Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Meet Again


__ADS_3

Jantung Ratih berdegup sangat kencang. Mereka bertemu lagi. Dan Kreshna ternyata tidak menikah dengan Alicia.


Dia melihat insialnya tetapi memang tidak membacanya dengan teliti. Karena sangat yakin kalau itu adalah Kreshna. Dia sangat yakin yang dilihatnya huruf K bukan D. Karena digrafir terlihat begitu mirip.


Mengapa mereka tidak bersama? Apa yang terjadi dengan mereka? Siapa pria yang menjadi suami Alicia?


Oh Tuhan! Selama ini dia selalu mencemburui Alicia. Menganggap mereka berdua tidak akan terpisahkan. Dirinya duri dalam hubungan mereka.


Ratih menahan dirinya untuk bertanya. Apalagi menghabiskan waktu dengan Kreshna. Tidak terpikirkan sama sekali. Lebih baik tidak mencari tahu apa pun. Fokus dengan kehidupan mereka masing-masing.


Lagi pula niatnya mengambil cuti. Untuk healing. Merefresh dirinya. Bukan untuk menjalin hubungan dengan siapa pun. Apalagi menghabiskan waktu dengan Kreshna. Big No!


“Kau menginap dimana?”Tanya Kreshna membuyarkan lamunannya. Mereka sedang menikmati hidangan resepsi pernikahan Alicia yang sangat lezat.


Ratih memilih menikmati dim sum sedangkan Kreshna mengambil sepiring lasagna kesukaannya.


“Di rumah teman.” Jawabnya berbohong.


“Pantas aku ke rumahmu tidak ada.”


Ratih nyaris tersedak.


“Kau ke rumahku? Untuk apa?”


“Kupikir kau akan menginap di rumahmu. Aku ingin mengajakmu datang ke akad nikah dan resepsi Alicia.


Ratih tidak memberitahukan kedatangannya pada keluarganya. Karena tidak ingin membebani mereka. Dia juga ingin bebas menghabiskan waktunya sendirian. Tidak menyangka sama sekali Kreshna mencarinya. Walaupun dia sempat berpikir. Bisa jadi Kreshna menemuinya. Dia tidak ingin hal itu terjadi.


Karena ada beberapa kisah. Sebelum mereka menikah. Mereka mengucapkan selamat perpisahan. Dan dia tidak ingin membuka luka yang sudah lama dia kubur. Pikiran sebelum dia tahu kalau ternyata bukan Kreshna yang menjadi suami Alicia.


Mendengarkan beberapa kisah dari beberapa temannya. Mantan kekasih mereka yang akan menikahi orang lain. Mencari mereka untuk mengucapkan perpisahan serta mengenang masa-masa manis. Yang akan mereka akhiri selamanya. Dia tidak ingin hal itu terjadi padanya.


Tidak akan tahan melepaskan Kreshna dengan cara seperti itu. Lebih baik mereka tidak pernah bertemu kembali. Sampai kapan pun.


“Kau melamun lagi!” Ujar Kreshna tertawa renyah.


Wajah Ratih bersemu merah. Wajahnya seperti kepiting rebus. Pipinya terasa memanas.


“Mengapa wajahmu selalu seperti itu?” Kreshna mengembangkan senyumnya.


“Kenapa dengan wajahku?”


“Seperti memakai blush on di seluruh wajahmu kalau sedang menahan malu.”


Wajah Ratih kembali memanas dan tawa Kreshna kembali terdengar.


“Mengapa kau tertawa terus?” Tanya Ratih.


“Tentu saja, karena aku bahagia.”


“Mengapa kau bahagia?”


“Karena...” suara Kreshna menggantung.


“Karena?” Ulang Ratih Ratih.


“Hmm, karena Alicia sudah menemukan belahan hatinya.” Ujar Kreshna.


“Kau berbahagia untuk Alicia? Benarkah?” Tanya Ratih.


“Buat apa aku berbohong?” Sambung Kreshna.


“Aku menganggapnya seperti saudara dan sahabatku tapi kau tidak pernah mempercayainya.”

__ADS_1


“Kau begitu tergantung padanya. Kau selalu mencarinya di saat kau membutuhkan teman berbicara atau apa pun itu.”


“Kau tidak cemburu kan?”


“Tentu tidak! Untuk apa aku mencemburuimu ?”


“Mana aku tahu? Bisa saja kan habit? Atau memang karakter bawaan dari lahir. Seperti kelainan jantung. Bedanya ini kelainan perasaan.”


Tawa Ratih pecah, “ Kau bisa saja!”


