Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Gosip


__ADS_3

Hidup Ratih terasa lebih ringan. Apalagi sejak hubungannya dengan Kreshna membaik. Beban akan selalu menjadi lebih ringan ketika dibagi. Menjadi berat saat ditanggung sendiri.


Siang ini, dia dan teman-temannya bermaksud makan siang bersama. Mereka sudah membooking tempat di salah satu tempat makan yang tidak terlalu jauh dari kantor mereka.


Dia menampik ajakan makan siang dari Kreshna. Ketika dia akan keluar ruangannya. Menghampiri teman-temannya.


"Makan siang bareng yuk. Aku traktir. Sudah beberapa hari kita gak makan siang bareng."


"Maaf, aku gak bisa. Janjian makan siang  sama temen-temenku. Kalau kau mau gabung, silahkan aja!"


"Gak ah! Ntar aku digrepe-***** kayak tape. Atau dipenyet-penyet kayak tempe. Bisa berabe!"


Kontan Ratih tertawa mendengarnya.


"Digrepe-***** sih gak. Paling dicolek-colek aja kayak colenak."


"Benyek dong!"


"Bengek!"


"Tau ah! Dengernya aja kepalaku udah kayak kepenyet-penyet."


"Bener nih. Gak mau ikutan?" Ulang Ratih sekali lagi.


"Gak ah!"


"Aku jalan dulu ya?"


"Jangan lupa ya, Jumat ini pulang kantor." Kreshna mengingatkan.


"Ada apa Jum'at ini?"


"Kita liburan bareng Tintan. Berangkat Jum'at malam. Kita pulang Minggu sore.


"Jadi liburan?"


"Jadi dong! Pengen refreshing tapi males kalau pergi sendiri. Temenin ya?"


"Baiklah!"


"Thanks ya! Kita berangkat bareng. Nanti aku dan Tintan nyamperin kamu."


"Ketemuan langsung aja di bandara gak apa-apa."


"Gak usah! Bareng aja. Nanti aku dan Tintan nyamper kamu."


"Ok deh kalau begitu!"


"Ok!"


Ratih menghabiskan waktu dengan teman-temannya makan siang bersama. Amanda mendapat voucher yang bisa mereka gunakan sehingga mereka membayar lebih murah.


Saat-saat seperti ini juga merupakan hiburan bagi mereka semua di tengah rutinitas mereka.


Kesempatan untuk saling bertukar cerita, bercanda dan bergosip.


"Katanya mau ada anak baru masuk ya?"


"Kata siapa?"


"Diah."


"Emang iya?"


"Pak Pras yang bilang."


"Yang mana anaknya?"


"Belum ada. Tapi akan ada."


"Bagian apa?"


"Finance."


"Perusahaan kita mau dikembangkan ya?"


"Sepertinya begitu."


"Mantap berarti ya pak Kreshna itu?"

__ADS_1


"Ya gak mungkin dia dipaku disini kalau gak ada maksudnya."


"Gimana sih orangnya?"


"Kenapa nanya-nanya. Lo kan udah punya suami, Dira!"


Mereka berbicara saling tumpang tindih. Simpang siur.


"Masak nanya aja gak boleh."


"Emang serius gak pernah liat orangnya sama sekali?"


"Pernahlah. Cuma maksudku gimana orangnya?"


"Tanya aja tuh Ratih."


"Eh! Kenapa jadi aku?" 


"Bukannya lo yang suka kerja bareng dia ya?"


"Diah juga suka kerja bareng sama pak Pras, gak diinterogasi."


"Pak Pras kita kan udah tahu karakternya kayak apa. Tapi kalau pak Kreshna? Cuma lo kayaknya yang tahu dia seperti apa?"


"Itu karena dia dari kantor pusat. Bukan disini. Jadi pada gak tau. Dia sama aja kayak pak Pras. Mereka kan bertemen. Ya pastilah sebelas dua belas lah."


"Si Pras itu banyak pacarnya. Kalau pak Kreshna?"


Semua serentak memandang Ratih yang asyik menikmati makanannya.


Wajah Ratih menjadi kikuk, "Kenapa jadi aku?"


"Kau jangan gak setia kawan begitu. Kita selalu membagi gosip yang kita punya."


"Aku tidak tau apa pun tentang pak Kreshna selain pekerjaan." Elak Ratih.


"Dibuat simpel aja. Apa dia sudah punya isteri?"


Ratih menggeleng.


"Kekasih?"


Ratih mengangguk.


"Siapa kekasihnya?"


Ratih menggeleng dan mengangkat bahunya.


"Yeah, aku juga tidak tahu kekasih Pras yang baru tapi setiap menerima telpon dari kekasihnya. Amboi!"


Kontan mereka tergelak.


