
Wajah Tania tampak jutek. Pras kembali mendatangi kediamannya.
"Ada perlu apa sih? Bolak balik ke rumahku?" Ujar Tania jutek.
"Masak main aja gak boleh?" Sahut Pras.
"Emang gak capek pulang kerja? Malam minggu memang kamu gak ngapelin pacar kamu?"
Kontan Pras tertawa.
"Apa lucunya sih?" Sahut Tania sambil memijat bahunya.
"Sini aku pijitin." Tawar Pras mengembangkan senyum lebarnya. Disambut dengan mulut monyong dan mata melotot Tania. Membuat tawa Pras semakin pecah.
"Kau sudah gila atau bagaimana? Dari tadi ketawa terus tanpa sebab?" Ujar Tania ketus.
"Siapa bilang tanpa sebab?" Sahut Pras memegangi perutnya.
"Memang kenapa kau tertawa?" Tania kembali memijat bahunya.
"Sini aku pijit." Tawar Pras dengan sisa tawanya. Disambut dengan pelototan mata serta mulut manyun Tania. Membuat Pras kembali tertawa.
"Kamu itu lucu. Dipijit gak mau. Malah ngurusin aku ngapelin pacarku apa gak."
"Kamu kurang hiburan kayaknya. Masak gitu aja lucu!"
Tawa Pras kembali pecah.
"Kamu jutek banget."
"Kamu juga centil banget. Bikin kesel tau gak!"
"Masak kayak gini centil? Kamu kan gak aku apa-apain?"
"Kamu ganggu waktu istirahatku. Aku capek. Kamu sendiri ngasih kerjaan. Gak ada berhentinya. Kayak air bah."
Pras kembali tertawa. Dia sengaja memberikan Tania pekerjaan tanpa henti. Karena ingin berlama-lama dengannya.
"Kalau berhenti berarti perusahaan kita gak ada kerjaan dan terancam gulung tikar dong? Atau makan gaji buta?" Ujar Pras sambil tertawa.
"Gak lucu ah!" Sahut Tania sebal.
"Kamu marah-marah terus. Dipijit juga gak mau."
"Satu, kamu bukan tukang pijit. Kalau malah keseleo gimana? Lebih parah lagi kalau kamu ngelaba gimana? Bisa pecah gendang telingaku kayak dewi kunti!"
Tawa Pras kembali pecah"Budek dong!"
"Hah!" Sahut Tania pura-pura tak mendengar. Nyaris kram perut Pras melihat tingkah Tania. Gadis itu tidak bermaksud melucu. Tetapi justru hal tersebut memancing gelak tawanya.
"Semua sudah tahu gimana image kamu suka gonta ganti pacar. Wajar aja aku jadi curiga kan?"
"Tapi jangan sampe kayak gitu juga kali."
"Ok! Ngapain kamu ke sini?"
"Main aja masak gak boleh?"
"Boleh. Tapi apa maksudnya? Ada udang dibalik batu?"
"Rempeyek atau bakwan aja gimana?"
"Kamu ngapain ke sini?" Tanya Tania tanpa tedeng aling-aling.
"Pacarku sibuk dengan teman-teman barunya."
"Lalu?"
"Aku gak ada yang nemenin."
"Busett! Modus amat. Terus terang banget. Emangnya aku geisha nemenin bos-bos."
"Emangnya kamu mau jadi geisha?"
"Jangan kurang ajar!" Sahut Tania jutek disambut tawa Pras.
"Aku itu bukan srimulat. Stop ketawa bisa gak?"
"Cita-cita kok jadi geisha!" Tawa Pras kembali pecah.
__ADS_1
Bantal sofa melayang ke arah Pras.
"Aku juga tidak mau nanti jadi ratu."
"Bukannya jadi ratu impian semua orang?" Hidung Pras kembang kempis.
"Kalau kamu mau jadi raja singa, silahkan. Tapi aku ogah jadi ratu singa!"
"Asem!"
Giliran Tania tertawa.
"Bisa juga kau bercanda."
"Becanda penuh makna."
"Kau sangat tendensius."
"Kalau kau menjadi aku. Apa pendapatmu tentang aku? Jika aku seorang yang mudah berganti pasangan?"
"Hmm, iya juga sih. Mungkin gak hanya ratu singa tapi juga aids. Trust issue."
"Nah! Masih bagus kan aku gak menuduhmu kena aids."
"Tapi masalahnya, kalau lelaki menjadi playboy itu biasa. Tapi kalau playgirl?"
"Standart ganda."
"Tapi itu faktanya."
"Enak ya jadi lelaki."
"Hmm, iya sih…" Ujar Pras sambil tertawa.
"Kau tahu? Tidak semua wanita bisa menerima sifat playboy apalagi buat jadi suami."
