
Ratih terbangun dari tidurnya. Menjelang dini hari. Jam menunjukkan pukul satu lewat tiga puluh malam.
“Bangun tidur, baca doa. Jangan marah-marah.” Ujar Kreshna berjalan keluar dari kamar mandi.
“Bagaimana aku tidak marah? Kita sekamar dan seranjang!”
“Aku sudah mengatakan alasannya padamu. Kau tidak mau makan?”
Perut Ratih mengeluarkan bunyi keroncongan yang membuat Kreshna tergelak.
Ratih memakan sop buntut yang dipanaskan Kreshna. Memakan dengan lahap nasi putih dengan udang juga bebek lado mudo.
Kreshna sendiri memakan prawn coktailnya lamat-lamat. Menatap wajah Ratih yang sedang memakan makanannya dengan lahap.
“Menurutmu, ini romantis kan?” Ujar Kreshna.
“Aku kelaparan.” Sahut Ratih membuat Kreshna tidak dapat menahan tawanya.
“Entahlah, kupikir ini fine dinner terbaik. Teromantis.”
Ratih menyeruput kuah sop buntut dari mangkuknya. Mencomot udang dengan tangannya memasukkannya ke mulut. Mengunyahnya dengan cepat.
“Apanya yang romantis. No table manner...” Ujar Ratih menyeruput sisa sopnya sampai tandas.
“Kalau kau sudah menyelesaikan makanmu. Ada yang ingin kuberikan padamu.” Sahut Kreshna.
“Apa itu?”
“Selesaikan dulu makanmu. Cuci tanganmu yang bersih juga mulutmu. Aku tidak ingin hadiahku menjadi kotor dan berminyak.”
“Apa sih? Bikin penasaran aja…”
“Makan saja dulu kenapa sih?”
Ratih menyelesaikan makannya. Menghabiskan makanannya tanpa sisa. Tidak lama kemudian Ratih bersendawa.
“Apa kau masih bilang ini romantis?” Ujar Ratih tertawa geli.
“Hampir. Kau merusak suasana dengan bersendawa.” Sahut Kreshna sambil tertawa.
“Bersendawa itu sehat.”
“Tapi itu bisa jadi tidak sopan. Ada budaya yang membolehkan tapi ada juga yang tidak membolehkan.”
“Ya sudahlah. Aku mau ke kamar mandi membersihkan diri. Setelah berhibernasi. Aku merasa lebih segar dan berenergi.”
“Baiklah.” Ujar Kreshna. Memilih membersihkan heater yang digunakan untuk memanaskan sop. Menggunakan heater tersebut untuk merebus air panas. Membuat kopi.
Membuka minibar. Mengambil sekotak freshmilk. Dia juga membeli satu pouch susu kental manis putih serta sekotak krim kental. Sengaja membelinya untuk menambah kelezatan kopi yang dibuatnya sendiri.
Kreshna meletakkan dua bungkus kopi ke masing-masing cangkir. Menyeduhnya dengan air panas mendidih hingga setengah cangkir kemudian menambahkan susu kental manis, freshmilk dan cream kental.
Mengeluarkan potato chips, wafer, kacang dan biscuit dari minibar.
“Apa itu?” Tanya Ratih menatap ke arah meja nakas yang terdapat dua buah cangkir kopi serta aneka snacks.
“Kita akan mengobrol. Ini sesuatu yang romantis.”
“Sepertinya kau terobsesi dengan romantisme.” Ujar Ratih tertawa. Mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tubuhnya dibalut dengan kamar jas milik Kreshna.
“Apakah aku bisa meminjam pakaianmu? Tidak enak rasanya memakai pakaian yang bekas dipakai sesudah mandi.” Tanya Ratih.
__ADS_1
“Kau tampak segar dan sungguh menggoda…” Ujar Kreshna mengerling nakal. Serta merta Ratih melempar handuknya ke wajah Kreshna. Membuat seluruh wajah Kreshna tertutup handuk yang separuh basah.
“Jangan piktor!”
“Begitu saja marah…” Ujar Kreshna tergelak sambil memungut handuk yang dilempar Ratih ke arahnya.
“Awas mesum!” Ujarnya galak. Kreshna semakin tergelak.
“Kau harus berbaik hati. Jika ingin kupinjamkan pakaianku.”
“Aku tidak akan sungkan pada srigala berbulu domba!”
Tawa Kreshna kembali pecah.
Ratih menuju lemari pakaian Kreshna. Memilih beberapa kausnya. Mengambilnya satu yang dirasa paling nyaman dan pas. Agak kebesaran.
Memilih-milih celana pendek Kreshna tetapi kebesaran semua. Kedodoran. Pinggang Kreshna terlalu lebar. Berbeda dengan pinggangnya yang mungil Dan ramping.
“Mungkin aku tetap mengenakan bawahanku yang lama juga pakaian dalamku. Tetapi pakaian atasku sepertinya lebih nyaman jika diganti dengan kausmu yang agak kebesaran.”
“Kau pakai saja. Kalau memang sesuai denganmu.Kalau bawahannya kedodoran kau gulung saja seperti sarung.”
“Dasar sinting!” Ujar Ratih tertawa geli.
