
Hari Sabtu, Tania memilih meluangkan waktunya untuk bekerja di rumah. Sebelum menghadiri social meeting nanti sore.
Pekerjaan yang dibebankan Kreshna kepadanya. Dirinya mulai membaca laporan yang dibuat Diah.
Gadgetnya berbunyi. Tania mengangkat gadgetnya.
“Tumben cepet ngangkatnya.”
“Aku tidak punya waktu banyak. Aku ingin meminta laporan singkatmu. Diah bilang kau belum menyerahkan padanya.”
“Sabar dong! Main to the point aja.” Ujar Pras terkekeh.
“Tidak lucu!”
“Basa basi dulu, dong… Bilang kangen kek. Apa kek…” Goda Pras.
Wajah Tania berubah jutek.
“Kumat lagi!” Sahutnya kesal.
“Kau yang terlalu terburu-buru. Santai sedikit kenapa sih?”
“Senin sampai Jum’at sebelum jam lima sore. Aku kuliah. Senin sampai Kamis sore aku kerja freelance sampai jam sebelas malam. Jumat , Sabtu dan Minggu mengerjakan pekerjaan yang dilimpahkan Kreshna kepadaku. Menjadi cctvmu.”
“Belahlah dadaku. Hatiku hanya milikmu.” Ujar Pras konyol membuat Tania semakin sebal.
“Pekerjaanmu. Yang aku awasi. Bukan selainnya. Itu menjadi urusan pribadimu!” Ujarnya kesal.
“Oh… Kirain…”Ujar Pras konyol.
“Tolong kirim laporan singkatmu.” Pinta Tania.
“Aku akan mengantarnya langsung ke sana. Bagaimana?”
“Buat apa kau antar kemari? Kirim saja lewat email.”
“Kau mau laporannya tidak?”
“Jangan mempersulit pekerjaanku.”
“Aku juga akan membawakanmu makanan.”
“Plus masalah.” Keluh Tania diikuti gelak tawa Pras.
“Kapan aku membawa masalah untukmu?”
“Ini saja kau sudah mau membuat masalah. Kirimkan laporanmu lewat email. Hanya itu yang kupinta. Selebihnya menghilanglah dari muka bumi. Kalau perlu benamkan dirimu ke bumi atau laut.”
“Kau ingin aku bersama Nyi Roro Kidul?”
“Whatever.”
“Aku ingin refreshing. Kupikir ke Selandia Baru bukan ide yang buruk.”
“Aku sangat sibuk. Tidak bisa menemanimu.”
“Aku sudah besar tidak perlu ditemani.”
“Aku tidak memiliki banyak waktu untuk bercanda denganmu. Tolong kirimkan laporanmu lewat email.”
“Kau benar-benar tidak memperbolehkan aku ke sana?”
“Aku akan menelpon Kreshna dan melaporkan semua tingkah lakumu.”
“Begitu saja mengadu!”
“Kau mempersulit pekerjaanku.”
“Baiklah, aku akan mengirimkannya lewat email.”
“Terima kasih.” Tania menutup percakapannya.
Gadgetnya kembali berbunyi. Tania mengangkatnya kembali.
“Ada apa sih?”
“Masak begitu saja?”
“Apa maksudmu? Kau ingin mengirimkan lewat email dan aku ingin melanjutkan pekerjaanku. Ini akhir pekan. Sore nanti aku ada social meeting.”
__ADS_1
“Itu namanya habis manis sepah dibuang.”
“I don’t have time for this!”
“Kau menghubungiku hanya ada maunya saja.”
“Kau mau aku bagaimana? Plus, jangan mencari gara-gara.”
“Aku ingin kita berbicara sebentar. Jangan hanya memikirkan pekerjaan. Tidak akan ada habisnya.”
“Kau mau bicara apa?”
“Apa saja. Bagaimana jika kau menceritakan mengenai keseharianmu di sana?”
“Kau tidak menyimak. Untuk apa aku bercerita pada orang yang tidak mendengar apa pun?”
“Apa maksudmu tidak menyimak?”
“Aku sudah mengatakan aku kuliah dari Senin sampai dengan Jum’at sebelum jam lima sore. Bekerja freelance dari Senin sampai Kamis mulai jam lima sore sampai dengan sebelas malam. Jum’at, Sabtu dan Minggu kugunakan waktu untuk mengerjakan pekerjaan dari Kreshna. Setiap akhir pekan sore hari, akan menghadiri social meeting. Minggu siang sampai sore, waktuku bersama teman-temanku untuk refreshing.”
“Pantas saja, aku malas menyimaknya. Kau tidak menceritakan sesuatu yang personal dan menarik. Untuk apa aku tahu jadwal keseharianmu?”
“Supaya kau lebih pengertian. Berpikir ulang kalau ingin menggangguku?”
Pecah tawa Pras, “begitu saja merasa diganggu. Hidupmu sangat monoton dan serius.”
