
Jantung Ratih berhenti berdetak. Oh, Tuhan! Akhirnya dia menikah….
Aku benar-benar bisa melepaskan semuanya. Selamanya….
Perih dan pedih mengisi relung hatinya. Alicia memang sudah diduga akan memenangkan hati Kreshna.
Apakah aku akan hadir? Tidak perlu bersikap kekanak-kanakkan. Hadapi kenyataan. Pada akhirnya, hidup adalah pilihan. Setiap pilihan memiliki konsekuensi. Jangan menjadi pengecut!
Buat apa memikirkan sesuatu yang sudah bisa dipastikan akhirnya?
Dia, Kreshna dan Alicia seperti film yang bisa ditebak jalan ceritanya.
Mungkin seharusnya semua terjadi lebih cepat. Tidak membuang waktu.
Dalam setiap peristiwa selalu ada hikmah yang tersembunyi. Setidaknya akhir cerita mereka bertiga. Memiliki kepastian.
Ratih mempersiapkan kepergiannya mendatangi pesta pernikahan Alicia. Membooking tiket pesawat pulang pergi dan hotel.
Membeli kado pernikahan sebagai kenang-kenangan untuk Alicia.
Memesan sepasang handuk, sendal kamar terbuat dari bahan yang sama. Sepasang kamar jas. Dengan inisial nama mereka berdua. Dihias dengan cantik di dalam kotak. Yang dihiasi kertas kado yang indah. Sehingga kotak cukup dibuka. Tidak perlu merobek kertas kado. Dimasukkan ke dalam paper bag besar custom.
Memilih warna light cream dengan kopi susu. Kertas kado dengan paper bag dengan warna senada dengan hadiahnya yang dipesannya.
Semua sudah dipersiapkan dengan baik. Ratih juga tidak ingin meninggalkan tumpukan pekerjaan. Sehingga mulai mencicil.
Pesta pernikahan Alicia akan digunakannya untuk mengambil cuti sekalian berlibur dan healing.
Dia juga berencana membuat sebuah gaun yang sangat cantik. Menghadapi semua dengan hati lapang. Membuat segala hal terasa lebih ringan.
Jodoh adalah sesuatu yang tidak bisa dipaksakan. Pada akhirnya semua akan menemukan jawabannya.
Aku merasa lega. Akhirnya kutemukan jawaban. Tak perlu lagi merasa gundah atau pun galau. Jodoh sudah ditentukan sang Illah. Kita manusia tinggal menjalani dan menerima dengan lapang dada….
Ratih melihat keluar jendela. Gumpalan awan putih di langit yang biru dan bersih. Hatinya begitu nyaman.
Air mata Ratih tanpa sengaja menetes. Hatiku begitu sedih dan juga perih. Seharusnya aku merasa lega dan berbahagia untuk Kreshna. Akhirnya, dia menemukan belahan jiwanya. Semoga Tuhan juga mempertemukan aku dengan jodohku. Mengobati semua luka hatiku….
Puas menangis. Matanya mengayun. Kantuk menyerang.
Ratih terlelap. Di dalam mimpinya, Alicia dan Kreshna tampak begitu bahagia. Mereka terlihat sangat serasi.
"Selamat ya, Alicia." Sahutnya tulus. Senyum merekah dari kedua bibir Alicia yang tampak semakin menawan.
"Terima kasih, Ratih. Aku sangat bahagia." Mereka saling berpelukan.
"Aku ikut berbahagia." Ujar Ratih dengan hati yang perih.
Kreshna terlihat semakin tampan. Pancaran kebahagiaan memancar dari aura wajahnya.
"Selamat ya…" Bisiknya lirih nyaris tak terdengar.
"Terima kasih. Aku senang kau mau datang." Kreshna tersenyum tulus padanya.
"Aku ikut berbahagia." Sahut Ratih dengan hati yang pedih. Dia merasa membohongi hatinya. Tetapi apa yang bisa dia lakukan? Kreshna dan Alicia memang lebih cocok bersama. Betapa lelah hatinya, mencemburui Alicia setiap saat jika mereka ditakdirkan menikah. Perih tetapi sekaligus merasa lega. Karena sebuah beban terangkat darinya. Ala bisa karena biasa.
Kepala Ratih terantuk ke jendela pesawat.
"Astaga! Ternyata aku tertidur."
Pesawat tiba di bandara. Ratih mengambil barang-barangnya. Berjalan menuju pangkalan taksi. Menaikinya. Menuju hotel.
__ADS_1
Membaringkan tubuhnya sesampai di kamar hotel. Undangannya tertinggal. Tetapi dia sudah mencatat alamat tempat pernikahan dilangsungkan.
Ratih menyerahkan kado pernikahan yang sudah dipersiapkannya. Alicia terlihat sangat cantik dari kejauhan.
Dia merubah pikirannya. Membalikkan tubuhnya. Bermaksud untuk kembali ke hotel. Menenangkan dirinya. Menghibur dirinya mendatangi tempat-tempat yang bisa merefresh dan menghibur dirinya.
