Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Truth


__ADS_3

Mereka saling berpandangan. Wajah Tania sangat kikuk.


“Kalian sudah saling mengenal?”


“Kami sekantor.”


“Kalian sekantor?”


Ratih berusaha membuang wajahnya dan menghindar. Berjalan menjauhi teman-temannya. Bermaksud untuk kembali pulang.


Bisa gawat, kalau Tania dan Marsha tahu aku mengenal mereka berdua tetapi tidak mengatakan apa pun.


Ratih mengirim teks pada Diah mengabarkan bahwa dia harus segera pulang karena ibunya sakit.


Sialan Pras! Awas saja kalau sampai dia dimusuhi keduanya. Jika mereka mengetahui dan menyadari apa yang sedang terjadi.


“Kau kenal dengan Marsha?” Tanya Diah.


“Kalian memanggilnya Marsha? Aku memanggilnya Aca.”


“Aca?”


“Yeah. Tania teman SMAku. Di rumah aku dipanggil Aca. Tania biasa memanggilku dengan nama panggilanku di rumah.”


“Oh...” Diah terdiam. Dirinya tidak menyukai Tania tetapi sebaliknya sangat menyukai Marsha. Sedangkan mereka berdua sohib lama. Bagaimana ini?


“Mana Ratih?” Tanya Marsha.


“Ratih?” Ulang Tania, “Ratih yang bekerja denganku dan Pras di kantor?”


“Kau mengenal Pras?” Tanya Marsha pada Tania.


“Yeah. Aku sering menceritakannya padamu, kan?”


“Kapan?”


“Bosku yang sering menggangguku.”


“Astaga! Itu Pras?” Sahut Marsha.


“Kau mengenal Pras?”


“Kekasihku adalah bosmu?” Ulang Marsha.


“Apa?” Pekik Tania terkejut, “Aca! Maafkan aku! Aku tidak tahu. Aku sama sekali tidak bermaksud....”


Wajah Marsha sangat shock.


Diah membuka suaranya, “ Gadis ini membual sesuatu padamu?” Dia  melihat kesempatan untuk menjatuhkan Tania.


“Membual?” Tanya Marsha.


“Apa yang dia katakan tentang pak Pras?”


“Kalian kan sekantor. Pasti kalian tahu mengenai hal ini. Tania mengatakan bahwa Pras mengganggunya. Menggodanya. Apakah benar?”


“Aku tidak mendengar apa pun. Bagaimana dengan kalian semua?”


Mereka semua menggelengkan kepalanya hampir bersamaan.


Marsha memandang wajah Tania dengan perasaan benci.


“Kau mengarang cerita! Apa maksudmu?”


“Aku tidak mengarang cerita.”


“Mengapa tidak ada yang mengetahuinya padahal kalian semua sekantor? Hah!” Teriak Marsha.


“Aku pikir sebaiknya aku pulang.” Ujar Tania.


“Yeah! Aku tidak percaya memiliki teman seperti musuh dalam selimut sepertimu!”


Wajah Tania merah padam. Bergegas membilas tubuhnya. Mengganti pakaiannya. Memesan go car untuk mengantarkannya kembali ke rumahnya.


Astaga! Pras adalah kekasih Aca. Dirinya merasa malu. Karena menceritakan sesuatu yang seharusnya tidak pernah dikatakannya sama sekali. Tidak ada yang terjadi di antara mereka. Tetapi Aca sudah kadung membencinya. Seolah dia sudah merebut kekasihnya. Apa yang telah kulakukan? Aku merusak pertemananku dengan Aca dengan cara yang sangat bodoh. Kami sudah lama tidak bertemu. Mengapa aku harus menceritakan hal-hal bodoh. Sekarang aku sudah merusak pertemananku dengannya.


“Tania mengincar pak Pras?” Seru Diah.


Wajah Marsha tertekuk. Sangat masam. Dirinya sangat marah.


“Aku tahu banyak yang mengincar pak Pras? Tapi Tania? Pantas saja, pekerjaanku diambil olehnya. Ternyata dia mengincar pak Pras.” Sahut Diah dengan wajah mencibir.


“Dia mengambil pekerjaanmu?”Tanya Marsha.

__ADS_1


“Aku kerap dimintai bantuan oleh pak Pras sebelum Tania bekerja dengannya.”


“Apa maksudmu?”


“Aku baru mengerti mengapa pak Pras berhenti meminta bantuanku. Ternyata Tania dibalik semua ini.”


Wajah Marsha semakin masam. Diah memanas-manasinya dengan berbagai bumbu cerita.


“Bagaimana jika kau mengatakan pada pak Pras agar menggunakanku lagi untuk membantunya? Kujamin, hubungan kalian akan lebih aman. Aku tidak mungkin mengincar pak Pras. Aku sudah menikah, memiliki suami dan anak. Sudah mengenal pak Pras sangat lama. Aku bahkan bisa membocorkan setiap gerak geriknya.”


Marsha termangu mendengar perkataan Diah, “Gerak gerik apa maksudmu?”


“Aku tahu pak Pras banyak diincar wanita.  Kau akan sangat membutuhkan informasi dariku.”


“Seandainya, kau masih membantu Pras. Tentu kau akan tahu semua gerak gerik dan manuver Tania terhadapnya?”


“Kau sangat cepat menangkap.”


