Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Memorable


__ADS_3

Pertemuan mereka yang tidak sengaja sangat berkesan dan mendekatkan mereka satu sama lain.


Pertemuan yang tidak diharapkan. Tetapi membuat mereka semakin mengenal satu sama lain dengan lebih baik.


Kreshna berjalan menuju lobi. Menghempaskan tubuhnya di salah satu sofa, menunggu kedatangan Ratih. Mengedarkan pandangannya tetapi tidak menemukan sosok yang dinantikannya.


Mungkin dia tengah bersiap-siap. Belum turun ke bawah.


Ratih sendiri baru selesai mandi. Setelah selesai sarapan. Bersantai membaca majalah dan menonton televisi sampai jam menunjukkan pukul delapan pagi. Memutuskan membersihkan dirinya. Sambil menunggu kedatangan Kreshna menjemputnya. Tubuhnya terasa segar. Pikirannya juga lebih fresh. Cuti yang diambilnya benar-benar efektif sebagai healing.


Membetulkan handuk yang melilit tubuhnya yang melorot turun. Membuka lemari pakaian di kamar hotelnya. Memilih pakaian yang akan dikenakannya hari ini.


Pilihannya jatuh pada kaus biru laut. Celana katun warna navy. Menyambar kaca mata hitam dan topi jeans navynya untuk melengkapi.


Handphonenya berbunyi. Ratih berinisiatif mengangkatnya.


“Kau sudah siap?”


“Belum. Kau dimana?”


“Aku sudah di lobi.”


“Baiklah aku akan bersiap-siap secepat mungkin.”


“Ok!”


Ratih mematut dirinya di kaca. Mengoleskan lipstik tipis-tipis. Memakai fondation tipis merata. Tidak tebal-tebal karena akan membuat wajahnya menjadi sepuluh tahun lebih tua.  Menepuk-nepuk spons bedak compactnya  ke wajahnya secara merata.


Setelah siap semua. Ratih berjalan keluar kamar. Menyamping tas selempangnya secara diagonal. Tas selempang navy dari bahan jeans dengan warna senada dengan celana jeans yang dikenakannya. Memakai sepatu kets putih tulangnya.


Memencet pintu lift. Berjalan masuk dan menekan tombol lantai dimana lobi hotel berada.


Kreshna tampak sedang duduk sendirian. Seperti sedang membaca atau melihat sesuatu dari handphonenya.


Ratih berjalan mendekatinya, “Kau sudah datang?”


Kreshna medongakkan kepalanya, “Akhirnya kau tiba!” Senyumnya mengembang lebar. Sejenak Ratih terpukau.  Wajah Kreshna terlihat semakin tampan dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


“Kita berangkat sekarang?” Ajak Ratih.


“Tahun depan aja gimana?” Sahut Kreshna tertawa, “Ya, sekarang lah!”


“Kupikir kau ingin menjadi lumut atau berfotosintesis di sana dengan batuan sinar matahari yang menembus kaca.”


“Jadi umbi-umbian? Sayur-sayuran dan buah-buahan?”


“Ganggang!”


“Ganggang?”


“Ganggang pintu!”


Mereka tergelak.


“Kita mau kemana?” Tanya Kreshna.


“Kemana-mana.”


“Ok! Kayak gasing muter ya?”


“Kita foto-foto aja gimana?”


“Hmm, boleh juga....”


“Cari spot yang bagus!”


“Di awan bagus.”


“Metong dulu dong!”


“Duh becandanya!”


“Emang bisa naik ke awan?”


“Ya, kamu kan nanya spot yang bagus?”

__ADS_1


“Kenapa gak pluto sekalian?”


“Kamu nanya spot yang bagus. Di Pluto gak bagus.”


Matahari bersinar cerah dan hangat. Semilir angin bertiup. Mereka berjalan-jalan mencari spot yang bagus untuk berfoto. Meminta tolong pada orang yang lewat atau tukang parkir atau petugas kebersihan atau keamanan yang mereka temukan.


“Buat kenang-kenangan kita berdua.” Sahut Kreshna.


“Yeah!” Ratih menyetujui.


Mereka berfoto berdua dengan beraneka ragam gaya dan spot foto.


Puas mereka berjalan dan berfoto. Mereka mencari tempat yang enak untuk mengobrol.


“Sebaiknya kita mencari coffee shop untuk mengobrol. Bagaimana? Atau mencari tempat makan atau restaurant? Sekalian makan siang?” saran Ratih.


“Sebaiknya kita mencari tempat makan atau restaurant untuk makan siang. Kalau mau ke coffee shop nanti sore saja bagaimana?”


Ratih menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka berjalan santai menyusuri jalan. Mencari tempat yang cocok dengan suasana hati mereka.


Pilihan jatuh pada sebuah restaurant yang memiliki tempat makan lesehan dengan kolam ikan dilengkapi air terjun buatan.


Mereka berjalan memasuki tempat makan tersebut. Pelayan datang mengangsurkan buku menu makanan.


Keduanya meneliti daftar menu makanan. Makanan fresh dan langsung dibuat dadakan. Membuat tempat makan tersebut sulit diabaikan untuk tidak dinikmati.


“Menunggu sedikit lebih lama tidak apa-apa. Sambil menunggu kita kan bisa mengobrol.” Cetus Kreshna yang diamini Ratih.


Mereka memilih lesehan yang paling dekat dengan air terjun buatan. Suara air terdengar menyejukkan. Apalagi di sana sini juga terdapat sangkar burung. Sehingga suasana benar-benar seperti di alam bebas. Dilengkapi suara kicau burung di sana sini.


Mereka duduk saling berhadapan sambil menuliskan menu makanan dan minuman yang mereka pesan.