Ratih mengambil kaus Kreshna yang kebesaran. Kembali memasuki kamar mandi. Beberapa saat keluar mengenakan kaus Kreshna yang kebesaran dengan rok bawahannya.
“Kau mengenakan pakaian dalammu kembali?”
“Yeah, terpaksa.”
“Apakah tidak terasa lengket?”
Kontan tawa Kreshna pecah.
“Jorok sekali!” Ujar Kreshna.
“Darurat!”
“Tapi sepertinya sudah terbiasa…”
“Sok tahu!” Ujar Ratih manyun.
“Ini kopimu. Minumlah.” Kreshna menyodorkan cangkir kopi kepada Ratih.
Ratih menyesap kopinya, “enak sekali.” Puji Ratih.
“Terima kasih. Kau mau ini?” Ujar Kreshna menyodorkan potatoes chips.
Ratih mengambil potatoes chips. Mengunyahnya sambil sesekali menyesap kopinya.
“Apakah kau sudah siap dengan hadiahnya?”
“Buat apa sih kau memberikanku hadiah?”
“Kenang-kenangan. Aku bahkan mendapatkan hadiahku kembali.”
“Apa maksudmu?”
“Lampion Ajaib yang kuberikan sebagai hadiah ulang tahunmu.”
“Maafkan aku. Saat itu, aku hanya ingin melupakan hubungan kita. Yang membuatku sangat frustasi.”
__ADS_1
“Itu sebabnya. Aku memberikanmu banyak hadiah. Supaya aku bisa menghantuimu dengan kenangan tentang kita.”
Mata Ratih menyorot sedih ke arah Kreshna.
“Mengapa sorot wajahmu seperti itu.” Tanya Kreshna.
“Kau tahu hubungan kita tidak akan kemana-mana?” Ujar Ratih frustasi.
Kreshna mengambil cangkir Ratih meletakkannya di nakas. Merengkuh tubuh Ratih ke dalam pelukannya.
“Kata siapa?” Ujar Kreshna sambil membelai rambut Ratih. Air mata menetes dari kedua belah pipi Ratih.
“Apakah kau bisa menjanjikan sesuatu atau memberikan kepastian?”
“Kau tahu, aku tidak suka berbohong atau memberikan harapan palsu.” Kreshna mengangkat dagu Ratih menatap wajahnya dengan sangat dalam.
“Aku ingin memastikan semuanya. Kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi asing di keluargamu sendiri.” Sambung Kreshna.
“Apakah kita akan membicarakan traumamu lagi?” Ratih menjauhkan dirinya dari Kreshna.
Mengambil kopi, wafer dan kacang. Membawanya ke sisi tempat tidur yang lain. Menjauhi Kreshna.
“Mungkin bagimu. Aku hanya mencari alasan.” Sahut Kreshna dengan suara bergetar.
“Aku tahu, kau mengatakan yang sebenarnya. Aku hanya lelah dengan hubungan kita. Apakah kita memiliki sesuatu atau tidak.”
“Tentu saja kita memiliki sesuatu. Hanya saja, aku tidak ingin terburu-buru. Aku ingin memastikan semuanya. Aku tidak ingin kita berpisah di tengah jalan. Apalagi jika anakku mengalami hal yang sama denganku. Aku benar-benar tidak ingin hal itu terjadi.”
“Banyak anak yang broken home. Tetapi mereka baik-baik saja. Jika memang kita ditakdirkan berpisah. Tetapi setidaknya kita sudah berusaha menjalani sebaik yang kita bisa."
“Tidak semua anak broken home baik-baik saja. Ada yang menyisakan luka dan trauma yang tidak bisa sembuh.”
Ratih menyesap kopinya. Mengunyah wafernya. Setelah membuka bungkusnya.
Kreshna berjalan mendekati Ratih.
“Berhenti!” Ujar Ratih, “jangan mendekatiku. Kita harus saling menjaga satu sama lain. Tidak ada kepastian dalam hubungan kita. Aku tidak ingin sesuatu menimpa kita.”
“Aku berjanji akan menjagamu. Tidak akan melanggar batas. Sampai memang sudah diperbolehkan untuk hal tersebut.”
“Berbicaralah dari tempatmu berada. Tidak usah membuat suasana menjadi dramatis. Apalagi melankolis.”
“Baiklah. Jika itu maumu. Bagaimana jika kau menerima semua hadiah dariku untukmu?”
Ratih menganggukkan kepalanya. Dia membuka bungkus kacang. Mulai mengunyahnya.
Kreshna membawa sebuah kado yang sangat besar di tangan kanannya. Di tangan kirinya, sebuah kado dibungkus kertas kado yang indah. Dimasukkan ke dalam paper bag yang besar berwarna putih. Sebuah kado lagi tampak seperti kotak sepatu. Yang dibungkus dengan indah serta dimasukkan ke dalam paper bag berwarna hitam.
“Apa ini?” Tanya Ratih saat Kreshna mengangsurkan semua hadiah tersebut.
“Hadiah-hadiahmu.”
“Kau tahu love bombing itu fake love.”
“Dari pertama kali bertemu sampai saat ini. Perasaanku tidak berubah padamu. Persetan dengan love bombing!” Rutuk Kreshna.
__ADS_1