Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
The Flight


__ADS_3

Keesokan harinya, Kreshna menjemput Ratih di kontrakannya. Mereka bersama-sama ke bandara.


“Aku senang kau mau mengantarku.” Ujar Kreshna.


Ratih hanya menganggukkan kepalanya.


Kreshna menggenggam tangan Ratih. Wajah Ratih tertegun kaku. Tubuhnya menegang. Jantungnya berdetak cepat seperti suara drum yang saling bersahutan.


Tubuhnya menyenandungkan orkestra. Sentuhan Kreshna membuat konser musik dalam tubuhnya.


Aliran hangat mengalir. Seperti aliran listrik. Tidak dapat dilukiskan. Wajahnya memerah.


Kreshna mengusap tangan Ratih. Menggenggamnya erat. Ratih tidak mampu mengatakan sepatah kata pun. Tubuhnya benar-benar kaku seperti kayu. Seperti pipa yang dialiri air.


“Aku minta maaf jika membuatmu selalu ragu. Memberikanmu ketidakpastian. Tapi semua karena aku tidak ingin sesuatu terjadi pada hubungan kita. Tidak ingin mengalami apa yang orang tuaku alami. Tidak ingin jika masing-masing kita belum bisa move on dari orang yang mungkin sangat mempengaruhi emosi kita. Karena kecocokan emosi dan komunikasi yang kita miliki dengan mereka.”


Dengan susah payah Ratih membuka mulutnya.


“Maksudmu Alicia dan Bima?”


“Yeah. Kita berdua harus memastikan apakah mereka berdua akan mempengaruhi hubungan kita atau tidak? Karena memang banyak yang tidak menyadari tentang kenyamanan dan perasaan yang mereka miliki apakah karena pengkhianatan yang pernah dilakukan. Atau baru bisa merasakan setelah kehilangan. Lain sebagainya. Intinya waktu dan takdir akan menjawab dan menuntun kita pada cinta sejati kita.”


“Yeah, aku setuju.” Ratih menjawab dengan susah payah menahan ludahnya.


“Aku senang kau mengerti.” Kreshna melepaskan genggaman tangannya dengan pandangan berterima kasih dan semua berangsur normal kembali.


Ratih mulai bisa berbicara dengan lancar.


“Aku tidak ingin kita terburu-buru. Kau benar bahwa kita harus memastikan semuanya. Lapang dada kalau memang kita tidak berjodoh.”


“Yeah, cinta dan kecocokan seringkali tidak dapat dipaksakan.”


“Yeah. Aku memahami hal itu sepenuhnya.”


“Aku senang kau mulai bisa mengerti dan memahami.”


“Yeah, aku sudah di pemahaman level yang lebih tinggi. Kalau tiba-tiba salah satu kita memberikan undangan.”


Kreshna menggenggam tangan Ratih dengan sangat erat. Pergelangan tangan Ratih memerah akibat genggaman Kreshna.


Wajah Ratih mengernyit menahan sakit.


“Maaf!” Kreshna spontan melepaskan tangannya.


Mereka saling terdiam. Tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


Tanpa terasa kendaraan sudah tiba di bandara. Keduanya turun dari kendaraan. Menuju bandara.


Mereka mencari tempat makan yang bisa nyaman digunakan untuk mengobrol sambil menunggu Kreshna check in.


Kreshna memesan segelas hot cappucino. Ratih memilih mochachino latte. Memesan sepiring kue basah. Lemper, kue ****, sus dan risoles.


“Wajahmu tampak lesu.” Sahut Ratih.


“Aku akan berpisah denganmu. Tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi.”


“Yeah. Tidak direncanakan saja. Kita sudah dua kali bertemu dan menghabiskan waktu selama beberapa hari. Apalagi direncanakan mungkin sudah beranak pinak.”


“Seperti kutu. Atau jenis serangga lainnya.”


“Kita itu pasangan  bukan drakula apalagi kutu yang menghisap darah.”


Tawa Kreshna pecah.


“Yeah, right.” Sambung Kreshna.


“Jalani semua apa adanya. Kalau Tuhan berkehendak kita bertemu pasti akan terjadi begitu saja. Tapi kalau tidak berkehendak sebaliknya.” Sahut Ratih.


“Kita sebagai manusia kan juga harus usaha.” Ujar Kreshna.


“Usaha bagaimana lagi? Kita selalu ragu untuk melangkah. Artinya keinginan kita belum diridhoi Tuhan. Bisa jadi masing-masing memiliki jodoh sendiri-sendiri. Bisa belum waktunya kita berjodoh tapi bisa juga memang tidak berjodoh.”


“Jodoh itu sebagian tanda kekuasaan Allah.”


“Yeah. Kau benar.”


