Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Mencari Hadiah


__ADS_3

Genap dua tahun mereka berpacaran. Hubungan mereka belum ada tanda-tanda berujung pada pernikahan.


Mereka masih sering bersitegang. Kecemburuan juga kerap mewarnai hubungan mereka dan tidak ada yang mau mengalah.


Kreshna tetap menghabiskan waktu dengan Alicia berdalih persahabatan sedangkan Ratih mengabaikan keberatan Kreshna. Hubungannya dengan Bima justru semakin dekat.


"Kamu ada waktu gak?" Ratih bertanya di tengah percakapan telpon mereka.


"Buat kamu? Selalu ada!"


Ratih tergelak,"Gombal akut!"


"Kenapa sayang?" Bima kerap memanggilnya sayang.


"Mau cari hadiah buat pacarku. Mau gak nemenin?"


"Jangankah nemenin, milihin juga mau bahkan aku gantiin pacar kamu aja mau kok!"


Ratih kembali tergelak,"Duh! Jangan modus begitu dong!" Ratih memasukkan dompetnya yang tergeletak di meja belajarnya ke dalam tasnya sambil mengempit gadgetnya dengan kepalanya.


"Aku bukan modus! Gak level banget modus. Nikung sayang, emang gak liat kalau udah kasih sen , dicuekin?"


"Sen kiri belok kanan?" Ratih kembali tergelak.


"Aku disamain sama mak-mak? Melambai dong akyuh...."


"Tenang aja, aku suka lady boy selama suka sesama jenis alias cewek tapi kalau sukanya laki ogah ah! Berasa lesbong!"


"Aku yang ogah jadi lady boy! Iyuh...Ganteng rupawan dermawan binaragawan begini kok lady boy?"

__ADS_1


"Udah ah! Becanda terus. Mau gak nemenin aku?"


"Yuk!!!"


Mereka memiliki toko buku sebagai tempat yang mereka tuju untuk membeli hadiah.


Toko buku terbesar. Mereka asyik masyuk membicarakan buku-buku bagus dengan penulis-penulis kesayangan mereka berdua.


"Kupikir kau harus membeli ini untuk pacarmu." Bima menyodorkan sebuah buku berjudul Fatamorgana Aksara Cinta.


"Baguskah?"


"Sangat! Kau kan sering bilang bahwa pacarmu seperti tidak bisa melepaskan masa lalunya. Sahabat sekaligus mantan pacarnya di masa lalu yang mengkhianatinya selalu membayanginya bahkan mengintimidasi hubungan kalian sampai saat ini."


Wajah Ratih mendadak mendung.


"Kita keluar dulu yuk dari sini!" Bima menggamit tangan Ratih.


Masuk ke dalam sebuah cafe yang berada di tempat yang sama dengan toko buku tersebut yang memang terletak di sebuah mall terbesar di kota yang mereka diami.


Memilih tempat di pojok dan tersembunyi dari orang lalu lalang. Tidak banyak orang mendatangi cafetaria tersebut kemungkinan karena belum jam makan siang dan masih sepi.


Pelayan menghampiri mereka dengan gesit mencatat pesanan mereka. Dua buah jus apel dan sepiring calamary dengan saus mayonaise dan sambal.


Mereka duduk berdampingan membelakangi pintu masuk dan orang yang hilir mudik di depan cafetaria.


Bima memeluk Ratih. Tanpa bisa menahan air mata juga kesedihannya, Ratih menumpahkan semuanya kepada Bima.


Matanya sembab dan dadanya terasa sesak. Kesedihan dan kekecewaan memenuhi seluruh permukaan hatinya.

__ADS_1


"Aku merasa dia menjadikanku sebagai pelarian."


Bima hanya diam mendengarkan.


"Aku tidak bisa menerima semua penghinaan ini."


Bima mengusap rambut Ratih. Hatinya ikut merasa pilu dan perih.


"Tapi kau sendiri bucin!"bisiknya.


"Aku sangat mencintainya! Aku bisa apa?"


"Berikan hati dan cintamu pada yang lebih pantas mendapatkannya!"


Air mata Ratih semakin deras mengalir, "Aku tidak bisa!"


"Belum bisa!"


"Aku sudah coba tapi tidak bisa!" Ratih semakin tergugu.


"Kau bodoh jika berkaitan dengan cinta. Hati dan perasaanmu lemah."


"Aku setia pada cintaku. Pada perasaan yang kurasakan."


"Itu sebabnya dia enggan melepasmu karena dia tahu dia akan memilikimu selamanya. Selamanya hatimu jadi miliknya berbeda dengan mantan kekasihnya yang menjadi sahabatnya."


"Jadi benar perasaanku mengatakan bahwa dia sebenarnya yang tidak setia bukan aku?"


"Dia juga menyadarinya. Itu mengapa dia tidak bisa memberikan kepastian kepadamu. Dia juga takut aku merebutmu darinya. Dan memang aku akan merebutmu kalau dia tidak bisa membahagiakanmu dan hanya bisa menyakitimu. Aku tidak peduli tidak bisa memiliki hatimu selama kumiliki kesetiaanmu. Sayang lebih dari cukup bagiku dan bisa jadi lebih abadi dari cinta yang tidak memiliki empati dan egois. Aku tidak akan memaksakan cintaku padamu. Cinta tidak untuk dikatakan tapi dirasakan. Bahkan kau sendiri tidak akan menyadarinya ketika hal itu hadir seperti sunset yang berubah menjadi malam.

__ADS_1


__ADS_2