Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Frustated


__ADS_3

Ratih benar-benar menjalankan niatnya menghindari dan menjauhi Kreshna. 


Dia tidak ingin mengalami trauma drama hubungan mereka kembali. Mungkin memang mereka tidak pernah ditakdirkan berjodoh sehingga menjadi seperti itu.


Mungkin juga cuma godaan atau ujian hidup. Karena setiap orang pasti akan memiliki ujian atau godaan dalam hidupnya. Tidak mungkin semuanya berjalan baik-baik saja.


Ratih menyiapkan pembayaran hutangnya seperti biasa. Ini cicilan terakhirnya, ketiga kalinya.


Menghampiri meja Kreshna yang sedang menekuni pekerjaannya.


"Maaf, aku mengganggu sebentar."


"Ada apa?" Sahut Kreshna tanpa mengangkat wajahnya.


"Aku mau bayar hutang yang terakhir. Lunas ya? Terima kasih sebelumnya."


"Tidak usah."


"Tidak apa-apa, aku sudah sangat berterima kasih kau mau meminjamkan. Aku tidak ingin menerima budi baikmu."


"Aku tidak menginginkannya. Untukmu saja."


"Aku tinggal disini ya?" Ratih meletakkan uang yang berisi amplop pembayaran hutangnya.


"Karena kau memaksa membayar. Begini saja supaya adil."


"Bagaimana maksudmu?"


"Bayar saja pake makan siang sampai lunas. Bagaimana?"


"Kupikir sebaiknya aku membayar dalam bentuk uang karena aku sering tidak bisa meluangkan waktu makan siang." Elak Ratih.


"Kalau begitu ambillah! Aku tidak menginginkannya. Kau bisa menaruhnya dimana pun kau suka."


"Apa maksudmu?"


"Kau mau menaruh uangmu di mejaku. Fine. Atau dimana pun itu. Terserah! Sudah lunas hutangmu. Kau boleh pergi. Aku banyak pekerjaan."


Ratih terdiam. Dia benar-benar tidak ingin sakit hati lagi. Atau bertengkar dengan Kreshna. Hubungan profesionalnya berubah menjadi emosional. Tapi melihat sikap Kreshna juga  membuatnya sangat tidak enak hati. Membuatnya menjadi bimbang. Hanya sebatas mengembalikan uangnya.


"Baiklah, aku akan mentraktirmu makan siang sampai hutangku lunas padamu."


"Terserah kau. Tidak usah kau tebus dengan makan siang tidak apa-apa. Aku tidak menginginkan uangnya."


"Aku tidak enak seperti itu. Kau terima saja uangnya dengan baik kenapa sih? Kusedekahkan saja bagaimana? Akan jadi amal ibadahmu."


"Kau bayar saja pake makan siang bagaimana?"


"Kau bilang tadi terserah."


"Aku berubah pikiran."


Ratih memandang wajah Kreshna dengan jutek. Sabar, cuma sampai lunas utang.


"Baiklah! Urusanku padamu hanya sampai hutang lunas."


"Terserah kau!" Sahut Kreshna yang tetap menekuni pekerjaannya.

__ADS_1


Jam mendekati jam makan siang. Ratih berjalan menuju ruang kerja Kresha. Dia akan menyelesaikannya secepat mungkin. Memilih restaurant yang paling mahal sehingga hutangnya cepat lunas. 


"Ayo kita makan di restaurant yang paling mahal disini." Ajak Ratih kepada Kreshna, "Billnya akan kuberikan kepadamu sebagai bukti lunasnya hutangku kalau memang jumlahnya sudah memenuhi." 


Aku hanya perlu satu paling banter tiga kali makan siang dan semua hutangku lunas. Aku tidak perlu lagi berurusan dengan makhluk menyebalkan ini! Rutuk Ratih dalam hati. Perfect!


"Kau makan aja sendiri." Tukas Kreshna.


"Kenapa gitu? Aku kan mau membayar hutang padamu. Aku akan menyelesaikan secepatnya. Sehingga sudah tidak ada lagi urusan diantara kita berdua."


"Aku pengen makan pecel mbok Min." Kreshna berdiri dari kursi kerjanya.


"Kau mau kemana?" Kejar Ratih.


"Aku mau makan siang. Ngapain sih kau buntutin aku?" 


"Aku mau bayar hutang."


"Kau gak usah cari-cari kesempatan begitu. Aku kan sudah bilang aku tidak mau uangmu apalagi sih? Kau ingin makan siang bersamaku ya?" Senyum jahil mengembang dari wajah Kreshna membuat wajah Ratih merah padam.