“Mungkin kau galau karena Alicia menikah.”


“No, I am happy for her.”


“Really?”

__ADS_1


“Yeah. Kalau kau yang menikah baru aku semaput.”


Pecah tawa Ratih.


“Kenapa?”


“Aku merasa separuh jiwaku pergi.”


“Gombal!” Seru Ratih bersemu merah, “ Wait a minute. Itu kan judul lagu.”


“Ember!”


Kontan mereka kembali tertawa.


“Memang kalau aku menikah kau akan baik-baik saja?” Tanya Kreshna dengan nada serius.


“Aku akan berbahagia untukmu.”


“Benarkah? How kind of you. Seperti apa?”


“Seperti orang linglung.”


Tawa mereka kembali pecah.


“Apa pun yang terjadi kita akan baik-baik saja.” Ujar Kreshna, “Mungkin jika kita tidak ditakdirkan menikah. Ditakdirkan berselingkuh.”


Ratih nyaris menyemburkan minumannya. Susah payah menahan tawanya.


“No way!”


“Yeah. Jika  kau harus memilih menjadi Diana atau Camilla?”


“Pilihan macam apa itu?”


“Sudah pilih saja salah satu.”


“Aku merasa sangat terhina dengan pilihan semacam itu.”


“Its life not fairy tale.”


“Ok...”


“Camilla.”


Kontan Kreshna tergelak, “See?”


“Its only because she  can have both.”


“If she is not?”


“Still Camilla.”


Kontan pecah tawa Kreshna.


“But in real life. I choose to be a single.”


“Yeah. Wise choice.”


“Or maybe I will love the person that I love.”


“Yeah.”


“Berarti sekarang sudah ada calon dong?”


“Sayangnya belum. Sepertinya hal itu juga baru sebatas wacana.”


“So, you choose to be single, now.”


“Yeah.”


“Good choice.”


“Kalau kau?”


“Aku akan berusaha menggodamu dan mengajakmu berselingkuh.”


Kontan keduanya tertawa.


“Sebelum kau menggoda dan mengajakku berselingkuh. Pastikan dulu satu hal.”


“Apa itu?”

__ADS_1


“Akunya mau apa gak?”


“Kau pasti mau. Cuma mungkin berani atau tidak.”


Kontan tawa keduanya kembali pecah.


“Kupikir sudah waktunya aku check in.” Ujar Kreshna bangkit dari tempat duduknya.


“Yeah. Waktu sangat cepat berlalu.”


“Yeah.”


Kreshna berjalan ditemani Ratih.


“Aku hanya bisa mengantarmu sampai sini.”


“Yeah.” Kreshna menganggukkan kepalanya, “I will gonna miss you.”


“I am not.”


“Yeah. Right....”


Ratih membalikkan tubuhnya. Berniat untuk kembali ke rumah kontrakannya sebelum ke kantor.


Mengambil bolu dan cemilan titipan Kreshna. Dia mengambil masing-masing dua paket untuk di simpan di kulkasnya. Sisanya dibawa ke kantor.


“Oleh-oleh dari Kreshna?” Tanya Pras sambil mencomot sepotong bolu yang sudah dipotong-potong.


“Yeah.”


“Enak.”


Pras mengambil cemilan sus.


“Pisahkan masing-masing dua paket buat saya dong. Buat dibawa pulang.”


Ratih menganggukkan kepalanya.


Sementara Kreshna di atas pesawat memandang awan putih yang terbentang luas di hadapannya.


Langit berwarna biru sangat cerah dan bersih. Awan berarak berjalan perlahan.


Arakan yang tidak tertangkap pandangan mata. Perlahan tapi pasti mereka bergerak. Angin menggerakkan mereka untuk melukis di awan.


Angin sebagai kuasnya. Langit sebagai kanvasnya. Awan sebagai cat air atau minyaknya.


Kreshna menikmati pemandangan langit biru di hadapannya.


Pandangan matanya berubah sendu berkata di dalam hati. When I will see you again?


Pekerjaan dan rutinitasnya sudah menunggunya. Semua akan berjalan seperti biasa.


Sesampainya Kreshna di rumahnya. Membuka ponselnya. Melihat foto-foto yang diambilnya bersama Ratih. Memindahkannya ke email. Membuat back up nya dengan flashdisk.


Sesekali wajahnya menyunggingkan tawa dan senyum.  


Kupikir, aku akan membuat album. Mungkin dilengkapi dengan ilustrasi cerita.


Aku akan memilih foto-foto yang akan kupilih sebagai bahan cerita di dalam album. Mengirimnya sebagai hadiah ulang tahun Ratih yang mendatang. Satu untuknya dan satu untuk Ratih.


Mungkin album tersebut  bisa dimulai dengan kalimat once upon a time....


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2