
Wajah-wajah bersinar dan sumringah ketika tiba saatnya mereka berlibur bersama.
"Akhirnya! Hari kebebasan tiba!"
Mereka berteriak layaknya anak kecil kecuali Ratih yang tetap bersikap kalem.
"Kau tidak senang kita bisa berlibur bersama?"
"Tunjukkan ekspresimu!"
Ratih tertawa melihat tingkah teman-temannya.
"Kita cari makan dulu yuk, sebelum check in! Bergabung dengan yang lainnya. Aku sudah share kan tour guide kita kepada kalian semua?" Diah memastikan kembali.
Semua mengiyakan.
"Aku juga tadi buru-buru. Sangking exitingnya."
"Aku juga tidak masak karena mau berlibur empat hari tiga malam. Untuk apa masak?" Ratih mengedarkan pandangannya melihat-lihat tempat makan yang kira-kira cocok dengan seleranya.
"Kita mau makan dimana?"
"Nasi, mie, roti atau donat?"
Mereka berkeliling mencari tempat makan yang sesuai dengan selera mereka.
"Aku ingin nasi."
"Aku ingin mie."
"Bagaimana kalau kita makan di sana? Sepertinya mereka menyajikan menu lengkap yang bisa sesuai dengan selera kita semua." Ratih menunjuk sebuah tempat makan berlogo halal mui dan langsung disetujui semua teman-temannya.
Mereka memilih meja dan kursi yang cukup untuk mereka berlima. Meja dan kursi untuk enam orang menjadi pilihan mereka mengingat mereka berlima.
Mereka bergantian memesan makanan.
Ratih memilih nasi goreng kambing yang diikuti oleh semua teman-temannya.
"Aku juga jadi ingin makan nasi goreng kambing."
"Sepertinya cocok buat sarapan kita."
__ADS_1
"Pilih minumnya!"
"Aku teh tawar hangat."
"Aku teh manis hangat."
"Aku es teh manis!"
"Sepagi ini?"
"Hot cappucino."
"Juice tomat."
"Kopi tubruk."
Pelayan mencatat pesanan mereka semua.
"Aku hampir saja tidak tega meninggalkan suami dan anak." Diah membuka ceritanya sambil menunggu makanan mereka datang.
"Urusan dengan pak Pras sudah selesai. Giliran anak dan suami. Apalagi anakku menangis minta ikut."
"Lalu?"
"So sweet...."
Teman-temannya nyaris berbarengan mengkomentari sikap suami Diah.
"Mau liburan bareng temen-temen aja susah ya kalau udah jadi mak-mak."
"Sudahlah! Yang penting kan akhirnya bisa."
"Anakmu yang tadi melambaikan tangan sambil menangis?"
"Iya, masih tk."
"Yang ikut pertandingan bola waktu itu?"
"Iya."
"Kau enak ya Ratih, tidak perlu ijin siapa-siapa."
__ADS_1
Ratih hanya tersenyum kecil.
Makanan mereka datang. Disusul minuman yang mereka pesan.
"Wow, nasi gorengnya sangat enak."
"Ya, kau benar. Aku tadinya ingin pesan mie goreng."
"Aku tadinya mau roti bakar."
"Aku juga mau memesan donat dan hot cappucino kan sangat cocok."
"Melihat Ratih memesan nasi goreng kambing kita semua jadi pengen makan nasi goreng kambing dan ternyata rasanya juara!"
"Kalau kita sudah bergabung dengan tour. Kita dapat makan kan?"
"Iya, mulai makan siang nanti kita dapat makan."
"Aku ikut tour karena biayanya sangat terjangkau."
"Sama!"
"Walaupun sebenarnya lebih enak liburan sendiri tapi biayanya itu?"
"Yeah! Aku tidak bisa menabung atau membeli semua kebutuhan dan keperluanku kalau dihabiskan untuk liburan."
"Liburan untuk membuat pikiran kita fresh dan bukan membuat stress."
Tawa mereka pecah.
"Memang semua yang tidak sesuai hanya menambah beban pikiran saja. Bukannya hepi malah tragedi."
Ratih kau sekamar dengan siapa?"
"Aku belum tau tapi yang pasti perempuan."
Kontan mereka semua tertawa.
"Memangnya kau mau sekamar dengan lelaki?"
"Tentu tidak!"
__ADS_1
Wajah Ratih merah padam dan semua temannya menertawainya.