Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Staycation


__ADS_3

Tania merasa lebih nyaman. Menghindari Pras. Hidupnya terasa lebih damai.


Tania merasa sangat terganggu dengan Pras. Dia merasa Pras tidak menghormatinya. Apalagi Pras juga sudah memiliki kekasih dan semua tahu bagaimana tabiat buruknya. Kerap bergonta ganti pasangan.


Sebagai wanita. Tidak satu pun ingin menyakiti atau merebut kekasih orang lain.


Orang kebanyakan menganggap bahwa kekasih mereka direbut karena digoda. 


Mana bisa menggoda lelaki yang tidak memiliki ketertarikan pada yang menggoda?


Kemungkinan mereka akan menghindar dan ambil langkah seribu.


Berapa persen wanita bisa menolak lelaki yang mengejarnya mati-matian?


Itu membuktikan bahwa wanita lebih bisa dipengaruhi emosi dan perasaannya dibandingkan lelaki.


Kenapa hak cerai ada di tangan lelaki dan bukan perempuan? Dari situ semua bisa melihat yang menentukan seorang wanita bisa bersama seorang lelaki bukan si wanita tapi si lelaki.


Wanita tidak bisa menggugat cerai lelaki tanpa persetujuan lelaki atau pihak ketiga yang dianggap bisa memutuskan hal itu.


Tapi selebihnya semua kembali kepada takdirnya. Karena pada akhirnya bagaimana pun manusia berasumsi tetapi yang menentukan semua pada akhirnya adalah Tuhan.


Kalau wanita dianggap sebagai fitnah dan godaan. Itu karena kesukaan lelaki terhadap wanita. Seperti halnya wanita menyukai materi.


Lebih sulit bagi lelaki mereka menolak godaan wanita atau bagi wanita menolak godaan  materi yang mereka inginkan. 


Sehingga yang diminta untuk menahan godaan adalah diri mereka sendiri. Agar mereka tidak lepas kendali atau keluar batas.


Memang enak dituding jadi pelakor? Aku tidak ingin hal itu terjadi padaku.


Karirku yang susah payah kurintis hancur begitu saja. Belum ditambah dengan sifat mata keranjang Pras. Begitu bosan akan hinggap di bunga lain. 


Banyak wanita yang menyesal memilih pasangan yang play boy. Tetapi apa daya? Nasi menjadi bubur. Tentu aku tidak ingin hal itu terjadi padaku. Be smart!


Tania sedang menikmati staycationnya ketika telponnya berdering. Nama Pras tertulis di handphonenya. 


Tanpa berpikir panjang dia langsung mematikan handphonenya.


"Ganggu aja!" Rutuknya kesal.


Dia bermaksud menelpon Ratih. Memintanya membawakan lap top dan dokumen keuangan yang dibutuhkannya. 


Dia akan mengerjakan pekerjaannya di hotel tempatnya menginap.


Begitu dia menyalahkan handphonenya. Puluhan misscalled memenuhi gadgetnya.


Dengan kesal dia menelpon Pras.


"Apa maumu sih?" Bentaknya kesal.


"Mengapa kau menghilang begitu saja?"


"Apa urusanmu? Aku bukan siapa-siapamu! Kau juga sudah memiliki kekasih. Jangan gila!"


"Aku akan jelaskan semuanya!"


"Gak usah! Buat apa kau jelaskan padaku? Aku bukan siapa-siapamu! Jangan ganggu aku!"


"Aku bukan bermaksud mengganggumu!"


"Lalu apa namanya?"


"Bisa gak kau bersikap lebih welcome?"


"Gak bisa! Aku bukan keset selamat datang!"

__ADS_1


"Aku…."


Tania menutup telponnya. Menelpon Ratih dan memintanya membawakan semua yang diperlukannya.


"Jangan sampai pak Pras tahu aku dimana."


"Hadapi aja baik-baik."


"Memangnya bisa?"


"Bisalah!"


"Maunya baik-baik. Tapi aku sangsi."


"Kapan kau perlu lap top dan dokumen-dokumennya?"


"Secepatnya."


Tania memutuskan berjalan-jalan di sekitar hotel. Memikirkan kalimat Ratih. Sejujurnya, dia juga ingin menyelesaikan semua dengan baik-baik. Apalagi berimbas pada pekerjaannya.


Bagaimana pun Pras adalah atasan yang harus dihormatinya. Selain hubungan pribadi bisa mengganggu hubungan profesional. Mempengaruhi pekerjaan juga.


Apa mungkin dia harus berlaku seperti wanita yang membuat pria illfeel? 


Sepertinya dia sudah merupakan sosok yang membuat lawan jenis illfeel.


Sosok wanita jutek dan membosankan seperti dirnya memang kerap membuat lawan jenis illfeel?