"Aku tidak mau berutang budi padamu."


"Tidak ada utang budi! Santai saja kenapa sih?"


"Tunggu!" Seru Sinta.


"Apalagi sih?" Kreshna tetap berjalan meninggalkan Ratih.


"Jangan makan pecel di mbok Min. Ada hotel yang menyajikan masakan pecel yang sangat lezat dan fresh."


"Makan pecel aja ke hotel? Snob banget! Aku mau pecel mbok Min!"


Seperti biasanya pecel mbok Min dipenuhi pengunjung. Pecelnya yang terkenal sangat enak dan murah meriah membuat banyak orang yang menyukainya.


Ratih memesankan dua buah pecel dengan telur ceplok untuk mereka berdua. Dua gelas teh tawar hangat. Sesuai pesanan Kreshna.


Mereka makan di bawah pohon yang sangat rindang. Di luar warung pecel mbok Min.


Dua buah batang pohon yang seperti ditebang sampai habis mereka gunakan untuk duduk dan menikmati pecel mereka.


"Enak kan pecelnya?" Sahut Kreshna.


"Enak banget. Semua juga tahu kalau pecel Mbok Min juara. Besok kita makan di tempat yang lebih nyaman ya? Kau kan biasanya suka makan di finest restaurant."


"Lagi males aja."


"Jangan males dong! Mesti rajin." Tukas Ratih.


"Rajin pangkal capek. Males pangkal bikin orang iri."


"Pepatah apaan tuh?"


"Pepatah suka-suka lah!"


"Memang besok kau mau makan siang dimana?"


"Ke tempat makannya naik turun angkot tiga kali. Kira-kira setengah sampai tiga perempat jam kalau agak macet atau ngetem."

__ADS_1


"Gak bisa cari yang deket-deket sini aja. Kenapa gak makan di mbok Min aja setiap hari?"


"Bosen lah!"


Keesokan harinya mereka menuju tempat makan yang dimaksud Kreshna saat jam makan siang. Mereka makan siang lebih awal karena tempat yang dituju agak jauh dari kantor mereka. Jam 11.30 mereka sudah keluar kantor.


Tempat tersebut juga banyak dikunjungi orang. 


"Sepertinya makanannya enak." Sahut Ratih.


"Nanti saja kau coba sendiri."


Nasi bakar ikan teri dengan oncom, tempe dan sambal.


Mereka membawa kresek berisi nasi bakar dan air mineral menuju taman di dekat situ. Memilih tempat duduk yang menghadap ke danau.


Nasi bakar dijual seharga sembilan ribu rupiah sedangkan air mineral seribu rupiah. 


"Kau sibuk sekali ya akhir-akhir ini." Sahut Kreshna memecah keheningan.


"Aku mau mengembangkan diri. Itu gak salah kan?"


"Gak salah sih! Cuma sibuk banget sampe gak ada waktu buat meluangkan waktu untuk dirimu sendiri."


"Sesekali aku meluangkan waktu kok dengan teman-temanku. Kalau sikonnya pas."


"Kebetulan, aku sama Tintan mau ajak kamu jalan. Bisa kan? Kirain kamu gak ada waktu buat diri sendiri."


"Ada dong! Kapan?"


"Gimana kalau sabtu depan setelah kamu les? Aku sama Tintan jemput kamu dan kita langsung jalan."


"Maaf gak bisa. Pengen loh jalan sama kalian berdua." Sahut Ratih berbohong.


"Ada acara ya?"


"Kebetulan temenku minta ditemenin. Jadi pulang les aku ke rumah temenku dulu dan mungkin nginep di rumahnya."


"Kalau gitu Minggunya aja gimana? Besoknya kerja tapi aku pikir gak apa-apa lah. Paling nanti jam sepuluhan kita udahan aja. Gimana?"


"Waduh sayang sekali barengan dengan acara temenku. Gak gede-gedean dan banyak orang cuma yang deket-deket aja."


"Ya udah kalau gitu next time ya?"


"Kalau waktunya pas ya?"


"Hmm ya…."


Mereka makan sambil membicarakan pekerjaan.


"Bantuin aku dong bacain grafik. Bikinin ringkasannya sekalian. Opinimu sekalian."


"Baiklah. Nanti kubuatkan ya. Aku juga butuh tanda tanganmu dari dokumen-dokumen yang kuserahkan padamu."


"Oh iya. Nanti kukerjakan. Aku sedang meneliti proposal yang diberikan Pras."


"Ok, terima kasih, ya."

__ADS_1


"Sama-sama."


__ADS_2