
Tugas baru Ratih memata-matai Tania benar-benar membuatnya merasa bersalah dan tidak nyaman. Terutama ketika Tania mengungkapkan perasaannya.
"Aku senang kau berteman dengan tulus denganku. Kau tahu kan menjadi wakil pak Pras sekaligus bertanggung jawab atas finance perusahaan membuatku agak kesulitan untuk berteman dekat. Aku takut mereka memanfaatkanku dan jika aku tidak hati-hati. Aku akan mendapatkan masalah."
Nyeeessss. Hati Ratih seperti ditetesi air dingin. Atau ditusuk sembilu salju. Dinginnya sampai ke tulang.
"Kau jangan berpikiran negatif. Tidak semua orang berteman denganmu karena ada maksud tertentu."
Ah! Kau pembohong ulung. Kau memata-matai Tania itu apa?
Sebersit rasa bersalah menyeruak di dalam hati dan dada Ratih.
"Terus terang, aku tidak terlalu bisa berteman. Kau tahu kan bagaimana mata kuliah akutansi itu? Jika aku tidak serius belajar? Aku juga harus menambah skill lain selain bekerja dan belajar. Aku juga mengikuti serangkaian kursus. Membekali diri dengan kursus manajemen dan bahasa Inggris. Mana lagi waktuku untuk berteman. Belum lagi jika aku tidak hati-hati. Pekerjaanku mengundang orang menyalahgunakan kedekatanku dengan mereka."
Aku bersyukur memiliki pekerjaan yang sederhana dan tidak membuat orang menjadi memanfaatkan pekerjaanku. Demi kepentingan mereka.
"Aku iri melihatmu dan teman-temanmu. Kalian seperti saudara. Tidak ada rasa saling bersaing atau memanfaatkan."
"Semua ada kurang lebihnya. Kau mau bergabung bersama kami?"
Tania menggelengkan kepalanya,"Aku tidak ingin terlalu dekat dengan Diah. Dia sangat membenciku."
"Semua ada kurang lebihnya. Kau mendapatkan bayaran yang besar tapi kesulitan mencari teman yang benar-benar tulus padamu. Sedangkan gaji kami tidak sebesar kau tapi hubungan pertemanan kami lebih tulus. Saling bahu membahu. Diah bukan membencimu. Kau mengambil pekerjaannya. Penghasilannya berkurang karenamu."
"Aku tidak bermaksud mengambil pekerjaannya. Apalagi menyainginya."
"Aku tahu. Tapi yang membuat Diah merasa kesal padamu. Karena kau mengambil posisinya. Incomenya juga menjadi berkurang."
"Aku kadang merasa apa yang kumiliki membuat orang lain merasa terintimidasi."
"Kau juga sangat bossy. Mirna dan yang lainnya tidak menyukaimu. Karena kau superior."
"Aku dikejar deadline dan target. Apa yang harus kulakukan? Semua temanmu tidak menyukaiku?"
"Mereka bawahanmu. Kau ingin mereka bagaimana?"
"Mengapa kau berbeda dengan yang lain? Aku juga sering mempushmu?"
"Aku terbiasa bekerja under pressure dengan Kreshna."
"Pras juga kurang lebih sama. Apalagi terhadapku. Dia mempushku lebih keras dari yang lain. Aku tidak memiliki pilihan selain menekan yang lain."
"Pras memiliki harapan yang besar padamu. Kreshna mempercayakan cabang perusahaan pada kalian berdua."
"Yeah."
"Sudahlah! Tidak usah banyak berpikir. Hidup tidak ada yang sempurna. Kau harus lebih banyak bersyukur."
"Kupikir. Kau satu-satunya temanku. Tintan sering menceritakan tentangmu. Dia seperti sangat terkesan denganmu."
"Tintan anak yang baik. Kau beruntung memiliki adik sebaik dia."
"Kau bukan kakaknya. Tentu dia baik padamu."
"Benarkah?" Sahut Ratih sambil tertawa.
"Kami sering berebut apa saja. Bahkan jika ada tulang ayam dan ikan. Kami juga berebut."
Ratih tergelak.
"Saling mengejek. Saling mengganggu. Tapi ada saatnya kami saling mengobrol dan berbicara dari hati ke hati."
"Hmm, so sweet." Sahut Ratih.
__ADS_1
"Aku merasa dia lebih dekat padamu. Lebih menyukaimu."
"Karena aku bukan kakak kandungnya."
Pecah tawa Tania,"Jika kita berdua sekarat atau tenggelam. Mana yang akan dia tolong?"
"Tentu aku!" Sahut Ratih spontan.
"See?"
"Kau tidak menanyakan alasannya."
"Apa alasannya?"
"Dia tidak usah berbagi warisan denganmu."
Kontan tawa keduanya meledak.
"Yeah! Kami tidak perlu berebutan warisan dan saling sikut."
"Dia tahu mana yang akan membawa masalah buatnya dan tidak."
Mereka kembali tertawa.