“Aku senang melihatmu tertawa!” Ujar Kreshna, “Kau melamun lagi!” Sahut Kreshna tertawa renyah.


Wajah Ratih bersemu merah. Wajahnya seperti kepiting rebus. Pipinya terasa memanas.


“Mengapa wajahmu selalu seperti itu?” Kreshna mengembangkan senyumnya.


“Kenapa dengan wajahku?”


“Seperti memakai blush on di seluruh wajahmu kalau sedang menahan malu.”


Wajah Ratih kembali memanas dan tawa Kreshna kembali terdengar.


“Mengapa kau tertawa terus?”


“Tentu saja, karena aku bahagia.”


“Mengapa kau bahagia?”


“Karena...” suaranya menggantung.


“Karena?” Sahut Ratih.


“Hmm, karena Alicia sudah menemukan belahan hatinya.”


“Kau berbahagia untuk Alicia? Benarkah?”


“Buat apa aku berbohong?”


“Aku menganggapnya seperti saudara dan sahabatku tapi kau tidak pernah mempercayainya.”


“Kau begitu tergantung padanya. Kau selalu mencarinya di saat kau membutuhkan teman berbicara atau apa pun itu.”


“Kau tidak cemburu kan?”


“Tentu tidak! Untuk apa aku mencemburuimu?”


“Mana aku tahu? Bisa saja kan habit? Atau memang karakter bawaan dari lahir. Seperti kelainan jantung. Bedanya ini kelainan perasaan.”


Tawa Ratih pecah, “ Kau bisa saja!”


“Aku senang melihatmu tertawa!” Ujar Kreshna.


Ratih meletakkan piringnya. Berjalan menjauhi Kreshna.


“Kau mau kemana?”


“Aku mau makan martabak.”


“Aku ikut.”


“Habiskan dulu makananmu.”


“Sudah habis!” Kreshna meletakkan sisa lasagna di meja berisi makanan. Berjalan mengikuti Ratih.

__ADS_1


“Sejak kapan kau suka martabak?” Tanya Ratih.


“Sejak sekarang. Siapa yang bilang aku tidak suka martabak?”


“Mungkin aku salah ingat.” Ujar Ratih.


“Maksudku bukan makanan kesukaanku. Tapi bukan berarti aku tidak mau makan martabak.”


“Terserah.” Ujar Ratih.


“Bolehkah kita bertemu?” Tanya Kreshna. Nadanya penuh harap.


“Tentu boleh.” Sahut Ratih.


Wajah Kreshna berbinar senang, “ Kapan dan dimana? Aku boleh mengantarmu pulang ke rumah temanmu ya?”


“Maafkan aku. Sehabis resepsi aku sudah ditunggu jemputan travel ke bandara.”


“Kau langsung kembali?” Kekecewaan tersirat di wajah Kreshna.


“Pekerjaanku menumpuk.”


“Pakai travel berarti aku tidak bisa mengantarmu?”


“Sudah penuh. Kalau masih ada tempat. Bisa saja.” Sahut Ratih berbohong.


“Aku pikir kita bisa menghabiskan waktu bersama. Walaupun sebentar.”


“Pekerjaanku. Maafkan aku.”


“Yeah! Nevermind. Next time.”


“Next time!”


Kreshna mengekori Ratih. Mereka menikmati melanjutkan hidangan sambil mengobrol. Menikmati bakso, siomay, mpek-mpek, tempura, es serut, aneka puding dan kue.


Sudah satu jam lebih mereka berada di dalam ruangan resepsi.


“Kresh! Aku mau ke toilet dulu ya?” Pamit Ratih.


Kreshna menganggukkan kepalanya, “Jangan lama-lama ya?”


“Ok!” Ratih mengembangkan senyumnya. Membuat Kreshna merasa jantungnya berhenti berdetak. Matanya memandang lekat. Menikmati setiap tarikan bibir Ratih yang memahat senyum dengan sangat indah.


Ratih berjalan menjauh. Meninggalkan Kreshna. Menuju toilet. Memastikan keberadaan Kreshna. Berjalan menjauhi toilet menuju pintu keluar belakang.


Memandang Kreshna dari kejauhan sebelum berjalan keluar, “Maafkan aku! Bukan bermaksud playing hard to get. Hubungan kita tidak akan kemana-mana. Aku tidak ingin sakit hati dan kecewa lagi. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. I hope we never meet again.Forever.”


Ratih berjalan keluar pintu. Berjalan menjauhi dan memasuki taksi yang berada di luar gedung. Meminta supir taksi mengantarkannya ke hotel tempatnya menginap.


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2