Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Scheme


__ADS_3

Kreshna bersiap-siap untuk ke kantor cabang perusahaan. Keberangkatannya kali ini untuk mengawasi jalannya perusahaan.


Ibunya menelponnya menanyakan ketidakhadirannya saat adiknya merayakan ulang tahun bersama keluarga.


“Mengapa kau tidak hadir? Kami semua menunggumu?”


“Aku lupa. Banyak pekerjaan yang harus aku lakukan. Aku akan mengawasi pekerjaan di kantor cabang perusahaan tempatku bekerja.”


“Mama mengerti kesibukanmu. Tapi jangan sampai melupakan keluarga “


Kalimat tersebut seperti terdengar basa basi baginya. Ayah tirinya akan merasa sangat senang dengan ketidakhadirannya.


Tanpa kehadirannya. Mereka akan lebih nyaman menghabiskan waktu family time mereka.


Sejak awal, dirinya adalah kesalahan. Seandainya, mama dan papa kandungnya tidak menikah. Duri dalam daging di dalam keluarga mereka masing-masing tidak akan ada.


Melupakan acara keluarga sudah merupakan kebiasaannya. Jika dia hadir pun hanya akan membuat suasana menjadi canggung.


Ayahnya lebih berterus terang. Jika memang ingin bertemu. Maka mereka akan meluangkan waktu bersama. Makan berdua di restaurant tanpa anggota keluarganya yang lain.


Ibunya seorang wanita. Segala sesuatu harus sesuai dengan perasaannya. Pertemuan acara  keluarga. Suasana sangat canggung terutama dengan ayah tirinya.


“Akan lebih baik kita bertemu berdua saja, ma. Atau kau sesekali datang Dan menginap di apartementku.”


“Aku ingin kau dekat dengan ayah dan saudara-saudara sambungmu. Kau saja yang ke rumah dan menginap sehingga bisa bertemu dengan seluruh anggota keluarga.”


Ingin dia mengatakan pada ibunya bahwa sepanjang hidupnya yang nyaris tidak mengenal kedekatan hubungan dengan orang tua. Membuatnya ingin ibunya memperlakukannya seperti saudara saudara sambungnya.


Bermanja dengan ibunya. Berbicara tanpa harus merasa bahwa apa yang mereka katakan tidak benar-benar mereka pahami maknanya.


Apakah ibunya takut dihakimi? Jika hanya meluangkan waktu berdua dengannya? Khawatir dia akan meluapkan  seluruh rasa frustasi serta amarahnya karena kegagalan pernikahan kedua orang tuanya?


Pertemuannya dengan ayahnya beberapa tahun yang lalu menyisakan kenangan.


Semenjak orang tuanya bercerai. Dia tidak pernah lagi bersama ayahnya. Apalagi setelah ayahnya menikah dan memiliki keluarga baru.


Walaupun ayahnya tetap bertanggung jawab untuk kehidupan dan pendidikannya secara finansial yang dititipkan melalui ibunya sampai dengan dia dewasa dan mandiri. Sebagai seorang anak, dia tidak hanya membutuhkan materi. Melainkan kasih sayang seperti yang diperoleh saudara-saudara sambungnya.


Ayahnya memandangnya dengan wajah yang tidak dapat dilukiskan.


“Kau sudah dewasa sekarang.”


“Sudah lama yah?”


“Sekitar lima belas menit.”


Kreshna duduk di hadapan ayahnya.


“Kau mau pesan apa?” Tanya ayahnya.


“Sama saja dengan ayah.”


“Baiklah.” Ayahnya memanggil pelayan untuk memesan makanan Dan minuman.


“Dua rib eye steak dengan smash potatoes.  Dua milkshake coklat. Dua air mineral dingin. Seporsi calamari, onion ring, potatoes wedges Dan sosis.”


“Bagaimana kabarmu, yah?”


“Baik. Kau sendiri bagaimana?”


“Baik.”


Ayahnya menanyakan seputar pekerjaannya. Berbicara tentang hal-hal yang umum. Seperti sepak bola. Politik serta hal-hal yang menarik perhatian. Kondisi ekonomi terkini. Tidak membicarakan hal yang personal.


“Ada yang ingin kukatakan padamu.”

__ADS_1


“Apa itu yah?”


“Kami sekeluarga ingin pindah ke Australia.”


“Kapan?”


“Seminggu lagi. Kedua adikmu akan kuliah disana.”


Baginya tidak ada bedanya dimana ayah dan keluarga barunya tinggal. Karena mereka juga tidak akan bertemu apalagi berkumpul layaknya keluarga. Tetapi dia menghargai niat baik ayahnya. Memberitahukan kepindahannya dan keluarganya.


“Ma…” Lamunannya terputus. Kembali pada percakapan dengan ibunya di telepon.


“Ada apa?” Sahut ibunya di seberang telepon.