Memesan sebakul kecil nasi liwet cumi asin. Seekor ikan kuwe bakar kecap ukuran sedang. Udang bakar tiger madu ukuran besar. Yang sangat menggugah selera. Kepiting jumbo saus padang. Dan cumi goreng krispy. Sepiring cah kangkung saus tiram.


Untuk urusan selera. Mereka nyaris memiliki selera yang sama. Sehingga tidak memiliki kesulitan dalam hal ini. Kalau dipikir-pikir ada banyak kesesuaian di antara mereka tetapi mengapa keraguan masih terus membayangi?


Mungkin itu yang dinamakan faktor x. Ada sesuatu yang tidak bisa ditembus manusia. Mereka bisa berdoa dan berusaha tetapi tidak bisa menentukan apa pun.


Masalah jodoh bagi sebagian orang bukan perkara yang mudah. Sama juga dengan mereka yang rejekinya disempitkan. Tidak ada bedanya.


Kalimat bijak apa yang harus dikatakan? Karena seringkali maksud hati menghibur jadi menyakiti.


Seperti mereka berdua. Semuanya sempurna. Tapi trauma Kresna membayangi. Saat Kreshna merasa bisa mengatasi traumanya. Giliran Ratih yang ragu.


Apa belum saatnya mereka berjodoh? Atau memang mereka tidak ditakdirkan berjodoh? Atau jodoh memang bertemu di pernikahan. Pernikahan Alicia? Ratih tersenyum kecut. Meratapi hubungannya dengan Kreshna. Nelangsa.


Jodoh itu tidak selalu serasi. Ada yang seperti Tom and Jerry tapi mereka berjodoh sampai mati. Ada yang seperti Romeo and Juliet tetapi tidak bisa menyatu sampai akhir.


Ringkasnya ada yang berpacaran bertahun-tahun atau saling mengenal bertahun-tahun tetapi mereka tidak berjodoh. Ada yang baru saling mengenal dan tahu-tahu mereka menikah? Walaupun ada juga yang jalan jodohnya berliku atau panjang. Mereka mengenal ketika kecil, berpisah dan berjodoh ketika mereka sudah dewasa.


Ada juga yang baru tahu mereka ada di apartement yang sama dengan lantai yang berbeda. Dilahirkan di rumah sakit yang sama dengan lantai rumah sakit yang berbeda. Atau hal-hal aneh lainnya seputar jodoh. Ada yang wajahnya menyerupai keluarga mereka.


Ratih menatap wajah Kreshna. Wajah mereka tidak mirip. Mereka juga tidak seperti Tom and Jerry. Kalau pun mereka kadang memiliki selisih pendapat tetapi tidak sampai seperti Tom and Jerry.


Sepertinya lebih mirip orang yang sudah saling mengenal bertahun-tahun tapi tidak berjodoh. Oleh sebab itu buat apa kan mereka jalani. Kalau akhirnya mereka tetap berpisah? Bikin sakit hati, kecewa dan patah hati?


“Melamun terus?” Kreshna menyeruput jus jeruknya.


“Gak apa-apa.”


“Jangan banyak pikiran. Nanti cepat tua.”


“Kalau aku cepat tua memang kenapa?”


“Ya, gak apa-apa juga. Tapi kebanyakan perempuan kan pengennya awet muda.”


“Memangnya laki-laki gak ingin awet muda?”


“Dawet muda.”


“Ih, apa sih?” Sahut Ratuh tertawa diikuti senyum lebar Kreshna.


“Gitu dong ketawa!”


“Aku cuma bingung aja. Kita sudah berusaha menghindari satu sama lain. Kenapa kita selalu dipertemukan tidak sengaja?”

__ADS_1


“Tidak usah memikirkan hal yang bukan di dalam jangkauan kita. Apalagi jodoh. Dikejar menjauh dan dijauhi mendekat. Udah kayak angkot ya kalau dipikir kadang-kadang.”


Ratih tergelak, setelah tawanya habis, membuka mulutnya,” Kau yakin kita berjodoh?”


“Ibarat. Aku tidak tahu kita berjodoh apa gak. Tapi konon jodoh bertemu di pernikahan. Dan kita kan berjodoh bertemu di pernikahan Alicia.”


Ratih kembali tergelak. Kali ini, nyaris keluar air matanya.


“Bukannya jodoh bertemu di pelaminan ya?”


“Itu namanya pernikahan.”


“Bisa aja deh!” Ujar Ratih, “Bisa aja ngawurnya!”


Giliran Kreshna yang tertawa.


“Mikirin pekerjaannya aja udah full. Apalagi mikirin sesuatu yang di luar jangkauan manusia? Ibarat listrik kalau bolak balik mati hidup lama-lama rusak kan elektronik di rumah? Ngapain nyusahin diri sendiri? Kau tidak ingin kita memaksakan diri saling mencari. Takut kita gak berjodoh. Takut sakit hati. Kecewa. Wajar semua perasaan tersebut. Siapa juga yang mau patah hati? Tapi ternyata malah bolak balik ketemu tidak sengaja. Ya udah nikmati aja. Namanya juga rejeki.” Sahut Kreshna diikuti gelak tawa Ratih.


“Kok rejeki sih?” Tanya Ratih gak abis pikir.


“Rejeki kan gak selalu uang. Bisa silaturahim. Bisa juga makan siang seperti ini. Makanan kan rejeki juga?”


“Iya sih.”


“Nah ya udah kan? Case closed!"


Ratih menganggukkan kepalanya.


Kreshna menatap Ratih lurus. Membuat Ratih jengah dan wajahnya bersemu merah.


Dengan wajah serius berkata, "Jadikan saja semua pertemuan kita yang tidak sengaja sebagai kenangan yang tidak akan kita lupakan. Selamanya. Bagaimana?"


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


... ...


__ADS_2