
Bianglala berputar dengan perlahan. Sesekali berhenti. Mereka berdua menikmati pemandangan dari atas bianglala.
“Ini yang namanya takdir. Kita bertemu tidak sengaja.” Kreshna membuka suaranya,”Kupikir, aku tidak akan pernah bertemu lagi denganmu.”
Ratih hanya diam tidak menanggapi.
“Aku bukannya sengaja mencari alasan. Aku ingin menceritakan semuanya padamu. Tapi sikapmu yang seperti mengkonfrontasiku. Membuatku ragu. Aku tidak ingin kau berpikir aku mencari pembenaran. Berusaha mencari simpati. Aku sadar, jodoh sudah ada yang mengatur. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Tidak bisa memaksa. Pada akhirnya akan menerima apa yang sudah digariskanNya.”
“Aku bukan bermaksud mengkonfrontasi. Aku hanya tidak ingin membahas apa pun. Jalani aja semua apa adanya. Jadi tidak ada kecewa, buruk sangka atau sakit hati. Semua bisa diterima dengan lapang dada.”
“Apa kau mau mendengarkan ceritaku?”
“Kita terjebak di bianglala. Kupikir, tidak ada salahnya kau bercerita. Aku akan mendengarkanmu.”
“Orang tuaku bercerai. Aku seperti terbuang di dalam keluargaku. Aku tidak dapat ikut ayahku dan keluarganya. Bersama ibuku dan keluarganya. Aku kerap merasa terasing dan seperti duri dalam daging. Aku baru merasa terbebas ketika aku kuliah di luar negeri. Bekerja dan memiliki kehidupan sendiri. Kedua orang tuaku. Tetap bertanggung jawab padaku. Ayahku menitipkan sejumlah uang dan tabungan untukku kepada ibuku. Untuk pendidikanku dan semua kebutuhanku. Ibuku sendiri selalu berusaha mengasuh dan merawatku dengan baik. Hanya saja aku merasa seperti duri dalam daging.”
“Lalu apa hubungannya dengan kita?”
“Alicia juga mengkhianatiku. Membuat traumaku membayangi kembali.”
“Alicia yang mengkhianatimu. Tapi aku yang kau hukum?”
“Bukan begitu. Aku takut kita mengalami kegagalan. Aku tidak ingin anakku mengalami nasib sepertiku.”
“Aku tidak tahu bagaimana trauma bekerja? Tapi selama kau belum bisa mengatasi traumamu. Kita tidak akan bisa kemana-mana.”
“Yeah! Aku senang kau mulai mengerti.”
“Bisakah kau jelaskan. Mengapa kau dan Alicia seakan seperti tidak terpisahkan?”
“Astaga! Dia sudah menikah dan kau masih saja seperti itu?”
“Ini tidak ada hubungannya apakah dia sudah menikah atau tidak. Bisa saja kalian reunian kembali? Apalagi kalau misal Alicia mengalami masalah di pernikahannya?”
Kontan Kreshna tergelak hingga nyaris keluar air matanya.
“Hmm, gak lucu....”
“Lucu dong!”
“Gak dong!”
“Lucu!”
“Gak!”
“Ok! Whatever!”
“Kau merasa perkataanku konyol. Tapi aku merasa sangat masuk akal.”
“Aku memang pernah sangat menyukai Alicia. Patah hati ketika dia mengkhianatiku. Marah, kecewa dan terluka. Tapi waktu berlalu, semuanya berubah.”
“Berubah bagaimana?”
“Perasaanku terhadap Alicia berubah.”
“Aku tidak mengerti. Kau merasa tidak memiliki keluarga. Tapi kenyataannya, sebaliknya.”
“Aku tidak pernah merasa memiliki keluarga. Walaupun aku memiliki ayah, ibu kandung dan sambung. Saudara-saudara sambung. Tapi aku tidak benar-benar terhubung dengan mereka semua.”
“Duri dalam daging yang kau katakan?”
“Yeah!”
“Lalu kau dan Alicia?”
“Aku merasa walaupun aku dan Alicia tidak berhasil menjalin hubungan sebagai kekasih. Tapi kupikir hanya Alicia yang merupakan keluargaku satu-satunya.”
“I don’t get it!”
“Aku merasa selain dia sahabat terbaikku. Juga saudara dan keluarga terdekatku.”
“Kau tidak bermaksud sedang menyusun argumen kan?”
“Astaga!”
“Apakah tidak sebaiknya kukatakan apalagi kutanyakan?”
“No! Ok! Sorry, kalau aku seperti mengiritasimu.”
“Nevermind.”
“Bagiku, Alicia keluargaku satu-satunya.”
“Ok, aku berusaha mengerti dan menerima penjelasanmu. Tapi mengapa kau masih trauma?”