“Bisakah kita berbicara berdua? Meluangkan waktu hanya berdua?”


“Untuk apa? Kau saja ke sini.”


“Ma…”


“Ada apa sih? Kau seperti anak kecil saja.”


“Temani aku ke kantor cabang tinggallah bersamaku. Menemaniku selama di sana.”


“Aku tidak mungkin meninggalkan adik-adikmu dan ayah sambungmu.”


“Hanya beberapa hari.” Pintanya dengan nada memelas.


“Kau saja ke sini dan menginap di sini.”


Kreshna merasa sia-sia membujuk ibunya agar mau meluangkan waktu bersamanya.


Selain materi, dia tidak memiliki hubungan apa pun dengan kedua orang tuanya.


Kegagalan pernikahan kedua orang tuanya membayangi pernikahan mereka yang sekarang. Keduanya sangat menjaga keutuhan keluarga mereka masing-masing. Tapi tak satu pun memperhatikannya serta memberikan kasih sayang seperti yang mereka berikan pada keluarga baru mereka.


Berjalan-jalan mengelilingi mall seorang diri. Belum menemukan sesuatu yang sesuai dengan pilihan hatinya.


Iseng dirinya menelpon Alicia.


“Ada apa?”


“Aku ingin mencari hadiah buat Ratih cuma gak ada ide.”


“Kau dimana?”


Kreshna menyebutkan mall tempatnya berada.


“Kau tunggu sana ya…”


Alicia datang beberapa saat kemudian. Sekitar setengah jam lebih dengan perut yang terlihat membuncit.


“Sudah berapa bulan?” Tanya Kreshna.


“Lima.”


“Kau keliatan segar dan bahagia.”


“Makanya kau cepat menyusul. Apalagi sih yang membuatmu dan Ratih belum menikah?” Tanya Alicia.


Kreshna terdiam.


“Kau tahu jika kau mengalami hal yang tidak mengenakkan. Tidak serta merta hal itu akan menurun. Terpenting kau menemukan pasangan yang memang sesuai serta bisa mengimbangimu. Kegagalan orang tuamu sebagai pelajaran bukan justru membuatmu jadi trauma.” Sambung Alicia.


“Mudah bagimu berbicara.”

__ADS_1


“Yeah, memang. Tapi bukan tidak mungkin.”


“Apa idemu?”


“Hadiah buat Ratih?”


“Yeah.”


“Bagaimana kalau tote bag?”


“Hmm, boleh juga. Kau pilihkan  saja sekalian.”


Mereka berjalan menuju toko tas. Memilih-milih tote bag yang terbuat dari bahan kanvas. Warna Burgundy.


“Bagaimana menurutmu?” Tanya Alicia.


“Yeah, bagus. Baiklah, aku pilih itu.”


Alicia memilih kertas kado berwarna marun muda dengan motif hati.


Sambil menunggu hadiah dibungkus mereka mengobrol.


“Aku tidak bisa lama-lama menemanimu.”


“Kupikir kita akan makan sambil mengobrol.”


“Mungkin lain kali. Hari ini jadwalku kontrol ke dokter kandungan. Sepulang kontrol, kami berencana untuk membeli perlengkapan untuk kamar bayi.”


“Baiklah. Terima kasih kau sudah membantuku mencari hadiah.”


“Don’t mention it. Aku pergi dulu ya?”


“Baiklah. Salam buat suamimu.”


“Baiklah.”


Kreshna menuju toko oleh-oleh bermaksud membeli oleh-oleh dikirim ke alamat Ratih.


Dia memwhatsapp Ratih.


[Aku beli oleh-oleh kutitip ke alamatmu. Kau atur saja buat dirimu dan di kantor.]


Whatsappnya belum mendapatkan jawaban. Sepertinya Ratih sedang sibuk.


Selesai membeli oleh-oleh. Meminta pihak toko mengirimkan menggunakan ekspedisi ke alamat Ratih.


Dia berjalan-jalan mencari tempat makan. Menemukan tempat makan yang menjual nasi dengan soto.


Memesan seporsi nasi dengan soto daging campur jeroan santan kuning. Memesan segelas teh tawar hangat. Mengambil dua bungkus  emping, membuka dan mencampurkannya ke dalam mangkuk soto.


Memakan makan siangnya dengan lahap. Menghabiskan nasi serta sotonya tandas tanpa sisa. Jam hampir menunjukkan pukul dua siang.


Wajar saja kalau perutnya keroncongan minta diisi. Setelah lelah berjalan mencari hadiah dan membeli oleh-oleh. Beristirahat sambil makan siang.


Whatsappnya berbunyi. Sebuah whatsapp masuk. Dari Ratih.


[Baiklah]


Dirinya membalas Whatsapp tersebut sambil tersenyum.


[Thanks. Miss you…]


[Gombal!]


 

__ADS_1


 


__ADS_2