Kemungkinan Pras hanya penasaran karena merasa ditolak. Atau harga dirinya terluka karena ditolak wanita jutek dan membosankan seperti dirinya?


Egonya yang terluka kenapa aku yang jadi sasarannya? Harusnya kan dia mengatasi egonya sendiri. Agar tidak terlalu besar seperti itu. Setiap orang bebas menjalani hidupnya sesuai dengan kenyamanan mereka masing-masing.


Ratih menelponnya menanyakan keberadaannya.


Tania menyebutkan nama hotel tempatnya menginap. Mereka bertemu di lobi.


"Sebentar lagi kan jam makan siang. Lebih baik kau temani aku makan siang dulu. Sekalian mengobrol." Pinta Tania. Melihat kehadiran Ratih menjadi semacam hiburan baginya.


"Bagaimana kalau nanti pak Pras menanyakanku?"


"Matikan saja gadgetmu. Bilang saja low bat. Dia tidak akan mencarimu. Percayalah, dia tahu kau sangat kompeten dengan pekerjaanmu."


"Aku melihatnya tidak begitu baik. Akhir-akhir ini. Aku tidak ingin mencari masalah dengannya."


"Kau gak usah banyak berpikir. Kita ke kamarku aja. Ngobrol di kamar. Room service saja. Mungkin disini kau tidak tenang karena takut ada yang melihatmu dan melaporkan pada Pras. Walaupun kujamin tempat ini aman. Aku memilih tempat ini untuk staycation karena memang aku tidak pernah bertemu dengan orang yang kukenal atau mengenaliku."


"Kontrakku masih lima tahun lagi."


"Yeah! Aku tau kau stuck di perusahaan kita. Yuk kita ke atas."


Ratih mengikuti Tania. Membawa lap top Tania sedangkan Tania membawa berkas pekerjaannya.


"Kupikir Pras benar-benar menyukaimu." Ujar Ratih.


"Kapan dia tidak menyukai wanita? Selama aku bukan pria. Dia akan menyukaiku." Sahut Tania memencet tombol angka di tempat lantai kamarnya berada.


Ratih tertawa geli mendengar jawaban Tania.


"Kupikir dia pecinta wanita."


"Udah seperti lagu aja!" Ujar Ratih tertawa.


"Kenyataannya memang seperti itu. Gak usah menanggapinya secara serius. Nanti juga dia jatuh cinta dan hepi lagi."


"Hmm, iya juga. Bisa jadi dia cuma terluka harga dirinya karena kau tidak meresponnya."

__ADS_1


"Cucok!" Mereka kembali tertawa.


Tania membuka pintu kamarnya dengan menggunakan kartu. Mereka masuk ke dalamnya. Meletakkan lap top dan berkas di meja yang menyerupai meja kerja.


"Enak juga staycation disini."


"Bukan enak lagi. Enak banget!" Tawa keduanya berderai.


Tania membuka kulkasnya. Mengeluarkan ice cream, coklat dan puding yang dibelinya saat berjalan-jalan ke mall.


Menyodorkan plastik berisi buah-buahan yang dibelinya.


Menyodorkan salah satu kantong belanjaan pada Ratih.


"Apa ini?" 


"Aku memborong aneka cemilan dan coklat. Untukmu."


"Pemborong dong?"


"Begitulah!"


Keduanya kembali tertawa.


"Kau bosan kan di kantor terus?"


"Mau bagaimana lagi?"


"Makanya refreshing."


"Refereshing jam kantor?"


Tania tertawa.


"Kau jangan membuatku bermasalah dengan Pras."


"Tidak akan. Aku tahu bagaimana dia."


"Kau sok tahu!"


"Emang!"


Keduanya tergelak. Telepon Ratih berbunyi.


"Saya sedang di luar pak." Sahut Ratih.


Tania menyilangkan kedua tangannya sambil mengibas-ngibaskan.


"Tidak tahu pak." Ratih menganggukkan kepalanya sambil mengacungkan jempolnya, "Mungkin saya gak kembali ke kantor. Saya kerjakan di rumah." Ratih mendengarkan kemudian menjawab, "Baik, pak. Nanti saya kerjakan."


Ratih menutup teleponnya.


"Gimana?"


"Let's party!" Mereka kembali tergelak. Menuang minuman jus dingin yang ada dalam kulkas. Membuka cemilan dan makanan yang ada dalam kemasan.


Kotak kue berisi aneka kue lezat. Cream cheese, tiramisu dan coklat cake dihamparkan di karpet.


Mereka ngobrol ngalor ngidul. Girls talk. 


"Menginap saja disini. Berangkat kerja dari sini saja gimana?"


"Aku sudah berjanji akan mengerjakan tugas buat besok."


"Kita cari pakaian untukmu sekalian beli lap top  gimana?"

__ADS_1


__ADS_2