“Trauma adalah sesuatu yang akan aku bawa, mungkin sampai aku mati. Tidak ada hubungannya dengan siapa pun. Pengkhianatan Alicia yang membuat traumaku muncul kembali. Bagaimana kalau semua akan terulang kembali seperti yang dialami kedua orang tuaku?”
“ Tidak ada yang tahu tentang masa depan. Tapi jika gambaran tentang pernikahan sudah seperti itu. Semua menjadi sangat sulit, menakutkan dan membayangi.”
“Yeah! Aku senang akhirnya kau mengerti.”
“Mengerti bukan berarti kita menemukan solusi. Tetapi setidaknya kedua orang tuamu bisa bahagia dengan pernikahan mereka selanjutnya kan?”
“Tapi bagaimana dengan aku? Aku yang merasakan langsung kegagalan pernikahan mereka. Hal itu yang membayangiku. Bagaimana kalau pernikahanku yang pertama gagal. Anakku mengalami hal yang sama denganku? Aku tidak mempermasalahkan pernikahan kedua orang tuaku tapi pernikahan pertama mereka? Itu yang membayangiku.”
“Aku mengerti maksudmu. Tapi tidak ada yang bisa kita lakukan selain mencoba dan berusaha agar tidak terjadi hal yang sama?”
“Iya harusnya seperti itu. Tapi traumaku membayangi. Apalagi kau juga terlihat sangat dekat dengan Bima. Itu seperti mengingatkanku dengan pengkhianatan Alicia.”
“Kau boleh dekat dengan Alicia. Menganggapnya keluarga. Bla...bla...tapi hal itu tidak berlaku bagiku?” Wajah Ratih memandang Kreshna dengan kesal.
“Namanya juga trauma.”
“Trauma tidak menyebabkan serta merta kau bisa standart ganda?”
“Kau sendiri mengapa bisa sedekat itu dengan Bima?”
__ADS_1
“Mungkin hubunganku dengan Bima sama saja seperti halnya kau dengan Alicia.”
“Tapi aku tidak suka melihat kedekatan kalian.”
“Memangnya aku suka melihatmu dengan Alicia begitu dekat?”
“Yeah! Kupikir aku memang egois dan standart ganda.”
“Memang.”
“Lalu bagaimana?”
“Apanya yang bagaimana?”
“Aku masih ingin kita jalani aja semua apa adanya.”
“Aku masih dengan pendapatku. Kalau kau belum bisa menetapkan pikiranmu. Mengatasi traumamu. Sebaiknya jalani saja hidup kita masing-masing. Jika kita menemukan jodoh kita masing-masing ya sudah. End of discussion. Mungkin memang kita tidak berjodoh. Jalan tidak terbuka. Selalu ragu untuk melangkah.”
“Mengapa kau suka mempersulit keadaan?”
“Mengapa kau tidak pernah mempertimbangkan perasaan?”
“Aku harus memastikan beberapa hal. Terutama cara kita berkomunikasi. Orang tuaku berpisah karena masalah itu. Kau tidak tahu betapa menakutkannya. Menjalani sesuatu yang sudah kau ketahui akhirnya.”
Kesabaran Ratih habis. Memang dia sangat berbeda dengan Alicia yang bisa bersabar dalam memahami sesuatu.
“Kau mulai lagi! Kalau kau sudah tahu bagaimana akhirnya. Mengapa masih memaksa untuk menjalaninya? Sekedar mencari tahu. Hal itu sangat egois dan tidak berperasaan. Kupikir sebaiknya kau menikah dengan Alicia. Dan semua mimpi buruk ini berakhir!” Ujar Ratih dengan nada penuh emosi.
“Mengapa aku harus menikahi Alicia?”
“Karena dia yang satu-satunya yang bisa memahami betapa freak dan menyebalkannya dirimu. Memahami semua keegoisanmu. Bahkan berani mengkhianatimu. Untuk memberikanmu pelajaran. Jika kau tidak berusaha menjaga apa yang kau dapatkan. Kau akan menerima konsekuensinya. Tidak bisa selalu berharap semua orang bisa bertahan dan menerima sikap egoismu!”
“Mengapa kau jadi marah? Bagian ini yang membuatku menjadi ragu!”
“Oh Tuhan! Percakapan kita sangat melelahkan. Dan tidak pernah berubah walaupun hanya sekedar koma.”
“Aku hanya memintamu untuk bersabar.”
“Sampai kapan?”
“Aku tidak tahu.”
Ratih memandang wajah Kreshna dengan tidak mengerti, “Sebaiknya kita saling menghormati pendirian masing-masing. Bagaimana?”
Kreshna menatap wajah Ratih. Trauma yang membayanginya membuatnya sangat ragu dengan apa yang ada di hadapannya.
