
Liburan mereka benar-benar sangat menyenangkan. Tidak ada satu hari pun terlewat tanpa kegembiraan dan kebahagiaan yang mereka rasakan.
"Kupikir, sepulang dari sini. Kita semua akan merasa energi kita bertambah."
"Yeah, kau benar. Ulang tahun perusahaan. Semua hadir kan?"
"Pak Pras sudah wanti-wanti tidak ada yang boleh ambil cuti pada hari itu karena kudengar big Boss mau meninjau anak perusahaannya."
"Belum pernah ada yang melihat big Boss?"
"Hanya aku saja dan itu juga kan gak sengaja waktu dia mampir ke perusahaan."
"Aku dapat tugas memberikan big Boss hadiah. Bagaimana kalau aku delegasikan ke Ratih?"
"Hadiah apa?"
"Lampion di kamarmu bagus sekali. Gimana kalau itu jadi hadiah buat big Boss. Kalau kau gak keberatan?"
Ratih tercenung. Sepertinya bukan ide yang buruk memberikan lampion sekaligus menyingkirkannya selamanya.
"Baiklah!"
"Thanks, Ratih!"
"Don't mention it!"
"Kau yang bertugas memberikan hadiah pada big Boss ya?"
"Ok!"
Selama tiga hari mereka diberi jadwal melihat pantai-pantai paling indah di Lombok.
Yang berpasir putih sampai yang berwarna pink.
Mereka berfoto-foto sambil bermain di pinggir pantai dan bahkan jika pantainya memiliki ombak yang aman dan diijinkan oleh tour guide untuk berenang, mereka berlima berenang sambil tertawa riang.
__ADS_1
Tiga hari empat malam berlalu dengan begitu cepat. Ratih sekamar dengan peserta wanita seorang wanita setengah baya yang pergi ikut tour dengan cucu lelakinya yang menemaninya berlibur, hadiah dari orang tua si anak yang merupakan anak dan menantunya.
Ketika tiba saatnya mereka kembali. Mereka melakukannya dengan berat hati karena Lombok adalah pulau yang sangat indah dan memiliki makanan yang sangat lezat.
"Aku akan merindukan Lombok!"
"Yeah, kau benar. Terutama pantai-pantainya yang sangat indah!"
Mereka kembali pada rutinitas mereka masing-masing. Diah memiliki tugas ekstra mempersiapkan ulang tahun perusahaan walaupun dia sudah berusaha menolaknya.
"Sebagai hukuman karena kau suka membohongiku dan cuti paksa!" Pras mengintimidasi Diah.
"Pak!"
"Take it or leave it!"
Diah menangis dan tidak membuat Pras merubah pikirannya.
"Kalau kau masih mau bekerja disini. Persiapkan semua dengan sempurna! Sambut tamu istimewa kita tanpa cacat! Kau dengar aku?"
"Baik pak!"
"Baik pak!" Diah keluar dari ruangan Pras dengan dongkol.
"Dasar demit!"
"Kau berantem lagi dengan pak Pras?"
"Ratih, jangan lupa tugasmu memberikan hadiah lampion milikmu yang aku minta."
Ratih menganggukkan kepalanya.
Diah mempersiapkan semua dengan sempurna. Mulai dari katering, kue ulang tahun perusahaan, hadiah buat big Boss merangkap owner mereka yang akan menjadi tugas Ratih.
Tema yang diambil untuk ulang tahun perusahaan yang sangat spesial karena merayakan ulang tahun perak yang ke dua puluh lima adalah Always shinning....
__ADS_1
Dengan dekorasi warna nuansa biru putih. Mengambil tema laut dan pasir putih terinspirasi dari liburan mereka ke lombok.
Waktu yang ditunggu tiba. Big boss mereka terlambat karena pesawat sempat delay karena cuaca buruk.
Ratih sangking tegangnya bolak balik ke kamar mandi. Mendadak beser dan menjelang detik-detik dia memberikan hadiah. Perutnya melilit sakit tanpa kompromi.
Dia menuju kamar mandi begitu big Boss yang ditunggu tiba.
Setelah menunaikan hajatnya. Kembali ke tempat acara dan sebelumnya mengambil lampion lengkap berisi tiga permintaan yang dibuatnya.
Jika orang membakar semua kenangan tentang semua hal yang berkaitan dengan hubungan mereka yang sudah berlalu.
Memberikan lampion ini sebagai hadiah adalah cara yang sangat elegan untuk membuang kenangan masa lalu tanpa melalui cara yang ekstrem.
Terpikir untuk menyingkirkan lampion tersebut dan semua permintaan yang dituliskannya hanya saja selalu tidak tega membuang atau membakarnya sampai takdir menentukan lampion itu harus terpisah selamanya dengan cara yang anggun sekaligus memutuskan semua sisa rantai masa lalunya.
"Ratih! Cepat!" Diah melambaikan tangan pada Ratih memintanya menaiki panggung untuk menyerahkan langsung lampion tersebut.
Ratih menundukkan wajahnya menahan malu. Berjalan setenang mungkin mengabaikan sorot-sorot mata yang memandanginya.
"Sedang apa kau disini?"
Suara yang sangat familiar dan membuat Ratih medongakkan wajahnya.
"Kau kenapa disini?"
"Aku owner perusahaan ini. Mengapa kau ada disini?"
"Ratih..."bisik Diah mengingatkan.
Bibir Ratih kelu, dengan gemetar dia menyodorkan lampion tersebut.
Tepuk tangan bergemuruh.
"Silahkan pak Kreshna memberikan sambutan!"
__ADS_1