Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Clingly


__ADS_3

Mereka naik bianglala setelah bermain di rumah miring. Melihat pemandangan dari atas bianglala merupakan hal yang sangat menyenangkan.


"Kau sangat rileks kalau berada di luar kantor. Berbeda kalau sedang bekerja. Sangat serius."


"Kau ingin aku bermain-main ketika bekerja?"


"Ya gak gitu juga. Tapi sebagai atasan, aku pengen juga digoda oleh staff perempuanku!"


"Dasar genit!" Kontan Ratih mencubit pinggang Kreshna.


"Aww!!!" Teriak Kreshna,"Sakit!"


Pecah tawa Tintan melihat polah keduanya.


"Siapa suruh genit!"


"Refreshing tau! Digoda kamu." Kontan Kreshna tertawa.


"Gak banget deh! Kayak gak punya harga diri aja!"


"Harga mati aja. Berapa? Jangan harga diri."


Ratih kembali mencubit Kreshna. Diikuti jeritan kesakitan Kreshna.


"Ini namanya penganiayaan."


"Penganiayaan kecil-kecilan. Daripada  kamu, pelecehan."


"Pelecehan kecil-kecilan juga."


"Ih ikut-ikutan! Gak kreatif!"


"Kalian seperti suami isteri!" Ceplos Tintan.


"Kamu jangan asal ngomong!" Protes Ratih.


"Dia memang calon isteriku yang melarikan diri." Sahut Kreshna tertawa.


Ratih manyun mendengar jawaban Kreshna, "Bicara yang lain aja. Topik sensitif. Kami gak berjodoh."


"Kau yang membuat kita jadi gak berjodoh." Sahut Kreshna.


"Kenapa jadi aku? Yang menghindar setelah melamar kan kau bukan aku?"


"Aku sudah bilang, aku menghindarimu karena aku bingung. Tidak tahu harus bagaimana. Kita akan menikah dan aku tidak mau hubungan kita jadi tegang."


"Itu kan jelas alasan yang diada-adakan. Dimana-mana orang kalau mau menikah semakin dekat bukan sebaliknya. Kau semakin mendekat ke Alicia. Itu faktanya!"


"Kau sendiri semakin dekat pada Bima!"


"Kupikir, kita berdua sama. Takut semua berbalik. Kau bersama Alicia menjadi lebih tenang dan rileks. Aku pun dengan Bima seperti itu. Mungkin memang kita tidak berjodoh."


"Kau tidak seharusnya terburu-buru mengembalikan cincin dan menghilang."


"Kau mau aku bagaimana?"


Tintan membuka mulutnya, "Kalian bertengkar?"


"Maafkan aku. Tapi Kreshna sangat suka sekali mencari gara-gara." Ujar Ratih sebal.


"Kau sendiri sangat suka drama."


"Drama? Kau membuatku naik darah!"


"Kau membuat kepalaku mau pecah!"


"Stop! Kalian berdua bisa tidak saling mendengarkan satu sama lain?" Tintan menengahi.


"Dia sangat pencemburu." Ceplos Kreshna, "Aku harus bagaimana?"


"Kau sendiri mata keranjang dan suka mendua."


"Mata keranjang itu seperti apa? Keranjang yang ada matanya?"


"Tidak usah pura-pura tidak tahu."


"Kalau maksudmu banyak yang menyukaiku. Aku tidak bisa apa-apa. Tapi konotasi mata keranjang itu sangat menyakitkan hati dan tidak sesuai fakta."


"Tidak sesuai fakta?" Ratih enggan menjelaskan sikap Kreshna yang gemar berburu wanita. Dia termasuk salah satu korbannya. Kakaknya Tintan. Belum yang lainnya yang dia tidak tahu. Hanya Alicia yang bisa tahan dengan sifat mata keranjang dan menduanya. Sedangkan dia? Hell no! Mendingan jadi jomblo!


"Terserah kalau kau keras kepala! Cemburu memang tanda cinta tapi kalau berlebihan bikin illfeel!"


"Kau bicara apa sih?" Wajah Ratih merah padam menahan malu.

__ADS_1


Kreshna menertawainya.


"Kupikir ada kesalahpahaman di antara kalian berdua."


"Bukan salah paham. Kami berdua memang sangat tidak cocok!" Sahut Ratih ketus.


Bianglala mereka berputar ke arah bawah dan berhenti. Mereka keluar dari bianglala.


"Ini waktunya makan siang. Kita makan dulu yuk!" Ajak Kreshna, "Kalian mau makan apa?"


Di taman hiburan tersebut. Ada area yang memang menyatu dengan taman hiburan. Area kaki lima. Tempat pedagang-pedagang kaki lima berkumpul menjajakan makanannya.


"Aku ingin makan pecel ayam kalau kau tidak keberatan." Sahut Ratih.


"Bagaimana dengan kau, Tintan?"


"Aku terserah Ratih aja."


"Ok, kita makan pecel ayam ya?" Ujar Kreshna.


Mereka bergegas ke tempat khusus pedagang kaki lima berkumpul menjajakan dagangannya. 


Tempatnya ada di sebelah area taman hiburan. Masih menjadi satu dengan area taman hiburan.


Hanya saja di sebelahnya. Dekat dengan jogging track. Banyak orang yang sedang jogging dan bersepeda. Mereka menikmati kuliner dan jajanan para pedagang kaki lima.