Satu sisi, dia mengetahui perasaannya dengan pasti. Tidak ada keraguan tentang hal itu. Tetapi di sisi lain. Kegagalan pernikahan kedua orang tuanya. Dampak yang dia rasakan. Sesuatu yang sangat nyata dan menyiksanya selama bertahun-tahun. Perasaan sebatang kara dan terasing yang tidak bisa ditepis.
Pertengkaran. Ketegangan. Keputusan kedua orang tuanya untuk bercerai. Melekat di dalam pikirannya. Tidak ada tempat untuk membagi emosi dan perasaannya.
Kedua orang tuanya sibuk mengurusi perceraian mereka. Memastikan semua bisa mereka tangani dengan baik. Termasuk kebutuhannya. Secara materi. Dia tidak kekurangan apa pun. Semua berjalan dengan baik. Walaupun kedua orang tuanya bercerai. Tetapi secara afeksi. Dia tidak mendapatkan apa pun. Tidak saat kedua orang tuanya masih menikah atau saat mereka bercerai.
Mereka orang tua yang sangat buruk. Dalam pernikahan mereka. Dia tidak pernah menjadi prioritas mereka. Keduanya sibuk bersiteru dan bertengkar. Tidak ada kehangatan. Keharmonisan. Atau apa pun.
Dia tidak pernah mengenal apa yang saudara-saudara sambungnya alami.
Hubungan orang tua yang harmonis. Perhatian penuh. Segala hal yang dibutuhkan dalam keluarga.Matanya memanas.
“Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti mengapa kau tidak bisa memahamiku.”
“Aku bukan tidak ingin memahamimu. Tapi tidak bisa.”
“Yeah! Aku mengerti. Kau mau mendengar ceritaku. Berusaha mengerti keadaanku. Aku sudah sangat berterima kasih padamu.”
“Aku tidak bisa seperti Alicia. Walaupun aku ingin mengubah diriku.”
“Aku tidak memintamu menjadi Alicia atau siapa pun. Aku menyukaimu apa adanya. Tapi ada sesuatu yang membuatku ragu. Aku berusaha mencari tahu. Apakah keraguanku beralasan atau tidak.”
“Aku mengerti. Tapi aku tidak ingin menjadi kelinci percobaanmu. Semua terasa melelahkan bagiku. Kupikir, ada hal-hal yang memang kita tidak bisa paksakan. Ya kan?”
“Kupikir kau benar. Memaksakan hanya membuat frustasi dan tertekan.”
“Yeah.”
“Bolehkah aku menemanimu sampai kau kembali?”
Ratih memandang wajah Kreshna. Hatinya menjadi bimbang. Sekaligus tidak tega. Ratih menganggukkan kepalanya, “Baiklah.”
“Terima kasih.” Senyum Kreshna mengembang.
Sesudah menaiki bianglala. Mereka memilih untuk menaiki sepeda air bebek.
“Bagaimana kau melalui hari-harimu?” Ratih membuka suaranya. Di tengah keheningan yang membungkam mereka berdua.
“Maksudmu?”
“Traumamu?”
“Berada di tengah ibu kandung dengan ayah dan saudara-saudara sambung? Mungkin seperti itik buruk rupa di tengah kawanan angsa. Kau tahu kan cerita itu?”
Ratih menganggukkan kepalanya, “Kau dan Alicia?”
“Kenapa aku dan Alicia?”
“Hubungan kalian berdua?”
“Aku bisa bebas membagi apa pun dengannya. Bercerita apa pun. Bahkan meminta bantuannya. Hmm, dia menolongku untuk mendapatkanmu.”
Wajah Ratih memerah. Kreshna tertawa melihatnya.
“Kau mudah sekali merasa malu. Tapi aku suka melihat wajahmu kemerahan seperti kepiting rebus.”
Wajah Ratih kembali memanas. Kreshna kembali tergelak.
“Mengapa kau tidak memilih memaafkan Alicia. Jika di antara kalian banyak kenyamanan dan kecocokan.”
“Memang kau bisa menyukai saudara kandung atau sepupumu?”
__ADS_1
“Tidak lah!”
“Begitu perasaanku ke Alicia. Aku juga tidak tahu mengapa bisa berubah begitu saja. Aku menganggapnya seperti saudara kandung atau sepupuku sendiri.”
“Tapi kau kan tidak memiliki saudara kandung.”
“Memang tidak. Tapi aku punya saudara sepupu. Itu sama saja kan?”
“Yeah.”
“Kau masih terintimidasi dengan Alicia?”
Wajah Ratih kembali memerah. Wajahnya memanas. Astaga!
“Aku tahu kau sulit mempercayainya. Apalagi banyak orang berbohong dan berkhianat. Tapi aku mengatakan apa yang harus kukatakan.” Ujar Kreshna.