“I don’t have to listen this nonsense.”
“Ok, kapan kau ada waktu berbicara denganku?”
“Masalah pekerjaan?”
“Hell no!”
“Kau ingin berbicara apa sih?”
“Ngalor ngidul. Seperti kau berbicara dengan teman-temanmu.”
“First of all. Teman-temanku tidak jahil sepertimu.”
Pecah tawa Pras, “aku hanya bercanda.”
“Dan tidak lucu!”
“Bercanda kalau kedua belah pihak tertawa tetapi jika hanya sepihak?”
“Ok! I am sorry!”
“Second of all. Apa yang ingin dibicarakan selain pekerjaan?”
“Banyaklah. Believe me…”
“Gosip?”
“Setidaknya bukan pekerjaan.” Tawa Pras kembali meledak, “tentu saja bukan gosip. Maybe something private.”
“Like what?”
“I don’t know. We will find it latter.”
“Ok. We will discuss it latter. Untuk sekarang, kirim laporannya lewat email. Pekerjaanku masih banyak.”
“Baiklah.”
“Ok, thanks!” Tania menutup gadgetnya. Kembali berkonsentrasi ke pekerjaannya.
Pintu kamarnya diketuk.
“Masuk!” Seru Tania.
Pintu terbuka. Kamila memasuki kamar Tania.
“Ada apa?” Sahut Tania sambil terus membaca jurnal yang dibuat Diah.
“Bisakah aku berbicara denganmu.” Tanya Kamila.
“Silahkan. Aku mendengarkan.”
“Minggu depan social meeting di rumah kita. Kalau kita terus meneruskan menyediakan makanan bagi yang hadir. Sangat merepotkan dan khawatirnya tidak cukup.Kalau yang datang lebih banyak daripada makanan yang kita sediakan.”
__ADS_1
“Hmm, benar juga. Tapi aku tidak ingin ada makanan haram di rumah ini.”
“Yeah, aku juga.”
“Solusinya?”
“Mengapa kau tidak meminta mereka hanya membawa makanan dan minuman berlabel halal NZIDT?”
Tania menghentikan bacaannya. Mengangkat kepalanya. Menatap Kamila.
“Apakah ada yang salah?” Tanya Kamila.
“Tidak. Hanya saja mengapa aku tidak berpikir seperti itu sebelumnya?”
“Mungkin kau terlalu fokus dan takut ada makanan serta minuman haram masuk ke rumah.”
“Yeah, kau benar. Aku terlalu takut sehingga aku berpikir ribet dan rumit.”
“Aku senang pikiranmu terbuka. Berarti kau setuju di undangan kutulis membawa makanan dan minuman yang hanya berlabel NZIDT.”
“Yeah, tentu. It’s brilian. You should say it before.”
“I am afraid you don’t agree with me.”
“If I have a predijuce. Maybe I don’t agree with you but you already explain the reason.”
“To be honest, aku dan Maryam sudah memikirkan hal ini sejak awal tapi kami khawatir kau menganggap kami berhitung atau tidak mau direpotkan.”
“Jika kau tidak memberikan penjelasan. Mungkin saja aku akan berpikir seperti itu.”
“Baiklah. Kalau begitu. Teruskan pekerjaanmu.”
“Yeah, thanks.”
“Don’t mention it.”
Berjam-jam Tania menghabiskan waktu di kamarnya untuk bekerja. Membaca serta menganalisa jurnal keuangan yang dibuat Diah serta laporan singkat Pras.
Tubuhnya yang penat direnggangkan. Menyesap kopinya dengan nikmat. Memberikan efek segar dan refresh. Membuka toples cookiesnya. Mengambilnya sebuah serta mengunyahnya lamat-lamat.
Pikirannya terus bekerja. Menganalisa apa yang dia baca dan pelajari. Di benaknya tergambar kesimpulan yang akan dibuatnya berdasarkan jurnal serta merevisi laporan singkat yang dibuat Pras.
Pras merencanakan membeli kendaraan dan membangun kantor perusahaan cabang sedangkan Tania lebih merekomendasikan untuk menyewa kebutuhan transportasi dan kantor perusahaan.
Uang tersebut akan diinvestasikan ke cabang perusahaan dengan meningkatnya permintaan serta kesiapan sdm perusahaan dalam memenuhi prestasi kontrak yang dimaksud.
Tania sudah membuat perbandingan proyeksi analisa keuangan jika uang tersebut dialokasikan untuk membeli kendaraan dan membangun kantor dibandingkan diinvestasikan.
Pintu kamarnya kembali diketuk.
“Tan! Apakah kau sudah selesai?”
Tania melirik ke arah jam dinding di kamarnya. Jam menunjukkan pukul setengah empat.
“Yeah, aku akan bersiap-siap.”
“Aku dan Kamila akan menunggu di ruang tamu. Ok?”
“Ok!”
__ADS_1