"Memangnya kau sudah memikirkan untuk memiliki suami."
Wajah Tania merah merona seperti kepiting rebus, "Bukan begitu maksudku."
Pras tergelak melihat wajah Tania yang merah menahan malu.
"Aku merasa diinterogasi."
"Memang aku polisi? Kau juga tidak melakukan apa pun. Buat apa diinterogasi?"
"Aku benar-benar merasa tidak nyaman. Aku tidak ingin dilabrak kekasihmu."
"Tidak akan. Dia asyik dengan teman-teman barunya."
"Lalu buat apa kau mendatangiku? Harusnya kau kan memberi perhatian lebih kepada pacarmu?"
"Kau pura-pura tidak tahu?"
"Apa maksudmu?"
"Aku menyukaimu."
"Apa? Kau kan sudah punya pacar."
"Tapi kan bukan istri. Aku masih bebas."
"Kata siapa?"
"Kataku?"
"Pertama, sorry to say, kau bukan tipeku. Aku tidak suka playboy. Kedua, kau sudah punya pacar. Ketiga, kupikir aku tidak memiliki perasaan yang sama."
"Kau menolakku?"
"Keempat, aku hanya memikirkan karirku. Kelima, aku ingin melanjutkan studiku keluar negeri. Keenam, aku sudah punya kriteria lelaki idamanku."
"Siapa?"
"Belum tau. Tapi aku sudah punya kriteria. Dan kau tidak masuk ke dalam kriteriaku."
"Kau sangat terus terang."
"Aku tidak ingin membuang waktumu."
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita coba dulu?"
"Coba apa? Kau sudah punya pacar. Setialah pada pacarmu. Buat apa kau mencari wanita lain? Yang belum tentu menyukaimu seperti pacarmu?"
"Aku hanya ingin tahu. Apakah aku juga akan bosan jika berpacaran denganmu?"
"Aku tidak tertarik mencoba. Kupikir jangan buang waktu. Ok?"
"Gak bisa gitu!"
"Apa yang gak bisa gitu?"
"Aku akan mati penasaran kalau seperti ini caranya."
"Kau akan bosan denganku. Percayalah! Buat apalagi mencoba sesuatu yang sudah pasti tidak berhasil? Sebaiknya kau pulang dan tidak usah menggangguku lagi. Ok?"
"Kenapa kau takut mencoba?"
"Siapa yang takut? Aku tidak tertarik padamu. Buat apa mencoba?"
"Kau sangat tendensius."
"Terserahlah! Sebaiknya kau jangan mengkhianati pacarmu. Kalau dia tahu. Pasti akan memutuskanmu."
"Mengapa kau tidak menyukaiku?"
"Kau tidak setia, playboy dan bukan tipeku."
"Kau tendensius."
"Suka-suka aku! Kau sudah mengatakannya tiga kali!"
"Kau mau kemana?"
"Apa urusanmu?"
Tania berjalan keluar rumahnya. Menyetop taksi. Dia berencana menjauh dari Pras yang sudah mulai mengganggunya.
Turun ke salah satu mall cukup jauh dari kediamannya. Daripada emosinya terpancing keluar. Lebih baik dia berbelanja. Melampiaskan kekesalannya. Refreshing.
Berjalan-jalan mengelilingi mall membuatnya fresh. Dia mulai bisa berpikir lebih baik.
Tania berpikir untuk tidak pulang ke rumahnya. Memutuskan staycation di hotel dengan status incognito.
Sesampainya di kamar hotel. Gadgetnya berbunyi. Telpon dari Tintan.
"Ada apa Tan?"
"Mbak, kamu dimana?"
"Ngapain sih pengen tau?"
"Pacarmu nungguin kamu pulang dari tadi."
"Pras bukan pacarku. Kamu jangan ngaco!"
Tintan tergelak,"Terserah deh. Tapi dia nungguin kamu dan nanyain kamu dimana."
"Aku gak pulang."
"Kamu dimana sih mbak?"
"Mau tau aja!"
"Kamu kabur ya mbak? Kebiasaan!"
"Udah ah! Aku gak mau diganggu!"
"Tapi mbak! Masak aku sih yang nemenin pacarmu."
"Kamu budeg ya? Dia bukan pacarku. Kamu sendiri sama Kreshna bisa akrab?"
"Beda lah. Kak Kreshna kan temen aku. Kalau ini kan temen kakak?"
"Siapa bilang?"
Tintan mengakhiri pembicaraan dengan kakaknya yang sedang jutek.
Pras berpamitan pulang. Setelah Tintan mengatakan bahwa Tania tidak pulang ke rumah. Dan dia tidak tahu kakaknya berada dimana.
__ADS_1