Lampion Ajaib

Lampion Ajaib
Persiapan


__ADS_3

Kreshna khusus membeli baju dan celana baru untuk ulang tahun Ratih. Dia menelpon Ratih.


"Kau jangan kemana-mana hari ini!"


"Memang mau kemana?"


"Kita beli pakaian buat hari ulang tahunmu besok."


"Tidak usah berlebihan! Itu kan cuma ulang tahun."


"Ulang tahunmu kali ini sangat istimewa. Kita berbaikan dan aku tidak ingin ada pertengkaran lagi sesudahnya. Seperti yang kau katakan. Tidak ingin seperti minyak dan air. Tidak akan pernah lagi!"


Ratih membatalkan janjinya dengan Bima.


"Maaf ya , Bim... Kreshna mengajakku membeli pakaian hari ini untuk ulang tahunku besok."


"Aku kecewa sebenarnya karena kupikir kita bisa merayakan ulang tahunmu sehari lebih cepat?"


"Maafkan aku! Apa kutelpon Kreshna untuk mengatakan aku tidak bisa menemaninya nanti?"


"Jangan! Kau baru berbaikan dengan dia. Jangan merusak suasana."


"Itu juga yang ada di pikiranku!"


"Kita bisa merayakan nanti setelah urusanmu dengan Kreshna selesai bagaimana?"


"Baiklah! Terima kasih atas pengertianmu!"

__ADS_1


"Aku sangat mencintaimu. Tidak ingin membuatmu bingung dan ragu. Apa yang membuatku nyaman, aku juga demikian. Apa yang membuatmu bahagia, aku juga bahagia. Apa yang membuatmu tenang, aku juga tenang."


"Terima kasih, Bim! Tapi aku tidak bisa memberikan kepastian apapun!"


"Aku percaya jodoh di tangan Tuhan. Kepastian bukan ada padaku atau engkau atau Kreshna tapi Tuhan. Kepastian milikNya. Kalau Dia menakdirkan engkau untukku pasti Dia akan beri dan buka serta mudahkan jalannya untukku tapi kalau memang tidak pernah ditakdirkan berjodoh denganmu. Sekeras apapun aku berusaha. Selama apapun aku menunggu. Tuhan tidak akan pernah membukakan hati dan jalanmu kepadaku. Jadi kau tenang saja ya?"


Tangis Ratih meledak.


"Kau jangan menangis, dong, sayang...."


"Aku merasa kau terlalu baik untukku!"


"Jangan menangis, sayang...."


"Aku jahat padamu padahal kau begitu baik padaku. Tidak bisa membalas kebaikan. Air susu dibalas air tuba!"


"Kau tidak jahat! Semua ada waktu-waktunya dan takdir-takdirnya. Jangan menangis lagi ya?"


Kreshna memencet bel rumah Ratih. Ratih membuka pintu dan terkejut melihat Kreshna yang terlihat lebih pucat dan kurus.


Matanya menyorotkan kerinduan.


Mata Ratih memanas dan dia menangis.


"Kau kenapa? Apa aku menyakitimu?"


Ratih menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kau kenapa?" tanya Ratih kepada Kreshna.


"Aku tidak apa-apa!" Kreshna memandang gadis di hadapannya sangat lekat.


"Wajahmu pucat seperti kurang tidur dan bobotmu seperti menyusut!" Air mata Ratih kembali menetes.


"Aku sibuk! Banyak pekerjaan yang harus kulakukan. Kau jangan berpikir yang tidak-tidak!"


"Maafkan aku kalau aku melakukan kesalahan padamu tapi aku benar-benar tidak bisa menerima sikapmu dan caramu memperlakukanku!" Ratih masih berkeras dengan pendiriannya.


"Sudahlah! Aku tidak ingin bertengkar! Aku ingin memperbaiki semuanya, bukannya ingin bertengkar denganmu! Tidak ada yang memasakkan makanan untukku sehingga aku sering lupa makan. Tidak ada juga yang mengingatkan supaya aku istirahat. Jelas aja bobotku menyusut wajahku pucat kurang tidur!"


"Astaga! Kau benar! Aku marah padamu dan tidak ingat mengirimkan makanan untukmu. Aku tidak mau menghubungimu karena aku tidak mau nanti kau menganggap aku mengemis perhatianmu!"


"Entahlah! Apa yang terjadi pada kita! Sudahlah! Tidak usah dibahas lagi! Apakah kau sudah siap?"


Ratih menganggukkan kepalanya.


"Kita berangkat sekarang ya?"


Ratih menganggukkan kepalanya.


Mereka memilih pakaian yang serasi yang akan digunakan besok.


Tidak ada pertengkaran dan mereka menikmati saat mereka berdua dengan nyaman.


Selesai berbelanja mereka makan di tempat favorite mereka berdua.

__ADS_1


Mereka menyantap makan siang mereka dengan bahagia, damai dan aman sentausa.


"Aku akan memenuhi janjiku kita tidak akan pernah bertengkar lagi!" Kreshna meraih tangan Ratih dan menciumnya mesra dengan segenap perasaannya.


__ADS_2