
Tiga bulan lamanya mereka tidak saling bertegur sapa dan bertemu.
Tidak ada satupun yang mau mengalah. Masing-masing berpegang teguh pada pendirian juga pendapatnya masing-masing.
30 Mei adalah hari ulang tahun Ratih.
Kreshna sudah tidak kuat lagi menahan rindu dan memutuskan untuk berbaikan memanfaatkan momen ulang tahun Ratih.
Dia memutuskan untuk menghubungi Ratih terlebih dahulu sebelum mendatanginya.
Halo, bagaimana kabarmu?
Pesan whatsapp masuk ke dalam gadgetnya. Hati Ratih berdegup kencang karena melihat ada pesan masuk dari Kreshna.
Air mata meleleh dari kedua sudut matanya. Hatinya juga merindukan Kreshna tetapi gengsi dan harga dirinya menahannya untuk mengemis perhatian darinya.
Tangannya gemetar meraih gadgetnya. Menonaktifkan tanda contreng biru. Sehingga pesan yang masuk tidak ketahuan apakah sudah dibaca atau belum.
Ratih mengabaikan pesan tersebut. Dia tidak ingin mereka bertengkar lagi. Menikmati perang dingin mereka walaupun sesekali dirinya dihantam badai rindu.
Pikirannya berubah keesokan harinya karena menerima pesan dari Kreshna yang menyentuh hatinya dan mencairkan kemarahannya.
Aku merindukanmu...Maafkan aku karena aku bersikap kekanak-kanakkan dan egois. Dua hari lagi kau berulang tahun. Kita rayakan ya? Seperti biasa...Kau mau apa?
Ratih meraih gadgetnya. Bulir bening menetes membasahi gadgetnya.
Aku cuma ingin kita tidak bertengkar dan saling memahami satu sama lain. Aku tidak ingin kita menjadi minyak dan air.
Gadgetnya berbunyi. Tertera Bima.
"Halo, Bim!"
"Kau menangis?"
"Kreshna menghubungiku. Dia ingin merayakan ulang tahunku dua hari lagi. Kenapa Bim?"
__ADS_1
"Tadinya mau mengajakmu makan dan nonton film di hari ulang tahunmu. Kupikir kau sudah putus dengan Kreshna? Bukannya kalian sudah tidak pernah bertemu dan berbicara lagi?"
"Kupikir juga begitu tapi dia barusan menghubungiku. Merayakan ulang tahunku seperti biasa."
"Baiklah! Tidak apa-apa. Kita jalan lain kali saja. Bagaimana?"
"Terserah. Aku minta maaf mengacaukan rencanamu."
"Bukan salahmu."
Mereka saling bertukar cerita. Saling menceritakan jokes dan bercanda.
Kreshna mempersiapkan dirinya dengan gugup. Dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Ratih. Bertekad pertengkaran mereka yang terakhir dan semua membaik. Jika semakin baik, dia berencana untuk melamar Ratih untuk menjadi isterinya.
Dia membuka laci meja kerjanya. Sebentuk cincin dari emas putih bertahta berlian. Dia mengelus lembut cincin tersebut dan menciumnya dengan mesra.
Mereka akan mengakhiri semua mimpi buruk mereka dan menikah memulai hidup baru.
Gadgetnya berbunyi dan tertera nama Alicia.
"Temani aku yuk cari hadiah buat Ryan. Kita patungan gimana?"
"Kapan?"
"Besok. Hari ini aku sibuk."
"Maaf gak bisa. Besok kan ulang tahun Ratih."
"Kau masih merayakan bersamanya? Bukannya kalian sudah putus?"
"Tiga bulan memang tidak pernah saling menghubungi tapi kupikir itu bukan berarti putus kan?"
"Ya sudah kalau kau ada janji dengan Ratih. Aku pergi bersama Nayla saja. Kau mau ikut patungan atau kasih kado sendiri?"
"Gak apa-apa nanti aku cari sendiri bersama Ratih."
__ADS_1
"Kalian benar-benar sudah berbaikan?"
"Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin menikahinya."
"Kau apa?"
"Aku ingin menikahinya."
"Kau serius?"
"Kupikir kalau aku menikahinya tidak mungkin seperti ini. Batasannya jelas. Tanggung jawabannya juga jelas. Banyak orang setelah berumah tangga mereka justru tidak bisa mengurus yang lain selain pekerjaan dan rumah tangga mereka."
"Ya, banyak teman-teman kita yang sudah menikah berubah total karena kesibukan mereka membagi waktu antara pekerjaan,keluarga dan teman walaupun ada juga yang bisa berjalan semuanya."
"Iya itu maksudku. Kalau menikah kan satu rumah dan hidup bersama kemungkinan kan bisa tau bagaimana keseharian masing-masing tapi kalau seperti sekarang? Saling curiga dan cemburu karena mengira-ngira. Iya kan?"
"Masuk akal sih! Terserah aja. Asal jangan sampai baru menikah kalian bercerai karena tidak cocok."
"Kau jangan doa jelek begitu dong!"
"Aku bukan doa jelek tapi bisa aja kan kalian berdua justru jadi semakin sering ribut karena tidak bisa menerima sikap masing-masing apalagi kalau tidak bisa saling menyesuaikan."
"Aku sudah menyiapkan cincin sejak aku menginginkan dia jadi pacarku. Kau jangan merusaknya dengan pikiran jelekmu."
"Apa kau dulu juga menyiapkan cincin untukku?" goda Alicia.
"Buat apa kau bahas yang sudah berlalu?"
"Aku cuma mau tanya. Masak begitu saja tidak boleh."
"Aku belum merasa siap menikah dan aku juga belum bisa membeli cincin yang indah. Seandainya kau tidak melakukan kesalahan mungkin saja saat ini cincin yang kubeli untukmu dan mungkin aku tidak akan pernah jatuh cinta pada Ratih. Mungkin sekedar suka tapi untuk memiliki mana mungkin karena sudah ada kau."
"Kau jangan membuatku merasa menyesal begitu."
"Faktanya seperti itu. Sudahlah, tidak usah membahas yang sudah berlalu. Kenyataannya sekarang ini aku jatuh cinta pada Ratih dan hanya menginginkan dia jadi isteriku dan kita hanya bersahabat. Ok?"
__ADS_1
"Ok!"