“Kalian begitu kompak.”
“Seperti yang kukatakan. Dia satu-satunya keluarga yang kumiliki. Keluargaku sendiri, sangat asing bagiku.”
“Apakah kau menyayangi ayah dan ibumu?”
“Tentu saja. Tapi mereka terasa asing. Aku merasa tinggal di panti asuhan. Kemungkinan kau menyayangi seluruh orang yang ada di panti. Tapi tetap saja terasa asing kan?”
Ratih menatap wajah Kreshna. Hatinya merasa iba.
“Apa rencanamu?”
“Kau seperti sedang mewawancara pekerjaan.” Kreshna kembali tergelak.
Wajah Ratih kembali memanas.
“Tentu saja menjalani rutinitasku seperti biasa. Berusaha tidak mengganggumu. Apalagi mendesakmu.”
“Aku tidak bermaksud mempersulitmu. Aku tidak ingin kecewa. Kau mengerti kan maksudku?”
“Yeah! Sangat! Aku memang tidak bisa memberikan kepastian apa pun padamu. Untuk menjalani traumaku saja. Aku seperti kehabisan nafas setiap hari. Aku tidak memintamu mengerti keadaanku. Karena aku tahu, kita tidak akan pernah mengerti jika kita tidak pernah mengalaminya sendiri. Melalui semua kesedihan dan kesepian. Seperti kau menulis sebuat kalimat di dalam sebuah tulisan. Tulisan tersebut sudah terbit. Bagaimana mungkin kau menghapus atau mengulangnya kembali?”
Ratih memilih mendengarkan.
“Aku sudah lahir di dunia. Tidak ada pilihan selain menjalani. Bukan aku bermaksud tidak mensyukuri. Tetapi aku merasa bahwa aku adalah kesalahan yang berusaha mereka lupakan. Hapus dan abaikan. Seringkali aku berpikir. Mungkin lebih baik jika ibuku keguguran atau mengugurkan aku atau memberikan aku pada sebuah keluarga yang benar-benar mempedulikanku. Entahlah!”
Airmata Ratih menetes. Mengusapnya dengan kedua punggung tangannya.
“Mengapa kau menangis?”
“Aku tidak tahu apa yang kau alami. Tapi hatiku merasa sedih. Aku tidak tahu. Sepertinya aku merasakan kesedihanmu. Walaupun aku tidak tahu apa yang kau lalui.”
Kreshna menatap wajah Ratih dengan sangat lembut, “Aku tidak akan membuatmu bersedih. Aku mengerti semua pertimbanganmu. Menghormati semua keputusanmu. Aku juga memahami jika kita gagal menjalani hubungan kita. Mungkin kita berdua akan hancur.”
Ratih mengusap kedua matanya kembali dengan punggung tangannya.
“Aku senang kau memahami perasaanku. Aku tidak bermaksud mempersulitmu sama sekali.”
“Aku mengerti. Hanya saja kadang aku tidak bisa menahan diriku. Berpikir mungkin jika kita coba jalani. Semua akan berubah.”
“Bagaimana menurutmu? Benarkah semua akan berubah jika kita coba jalani?”
“Traumaku, pengkhianatan Alicia, tidak ingin mengecewakanmu. Kupikir terlalu banyak yang membebaniku. Aku tidak bisa menjanjikan apa pun.”
“Jadi?”
“Kupikir, jodoh bukan sesuatu yang ada di dalam kendali manusia. Kupikir, kau benar. Sebaiknya kita pasrahkan pada sang Kuasa. Dia yang akan membuka jalannya. Jika memang kita ditakdirkan bersama.”
“Aku senang kau memahamiku. Terima kasih.”
“Kau seorang pemikir yang sangat dalam dan sensitif. Kau tidak memikirkan segala sesuatu dari sudut pandangmu saja. Kepentinganmu saja. Tapi secara keseluruhan. Mungkin itu yang membuatku memahami bahwa tidak ada gunanya memaksakan ego. Atau sudut pandang kita sendiri kalau kita tidak siap menjalani konsekuensinya.”
“Apakah kau sendiri nyaman menjalani sesuatu tanpa kepastian?”
“Lelah sudah pasti.”
“Yeah!”
“Memang sebaiknya kita berserah. Tidak akan sulit bagi Tuhan menyatukan atau memisahkan. Jika kita memaksakan keinginan kita sendiri. Mengabaikan kehendakNya. Kita akan lelah sendiri. Mungkin saling menyakiti. Jika sesuatu seperti yang kau katakan. Memaksa menjalani tetapi ternyata kita memiliki jodoh masing-masing. Akan lebih menyakitkan.”
“Yeah!”
"Cinta tidak selalu memiliki tetapi bisa dirasakan di dalam hati."
__ADS_1
... ...