Mereka memasuki salah satu tenda dan memesan makanan.


Tiga lele dan ayam goreng, ati ampela, tempe dan tahu. Dua nasi uduk dan satu nasi putih biasa. Memesan teh tawar hangat untuk minumannya. Sambal dan lalap disediakan otomatis bersama pesanan mereka.


Selesai makan, mereka menunaikan sholat zuhur. Kemudian melanjutkan permainan yang ada di taman hiburan.


"Kita harus coba semuanya!" Seru Kreshna.


"Besok kita kerja dan Tintan juga harus sekolah."


"Makanya kita pulang sore. Jadi masih ada waktu istirahat."


"Kalau mencoba semua gak mungkin kita bisa pulang sore. Bisa-bisa kita pulang malam dan besok harus bangun pagi-pagi."


"Ya udah main dua jam lagi dan setelah itu kita kembali ke penginapan dan bersiap-siap kembali. Bagaimana?"


"Baiklah!"


Mereka melanjutkan permainan mereka dengan komidi putar, permainan air serta permainan seru lainnya. Nyaris semua permainan mereka mainkan.  Permainan-permainan yang memacu adrenalin hanya Tintan dan Kreshna yang tertarik.


"Ogah! Aku gak mau jantungku copot!"


"Coba dulu!"


"Tidak mau! Kau jangan memaksa."


"Apa kau gak bosan menunggu kami selesai main?"


"Aku nunggu di sana aja sambil nyicipin jajanan."


Tintan dan Kreshna meneruskan permainan sedangkan Ratih berjalan menuju taman berisi tempat jajanan.


Air liurnya langsung terbit melihat gerobak bakso yang menjual bakso terlihat sangat enak.


Seorang pemuda sebayanya sedang berbincang dengan tukang bakso sambil memegang baksonya.


"Maaf, mas, gak ada kembaliannya."


"Saya gak ada uang lain, pak."


"Ya udah gampang, mas. Nanti aja bayarnya kalau mas udah ada uang pas."


"Mbak, mau beli bakso?"


"Iya, keliatannya enak ya?"


"Enak banget, mbak! Ya udah pak, buat mbak ini aja."


"Apa mas?"


"Bapaknya gak ada kembalian. Sisanya aku belikan aja buat mbaknya ya?"


"Jangan mas! Aku ganti aja uangnya."


"Gak usah mbak, gak apa-apa."


"Ya udah gini aja. Aku beliin masnya es cincau ya?"

__ADS_1


"Aku gak suka es cincau, mbak. Gak apa-apa buat mbaknya aja."


"Aku beliin es cendol gimana?"


"Terserah mbak aja deh."


"Sip!"


Mereka duduk di pinggir danau. Sebuah meja bulat terbuat dari semen dan bangku bulat yang terbuat dari semen mengelilingi meja bulat tersebut. Ada empat buah kursi bulat.


Mereka makan sambil mengobrol. 


"Nama mbak siapa?"


"Ratih. Nama masnya?"


"Damar."


Damar ternyata tinggal di daerah sekitar situ. 


"Oh, jadi mbaknya lagi liburan."


Ratih menganggukkan kepalanya sambil menyedot es cendolnya dan membelah baksonya.


Ketika sedang asyik berbincang sebuah suara muncul menginterupsi pembicaraan mereka.


"Pantesan gak mau ikut. Pengen pacaran ternyata!" 


Ratih menoleh kepada Kreshna. Wajahnya merah menahan malu, "Kamu apa-apaan sih?"


"Kamu yang apa-apaan? Kamu ngapain?"


"Makan bakso."


"Ini siapa?"


"Masnya tadi gak ada kembalian. Jadi aku sama masnya barter. Masnya beliin aku bakso dan aku beliin masnya cendol!"


"Bagus!" Dengus Kreshna kesal.


"Kamu apa-apaan sih? Jangan bikin malu!"


"Siapa yang bikin malu? Lihat tingkah kamu? Kamu pengen aku percaya sama kamu tapi kamu gampang banget deket sama siapa pun. Dulu Bima, sekarang, siapa nama masnya?"


"Damar."


"Damar! Kenapa gak camar sekalian?"


"Mas, jangan emosi! Saya sama mbaknya gak sengaja kenalan. Masnya pacar mbaknya?"


"Bukan!" Sahut Ratih.


"Kalau iya kenapa?" Sahut Kreshna sewot.


"Kamu apa-apaan sih?"


"Mbak, aku pamit dulu ya? Mas, maaf ya. Aku gak ada maksud apa-apa."


"Mas, bakso dan cendolnya belum abis."


"Gak apa-apa, mbak. Saya udah kenyang."


Damar ngeloyor pergi.


"Kamu apa-apaan sih? Kasian kan masnya belum habis makanan dan minumannya liat kamu sawan."


"Kamu genit banget sih?"


"Kamu apa-apaan sih? Jangan cari gara-gara! Inget kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi."


"Tapi aku gak tahan sama sifat genit kamu. Suka tebar pesona."


"Kamu bener-bener keterlaluan!"


Kreshna dan Ratih perang dingin. Tintan merasa kerepotan mendamaikan keduanya.


"Ngalah dong salah satu." Bujuk Tintan.


"Gak!"


"No way!"


"Sampai kapan kalian mau kayak gini?"

__ADS_1


"Kiamat!"


"Mati!"


__ADS_2