Membicarakan bos-bos mereka merupakan salah satu hiburan mereka selaku karyawan.


"Gimana Diah? Kalau si Pras terima telpon dari kekasihnya?"


Diah menjadi pusat perhatian.


"Halo sayang. Udah dong! Kamu sendiri udah makan belum? Aku makan angin doang nih!"


Kontan mereka semua tergelak.


"Buang angin apa makan snack isi angin doang maksudnya? Apa pompa ban ya? Angin doang?"


"Itu candaan pembuka dari si Pras."


"Ngomongin apaan aja sih?"


"Banyaklah. Cantengan yang ada kuping gue!"


"Seru gak sih?"


"Gak juga kalau dah diulang-ulang. Aku nyimak yang penting dan menarik aja."


"Kita udah sering denger cerita tentang pak Pras dari Diah. Ayo dong, Ratih! Ceritain pak Kreshna seperti apa?"


"Orangnya serius bekerja dan tertutup tentang hubungan percintaannya. Tidak pernah ada telpon yang berkaitan dengan kekasihnya kalau di ruang kerja." Sahut Ratih.


"Profesional dan tertutup. Hmm…Jadi penasaran!" 

__ADS_1


"Dira! Kamu udah punya suami. Eling!"


"Penasaran doang masak gak boleh?"


"Gak elok aja!"


"Ngomong-ngomong tahu darimana kalau pak Kreshna udan punya kekasih kalau kau tidak pernah mendengar percakapan telponnya?"


"Aku mengenal kekasihnya. Temanku."


"Ohhhhh…" sahut mereka nyaris bersamaan.


"Gimana kekasihnya?"


"Gimana apanya?."


" Orangnya, sifatnya, rupanya?"


"Cantik, baik dan asyiklah."


"Hmm, ya…."


"Tapi kayaknya dia juga mau dikenalin sama temennya pak Pras. Aku kenal adiknya tapi belum tahu kakaknya."


"Maksudmu gimana? Dia punya dua kekasih?"


"Maksudmu dia playboy?"


"Maksudmu dia punya kekasih tapi yang nanti jadi isterinya berbeda lagi?"


"Maksudmu…."


"Aku tidak tahu!" Sahut Ratih setengah berteriak. Tiba-tiba dadanya menjadi sesak. Aku gak mungkin cemburu. Aku dan Kreshna tidak punya hubungan apa pun lagi. So, plis! Jangan gila! Tarik nafas panjang. Lepaskan….


"Gitu aja marah!"


"Siapa yang marah? Kalian mendesakku! Aku tidak tahu apa pun sebenarnya tentang pak Kreshna."


"Kau kenal dengan kekasihnya. Dan kau tahu dia sedang dikenalkan oleh pak Pras. Kau juga sudah mengenal calon adik iparnya."


Astaga! Kreshna test the water? Dia membawa Tintan maksudnya? Tenang…tenang…Something that can not hurt you, will never hurt you….


Aku gak mungkin membenci Tintan. Dia anak yang baik. Terserah kalau dia mau test the water. Aku gak peduli. Semua sudah berakhir! 


"Kupikir, pak Kreshna lebih berbahaya daripada pak Pras."


"Setuju! Pras mungkin playboy tapi kupikir jika sudah saatnya dia memilih?"


"Mungkin sama aja. Satu isteri dan satu simpanan tapi diam-diam."


Kontan tawa mereka pecah.


"Kalau Kreshna?"


"Satu pacar dan satu isteri."


"Bedanya dimana?"


"Istilah!"


Kontan mereka kembali tergelak.


Mendadak Ratin kehilangan selera makan. Omg! Kenapa dia tidak berpikir sampai ke sana? Dia mensugesti dirinya kembali. Jangan suka ikut campur urusan orang. Kreshna bebas menjalin hubungan dengan siapa pun. Bahkan jika dia menikahi empat orang wanita sekaligus. Memiliki empat orang simpanan dan empat orang pacar. Sama sekali bukan urusannya. Terpenting…Tidak ada kaitannya dengannya sama sekali….


Hatinya menjadi tenang. Pikiran sehatnya perlahan kembali dan selera makannya juga kembali.


"Kupikir kau harus mulai memata-matainya!"


"Untuk apa?" Tolak Ratih.


"Supaya kita tau kebenarannya."


"Untuk apa sih? Kurang kerjaan! Setiap orang punya privasi. Kecuali suami, kupikir kita harus menjaga privasi setiap orang."


"Kupikir semua bos sama saja. Harta, tahta dan wanita!"


"Yeah!"


"Menurutmu apakah Pras dan Kreshna sama saja?"

__ADS_1


"Sepertinya begitu…."


Semua menyetujuinya.


__ADS_2