Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Base Camp


__ADS_3

Rumah kontrakan Ratih resmi menjadi base camp teman-temannya.


Untuk kepentingan mereka berkumpul dan menginap mereka juga seringkali berbelanja untuk kebutuhan mereka.


Ada yang membeli cemilan. Kue, bolu, aneka kripik bahkan membeli telur, mie instant, ayam ungkep, sosis dan nugget. Bahkan sayuran dan buah-buahan.


Mereka bergantian memasak dan kadang sendiri, berdua atau bertiga. Tergantung sikonnya saja.


Mereka juga membantu membersihkan rumah bergantian sehingga rumah Ratih tetap bersih dan nyaman.


Rumah Ratih juga kerap jadi tempat curhat dan mengungsi untuk teman-temannya. Ketika mereka bertengkar dengan orang tua atau pasangan mereka bagi yang sudah menikah. Atau tempat teman-temannya mengerjakan pekerjaan lembur mereka.


Menjadi tempat mereka bergosip.


"Eh, lo tau gak manuver bos kita?"


"Siapa?"


"Pras, siapa lagi yang suka bikin si Diah sewot."


"Susah banget minta ijin sama dia. Gue eneg sama lagaknya udah kayak big Boss."


"Dia kan emang boss."


"Tapi kan gak kayak big Boss kita."


"Emang udah ada yang pernah ketemu big Boss?"


"Gue udah, waktu dia berkunjung ke sini."


"Kayak apa orangnya?"


Semua teman-temannya penasaran.


"Cakep banget sih yang pasti."


"Cakepan mana sama Pras?"


"Pras cakep? Pasti mata lo rusak."


"Lo sentimen sama dia."

__ADS_1


"Pasaran tampangnya. See?"


"Tapi cakep kan?"


"Berhubung gue kalau liat dia bawaannya emosi kenapa gue liat dia kayak demit ya?" cerocos Diah.


Kontan temen-temennya tergelak.


"Gue mau cerita nih sebenernya." sambung Diah.


"Apa?"


"Kemaren waktu gue anter kerjaan ke dia. Gak sengaja gue denger."


"Denger apa?"


"Dia minta tolong temennya buat godain pacarnya."


"Apa?"


"Udah gila kah?"


"Homo?" tanya Amanda.


"Maksudnya?"


"Fix! Dia homo. Terjebak dalam hubungan straight. Backstreet dari pacarnya dengan kekasih sesama jenisnya. Awalnya, dia pikir dia bisa berkamuflase tetapi ternyata?"


Dira mengibas Amanda dengan sapu tangannya.


"Kau lebih baik jadi penulis fiksi. Imajinasimu luar biasa."


"Apa namanya kalau seseorang minta agar kekasihnya digoda orang lain? Karena dia tidak bisa memberikan apa yang dibutuhkan kekasihnya?"


"Aku perlu melanjutkan tidak?" Diah mencomot pisang goreng yang dibuat Dira.


"Tentu saja!"


"Aku juga mendengar Pras menjelaskan alasannya."


"Fix! Homo!"

__ADS_1


"Amanda! Diamlah! Dengarkan cerita Diah."


Amanda terdiam.


"Pras mengatakan bahwa dia sudah tidak tahan menjalin hubungan dengan kekasihnya yang selalu membuat moodnya terganggu. Kalau memutuskan sepihak, akan menimbulkan sakit hati dan berimbas pada proyek yang tengah dikerjakannya sehingga dia bermaksud menjebak kekasihnya dalam perselingkuhan dan hubungan mereka tetap baik karena dia pihak yang disakiti bukan sebaliknya."


"OMG!" Amanda menutup mulutnya.


"Kau kenapa sih? Obatmu habis ya?"


Kontan semua teman-temannya tertawa.


"Aku tidak menyangka, Pras sepintar itu. Kupikir dia homo."


"Kau sudah tau kan kebenarannya?"


"Lalu?"


"Dia mengusirku dari ruangannya begitu menyadari kehadiranku. Jadi aku tidak tau lagi kelanjutannya."


"Siapa yang mau tahu isi?" Mirna bangkit dari duduknya.


"Kenapa?"


"Aku mau membuat tahu isi. Aku sudah beli bahan-bahannya."


"Kau beli cabe rawit gak?"


"Beli dong!"


"Yes! Mau!"


"Kau masak apa?" Mirna mengambil mangkuk dari rak piring.


"Ayam goreng mentega." Ratih mengiris bawang merah, putih dan bawang bombay.


"Kalau kau sudah selesai masak. Diah ingin membuat balado telur."


"Baiklah, aku akan membuat cap cay untuk sayurannya." Ratih menggoreng ayam yang sudah dibumbui dengan bawang putih, jahe dan garam.


"Yes!"

__ADS_1


__ADS_2