suara khas Darren menyapanya.
“Hello Darren! Thanks for the birthday gift. I like it very much!”
“I am glad that you like it.”
“Nice colour and funny words on it.”
Darren tertawa.
“Aku akan mentraktirmu kopi sore ini. Bagaimana? Jam empat sore? Jam lima aku harus bekerja. Don’t be late!” Ujar Tania.
“Ok!”
Mereka bertemu di tempat yang sudah disepakati. Coffee shop favourite mereka. Tempatnya sangat nyaman untuk mengobrol.
Tania sudah menunggu Darren di spot favourite mereka. Meja kursi yang terletak di luar di dekat jalan. Di pojok.
“Hazelnut latte, croissant dan muffin. Good choice.”
“I only choose the best.” Ujar Tania tertawa diikuti Darren.
“Nice to see your laughing again.” Ujar Darren.
“Yeah, me too. Nice to see you again.”
“I move out from Thomas house?”
“But why?”
“I want everything to be clear.”
“What do you mean?”
“He is too generous that make me confused.”
“Can you support youself?”
“I am working as partime job as a waiter. And I also except the job from my professor to help him for his research. I also make application for full scholarship and for the backup I also apply for education loan."
“Why you left him?”
“I want to stop to take advantage of him. And fine the real truth of my own.”
“I don’t understand.”
__ADS_1
“You always refuse to hear my story.”
“I do not want to interfare your bussiness. You are an adult. You know the right and wrong are. You make a decision by your own and take the consequences of it.”