Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Struggle


__ADS_3

Pras memandang ke WhatsAppnya. Tania belum membalas WhatsApp nya sama sekali.


Seberapa sibuknya dia? Sampai tidak sempat membalas WhatsApp ku?


Pernikahan Marsha seharusnya memberikan kesempatan baginya dan Tania.


Kenyataannya, hubungan mereka berjalan di tempat. Bahkan Tania semakin menjauh.


Pras memberanikan diri untuk menelpon. Teleponnya diangkat saat dia bermaksud untuk menutupnya.


“Hello?”


Suara seorang pria. Jantung Pras nyaris berhenti. Apakah Tania sudah berubah? Mengikuti arus pergaulan bebas disana.


“Hello.” Sahut Pras.


“Do you want to talk to Tania?”


“Yeah. Right. Is she there?”


“She is in toilet. I will tell that you are call.”


“Ok!”


“Wait! She already finish. Tania! Your friend calling.”


“Thank you.” Suara Tania sambil menerima teleponnya.


“Siapa itu?”


“Siapa ini?”


“Kok malah nanya balik?”


“Ini siapa?”


“Pras!”


“Oh! Pras. Ada apa?”


“Itu siapa?”


“Temen kampusku.”


“Kalian sedang apa?”


“Apa maksudmu sedang apa?”


“Apakah kau sekarang sudah bergaul bebas seperti kebiasaan di sana?”


“Apa maksudmu?” Ujar Tania marah.


“Untuk apa kalian menghabiskan waktu berdua? Apakah kalian habis...”


“Habis apa?” Ujar Tania sewot.


“Bercinta. Dan kau membersihkan dirimu ke toilet.”


“Astaga! Pikiranmu sangat kotor. Pertama, aku orang Indonesia. Masih memegang nilai budaya timur dan agama. Kedua, kami tidak berada di kamar berdua seperti bayangan kotor mu. Kami bersama lima puluh orang lainnya di rumah temanku, Darren.”


“Namanya Darren?”


“Yeah. Friend with benefit?”


“Akan ku cuci otak kotor mu dengan sunlight.”


“Tahu darimana kalau kau bersama banyak orang?”


Tania menutup teleponnya. Menggantinya dengan video call.


Pras mengangkat video call dan melihat bahwa di ruangan tersebut memang banyak orang. Tania menshut tidak hanya mereka yang berada di dalam ruangan. Tetapi juga halaman.


“Bagaimana?”


“Ok! Mengapa kau tidak menjawab WhatsApp ku?”


“Aku belum menjawabnya. Bukan tidak menjawabnya.”


“Sudah hampir seminggu?”

__ADS_1


“Kau liat sendiri saat ini pun aku sedang sibuk dengan social meeting ku.”


“Kau sesibuk apa?”


“Aku kuliah Senin sampai dengan Jumat. Bekerja freelance Senin sampai Kamis. Sabtu social meeting. Minggu aku refreshing dengan teman-temanku.”


“Ok! Aku akan menunggumu membalas WhatsApp ku.”


“Bicara sekarang saja.”


“Apa maksudmu bicara sekarang?”


“Kebetulan kau kan menelpon ku. Sekalian saja.”


“Aku ingin berbicara santai denganmu.”


“Sekarang juga bisa. Aku akan mencari tempat yang nyaman untuk berbicara.” Tania berjalan ke arah Darren meminta ijin menggunakan kamarnya.


Darren menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Tania menutup pintu kamar Darren.


“Kau ingin bicara apa?”


“Hanya ingin menanyakan mengapa kau belum menjawab WhatsApp ku.”


“Aku kan sudah mengatakan alasannya.”


“Yeah. Aku ingin kau meluangkan waktu khusus untukku. Supaya kita bisa berbicara setidaknya seminggu sekali.”


“Untuk apa sih?” Tanya Tania malas.


“Mengapa kau masih menghindari ku? Marsha sudah menikah. Kau tidak perlu menjaga perasaan siapa pun.”


“Marsha sahabatku. Aku tidak ingin dia salah paham padaku.”


“Kau jangan terlalu naif. Marsha memberikan jalan pada kita berdua.”


“Jalan apa? Kau jangan salah paham. Kita hanya teman. Aku tidak pernah ingin memiliki lelaki yang memiliki banyak pacar.”


“Aku tidak memiliki pacar saat ini.”


“Belum dengan tidak sangat berbeda. Aku tidak keberatan berbicara denganmu. Tetapi hal yang umum. Jangan yang pribadi apalagi menjurus. Hubungan kita tidak ada hubungannya dengan pernikahan Marsha.”


“Bukan. Dia temanku.”


“Kalian sepertinya sangat akrab.”


“Darren teman pertamaku di sini. Dia banyak membantuku. Yeah, kami memang sangat akrab.”