"Kupikir tidak akan ada yang menyalahkannya kan? Situasinya membuatnya harus memilih."
"Dia memilih meringankan beban hidupnya."
Tawa mereka kembali meledak.
"Kau teman yang sangat menyenangkan."
"Jangan terlalu berlebihan. Nanti kau kecewa." Bagaimana seandainya Tania tahu bahwa dia adalah mata-mata Pras?
"Aku ingin sesekali menginap di kontrakanmu."
"Tapi tidak bersama teman-temanmu, ya? Aku bukan pilih kasih. Aku tidak ingin merasa terintimidasi."
"Baiklah. Kapan kau ingin menginap di rumah kontrakanku?"
"Bagaimana kalau sabtu besok?"
"Ok!"
Tania menepati kata-katanya. Mendatangi rumah Ratih dan menginap di rumah kontrakannya.
"Maafkan aku tidak bisa membantumu memasak dan mencuci piring. Apalagi membersihkan rumah." Ujar Tania.
"Tidak apa-apa. Tapi sepertinya kalau kau berkumpul bersama teman-temanku yang lain mereka akan sangat keberatan jika kau berpangku tangan."
"Aku tidak bisa memasak, mencuci piring atau membersihkan rumah." Wajah Tania memerah.
"Kau sibuk belajar dan bekerja?"
Tania menganggukkan kepalanya," Biar kucoba membuatkanmu minum. Sepertinya mudah."
Tania menuju dapur dan membuka toples daun teh. Menuangkan gula dan air.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Ratih.
"Membuat teh tentu saja."
"Kau juga tidak bisa membuat teh?"
__ADS_1
"Memangnya salah?"
"Memang kau pernah minum teh penuh dengan ampas teh seperti itu?"
"Oh iya!" Tania menyaring ampasnya. Menyodorkan pada Ratih.
"Tidak. Terima kasih. Coba kau liat cara aku membuatnya."
Ratih mengambil panci bertangkai. Mengisinya dengan daun teh dan air serta memanaskannya di atas kompor hingga mendidih.
Mengambil gelas dan mengisinya dengan gula. Menuangkan teh yang masih panas dengan menyaringnya. Mengaduknya. Menuangkan air suhu ruang ke dalam gelas.
"Ini untukmu." Ratih menyodorkan teh yang dibuatnya kepada Tania.
"Enak dan harum. Sepertinya gampang. Biar kubuatkan untukmu." Tania mengambil gelas. Mengisinya dengan gula. Menuangkan teh dengan saringan. Mengaduknya.
"Ini untukmu." Sahutnya menyodorkan gelas teh.
Ratih meminumnya dan mengenyitkan wajahnya, "Terlalu manis. Ini permen teh manis."
Keduanya tergelak.
"Coklat teh manis. Lihat warnanya nyaris menghitam."
"Gosong! Kau menuangnya terlalu pekat."
"Keliatannya mudah membuat teh. Tapi ternyata sangat sulit." Tania mengembuskan nafasnya ke arah rambutnya.
"Sudahlah! Kita tidak bisa mengerjakan semua dengan baik. Kau handal mengurus keuangan perusahaan dan tidak semua orang bisa melakukannya. Kau tidak bisa membuat teh manis dan pekerjaan rumah lainnya. Tapi tidak semua orang juga bisa mengerjakan pekerjaanmu."
"Yeah! Thanks! Kau teman yang baik."
Rasa bersalah kembali mendera Ratih. Seandainya, Tania tahu. Masihkah Tania mau berteman dengannya?
"Apakah kau masih mencurigaiku lesbian. Seandainya aku bertanya tentang kehidupan pribadimu?"
"Untuk apa kau ingin tahu kehidupan pribadiku?"
"Sesama teman sebaiknya kita saling terbuka kan satu sama lain. Saling mengenal lebih baik satu sama lain."
"Tetapi agak aneh kalau teman perempuan kasak kusuk mengenai kehidupan pribadi kita."
"Kau bisa bertanya apa pun tentang aku. Bagaimana? Get even kan?"
"Aku tidak mau tahu apa pun tentang kau."
"What?"
"Apa gunanya aku mengetahui kehidupan pribadimu?"
"Supaya semakin kenal?"
"Aku sudah kenal kau."
"Baiklah! Kau tidak ingin tahu apa pun tentangku. Aku yang ingin tahu tentangmu."
"Aku tidak memiliki kehidupan pribadi. Hidupku hanya belajar dan bekerja." Tukas Tania.
"Setiap orang pasti punya kehidupan pribadi."
"Sejujurnya aku tidak suka membahas kehidupan atau mencampuri privasi orang lain."
"Kalau kami berkumpul. Kami terbiasa menceritakan kehidupan dan privasi kami masing-masing. Tidak ada rahasia di antara kami semua. Dan hal itu membuat kami semua menjadi dekat satu sama lain."
__ADS_1
"All of you are not lesbians. Aren't you?"
"What? Ofcourse not!"