“Aku mungkin mudah dibodohi tetapi menyimpulkan sesuatu. Tinggal menarik dan menghubungkan garis yang satu ke garis yang lain.”


“Jadi bagaimana?”


“Aku akan berbicara pada Pras. Aku ingin mendengarkan penjelasan darinya. Aku juga akan memintanya. Mempekerjakanmu dan memberhentikan Tania. Menggantikannya dengan yang lain.”


“Ide yang sangat bagus.” Diah tersenyum puas.


***


Marsha dan Pras bertengkar hebat.


“Kau benar-benar sangat keterlaluan!” Teriak Marsha.


“Aku tidak melakukan apa pun!”


“Kau menggoda sahabatku!”


“Kau selalu cemburu buta!”


“Apa?”


“Mana aku tahu kau dan Tania saling kenal?”


“Apa maksudmu?”


“Aku hanya penasaran!”


“Kau jangan mencampuri pekerjaanku. Keahlian Tania khusus. Tidak semua orang bisa melakukannya.”


“Jangan banyak alasan! Sebelumnya kau selalu meminta bantuan Diah.”


“Kau tidak tahu apa pun tentang pekerjaanku. Dan kau ingin mencampurinya?”


“Kau jangan mencari alasan. Diah yang biasa membantumu!”


“Kau sok tau!”


“Aku tidak ingin kau bersama Tania.”


“Jangan mencampuri urusan pekerjaanku.”


“Kau menggoda sahabatku.”


“Aku tidak tahu kalau Tania sahabatmu. Tidak usah memperpanjang masalah.”


Marsha manyun. Wajahnya sangat tidak bersahabat, “Apa sebenarnya yang kau lakukan?”


“Aku iseng mengganggunya.”


“Menggodanya?”


“Terserahlah!”


“Tania mengatakan bahwa bosnya sangat menyebalkan. Sangat mengganggu.”


“Lalu?”


“Apakah kau menyukainya?”


“Aku penasaran dengannya.”


“Mengapa kau sangat menyebalkan?”


“Tidak usah melebih-lebihkan sesuatu. Tania tidak pernah menanggapiku. Lalu apalagi?”

__ADS_1


Marsha termangu, “Apakah aku bisa mempercayaimu? Mempercayai kalian berdua?”


“Nyatanya sampai hari ini tidak ada sesuatu yang terjadi.”


Marsha memanyunkan bibirnya.


“Diah mengatakan padaku bahwa kau berhenti memintanya membantumu karena Tania.”


“Apakah Diah memiliki kemampuan seperti Tania dalam bidang Finance? Tania adalah orang kepercayaan Kreshna. Jika Kreshna harus memilih antara aku dan Tania. Maka dia akan memilih Tania.”


“Sepenting itu Tania di dalam perusahaan.”


“Yeah! Dan kau mendengarkan omong kosong Diah. Tukang gosip dan nguping.”


“Apa?”


“Kau mengenal Diah dan Tania. Mana yang lebih kau kenal?”


“Aku sudah lama tidak pernah bertemu Tania.”


“Apakah Tania suka bergosip dan menguping?”


“Dulu sih tidak.”


“Sekarang juga masih sama.”


“Baiklah! Tidak seharusnya aku bersikap berlebihan. Tapi aku sangat marah kau menggoda sahabatku.”


“Tania terlihat misterius dan membuat penasaran.” Ujar Pras.


“Aku harus bagaimana?” Sahut Marsha.


“Aku dan Tania tidak memiliki hubungan apa pun. Jika itu yang ingin kau ketahui. Aku menggodanya karena merasa penasaran. Tetapi hanya itu. Dan tidak sekali pun, dia menanggapiku. Bahkan dia kerap berusaha menghindariku.”


“Mengapa dia menghindarimu?”


“Risih dan tidak nyaman.”


Marsha termangu mendengar perkataan Pras.


“Aku akan menelponnya. Dia langsung pulang saat mengetahui semuanya. Aku sangat marah.  Benci dan kesal padanya.” Ujar Marsha.


Pras hanya terdiam dan tidak berkomentar. Dirinya tak menyangka sama sekali bahwa Tania dan Marsha saling mengenal satu sama lain.


Marsha menelpon Tania.


“Tania?”


“Aca?”


“Aku ingin meminta maaf padamu. Pras sudah menjelaskan semuanya.”


“Aku yang minta maaf padamu. Harusnya tidak bersikap konyol menceritakan hal yang tidak penting. Sehingga menimbulkan kesalahpahaman.”


“Kupikir, kita tidak perlu memperpanjang hal ini. Aku berterima kasih kau tidak meladeni gangguan Pras padamu.”


“Yeah! Sekantor tahu bahwa dia sudah memiliki kekasih. Tetapi tidak tahu kalau itu kau.”


“Aku benar-benar tidak ingin memperpanjang hal ini.”


“Yeah. Aku juga.”


Marsha menutup teleponnya. Menatap tajam ke arah Pras, “Kuharap kau mau memperbaiki sikapmu.”


“Yeah! Aku tahu aku salah.”


“Apakah kau mau berhenti menggangu dan menggoda Tania?”


“Yeah!”


“Jika kau tidak memegang kata-katamu. Lupakan saja semuanya. Bagaimana?”


Pras termangu mendengar perkataan Marsha.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2