“Mungkin kau menolak ku karena dia?”


“Aku hanya memikirkan studiku. Bukan selainnya. Ayahku akan memberikan perusahaannya disini padaku.


Sehingga aku harus belajar dan bekerja secara serius.”


“Kau bisa membagi bebanmu jika kau menikah.”


“Apa maksudmu?”


“Memimpin perusahaan tidak mudah. Apalagi untuk seorang wanita.”


“Tidak mudah bukan berarti tidak bisa.”


“Aku bukan bermaksud kolot. Tapi pada akhirnya setinggi apa pun wanita mencapai pendidikan dan karirnya. Akan berakhir di dapur, sumur dan kasur.”


“Aku bukan feminism. Aku juga bukan pro mereka yang tidak ingin menggunakan rahim mereka untuk melahirkan. Bukan penganut childfree juga. Aku merasa dalam kapasitasku mengambil tanggung jawab yang dibebankan ayahku. Membutuhkan konsistensi dan memiliki konsekuensinya.”


“Apa yang ingin kau katakan?”


“Aku belum memikirkan pernikahan.”


Pras terdiam.


“Kau tidak ingin menikah?”


“Aku tidak mengatakan seperti itu. Menikah bukan prioritasku saat ini.”


“Mengapa kau masih memikirkan Marsha?”

__ADS_1


“Karena dia sahabatku.”


“Tapi sekarang dia sudah berbahagia dengan suaminya. Tengah mengandung buah hati mereka.”


“Tetap saja hal itu merupakan beban bagiku. Seperti ada kewajiban moral tidak tertulis.”


“Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.”


“Kau sendiri suka bergonta ganti pasangan.”


“Aku belum menemukan yang cocok.”


“Setahuku memang tidak ada yang cocok. Berusaha mencocokkan banyak.”


“Aku hanya tidak ingin seperti membeli kucing dalam karung.”


“Tapi yang kau pacari kan manusia bukan kucing.”


Tawa Pras pecah.


“Itu kan istilah. Maksudnya aku tidak mau memilih sesuatu yang belum ku kenali dengan baik.”


“Entahlah. Stereotipe orang yang suka berganti pasangan itu tidak baik.”


“Maksudmu kalau tidak cocok atau berubah perasaanmu. Kau abaikan? Sebelum menikah. Menurutku setiap orang bebas memilih. Kadang sudah menikah pun. Sebagian orang memilih bercerai jika mereka merasa tidak cocok atau hubungan mereka hambar. Apalagi yang belum menikah?”


“Entahlah mungkin aku terlalu perfeksionis. Idealis. Kupikir, hampir setiap wanita menginginkan pernikahan mereka seperti cerita dongeng.”


“Kau tahu tidak ada cerita dongeng. Cuma khayalan.”


“Yeah. Tapi sebagian orang mereka menemukan cinta sejati mereka. The dream come true.”


“Setiap orang pasti akan menemukan cinta sejati dalam hidup mereka.”


“Aku tidak ingin membicarakan ini. “


“Yeah. Kau hanya dipenuhi ambisimu.”


“Kita bicara yang lain saja. Bagaimana keadaan di kantor?”


“Diah sedang mengambil kuliah lagi. Kreshna kehilanganmu. Setiap kami bertemu atau mengobrol. Dia kerap mengomeli ku.”


Tania tertawa.


“Kupikir, dia benar seandainya kau bisa menahan diri. Kau tidak kehilangan Marsha dan mungkin aku juga masih bekerja di sana.”


“Kau seperti anak kecil.”


“Sikapmu sangat mengganggu dan membuatku tidak nyaman.”


“Harusnya kau pisahkan mana yang urusan pekerjaan dan bukan.”


“Aku wanita. Makhluk perasaan. Semua tolak ukurnya perasaan. Jika perasaannya nyaman maka semua akan nyaman.”


“I don’t get it.”


“Mungkin argumen ini seperti mengada-ngada. Dan tendensius. Wanita sangat akrab dengan diskriminasi dan pengkhianatan.”


Pras tertawa mendengarnya.


“Kupikir kau agak berlebihan.”


“Bahkan hormon mu sendiri mengkhianatimu.”


“Ok! Memang lelaki tidak mengalami masalah seperti itu. Dan memang dibandingkan kaum wanita. Lelaki lebih tidak setia. Mungkin karena mereka menggunakan logika?”


“Orang lebih merasa terintimidasi dengan wanita daripada pria. Benarkan?”


“Maksudmu bos wanita atau pria?”


“Salah satunya. Tapi banyak hal yang membuat wanita harus berusaha lebih keras di tengah keterbatasan mereka dibandingkan lelaki.”


“Yang paling lazim menjadikan perjuangan Kartini yang menjadi icon emansipasi wanita.”


 


 


 

__ADS_1


 


... ...


__ADS_2