
Tania sedang berjalan-jalan di mall ketika seseorang memanggil namanya.
"Tan!"
Tania menoleh dan wajahnya menjadi sangat riang.
"Aca!"
"Sudah lama kita gak ketemu. Aku kangen banget lho!"
"Kemana aja Ca?"
"Orang tuaku diplomat. Mau tidak mau sering pindah-pindah. Tapi semenjak aku lulus kuliah. Aku menetap di Indonesia."
"Tidak mengabari?"
"Aku menelpon ke rumahmu tapi tidak ada yang bisa memberikan nomor teleponmu yang baru."
"Rumah lamaku sudah dijual."
"Lalu bagaimana aku bisa menghubungimu?"
"Kau sendiri dari dulu mengontrak karena berpindah-pindah tempat. Tidak memiliki tempat tinggal tetap. Aku juga tidak dapat menghubungimu."
Keduanya tertawa riang.
"Tidak penting bagaimana kita terpisah. Akhirnya takdir mempertemukan kita."
"Kita ngobrol dulu yuk."
"Ayuk!"
Mereka memilih tempat yang nyaman untuk mengobrol. Sebuah kafe yang menyajikan makanan ringan dan kopi menjadi pilihan mereka.
"Dua brown sugar coffee milk. Risoles dan Croissant masing-masing dua." Tania memesankan makanan dan minuman buat mereka berdua.
"Kita ngobrol seharian ya? Sudah lama kita gak bertemu. Pokoknya sekarang kita kontak lagi ya?" Ujar Tania tersenyum lebar.
"Aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi. Aku berusaha mencari medsosmu. Tidak ketemu."
"Aku juga mencari medsosmu tapi juga tidak ketemu."
"Aku memakai nama keluargaku."
"Aku memakai nama zodiakku."
"Pantas saja!"
Keduanya tergelak.
"Yang penting sekarang kita dipertemukan takdir." Ujar Tania.
"Yeah!" Sahut Aca.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Tania.
"Lulus kuliah. Aku mencoba bekerja. Tapi gak enjoy. Hectic. Ayahku menawariku mengurusi yayasan perusahaannya. Aku merasa enjoy sampai sekarang."
"Sosialita dong!"
"Begitulah. Aku merasa lebih cocok bergerak di bidang sosial karena tidak harus pusing mengkalkulasi angka. Hanya menyalurkan budget sumbangan yang ada. Mencari sumbangan melalui kegiatan-kegiatan amal. Menyelenggarakan kegiatan sosial. Menyalurkan dana sumbangan melalui program-program yang dibuat yayasan."
"Yeah!"
"Kau sendiri bagaimana?"
"Semenjak lulus kuliah, aku langsung bekerja. Sangat enjoy dengan pekerjaanku. Sampai sekarang. Kau sudah menikah?"
"Belum. Tapi aku memiliki seorang kekasih. Bagaimana denganmu?"
"Aku masih ingin fokus dengan pekerjaanku. Mungkin belum menemukan orang yang cocok."
"Jangan memasang standart terlalu tinggi. Belajar menerima kekurangan orang lain."
__ADS_1
"Kupikir mungkin aku masih perlu waktu untuk diriku sendiri."
"Yeah! Rata-rata mereka yang sibuk bekerja. Kesulitan memiliki pasangan."
"Faktor waktu. Mungkin juga kesulitan untuk menyesuaikan diri."
"Kapan kau menikah?"
"Maunya secepatnya tetapi aku tidak bisa memutuskannya."
"Yeah! Undang aku ya kalau kau menikah."
"Tentu. Aku minta nomor whatsappmu. Medsos tidak usah. Karena aku tidak aktif di medsos."
"Aku juga. Malas aku bermedsos. Apalagi banyak penipuan. Toxic people. Belum kalau kena hack. Baiklah, kita saling bertukar nomor whatssapp saja."
"Baiklah."
Mereka saling bertukar nomor whatssapp. Foto masing-masing sebagai profil di status whatsapp mereka masing-masing. Melanjutkan obrolan mereka.
"Kau memutuskan kembali ke Indonesia?" Ujar Tania.
"Maunya sih gak balik. Tapi orang tuaku masih sangat konvensional. Apalagi mereka sudah menetap di sini. Tidak pindah tugas lagi semenjak ayahku menjadi duta besar. Yayasannya juga sangat penting untuk mendukung karirnya dan perusahaan keluarga kami."
"Yeah!"
" Bagaimana pekerjaanmu?"
"Kau tahu bagaimana jurusan akutansi. Jika bukan passionnya sangat membosankan dan monoton. Tapi aku sangat menyukainya."
"Yeah. Bekerja dengan passion. Seperti halnya bekerja dengan semangat setiap hari. Seperti halnya liburan."
"Kau banyak berubah." Sahut Tania,"Fashinable dan modis."