Dia berbalik dan berjalan dengan tergesa menabrak seseorang.
"Maaf! Aku terburu-buru." Sahut Ratih dengan mata memanas.
"Ratih?" Panggil sesosok suara yang sangat dikenalinya dengan baik.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Ratih heran. Menelan tangisnya. Suaranya terdengar sedikit serak. Tenggorokannya terasa kering dan tercekat.
"Kau sendiri sedang apa?"
"Menghadiri undangan tentu saja."
"Sama lah!" Suara tawa yang terasa renyah di telinganya, "Kau kenapa sih? Seperti melihat hantu?"
"Sedang apa kau disini?"
"Sama sepertimu menghadiri undangan."
"Bukannya kau menikah dengan Alicia?"
"Apa maksudmu aku menikah dengan Alicia?"
Ratih mengedarkan pandangannya. Alicia bersanding dengan seseorang yang tidak dikenalnya sama sekali.
Memperhatikan foto-foto yang bertebaran dan inisial nama. AD. Bukan AK?
Huruf yang digrafir. Jika diperhatikan seksama terlihat perbedaan D dan K.
"Suaminya tentu saja."
"Ya tentu suaminya. Tapi siapa dia? Aku tidak mengenalnya sama sekali."
"Memangnya Alicia harus menikah dengan orang yang kau kenal?"
"Bukan begitu maksudku. Tapi…."
"Kau baru datang sudah mau pulang. Resepsi baru dimulai. Aku tidak melihatmu saat akad nikah."
Ratih memang menghindari menghadiri akad nikah. Tidak bisa mengendalikan emosi dan perasaannya. Yang tiba-tiba kacau dan terganggu.
"Kau sudah bersalaman?"
"Belum."
"Masuklah, bersalaman dan menikmati hidangan."
Ratih menuruti dan berjalan mengekori. Mereka berjalan beriringan. Bersalaman dengan kedua mempelai.
"Selamat ya Alicia." Ujar Ratih. Nadanya tulus dan hatinya begitu lega. Oh, Tuhan! Apa yang terjadi padaku?
"Terima kasih ya Ratih. Kalian datang berdua?" Tanya Alicia.
"Kami tidak sengaja bertemu." Sahut Ratih.
"Dia baru datang. Sudah mau pulang."
__ADS_1
"Kau tidak hadir akad nikah?" Tanya Alicia.
"Aku kesiangan. Maaf." Ujar Ratih berbohong.
"Tidak apa-apa."
"Selamat ya Alicia. Dean jaga sahabatku dengan baik." Senyum merekah mengembang di bibir pengantin pria.
"Kau mengenalnya?" Sahut Ratih.
"Yeah."
"Terima kasih ya Kresh… Kau sudah mau hadir."
"Yeah! Aku senang akhirnya kau menemukan pangeranmu."
"Yeah. Kuharap kalian segera menyusul. "
Wajah Ratih merah padam.
Mereka turun dari pelaminan setelah menyalami kedua pengantin.
"Kapan kau sampai? Tidak menghubungiku?"
"Aku tidak ingin mengganggumu. Karena kupikir…."
"Kau pikir apa?"
"Hmm, tidak…" Wajah Ratih memucat. Astaga! Semua inisial handuk, kamar jas dan sendal dengan bordiran huruf AK.
"Kau kenapa?"
Lamunan Ratih membuyar, "Tidak apa-apa. Sesuatu terlintas di dalam pikiranku. Bukan sesuatu yang penting."
"Kau jangan salah paham. Aku bukan bermaksud sengaja bertemu denganmu. Aku sengaja datang di awal supaya langsung pulang. Tapi malah bertemu denganmu tidak sengaja."
"Sudahlah! Tidak usah membesar-besarkan. Aku minta maaf kalau membuat keadaan menjadi semakin rumit."
"Bukan salahmu. Aku yang belum bisa memutuskan dan memberikan kepastian."
"Aku juga belum bisa menetapkan pikiranku."
"Apakah kau masih merasa terintimidasi dengan Alicia?"
"Apa maksudmu?" Wajah Ratih memerah.
"Kau kerap mencemburui Alicia. Aku sudah mengatakan padamu. Aku menganggapnya sebagai sahabat dan saudaraku sendiri."
"Yeah! Kalian begitu akrab dan serasi."
"Memangnya kalau bersahabat bersikap bermusuhan dan saling benci?"
Tawa Ratih meledak, " Ya gak dong!"
Kreshna terpukau melihat tawa Ratih yang renyah.
"Kau kenapa sih?" Ujar Ratih jengah.
"Hmm, gak apa-apa. Aku seperti tidak melihatmu berabad rasanya." Ujar Kreshna sambil tertawa.
"Maksudmu aku seperti peninggalan bersejarah atau purba?"
__ADS_1
"Dinosaurus dan pra sejarah?"