"Tuntutan jadi sosialita. Semua orang akan menyorotmu. Mempertanyakan kredibilitasmu juga performancemu."
"Yeah! Aku memilih bekerja karena tidak tahan harus berhubungan dengan banyak orang. Bidangku hanya berkutat dengan angka."
"Yeah! Sepertinya memang cocok dengan latar belakang pendidikanmu."
"Yeah! Kau juga banyak berubah. Lebih serius dan pendiam."
"Mungkin karena sebagian besar waktuku untuk bekerja."
"Yeah! Bisa jadi. Jangan terlalu serius bekerja."
"Cepat sekali ya waktu berlalu. Seperti baru kemaren kita bersahabat begitu erat. Waktu memisahkan. Tidak sengaja kita bertemu di sini."
"Aku bukan tidak berusaha mencarimu. Tapi kau seperti menghilang ditelan bumi."
"Aku juga tidak dapat menemukanmu."
"Mungkin memang kita belum ditakdirkan bertemu dan kembali bersahabat."
"Yeah! Kau sahabat terbaikku."
"Kau juga. Kau ingat tidak saat kita membolos di sekolah?"
Meledak tawa Aca.
"Kita memanjat pohon di belakang sekolah. Ketika kau akan melompat turun. Seorang guru memergoki."
"Yeah! Kita berpura-pura kau sedang terlambat dan aku membantumu agar bisa masuk ke dalam sekolah karena gerbang sudah dikunci. Twisted plot."
"Menukar jawaban soal ujian?"
Tawa mereka kembali meledak.
"Aku tidak bisa memikirkan cara lain memberikan jawaban ujian padamu. Dengan cara yang lebih aman."
"Berpura-pura menjadi pacar orang yang mengejarmu. Membuatnya kapok dan malu."
"Kau berteriak-teriak meminta pertanggungjawabannya."
__ADS_1
Kontan tawa mereka kembali meledak.
"Kita nakal sekali saat itu."
"Kompak sekali. Yang kuingat."
"Yeah! Partner in crime."
"Saling melindungi satu sama lain."
"Saling menyayangi."
"Yeah! Sweet memories."
"Kupikir kita tidak akan bisa kembali seperti masa itu."
"Tentu saja tidak bisa. Kehidupan kita sudah berbeda. Tetapi sesekali kita bisa bertemu dan meluangkan waktu bersama."
"Yeah! Kau tidak suka acara amal dan sosial. Seandainya, minat dan lingkungan kita sama. Kita akan kembali akrab seperti dulu."
"Kau juga tidak mungkin kupaksa menyukai akutansi kan? Bekerja di perusahaan yang sama denganku?"
"Aku tidak menyukai akutansi juga bekerja. Make me headache and hectic. Aku menyukai beraktifitas di bidang sosial. Selain sesuai dengan latar belakang pendidikanku. Juga minatku."
"Kau banyak berubah."
"Benarkah? Kau juga."
"Aku nyaris tidak mengenalimu. Seandainya kau tadi tidak menyapaku."
"Sebenarnya, aku agak ragu. Tapi aku memberanikan diri memanggilmu."
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu."
"Sangat lama."
Telepon Tania berbunyi. Telepon dari Ratih.
"Baiklah aku akan segera ke sana. Kau tunggu ya sebentar."
"Kita teruskan obrolan kita di hotel yuk…."
"Kau menginap di hotel?"
"Yeah! Atasanku tidak nyaman. Genit. Sudah punya pacar tapi masih suka mengincar orang lain."
"Waduh! Sangat menyebalkan pasti bekerja dengan orang semacam itu."
"Yeah! Kesukaannya bergonta-ganti pasangan. Pembosan. Tidak mengerti mencari tipe perempuan seperti apa."
"Mungkin seperti kau?"
"Enak saja! Yang menarik dan seksi saja disia-sia. Apalagi yang monoton dan membosankan seperti aku?"
"Kita tidak pernah tahu bagaimana pertimbangan orang lain. Mengapa kau tidak memberikannya kesempatan? Sehingga dia tidak penasaran denganmu? Karena bisa jadi yang membuatnya penasaran. Sikapmu yang menolaknya."
"Dia sudah memiliki kekasih. Dan aku enggan menjadi kelinci percobaan."
"Belum jadi istri kan?"
"Belum. Tetapi tetap saja tidak etis rasanya."
"Setidaknya jangan membuatnya menjadi penasaran."
"Aku tidak bermaksud demikian. Tetapi aku merasa lebih baik menghindar."
"Terserah kau."
"Kita udahan dulu ya? Kita sambung lagi kapan-kapan. Kita kan sudah memiliki nomor whatsapp masing-masing."
"Yeah! Tapi kesibukan masing-masing tidak bisa menjamin kapan kita bisa bertemu lagi."
"See you when I see you…."
__ADS_1